14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Iwan Fals, Rosana, dan Jalan Sederhana Menuju Bahagia – Catatan Kecil dari Munas Oi di Lampung

Pande Putu Sriasih by Pande Putu Sriasih
February 2, 2018
in Tualang

Foto-foto koleksi penulis

Oi adalah daya hidup. Oi datang dari mana-mana. Yang menjadikan kita sama adalah cinta dan semangat membangun organisasi. Itulah yang memacu semangatku berangkat ke Lampung ikut Munas Oi VI di Lampung, 21-23 April 2017.

Dengan sedikit merengek kepada suami karena suami kebetulan juga anggota Oi. Merengek agar ia bisa mendampingi perjalananku. Untung suamiku seorang lelaki yang selalu punya keinginan besar agar istrinya berkembang, di bidang apa pun, apalagi untuk urusan organisasi seni, sosial, dan kemanusiaan.

Suamiku bilang,  “Ya”.  Eh, aku malah balik bertanya, “Terus, apakah Ayang punya uang untuk bekal dan beli tiket?”

“Ayo kita bergerak.  Selalu ada hasil kalau kita mau berusaha,”  suamiku membakar semangatku.

Aku minta ijin Ketua BPW untuk mohon bantuan dana ke Bapak Wisnaya, Penasehat BPK Oi Buleleng. Andik, Ketua BPW Oi Bali mengijinkan. “Silahkan, Mbok, lakukan apa yang bisa dilakukan, kita mendukung sepenuhnya,”  kata Andik.

Aku pun jalan dan astungkara, Bapak Wisnaya membantu dengan senang hati.  Kurang 1 tiket lagi. Aku memutar otak, dan ingat temanku SMA yang kini jadi anggota Dewan. Temanku yang super sibuk itu sedang berada di luar daerah ketika kutelepon. Tapi, saat aku minta bantuan, ia langsung transfer dana ke rekeningku. Terima kasih.

Sebenarnya dana itu sudah cukup untuk berangkat ke Lampung, tapi hanya untuk berangkat saja. Untuk bekal dan lain-lain sama sekali kami tak punya.

Mungkin dilihat saking ngebet-nya aku ingin ikut Munas Oi, suami tak tinggal diam. Ia buka HP, set, set, dan menelepon salah seorang temannya untuk pinjam uang. Pinjam uang? Aku terharu. Sejauh ini aku tahu, suamiku tidak pernah mau ngomong “pinjam uang” kepada siapapun. Tapi kali ini tanpa beban ia melakukannya. Demi aku.

Pertama Naik Pesawat

Akhirnya kami berangkat ke Lampung. Sebenarnya malu juga menceritakan bagian ini. Tapi sebaiknya memang aku ceritakan. Meski agak klise, tapi “pengalaman pertama” untuk hal apa pun memang harus dicatat.

Aku baru pertamakali naik pesawat. Seperti mimpi. Sungguh. Setua ini aku memang beberapa kali melakukan perjalanan keluar daerah, tapi semuanya kulakukan lewat darat. Kalau suami sih, sudah seringkali.

Seperti mimpi. Dengan pemeriksaan yang ketat, dari terminal keberangkatan di Bandara Ngurah Rai akhirnya aku melangkahkan kaki menuju pesawat.

Mesin hidup, dan pesawat jalan perlahan menuju landasan pacu, pesawat ngebut dan cusss, lepas landas. Aku hanya bergumam dalam hati, “Biasa saja, seperti naik mobil…”.

Seperti tahu apa yang aku rasakan, suamiku nyeletuk, “Nanti kalau saat mendarat beda rasanya, buat Ade akan seperti uji nyali.”

Aku diam sambil membayangkan seperti apa. Dan satu jam dua puluh menit pesawat transit di Jakarta dan akan mendarat, terasa copot jantungku, tak sadar mulutku langsung melapalkan Mantram Gayatri.  Ternyata benar, saat mendarat sedikit menakutkan. Aku sempat berfikir kalau pesawat ini remnya blong.

Seperti tahu apa yang aku pikirkan, suamiku mengalihkan perhatianku dengan selfi sebelum turun pesawat. Untungnya transit tak terlalu lama. Naik pesawat kedua aku sudah merasa terbiasa dan tertidur hingga tiba di Lampung.

Mulailah Sesi Perkenalan

Di Lampung, kudengar ada orang menyapa Midori, orang Jepang, yang menjadi wakil Denpasar. Ia memang lebih dulu jadi anggota Oi hingga sering menghadiri pertemuan Oi dan konser Babe (Iwan Fals) di seluruh Indonesia. Aku tahu, orang yang menyapa itu anggota Oi dari sapaannya yang khas. Hingga Midori memperkenalkan kami. “Saya Andre dari Bontang,” kata orang itu.

Otakku langsung berputar Bontang, Bontang, o ya Kalimantan Timur. Aku pernah baca Oi Bontang lewat kenalan di dunia maya. Dan aku ingat teman dunia mayaku yang sempat hilang dan ternyata satu BPW dengan Andre. Kami langsung akrab dengan gurauan alakadarnya karena sadar baru kenal.

Berpose senang bersama suami, Edi Robin.

Aku jadi berharap ketemu teman-teman dunia maya lainnya di Munas itu. Sampailah kami di LPMP Lampung, tempat karantina kami selama 3 hari ke depan. Sungguh tak pernah aku duga mereka semua ramah dan terasa sudah lama kenal. Tak ada rasa sungkan, canggung, dan semua rasa yang tak enak. Semua mengalir begitu saja. Sampai ada seseorang yang rasanya pernah aku lihat tapi di mana…

Aku menikmati keakraban ini sambil otakku menjelajah orang satu ini. Namanya Gus Barong. Orangnya asyik dan lucu. Dan krik..krik..krik… otakku terlintas, “O iya orang ini adalah orang yg berkostum aneh saat Bang Iwan Fals konser Jaga Bumi di Singaraja.”

Aku masih malu untuk menebaknya. Takut salah. Sampai akhirnya suamiku bilang, “Ade lupa sama abang ini?” “Nggak mungkin, Gus Barong yang lupa sama aku,” sahutku menyambar pertanyaan. Gus Barong akhirnya menyahut dan membuatku lega. “Aku nggak lupa, Mbak yang aku lihat super sibuk di konser itu.  Memberi aku jatah nasi bungkus setelah aku bantu-bantu kerja.”  katanya.

Dan akhirnya kami pun larut dalam cerita-cerita lucu yang pernah mereka alami bersama. Malam pertama ini Gus Barong rela memberikan kamarnya pada aku dan suamiku. Sungguh baik banget. Terima kasih Gus…

Rosana dan Iwan Fals Datang

Pagi mulai disamari panas matahari saat kami harus registrasi.

“Hai, kapan dateng? Waah, wajah baru?” Aku hanya tersenyum sambil tersipu bangga. Bang Ipul orang BPP mengingatku, menyapaku akrab sekali. Aku semakin melambung karena waktu tour Jaga Bumi di Singaraja orang ini tidak seakrab ini. Paling cuma senyum dan tak banyak omong. Tapi aku tahu Bang Ipul orang pintar karena jika ada orang yang membuat isu hoax sama Bang Iwan, dia yang paling dulu meluruskan. Mengklarifikasi dengan uraian-uraian cerdas.

Pukul 11.30 waktu setempat, Ibu Rosana Listanto, istri Bang Iwan Fals, Ketua Umum Oi, bersama Sekjen Bapak Ainu Rofik dan Bang Iwan sendiri tiba di LPMP. Dengan sukacita dan semangat yang kian meletup kami semua merasakan kebahagiaan tiada tara. Oi, Oi, Oi… betapa tak rugi aku berjuang untuk tiba di Lampung.

Saat itu, makan siang belum ditanggung. Aku dan suami menuju warung yang tidak terlalu jauh. Tinggal menyeberang langsung warung nasi. Aku pesan, “Bu, makan, dua orang ya, Bu.” “Nasinya ambil sendiri, Mbak,” kata si penjual nasi. Aku ragu, aku tanya lagi, “Lauknya, Mbak?” “Ya, ambil aja!” Sambil tersenyum si dagang nasi membuka tutup semua lauk. Aku membawa dua piring nasi ke tempat duduk suami yang sudah berbaur dengan peserta dari Jakarta Timur yang juga makan di sana. Mereka langsung akrab dan saling bertukar akun facebook.

Akupun tak ketinggalan memperkenalkan akun facebook. Dan salah seorang dari mereka bilang “Eeeh… sudah berteman”. Aku mengangkat wajahku dan kami saling mengingat. “Saya, Addian Lawula!” “Oww, beda loh di foto facebook dengan kenyataan,” candaku. Sambil makan kami diskusi ringan seputar Oi.

Sore pukul 18.00 WIB jatah makan pertama dari panitia. Kami menuju ruang makan sempat ragu tak enak karena berpikir masak dalam jumlah yang sangat banyak pasti seadanya. Ada lebih kurang 500 orang termasuk panitia yang makan. Tapi ternyata, enak luar biasa. Aku beri semua jempolku untuk tukang masak itu. Selama 3 hari dengan 5 kali jatah makan tak tercela, semua mantap.

Cuma yang susah dicari adalah kopi kesukaanku. Lampung memang terkenal dengan kopinya. Entah kenapa aku tak bisa menikmatinya karena memang tak suka kopi hitam. Aku suka kopi mainstream dengan merek tertentu (tak usahlah kusebutkan).

Tiba Saat Munas

Usai makan, kami dikumpulkan panitia, kemudian diangkut bus Trans Lampung menuju Gedung Keratun di Gubernuran. Munas dimulai. Langsung masuk dengan Sidang Paripurna I. Pembukaan baru bisa dilaksanakan pagi hari karena mengundang Pejabat nomor 1 di Lampung. Sidang pertama ini di pimpin Bang Ipul, Ketua Badan Pekerja Munas sebagai Ketua Sidang Sementara.

Munas Oi VI pun dibuka

Aku buta dengan Munas. Tidak tahu secara detail isi acara dan rangkaiannya. Aku tak pernah ikut acara-acara seperti ini. Paling-paling jadi panitia jika dulu sering diajak suami dalam kegiatan organisasi. Sambil terus berdiskusi dengan suami aku belajar mengerti dan mengambil hal-hal yang bisa aku petik untuk menambah wawasan. Aku belum berani bersuara secara formal. Takut salah karena aku sadar Munas adalah forum tertinggi sebuah organisasi.

Tiba saatnya pemilihan Ketua Sidang Tetap. “Bali… Bali… Bali…!”  Aku semangat berkoar dalam suasana gaduh. Sampai semua sepakat memilih Bali karena mungkin terpengaruh koar-koar aku dan suamiku. Dari Buleleng kami berangkat bertiga. Malam sebelum berangkat ke Lampung kami sudah merundingkan merebut Tahta Ketua Sidang Tetap dengan strategi lobi-lobi peserta. Dan sukses. Sidang digenjot tak mengenal waktu. Aku berusaha menikmati sambil bercanda dengan suami agar tidak bosan.

Sampai malam ketiga aku mulai sempoyongan. Suamiku kumat, sarafnya kaku karena AC. Aku tinggalkan sidang setelah selesai sidang komisi, sampai pemilihan Ketua Umum. Karena aku pun mulai bosan dengan usul yang kadang tak masuk akal dan terlalu mengada-ada menurut otakku. Dan aku sudah menyatakan satu suara dengan BPW, arahnya juga sudah pasti memilih Ibu Rosana untuk kembali memimpin kami. Selesai rangkaian sidang, Munas ditutup dengan konser gratis Bang Iwan di Lapangan Gubernuran.

Suasana Munas

Dari jam 10 pagi kami sudah diangkut ke lapangan walau konser baru mulai jam 3 sore. Aku memanfaatkan waktu ini untuk sekedar mencari cindera mata kenang-kenangan dari Lampung. Berkeliling lapangan aku melihat Kang Ayub Suparman. Dia adalah pimpinan tim panggung Bang Iwan Fals. Orang dekat Bang Iwan Fals yang pertama kali aku kenal saat survey konser Jaga Bumi di Singaraja.

“Kang Ayub, apa kabar,” sapaku.

“Eh, Pande, akhirnya ketemu juga, kemarin cuma komentar di facebook. Berapa orang dari Buleleng?” Akhirnya kami ngobrol akrab sambil cek sound. Tidak enak mengganggu aku melanjutkan keliling lapangan sambil sesekali membuka HP. Dan cring, “Bunda di sini juga? Aku pengen ketemu!”  Aku membaca inbox teman facebook lain yang juga ikut Munas. “Yap, kita ketemu di LPMP aja ya,”  balasku senang.

Kenangan Berharga

”Yuk, lihat t-shirt Munas,” ajak suami menuju lapak yang dibuka di lapangan.

Di lapak kami ngobrol seakan sudah lama kenal karena mereka, para pedagang itu juga anggota Oi.  Aku bersyukur masih banyak orang-orang baik yang aku kenal. Kenapa aku bilang orang baik? Mereka yang aku temui di lapangan ini tidak sungkan-sungkan langsung memberi kami kenang-kenangan karena mungkin merasa cocok dan nyambung dengan obrolan.

Ada yang langsung mentraktir dengan memanggil dagang yang lalu lalang dan tidak basa-basi membayar semua makanan. Jarang bisa bertemu orang-orang tulus seperti itu. Itulah kenangan berharga dalam Munas itu. Sampai konser usai, kami kembali ke Asrama LPMP. Tak ada obrolan antara aku dan suami. Kami berfikir sendiri-sendiri. Walau apa yang kami pikirkan ternyata sama. Ya, tiket untuk balik pulang ke Bali. Karena weekend ditambah libur nasional harga tiket melambung. Kami sadar bekal kami menipis. Sisa uang tak cukup untuk dua tiket.

Setelah merasa lelah memikirkan sendiri akhirnya kami diskusi. Memecahkan masalah ini berdua. Solusi, solusi, solusi, akhirnya kami menunda kepulangan kami 1 hari lagi karna tiket normal keesokan harinya.

Karena sudah harus meninggalkan asrama terpaksa kami mencari Wisma yang tidak terlalu mahal untuk 1 malam lagi. Kebetulan ketemu Kang Acong, Pengurus BPP yang juga pulangnya tertunda sehari, mengantar kami mencari penginapan depan Bandara untuk memudahkan kami berangkat esoknya. Menghabiskan hari terakhir di Lampung dengan istirahat penuh. Bisa kembali pulang bertemu ketiga anakku yang membanggakan. Memberi kesempatan ibunya bahagia dalam organisasi, walau ibunya ini sudah uzur, he he he.

Munas Oi di Lampung, kupikir hanya satu jalan saja yang harus dilalui menuju kebahagiaan, kebahagiaan seorang ibu yang selama ini lebih banyak tinggal di rumah. Di situ aku melihat Ibu Rosana dan Iwan Fals yang selama ini – sebagai selebritis dan tokoh nasional –  selalu menunjukkan kepada kami tentang dunia manusia di luar image glamour selebritis di TV.

Mereka menunjukkan kepada kami cara berbagi, cara untuk tetap bersama-sama di tengah perbedaan, cara merawat nilai-nilai kemanusiaan, dan cara merawat alam dan lingkungan. Bukanlah semua itu jalan untuk menuju kebahagiaan?

Jadi, semua perjuangan lengkap dengan pengalaman yang aku lalui dari Bali hingga ke Lampung lalu balik kembali ke Bali, kupikir bukan semata kulakukan karena Oi, karena Iwan Fals, atau karena Ibu Rosana, atau karena teman-teman Oi seluruh Indonesia yang baik hati dan tidak sombong itu. Ibu Rosana dan Iwan Fals tentu saja tak akan mau kami kultuskan, dan kami juga tidak sedang mengkultuskan mereka.

Semua itu kulakukan karena seseorang, termasuk aku yang hanya ibu rumah tangga ini, harus mengejar kebahagiaannya, dengan cara apa pun, lewat apa pun, sampai di mana pun. Terimakasih Tuhan. Terimakasih Oi. Terimakasih suamiku. Terimakasih anak-anakku, untuk pengalaman indah dan berharga ini. Banyak hal yang bisa aku pelajari dan sungguh aku bahagia. (T)

Tags: baliIwan FalsLampungorganisasi
Share465TweetSendShareSend
Previous Post

Bandem dan Dibya Bicarakan Ida Bagus Oka Blangsinga di Bentara Budaya

Next Post

“Tangkil” ke Pura Besakih – Ketika Bersama, Ketika Berbeda…

Pande Putu Sriasih

Pande Putu Sriasih

Ibu Rumah Tangga, tinggal di Singaraja, Bali

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post

“Tangkil” ke Pura Besakih – Ketika Bersama, Ketika Berbeda…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co