24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Persepsi Lintas Budaya yang Sering Keliru | Catatan dari Inggris [1]

Shinta Prastyanti by Shinta Prastyanti
June 10, 2023
in Esai
Persepsi Lintas Budaya yang Sering Keliru | Catatan dari Inggris [1]

Ilustrasi Tatkala.co

SEJAK DULU KALA seperti sudah terpatri di otak kita bahwa orang Barat (Eropa, Amerika, termasuk juga Australia meski bukan berada di sebelah Barat Indonesia) adalah sosok yang sangat individualis, tidak peduli dengan orang lain karena mereka asyik dengan kehidupannya sendiri.

Sebaliknya, kita—orang Timur—mengklaim diri kita merupakan makhluk yang masuk dalam klaster ramah, suka tolong menolong, sangat berempati dengan kondisi orang lain dan berbagai atribut positif lainnya.

Entah sejak kapan dan dari mana asalnya pemahaman tersebut sehingga potret terhadap orang Barat tidaklah berubah. Sayangnya pola pikir seperti itu terjadi secara “turun temurun”. Lantas, apakah “warisan perspektif lintas budaya” yang seperti itu benar adanya?

Sepertinya buku maupun film-film yang kita maupun orang tua kita tontonlah yang menjadi pembentuk perspektif yang keliru tersebut—karena sejatinya apa yang terjadi di buku maupun film belum tentu mencerminkan realita yang sebenarnya terjadi di masyarakat.

Salah satu metode sahih yang bisa membuktikannya adalah melalui pengalaman dengan berinteraksi secara langsung dengan mereka yang berbeda budaya.

***

Pembuktian berlangsung dalam perjalanan saya ke Inggris, salah satu negara yang menjadi kiblat tidak hanya Eropa tapi juga dunia.

Nyatanya, pengalaman berabad-abad melakukan penjajahan di berbagai negara tidak menjadikan orang Inggris menjadi jumawa, egois, dan mengabaikan orang lain ketika berinteraksi dengan orang yang budaya dan latar belakangnya jauh berbeda.

Saya membuktikannya sendiri. Saya kaget, dan tidak menyangka, bahwa seorang guru besar dan istrinya yang juga berpendidikan tinggi bersedia menjemput saya di bandara, seseorang yang belum pernah mereka temui sama sekali.

Lambaian tangan dan senyum yang hangat dari mereka berdua menyambut saya begitu keluar dari pintu keluar bandara setelah menunggu bagasi. Rasanya seperti ketemu sahabat atau saudara yang memang sudah sering bertemu dan mengenal satu sama lain dengan baik. Padahal, ini merupakan pertemuan pertama kami setelah bertahun-tahun hanya berkomunikasi melalui email. Aksi foto bertiga di bandara pun langsung kami lakukan buat kenang-kenangan pertemuan pertama.

Setelah itu, dan ini yang membuat saya kaget untuk kedua kalinya, tidak canggung-canggung, sang guru besar langsung meminta koper saya dan memasukkannya ke bagasi mobilnya sembari minta maaf karena birokrasi yang berbelit sehingga menunda kedatangan saya ke Inggris.

Tidak kalah gesitnya, si istri juga melakukan hal yang sama dengan tas punggung saya. Mereka juga bilang, ”Shinta, kamu pasti capek sekali ya, karena perjalanan yang sangat panjang.” Belum sempat saya jawab, ia kembali berkata, “Dalam perjalanan bisa tidur apa tidak, Shinta?”

Mereka juga mempersilakan saya duduk di kursi depan, sebuah kehormatan bagi seorang tamu. Duhhhh……jadi malu sendiri.

Sekilas pertanyaan-pertanyaan tersebut memang sederhana dan tidak bermakna apa-apa. Namun bagi saya semua itu sangat berarti dan membuat saya langsung betah begitu menginjakkan kaki di Leeds sekaligus membalikkan persepsi yang sudah tertanam di benak saya tentang karakter orang barat.

***

Di sepanjang perjalanan terjadi percakapan-percakapan ringan seputar keluarga, seperti bagaimana anak-anak saya (karena saya tinggal di Inggris), usia dan sekolah mereka, suami kerja di mana, dan sebagainya.

Mereka juga antusias memberi tahu lokasi kampus, rute dan pemberhentian bus dari rumah ke kampus, serta yang tak kalah penting adalah, groceries, alias toko sembako yang ternyata hanya beberapa langkah dari akomodasi tempat saya tinggal.

Setelah perjalanan kurang lebih setengah jam, tibalah saya di rumah yang akan saya tempati selama 4,5 bulan ke depan. Syukurlah, letak rumah sangat strategis, di tengah kota. (Jangan bayangkan tengah kota di sini sama dengan tengah kota di Indonesia yang bising dan macet.)

Di sini semuanya serba teratur sehingga tidak ada cerita tentang nyerobot jalan maupun kebut-kebutan. Kendaraan antre di perempatan hanya di satu barisan saja meski sebenarnya sebelah kanan dan kiri masih kosng. Sesuatu yang bakal tidak disia-siakan untuk segera tancap gas jika di negara kita. Betapa tertibnya mereka dengan budaya antre.

Begitu sampai di rumah, tuan rumah langsung mengajak saya touring ke seisi rumah sambil menjelaskan fungsi berbagai peralatan yang ada di rumah tersebut. Jadi ketahuan ndesitnya karena banyak hal baru yang belum pernah saya coba.

Tetapi semangat untuk bisa segera beradaptasi mengalahkan rasa ndesit saya. Tuan rumah juga mempersilakan saya menggunakan semua peralatan yang ada beserta bahan makanan yang ada di dapur termasuk bumbu-bumbu, pasta, gula, teh, kopi, selai, dan sebaginya. Waduh saya jadi bingung mau diapain bumbu sebanyak itu. Seperti melihat acara Master Chef secara langsung karena lengkapnya pantry.

Ketika saya dan tuan rumah sedang di kamar yang nantinya akan saya tempati, tiba-tiba sang guru besar datang dan membawa koper saya yang beratnya 20 kg melalui tangga spiral dari besi—yang hanya cukup untuk satu orang. Bukan pekerjaan mudah tentu saja. Wowww… sesuatu yang hampir mustahil terjadi di negara kita.

Seorang guru besar yang sangat dihormati dan memiliki jabatan struktural–yang tinggi pula di kampus—mau-maunya ngangkut koper saya?

Kejutan belum berhenti sampai di situ. Tidak berapa lama beliau menyerahkan tas berwarna merah dari sebuah supermarket yang ternyata berisi sembako. “This is for you,” katanya. Sampai bingung saya harus bilang apa. Sampai segitunya beliau memikirkan saya yang pastinya belum mempunyai apa-apa untuk dikonsumsi.

Saya memang tidak membawa secuil pun makanan dari Indonesia karena khawatir bermasalah di bandara.  Inggris memang terkenal keras dengan larangan membawa makanan dan bahan olahan lainnya dari negara lain.

Istrinya juga langsung mempunyai ide untuk membuat WhatsApp grup yang berisi kami berempat (saya, tuan rumah, pak professor dan istrinya). Katanya kalau saya ada kendala atau perlu apa-apa kapanpun biar mereka bisa langsung bantu.

Sebelum berpamitan, pak professor juga menyampaikan kalau saya kerjanya lusa saja, besok biar saya istirahat total setelah perjalanan yang panjang. Ketika tulisan ini sedang saya buat pak professor juga mengirim pesan melalui WhatsApp dan menanyakan kepada saya apakah saya baik-baik saja.

Beliau juga akan menjemput saya besok pagi dan menemani naik bus agar saya tidak bingung dalam menggunakan moda transportasi tersebut. Segitunya mereka memperdulikan saya. Sungguh kenikmatan yang luar biasa.

***

Rentetan peristiwa-peristiwa di atas menepis persepsi lintas budaya yang seringkali keliru. Bahwa egois, individualis, maupun humanis, suka menolong, dan sebagainya, tidak bisa disematkan begitu saja dan dijadikan patokan akan karakter sebuah budaya.

Persepsi yang bersifat turun temurun tanpa divalidasi dengan pengalaman empiris secara langsung hanya akan menjauhkan kita dari interaksi global yang masing-masing aktor tidak lepas dari akar budayanya masing-masing.

Justru pergaulan dengan dunia luar membuat mata dan pikiran kita semakin terbuka bahwa ternyata kita tidak selalu benar, bahwa budaya kita tidak selalu lebih baik disbanding budaya lain, begitu pula sebaliknya.[T]

Tradisi Bayen di Wonosobo: Komunikasi Antarpersona Mewujudkan Women Support Women
Menjaga Reputasi Melalui Interaksi dengan Netizen
Tags: BudayaesaiInggrisperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Literasi Dasar: Hubungan Abadi Antara Manusia dan Pengetahuan, Konstruksi dan Konsumsi

Next Post

Kontroversi Marketplace Guru: Guru Bukan Barang Dagangan!

Shinta Prastyanti

Shinta Prastyanti

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Kontroversi Marketplace Guru: Guru Bukan Barang Dagangan!

Kontroversi Marketplace Guru: Guru Bukan Barang Dagangan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co