23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi untuk Putu Vivi Lestari – Selamat Jalan, Penyair…

tatkala by tatkala
February 2, 2018
in Feature

Vivi Lestari./ Foto FB/Jengki Sunarta

Pertengahan tahun 1990-an, Teater Angin SMAN 1 Denpasar sedang suntuk-suntuknya bergaul dengan teater dan puisi. Sejumlah siswa suntuk di teater, sejumlah siswa lain tergila-gila pada puisi.

Yang suka puisi biasanya mendekatkan pergaulan pada penyair-penyair dari Sanggar Minum Kopi, seperti Warih Wisatsana, Wayan Jengki Sunarta, Oka Rusmini, Tan Lioe Ie. Teater dan sastra saat itu memang sedang menjadi tuan rumah di Denpasar. Histeria sekaligus guyub.

Ada banyak siswa menunjukkan minat sangat besar pada puisi. Dalam hampir setiap kesempatan mereka akan bertanya tentang puisi, bagaimana menulisnya, bagaimana cara membangun rima, bagaimana membuat metafora, sampai cara mengirim karya ke media massa.

Penyair yang rajin meladeni siswa saat itu, salah satunya adalah Wayan Jengki Sunarta, selain juga ada Riki Dhamparan Putra. Ke mana pun Jengki dan Riki pergi untuk bikin acara sastra, bahkan hingga ke Desa Marga di Tabanan, sejumlah anak akan ikut.

Ada seorang siswa saat itu, yang sangat pendiam. Tak banyak bertanya. Tapi selalu ikut temannya untuk mengikuti para penyair-penyair dalam acara sastra. Siswa perempuan itu seolah hanya sebagai penggembira, hanya ikut-ikutan.
Namun beberapa tahun kemudian, siswa perempuan yang tak banyak bertanya itu membuat para penyair di Bali terkejut. Siswa itu menunjukkan sejumlah puisi, baik di media massa maupun yang ditunjukkannya sendiri. Puisi-puisi penuh tenaga dan kuat, terutama dalam mempertanyakan tentang diri dan kehidupan di sekitarnya.

Rupanya siswa perempuan yang pendiam itulah sesungguhnya menjadi pendengar dan penyerap paling baik dari segala petuah-petuah Jengki, Riki, dan teman-teman penyair lain. Setelah tamat SMA, siswa perempuan itu makin menunjukkan jati dirinya sebagai penyair. Puisi sempat dimuat di Jurnal Kalam dan saat itu sempat dipuji Goenawan Muhamad dalam acara sastra di Taman Budaya Denpasar yang diadakan Teater Utan Kayu (TUK).

Siswa pendiam itu adalah Putu Vivi Lestari yang kemudian dikenal sebagai salah satu penyair perempuan Bali yang kuat. Dia melesat mengikuti bakatnya. Sementara teman-teman sesama menjadi siswa SMA dulu, yang banyak bertanya tentang puisi, justru tak begitu kelihatan.

Dialah Vivi Lestari, yang sungguh mengejutkan sekaligus membuat sangat sedih, pada Sabtu, 8 April 2017 Pkl. 20.00 WITA, ia meninggalkan teman-temannya untuk selamanya, setelah menderita penyakit kanker darah.
Di laman facebook, penyair yang paling dekat dengan Vivi saat muda, Wayan Jengki Sunarta, mengabarkan kesedihannya dengan menulis puisi.

“Entah kebetulan atau bukan, sejak senja tadi aku gelisah dan merasa ada yang aneh, sebab hujan kelabu turun tiada henti, dan aku menulis puisi muram. Dan, ternyata aku dapat kabar duka, sahabat kami yang baik, penyair Putu Vivi Lestari telah pergi mendahului kami jam 8 malam tadi. Dia terkena kanker darah. Aku syok mendengar berita duka itu. Bahkan aku belum sempat menjenguknya. Bahkan buku puisiku “Montase” yang dipesannya belum pula sampai padanya. Duh, Vivi, begitu cepat kau pergi…,” demikian tulis Jengki.

Beberapa jam sebelum Vivi dikabarkan pergi, Jengki sebenarnya sudah menulis puisi muram yang kemudian ia anggap sebagai pertanda. Puisi itu kemudian didedikasikan untuk sahabatnya yang baik itu.

Hujan Kelabu
-untuk penyair Putu Vivi Lestari-

mengenangmu,
hujan kelabu
membasahi kalbu
dua kucing hitam
mendengkur
di atas kasur
serangga senja
bernyanyi lirih dan ragu
bunga-bunga kamboja
luruh di halaman rumah
langit bagai kerak kopi
hujan kelabu belum henti
aku pun tak usai
mengenangmu…
(WJS, Sabtu, 8 April 2017)

Penyair Pranita Dewi juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya setelah mendengar kabar Vivi pergi menghadap Sang Kahlik. Ia menulis puisi untuk Vivi:

Vivi Lestari,
memang hujan
mengganti air
mata di pipiku
merembesi bumi
memengapkan hati
kehilanganmu
begitu mencengkam
maut begitu
mencengkeram.
selamat jalan…

Vivi adalah penyair bersahaja, namun banyak memiliki teman. Salah seorang penyair yang juga wartawan Made Sujaya juga menuliskan rasa sedihnya:

Terbenam dalam rasa kehilangan yang dalam. Selamat jalan, Vivi Lestari, kawan sepermainan di rahim puisi. Angin mungkin menyapu bayangmu, tapi puisimu tetap abadi, di hati kami

Sementara penyair Sinduputra menulis:

……bukan kematian yang kau takutkan..
Tapi air mataku mengalir deras…….

Vivi memang layak dikukuhkan sebagai penyair perempuan yang sudah memberi sumbangan kepada dunia sastra Indonesia dengan mewariskan puisi-puisi yang baik. Inilah dua puisi Vivi Lestari:

UPACARA AKHIR TAHUN

“Ke barat kekasihku”
Jalan makin hitam
merapat di sisi tahun
anak-anak gerimis
menari
pada layangan angin
Detik ini
biarkan lilin mengurai
tangis
di sela jemari bunga
hingga cahaya yang lahir
menuntunmu berteduh
pada bayangan sendiri
“Ke barat kekasihku”
Di sana laron melepas sayap
kunang-kunang berbagi cahaya
pada langit
pada bulan yang ragu
merangkai detik
Sementara daun-daun kenangan
meranggas
menuai badai
keluh kesah kabut
menyayat
doa harapan

CABO

Di bulan juni
Yang resah
Selalu kata-kataku
Sesat
Entah di rambutmu
Di ujung suaramu
Atau di liku tubuhku
Aku tahu
Sebuah legenda kaca
(kesetian yang tak selesai)
Telah usai
Kau bukan kaisar shahjahan
Di penjara masa tua
Yang tersalib
Dinding pualam
(oleh cinta ataukah sesak birahi)
Bukan pula Kalindi Kunj
Dimana mata air
Menyindir kesendirianku
:”janda yang haus
Tersesat di belantara
Tanpa rimba”.
Di bulan juni
Yang resah
senja gelisah
Sejarah memaku pintu dekapan sisi kubah
Kaca-kaca bergambar
Burung merak terlunta
Terlupa lorong
Kalyana Manta
Meski pilar-pilar menopang
Runtuhan sesaji
Para dewa
Barisan restu
Nenek moyang
Tetap saja
Aku tergagap
Warna merah
Di belahan rambut
Sebuah ikatan ataukah pengabdian
Tanpa batas?
Di bulan juni
Yang resah
Sejarah cemas
Bergegas
Menerka musim
:”Kenapa setia tak menunggu
Di ujung ranjang”.
Ada camar
Yang sesat
Saat langit
Mengirim
Senja yang lain
Di mataku
Antara angin masa lalu
Dan hari ini
Buih ombak
Mendesah lebih riuh
(mungkin suaramu
Atau nafasmu)
Di dadaku
antara renda bermotif bunga
dengan lapisan
busa halus
antara bercak
tanganmu
yang tertinggal 10 tahun
silam
ada camar
tersesat
saat mania Giorgio Armani
mengngirim wewangian
rempah
di leherku
atau Christian Dior
menyelipkan
dedaunan luruh
di kulitku
di pantai yang jauh
sebuah dosa indah
terselip
di lipatan bibirku
dan di ujung
rambutku
yang gemetar
kata-kata hilang makna
“puasaku batal
Hari ini”

Selamat Jalan, Penyair, bersama Tuhan teruslah menulis puisi-puisi yang baik…

Tags: in memoriamPenyairPuisi
Share2220TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Kompromi (2), Hakekatnya Memang Batasan

Next Post

Gede Juta

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails
Next Post

Gede Juta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co