23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bulan “Akting”

Jaswanto by Jaswanto
March 29, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

DI BERANDA KONTRAKAN di Perumahan Griya Sambangan (atau yang sering saya singkat: GS45), saya duduk memandangi empat ekor kucing (2 jantan-2 betina) yang sudah saya rawat sejak kecil sambil memeganggi tempat makanannya—kucing-kucing itu makan dengan lahap. (Ini sudah menjadi kebiasaan saya sepulang bekerja.) Dan sesaat setelah saya menutup tempat makanan kucing itu, sebelum saya beranjak dari tempat duduk, azan Magrib berkumandang. “Cepat sekali,” gumam saya dalam hati.

Hari kedua puasa Ramadan (24/3), tak ada yang lebih istimewa kecuali saya yang tiba-tiba lebih rajin beribadah—tentu saja dengan susah payah—daripada hari-hari biasa. (Ini “akting” klasik yang selalu saya lakukan saat bulan puasa.)

Seorang awam seperti saya, rajin ibadah saat puasa Ramadan, sekali lagi dengan susah payah, adalah sebuah prestasi yang sangat menggembirakan. Ya, di balik semangat rohani saya, ada fisik yang menderita sebenarnya—tentu saja, orang seperti saya kelaparan bukan hal yang mudah. Mungkin itu karena fisik saya begitu lemah, atau jangan-jangan karena cetek ilmu dan iman saya, tapi bisa jadi juga karena kemanjaan saya.

Namun, bisa jadi karena seluruh rasa berat itulah, mendengar suara azan Magrib dari musala kecil Perumahan Griya Sambangan itu, hidup saya terasa ringan. (Suara azan di bulan puasa adalah hadiah yang menarik hati.)

Saya masuk kontrakan, menuju kamar, minum tiga teguk air untuk membatalkan puasa, dan segera mengganti baju. Teman-teman kontrakan sudah menyiapkan hidangan buka puasa. Sederhana saja: hanya ada nasi, telur dadar, sayur sop, dan es teh, tanpa kurma atau takjil yang macam-macam. (Puasa kali ini rasanya memang tak ingin makan macam-macam. Saya tak mau menjadi diri yang kemarin (yang dulu), yang cerewet, yang ingin membeli dan memakan apa saja saat menjelang buka puasa. Kenapa saya—dan mungkin juga kebanyakan orang—tiba-tiba bisa serakus itu?)

Seorang teman mengirimi saya sebuah pesan WhatsApp: “Sepertinya bulan Puasa kali ini banyak yang berubah”. Saya agak kaget membacanya. Lama saya termenung. Benarkah bulan Puasa telah berubah?

***

Ibadah puasa memang tentang “menahan”. Menahan segala sesuatu yang berkaitan dengan nafsu/ego. Leluhur kuno menyebut laku menahan ini sebagai laku Mesu Budhi Babahan Hawa Sanga. Dan puasa adalah laku paling rahasia. Laku untuk menemukan diri—yang oleh Sunan Kalijaga diibaratkan dengan “penekno blimbing kuwi”. Puasa adalah jalan pribadi untuk menuju Tuhan, bukan jalan umum. Puasa adalah ibadah rahasia dan paling mesra dari seorang hanya kepada Gustinya.

Lantas, kenapa kita malah menjalankan ibadah puasa dengan ingar bingar? Ugal-ugalan? Foya-foya? Kedamaian yang telah berganti dengan keberisikan, keramaian yang tak bisa terbendung—dan kita larut, hanyut, menyerah pada keadaan?

Benar apa yang dikatakan Mahfud Ikhwan, pada kenyataannya, puasa adalah saat pasar sedang ramai-ramainya, jalan raya macet total, dan mal menambah jam bukanya; para buruh bekerja lebih keras dari biasanya (bukan karena mereka menelan nasihat para dai bahwa puasa tak boleh menghalangi semangat kerja, melainkan karena mereka mesti memastikan baju Lebaran untuk anak-anaknya tidak lebih buruk dari anak tetangga, atau tiket mudik dan oleh-oleh untuk keluarga di kampung sudah tersedia bujetnya); ibu-ibu jauh lebih sibuk di dapur dari hari-hari biasa, karena mereka bukan hanya memasak lebih banyak dan lebih istimewa dibanding hari-hari biasa, tapi juga mesti memutar uang belanja lebih lihai karena semua harga bahan pokok naik.

Di bulan-bulan selain bulan Puasa, biasanya satu jenis makanan atau minuman saja sudah cukup. Akan tetapi, pada saat bulan Puasa, tampaknya saya, misalnya, telah menjadi orang yang paling kapitalistik—dan juga rakus. Akibatnya, rasa malas untuk salat Tarawih menyerang. Dengan sangat terpaksa berangkat salat Tarawih, sebab merasa tidak enak dengan yang lain. Setelah selesai Tarawih, sedikit baca Alquran (kadang malah tidak sama sekali), tentu banyak ngemilnya. Kemudian, sahur banyak-banyak biar siang kuat berpuasa. Menjelang imsak, masih sempat minum obat lambung supaya tidak terserang maag dan minum vitamin agar tidak lelah seharian.

Dan itu, jangan lupa, bukankah kita juga butuh hiburan saat puasa? Puasa  yang  identik dengan kata sabar, soleh, rajin ibadah, atau introspeksi, tampaknya juga bergandengan dengan kata berat, susah, bosan, sepi, atau hal-hal semacam itu. Itu membuat (mungkin) ada pihak yang berpikir bahwa orang berpuasa butuh ditemani, dihibur, diberi imbalan, disenangkan, dst. Dari situlah kiranya, ketika tiba puasa, penyanyi-penyanyi, atau grup band, punya tawaran lagu atau album religi baru untuk menemani dan menghibur kita.

Dan produsen sirup, kata Mahfud Ikhwan, menawarkan rasa dan kemasan botol baru; penyedia jasa internet menawarkan paket layanan baru; mal-mal menjanjikan harga diskon besar-besaran; pasta gigi halal dengan cita rasa buah entah apa dari Korea diperkenalkan; sebuah produk kopi sasetan menawarkan umrah gratis bersama seorang dai kondang yang pandai berpantun; kontes dai cilik dengan juri terdiri atas ustad-ustadah kesayangan Anda dimulai lagi; Raffi Ahmad dan Soimah punya acara komedi jelang sahur baru yang dijamin lebih lucu dan lebih seru; dan Deddy Mizwar terus memperpanjang Para Pencari Tuhan hingga season ke-16. Dan seterusnya…

Barangkali teman saya benar (jika yang dimaksud soal esensi puasa), bahwa bulan Puasa memang berubah. Dan hal di atas sebagai gambaran situasi puasa yang tampaknya sudah bergeser dari kewajiban ibadah menjadi bagian dari ritual (mungkin sudah menjadi kebiasaan) konsumsi budaya massa yang tampak kapitalistik—walaupun pada akhirnya, kita kembali pada klise tentang hidup, bahwa ini adalah tentang pilihan masing-masing. Kita bisa memilih menjalani puasa sesuai dengan apa yang kita inginkan.

***

Saya memandang sajadah yang terlipat di atas tempat tidur, menimbang, mau salat dulu apa makan dulu. Ah, hamba amatiran seperti saya kadang lebih banyak alasan daripada langsung bergegas mengerjakannya. Benar memang, selama bulan Puasa saya lebih rajin beribadah, tampak lebih sabar, kalem, setengah mati menahan hawa nafsu, belajar menjadi manusia spiritual, belajar untuk lebih dekat dengan Tuhan. Tapi, itu semua, sesungguhnya, setelah Idulfitri-lah, yang akan menjadi bukti, apakah saya hanya berpura-pura ibadah, atau memang sungguh-sungguh menjalaninya.

Oh, sial. Saya terlanjur memikirkannya. Ya, setelah sebulan penuh berpuasa, memangnya apa yang berubah dari saya? Apakah saya akan kembali rajin beribadah, masih sabaran, kalem, bisa menahan hawa nafsu, dan dekat dengan Tuhan?

Kita lihat saja. Dan itu, apakah musala atau masjid juga akan tetap ramai, tidak kembali sepi? Apakah tayangan TV dan YouTube—yang siap menghibur kita—tetap menampilkan yang islami-islami? Apakah artis-artis kita tetap akan reliji-reliji? Apakah di status Facebook atau grup-grup WhatsApp akan tetap bertebaran kata-kata mutiara, doa-doa, permohonan maaf, dan bukan kata-kata makian, ujaran kebencian, hoaks, dll?

“Celaka. Atau jangan-jangan, bulan Puasa hanya bulan penuh “akting”? Bulan Puasa bukan bulan untuk belajar “menahan”, belajar untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tapi bulan untuk belajar melatih kepura-puraan kita?” tanya seseorang di kepala saya, bertubi-tubi.

Seorang teman mengajak saya untuk segera berbuka puasa. Dan saya kembali memandangi sajadah itu—saya pesimis. Dengan amal yang tidak sebanding dengan dosa ini, untuk mengharapkan surga tentu saya sangat tahu diri.

Saya keluar kamar, memakai sarung dan baju takwa putih, bergabung dengan teman-teman yang lebih dulu berbuka. Segera saya mengambil tiga centong nasi, menaruhnya di tengah piring, lalu setengah potong telur dadar, beberapa sendok sop, menghiasi di atasnya. Saya makan dengan lahap.

Dan setelahnya, pertanyaan-pertanyaan, renungan-renungan, kesadaran-kesadaran di atas segera lenyap dari kepala saya, seperti yang sudah-sudah—saya menguap kekenyangan, berkali-kali.[T]

Menyepi Bersama Kata-kata
Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya
Libur Hari Jumat
Tags: bulan puasaPuasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kuliah Literasi SMPN 2 Sukasada: Literasi Sekolah Tak Sebatas Pojok Baca dan Membaca 15 Menit

Next Post

Peran Strategis Asuransi Kesehatan Cegah Lingkaran Kemiskinan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Peran Strategis Asuransi Kesehatan Cegah Lingkaran Kemiskinan

Peran Strategis Asuransi Kesehatan Cegah Lingkaran Kemiskinan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co