1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perbandingan “Kita dan Dunia”, Dari Banjo Hingga Menit yang Saya Suka

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 5, 2023
in Pilihan Editor, Ulas Musik
Perbandingan “Kita dan Dunia”, Dari Banjo Hingga Menit yang Saya Suka

Salah sati scene dalan video Kita dan Dunia, Dialog Dini Hari

Kepada pembaca budiman, jika berluang waktu ditonton link video di bawah terlebih dahulu nggih:

MENELISIK alat musik banjo, seperti mencari ketidakpastian yang tak memiliki muasal.  Membaca beberapa artikel lepas di internet, membuat saya susah untuk men-tracking-nya, membuat silsilah yang runut, agar turunanannya jelas. Bukankah identitas menjadi hal yang lumrah dicari, hingga hari ini.

Banjo datang ke Dunia Baru-Amerika tidak berupa fisik, ia datang bersama alam pikir para budak Afrika yang didatangkan untuk bekerja paksa, pada tahun 1500-1700an. Dalam alam pikir itulah banjo dirangkai dengan benda-benda temuan seadanya, untuk mengakomodir kerinduan para budak tentang rumahnya yang jauh. Setidaknya jika tak menyambangi secara fisik, mereka menyambangi secara dunia rasa, berupa musik.

Bahan sederhana untuk membuat banjo berupa labu berlubang, leher dari kayu, kulit binatang sebagai penutup labu, senar dari rambut kuda, usus binatang, atau bahan lainnya yang bisa di dapat. Dapat dibayangkan, alat musik sebagai pemersatu budak, hadir dalam kebersamaan dalam kesempitan, sekaligus penderitaan bersama. Ia pasti akan selalu dinanti menjelang malam, sebagai pengiring untuk melepas lelah, atau mabuk di kebun sampai lupa akan nasib untuk melanjutkan peran esok hari.

Hingga hari ini, banjo mengalami banyak cerita, gaya permainan, dimainkan oleh musisi-musisi, serta merebut posisi yang dulunya musik kelas lowbrow menjadi populer. Satu di antaranya hadir dalam intro lagu “Kita dan Dunia” oleh Dialog Dini Hari, yang di-release berupa official lyric video 3 Februari 2023 di kanal youtube mereka.

Nuansa instrument banjo ini, sangat mempengaruhi arasemen lagu “Kita dan Dunia” yang dulu tahun 2012 pernah di-release. Saya mencurigai diri saya sendiri, apakah ini soal perasaan saya saja, karena mengikuti perubahan lagu ini, atau ada hal lain?

Mari kita bahas, agar terlihat berlogika, soal perasaan ditangguhkan dulu sebentar.

Banjo dan Kehangatannya

Di awal tulisan, saya memulainya  dengan banjo. Tampaknya petikan yang terbilang kasar itu, adalah penyemangat budak-budak untuk melanjutkan hari. Jauh sebelum hari ini, nada-nada, petikan-petikan itu tidak kehilangan semangatnya, marwahnya sebagai sesuatu untuk mengatakan tidak boleh kalah dengan kehidupan, walau derita bertubi datang menerjang.

Dalam video “Kita dan Dunia”, ia dimetaforakan atas dua aktor kicik-kicik, anak laki-laki dan perempuan. Malika Atha Nayotama Hadiyatha dan Najwa Mazaya Sabrina. Mereka berdua sedang melakukan petualangan, tanpa bahasa, tanpa percakapan (setidaknya para pendengar, tidak mengetahui apa yang mereka bincangkan) ia hadir dalam kepadatan hanya impresi tubuh, ekspresi wajah, serta laku-laku yang mudah kita maknai. Seperti tertawa, berjalan, tarik menarik,  urunan duit, berjalan, berlari, bersepeda, main skateboard dan lain-lain yang mungkin lalai dari pengamatan saya.

Pilihan aktor kicik, sangat pas dengan gubahan baru “Kita dan Dunia”, bahkan ya kalau teman-teman perhatikan kata Dialog Dini Hari huruf depannya kecil, ditulis “dialog dini hari”. Dan judul pun ditulis demikian “kita dan dunia”.

Video ini memaksa kita menjadi kecil, atau setidaknya mengakomodir ingatan kita terhadap masa kecil, yang bertahun lalu kita sudah lalui. Saya sendiri menyusur kembali ingatan-ingatan, saat bermain di Tukad Badung, tersesat di gang-gang buntu Jalan Gajah Mada, bermain perang-perangan di lapangan bekas expo di Jalan Gunung Agung, serta adu lemparan di sekolah hingga memecahkan kaca dan lain-lain. Apakah kita benar-benar tumbuh tanpa kenangan semacam itu, atau watak kita terbentuk dari kenangan semacam itu?

Dan mereka yang kita ajak waktu itu, bagaimana kabarnya? Apakah baik-baik saja? Atau sudah lost kontak?

Jiwa anak-anak biasanya tetap bersemayam dalam tubuh laki-laki, ada kawan yang mengatakan begitu. Saya setuju sebagai studi kasus untuk membaca pengalaman ketubuhan saya sendiri. Hingga hari ini kerja logika dalam kesenian, masih bertaruh pada kenakalan eksperimen untuk mencapai satu estetika yang segar. Begitu juga Dialog Dini Hari, dalam gubahan pertama tahun 2013, lagu ini hadir sebagai bentuk presentasi pendewasaan. Hadir dengan video pasangan Om Saylow dan Mbok Oming yang sederhana, penuh canda-tawa saat menaiki wahana air.

Video itu diputar di Taman Agro di Hayam Wuruk, saat proyek tur Suara Tujuh Nada, bersama Stars and Rabbit, Dialog Dini Hari, dan White Shoes and The Couples Company. “Kita dan Dunia” ialah hadiah pernikahan Dialog Dini Hari untuk Om Saylow, yang akan menikah usai tur berlangsung.

Kenapa kemudian, lagu tahun 2013 yang begitu dewasa, beralih pada subjek anak-anak? Tidakkah aneh? Coba perhatikan liriknya:

Perempuanku gengam tanganku
lalu menyusur lah bersamaku
jika suara mu tak terdengar
kukan berteriak bersamamu

Dunia tak abadikan kita
dan cinta kita kan berlalu
tapi tetaplah gengam tanganku
teriak lantang bersamaku

Dunia tak setara kita
dunia tak menggengam kita
dunia tak sajikan cinta
dunia dan kita tak setara

Perempuanku genggam tanganku
lalu menyusurlah bersamaku
jika suaramu tak terdengar
kukan berteriak bersamamu
bersamamu bersamamu bersamamu

Kurang cinta apa? Kurang dalem kayak gimana? Kurang pemahaman hidup seperti apa? Tapi senyatanya yang saya dapati, ia sangat sederhana dalam gubahan kedua. Benar…, karena Banjo, kehangatan anak-anak itu terjaga dalam lirik-lirik yang seolah menuju kesimpulan itu.

Kata “perempuanku” dalam lirik saya lebarkan menjadi kawan-kawan seperjuangan, yang dulu pernah mengamini hidup bersama kita. Kendati dalam kedua video memang diperankan oleh laki-laki dan perempuan. Yang saya garis bawahi adalah nilai-nilai sayang, cinta, kemudian menjadi spirit atas laku hidup sesama manusia.

“Dunia tak setara kita
dunia tak menggengam kita
dunia tak sajikan cinta
dunia dan kita tak setara”

Lirik ini membawa saja antara kelindan bayangan hari ini, dengan sejarah terhadap para budak Afrika yang bekerja di Amerika. Dunia tidak menyajikan apa-apa, ia kemudian dapat diimajinasikan menjadi dunia utopia dalam pikiran masing-masing. Bisa bergembira, bisa bersedih, bisa marah, apapapun bisa. Bagi sebagian orang utopia ini adalah kemustahilan begitu juga Dialog Dini Hari, dalam baitnya di atas. Ketidaksetaraan pun dibaca sebagai kelas masyarakat, ada budak, ada kaum borjuis, garis untuk menentukan kemiskinan dan orang kaya dan dualisme yang lain.

Jika dunia tidak menyajikan apa-apa?
Kita yang harus menyajikan diri kita pada dunia,
menjadi apapun, menjadi siapapun, atas pilihan yang sadar.
(saya menjawab lirik Dialog Dini Hari seperti di atas)

Hal-hal Lucu dan Penegas

Catatan dalam sub ini mungkin untuk Indira larin sebagai sutradara dan yang menulis naskahnya. Stylistnya saya suka, celana panjang dengan lipatan bawah, sepatu kets, baju di masukkan ke dalam sehingga memperlihatkan ikat pinggang yang mereka pakai, baju yang senada berwana abu-abu, dan tas gendong dengan warna polos tanpa corak. Ah paduan sederhana, dengan lirik-lirik yang menggunakan bahasa sehari-hari.

Pembacaan turunan lirik ini, jadi penting untuk melihat bagaimana kemudian properti menyesuaikan keutuhan mood yang diinginkan. Terimkasih kerja keras dan pembacaannya.

>>>

Dari style rambut juga lucu, Sabrina dengan rambut yang gerai, dan Atha rambut pendek, mengingatkan saya pada Om Saylow dan Mbok Oming di video pertama. Apakah kamu sedang mengacu pada visual itu? Jika itu maksud dan tujuannya, berhasil. Sebab saya sendiri berulang kali secara bergantian melihat dan mendengar kedua video Kita dan Dunia.

Tapi catatanku yang agaknya perlu dipertimbangankan ialah jalannya logika peristiwa dalam setiap adegan. Bagi saya setiap scene memiliki satu keterkaitan, dan satu jalan cerita yang mestinya dapat berupa logika keseluruhan. Walaupun scene tampak melompat-lompat, tentang kegiatan sehari-hari, tapi perlu juga untuk merunutnya sebagai satu jalan cerita, ada premis, ada semacam motivasi yang ingin dibangun. Tapi sejauh ini, oke sih.

Memasukkan teks lirik juga jadi pemanis yang pas, liriknya sedang divisualkan, visualnya sedang bergerak atas lirik. Dan ditempatkan bukan lirik yang kaku, liriknya bergerak, dinamis, mendistraksi saya tapi pada kadar estetika yang tidak berlebihan. Mungkin ya, Rin, saya membayangkang jika itu tampak lirik, videomu akan tak sekuat sekarang. Pilihan yang tepat, dan menempatkan scene juga sangat kamu dipertimbangkan. Misalnya,

Pada menit 01.03
Liriknya: Lalu menyusurlah bersamaku
Scene-nya: berlari bersama, menuju semak

Pada menit 01.19
Liriknya: Ku kan berteriak bersamamu
Scene=nya: Atha sedang menyeringai, Sabrina ketawa, sambil memegang pagar kawat, lalu berdua merangkak di bawah kawat.

Pada menit 02.36
Liriknya: Dunia tak sajikan cinta
Scene-nya: Atha dan Sabrina bersandar di batang pohon besar, sambil tertawa, dan memandang jauh

Pada menit 03.31-03.42
Liriknya: bersamamu… bersamamu… bersamamu…
Scene-nya: sabrina memakan es krim, Atha dan Sabrina berdua duduk di depan rolling door, dan berdua menyusur semak.

Pada menit 04.41
Tak ada lirik
Tapi scene-nya mereka tetap berjalan, kita dan dunia masih berlanjut, menggantung.

Demikian saya sebagai penikmat, saya menawarkan sajian pembacaan ini untuk diri saya sendiri, ataupun bagi kawan-kawan pembaca. Selamat atas karyanya, dan salam. [T]

Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari
Dialog Dini Hari: Terus Menulis dan Merilis
Soundrenaline 2018 dan “Benda-benda Kecemasan” dalam Pikiran Saya
Tags: baliDialog Dini Harimusikvideo musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi

Next Post

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co