23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 1, 2023
in Esai
Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya

Ilustrasi tatkala.co | Jason Aditya

“Panas yang disangka sampai petang, ternyata gerimis turun di siang hari.“

PENGGALAN KALIMAT di atas saya dapat dari esai berjudul Turis, karya Mahbub Djunaidi dalam buku Asal Usul , catatan-catatan pilihan yang terbit di Kompas, dulu. Penggalan kalimat itu membuat saya mematung─dan menggerakkan saya untuk menulis catatan yang sedang Anda baca saat ini.

Begini. Kuliah saya sudah di ujung tanduk, semester akhir, belum lulus. Padahal, banyak yang menyangka saya bisa lulus normal, delapan semester. Tetapi siapa sangka, seperti panas yang disangka sampai petang, ternyata gerimis turun di siang hari.

Barang sudah kepalang tanggung, apa boleh buat. Daripada  basah sedikit, nyebur saja sekalian. Kalimat itu rasanya sangat pantas untuk menggambarkan bagaimana saya berproses kali ini.

Saya masuk kuliah tahun 2016, dan sialnya, sampai tahun 2023─empat belas semester, bapak-ibu─belum lulus juga. Tetapi jangan tanya kenapa, sebab tak ada jawaban apa-apa selain itu adalah pilihan saya sendiri.

Mungkin, sebagian orang, jika ditanya hal serupa terkait lambatnya dalam menyelesaikan studi akan menjawab dengan kalimat klise seperti misalnya, “Wah iya, aku masih sibuk berorganisasi. Jadinya masih mempunyai tanggung jawab di sana”─seolah-olah menyelesaikan studi bukan soal tanggung jawab. Atau, ada juga yang menjawab dengan tidak masuk akal seperti, “Oh iya, aku menghilang kemarin karena masih dalam proses berdamai dengan diri sendiri─aku gagal dalam percintaan”. Dan jawaban-jawaban pembelaan─yang mungkin lebih tidak masuk akal─lainnya.

Sekali lagi, alasan saya terlambat lulus bukan karena putus cinta, galau terus nglesot, bodoh, dsb, tidak sama sekali. Saya memperlambat kelulusan karena memang itu pilihan yang saya buat, secara sadar. Anda boleh mengatakan itu sebagai pembelaan atau pembenaran. Silakan, saya tidak keberatan. Yang jelas, mau bagaimana pun, saya harus tetap bertanggung jawab atas pilihan saya sendiri.

Saya kasih tahu, kalau saya mau, saya bisa saja lulus tahun 2020. Semua mata kuliah, kecuali skripsi, sudah saya habiskan. Bahkan, kalau boleh sombong, tak ada satu mata kuliah pun yang mendapatkan nilai C, apalagi sampai mengulang, tidak sama sekali. Sampai sini saya tekankan, sekali lagi, bahwa saya telat lulus bukan karena bodoh.

Oh iya, kenapa, si, orang Indonesia senang sekali menganggap mahasiswa yang telat lulus itu bodoh, hidupnya gagal? ─dan memangnya kenapa kalau gagal? Bukankah dalam hidup ini, kita tak harus bisa mengatasi segala hal; tak harus memenangi segala hal; tak harus melewati proses dengan gemilang, dan hal lain semacam itu? Seperti kata Puthut EA, kita boleh menyerah kalah, kok.

Saya memilih telat lulus karena ingin mengeksplor banyak hal. Sebab, menurut saya, ilmu yang saya dapat dari kampus saja tidak cukup untuk bermasyarakat. Dan selama proses itu berlangsung, tentu banyak teman dan saudara sangat menyayangkan hal itu─mereka menganggap saya memilih “jalan yang salah”. Saya tak ambil pusing, saya menjalaninya dengan senyuman dan tentu tetap berkomedi. Hahaha.

Nyatanya, telat lulus tak selamanya buruk. Saya berkesempatan untuk mengenal banyak hal yang sebelumnya tak pernah saya ketahui. Barangkali pengetahuan yang tak akan pernah saya peroleh di kampus─pengetahuan yang tak menggunakan sistem SKS.

Bukan hanya pengetahuan baru, tetapi juga teman baru, ilmu baru. Dalam hal ini wajib hukumnya saya bersyukur.

Salah satu orang yang saya kenal saat proses “pencarian” itu bernama Jaswanto, seorang pemuda yang lahir dari dusun yang jauh.

Mas Jas, begitu saya memanggilnya. Saya memanggilnya “Mas” bukan hanya semata-mata ia lebih tua dari saya─umur kami hanya selisih 1 tahun. Lebih dari itu, saya akui, dalam hal keilmuan ia lebih mumpuni. Selain saya anggap sebagai kakak, ia juga saya anggap sebagai guru─meskipun di antara kami belum ada pembicaraan yang menghasilkan kesepakatan akan klaim saya itu. Singkatnya, dari dia lah saya terinspirasi untuk melanjutkan perjalanan sakral ini.

Saya sering diajak Mas Jas mengunjungi orang-orang yang mempunyai fashion unik dengan disiplinan ilmu yang berbeda-beda. Tak hanya sekadar diajak, tapi juga diperkenalkan dengan orang-orang tersebut. Seperti Om Wirawan, misalnya, seorang chef yang tinggal di Lovina─yang kerap kali mengajak kami makan di rumahnya. Atau Pak Ole, Made Adnyana Ole, wartawan senior, sastrawan, penyair, dan Pimred tatkala.co.

Atau, sekadar menyebut nama sekali lagi, Bang Ricky Dhamparan Putra, seorang penyair dari Sumatera Utara, murid Sang Maestro, Umbu Landu Paranggi. Dari cerita-ceritanya, saya tahu kalau Bang Ricky juga sangat ngefans dengan Buya Syafii Maarif.

Nampaknya Mas Jas tahu kalau akhir-akhir ini saya sedang tertarik dengan dunia sastra, makanya ia mengajak saya ke Komunitas Mahima dan berkenalan dengan orang-orang yang terlibat, berkunjung, dan belajar di sana. Bli Kardian, misalnya, atau yang lebih akrab di sapa Cotek, jurnalis Kompas sekaligus pegiat film dan mengelola platform Singaraja Menonton. Dan tentu masih banyak orang hebat yang saya temui─yang tidak mungkin saya sebutkan namanya satu per satu di sini.

Saya menikmati betul pertemuan dengan orang-orang hebat tersebut─setidaknya menurut saya─karena saya teringat dengan apa yang pernah di sampaikan Ki Hadjar Dewantara, bahwa “setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah”.

Ya. Saking seringnya saya berinteraksi dengan orang-orang hebat itu, saya merasa apa yang selama ini saya pelajari di kampus, sekali lagi, ternyata masih belum cukup sebagai pegangan hidup di tengah masyarakat. Ibarat mau menanam jagung, benihnya masih belum siap untuk di tanam. Alih-alih tumbuh, malah membusuk di dalam tanah.

Maka dari itu saya sering berkata kepada diri sendiri, bahwa benar saya mulai kuliah dari tahun 2016, tapi seolah proses saya berpikir baru dimulai tahun 2020. Tetapi tak masalah, itu bukan berarti saya bodoh. Sudah saya sampaikan di awal, bahwa saya tak pernah mendapat nilai C, apalagi mengulang mata kuliah.

Hal itu sudah cukup menjadi bukti, kalau saya sebenarnya tak jauh berbeda dengan teman-teman seangkatan─yang sudah lulus terlebih dahulu. Dan ya, sekali lagi saya katakan, saya memilih telat lulus memang bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman, tak ada hubungannya dengan saya bodoh atau tidak─kalau agak malas sedikit memang saya akui.

Untuk menutup catatan ini, terlepas dari apa yang saya ungkapkan di atas, saya ingin menyampaikan: tak jarang teman-teman lama saya menanyakan kabar─meskipun bagi saya itu hanya sekadar basa-basi─atau bertanya tentang proses skripsi, kadang juga sampai ke hal-hal yang berkaitan  tentang asmara.

Saya bersyukur─dan berterima kasih─mereka masih mengingat saya yang belum menjadi apa-apa, jika dibanding mereka yang sudah mapan menjadi guru atau malah melanjutkan S2. Saya hargai itu. Tetapi kalau pertanyaannya sudah melebar ke mana-mana, hingga tak ada ujungnya, saya jawab sewajarnya saja. Memang benar, pepatah lama bilang “malu bertanya sesat di jalan”, toh Mahbub Djunaidi tetap menambahkan “…kebanyakan bertanya pun membingungkan”.

Jadi, pada akhirnya, daripada bertanya kapan saya lulus, lebih baik doakan saja supaya cepat lulus.[T]

Untuk Mahasiswa Akhir – Inilah Tips Super Bikin Skripsi jadi Lancar
Malas Menghantui Mahasiswa Semester Akhir? Ah, Itu Biasa…
Mahasiswa Berguna itu Tak Harus “Wah”, Minimal Bisa Memberantas Hoax di Grup WA Keluarga
Tags: bulelengesaimahasiswamahasiswa baruPendidikanSkripsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Screening Film “Expect the Unexpected” di Tabanan: Mengupas Rasa Penasaran Manusia

Next Post

Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Digitalic: SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co