23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Bentuk “Pengawak” Tabuh Lelambatan Pagongan Bali

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
November 28, 2022
in Esai
Memaknai Bentuk “Pengawak” Tabuh Lelambatan Pagongan Bali

Penuangan Gending Ding Ro Karya Ketut Gede Asnawa Pada Workshop Pegongan di Puri Lukisan Ubud, 27 November 2022 | Dokumentasi,I Nyoman Mariyana, Tahun 2022

PADA PENYAJIAN GENDING-GENDING Lelambatan klasik Bali dikenal beberapa jenis tabuh /gending berdasarkan struktur tabuh yang mengikatnya, seperti Tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu, Tabuh Pat, Tabuh Nem, dan Tabuh Kutus. Perbedaan nama-nama tabuh/gending tersebut dibedakan berdasarkan jumlah baris, jumlah pukulan kempur, dan kempli dalam satu gongan (pukulan Gong). Semua itu terdapat dan dapat dicermati pada bagian pengawak tabuh yang dimainkan.

Pengawak adalah salah satu bagian terpenting dalam struktur gending Lelambatan Bali. Kata pengawak diambil dari kata awak yang berarti tubuh atau badan. Lelambatan merupakan salah satu repertoar pagongan dalam Karawitan Bali yang kerap dimainkan sebagai musik instrumental pada upacara Dewa Yadnya atau tabuh pembukaan event. Repertoar Lelambatan dilihat dari bentuk, struktur komposisi yang dimiliki memiliki kekhasan tersendiri.

Bagaimana menuangkan ide, konsep dalam garapan memerlukan kemampuan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki. Penuangan karya tergantung dari rasa.

Menurut I Ketut Gede Asnawa, bahwa Prof. Mantle Hood memulai suatu proses dengan pertanyaan. Sedangkan pengalaman berkarya dari I Ketut Gede Asnawa, ia hanya menuangkan karya dengan konsep air, mengalir begitu saja. Setelah terbentuk barulah kemudian karyanya dikaji kembali dan diperbaiki (Disajikan dalam pemaparan materi workshop Pagongan, 27 November 2022).

Selanjutnya, apa itu pengawak, bagaimana bentuknya pengawak Pagongan Bali?

Menurut I Ketut Gede Asnawa, pengawak adalah barang lentur. Sudut pandang pengawak adalah konvensional. Pagegongan menurut Colin Mc. Phee adalah gamelan gong (Gong Kebyar).

Menurut sejarahnya, gamelan gong muncul pada era madya, jaman madya abad ke-18. Sebagaian besar munculnya pada masa kerajaan di Bali. Perjalanannya dari Puri ke Pura lalu ke masyarakat.

Kenapa disebut gamelan gong? Oleh Mc. Phee, di dalam gamelan itu terdapat instrumen Gong yang mewakili indentitas barungannya, contohnya Gong Kebyar, Gong Luang, Gong Gede, dan gamelan lainnya. Kalau tidak ada sebutan gong dalam menyebutkan identitas barungan gamelan lainnya, diwakili oleh instrumen sejenis yang berfungsi sebagai gong. Contohnya gamelan Semar Pagulingan, Pegambuhan, Gandrung, dan lainnya.

Tabuh Lelalambatan mempunyai bentuk “statik form”. Form yang tidak berubah-berubah. Sebuah bentuk yang luar biasa yang diwarisi oleh para luluhur. Dalam tabuh Lelambatan, Mc. Phee menyebutkan ada dua istilah gending,yakni gending ageng (great gending) dan gending gangsaran (quick gending).

Gending ageng mempunyai kekuatan dalam bentuk melodi yang panjang dan mempunyai sistem dalam bentuknya. Stuktur sistem yang membakui komposisi.

Senada dengan apa yang dijelaskan tentang arti kata pengawak, I Ketut Gede Asnawa juga menjelaskan kata pengawak berasal dari kata awak. Awak berawal dari bentuk. Bentuk pengawak paling panjang dan formal.

Pengawak.adalah bagian dari sebuah bentuk/struktur. Pengawak tidak bisa berdiri sendiri diikat oleh kepala dan kaki. Konsep ini adalah diambil dari filosofi bentuk tubuh manusia. Jadi, pengawak tabuh Lelambatan terlahir dari ikatan kepala dan ditunjang oleh kaki sebagai bentuk/struktur tabuh dalam penyajiannya.

Pengawak dalam struktur tabuh Lelambatan, tidak bisa berdiri sendiri. Di dalamnya ada sistem yang mengikat. Sistem sub-sub struktural, abstrak, realitas dan reel. Di dalam penyajiannya pengawak dimainkan secara pelan, maka menjadi identitas penyebutan tabuh Lelambatan.

Pengawak oleh Colin Mc. Phee disebut “The clear compotition of music in Bali”. Mc. Phee membagi pengawak menjadi beberapa bagian yang ditulis pada bukunya tahun 1930 dan publish tahun 1960-an.

Secara struktur, dalam tabuh dua ada 8 baris yang disebut dengan istilah a pada; jumlah baris dalam satu frase lagu. Apabila berbentuk tabuh Pat, pola ini tinggal ditambahkan sesuai dengan form yang ada.  

Dalam gending ada sistim pertanyaan dan jawaban. Baris pertama adalah opening dalam 16 ketukan diakhiri oleh pukulan jegogan. Dalam struktur tabuh Lelambatan, menjadi suatu pertanyaan, kenapa dibaris pertama dimulai dengan pukulan kempur? Kenapa tidak kempli?

Menurut analisis penulis, hal tersebut mengacu pada tata letak instrument kempur, kempli, dan gong saat penyajiannya. Hal tersebut juga berkaitan dengan estetika musikal dari keseimbangan suara dari instrument tersebut. Jalannya format struktur pengawak tabuh Lelambatan mengacu pada jumlah jatuhnya pukulan kempur, kempli, jegogan sampai pada gong. Pola melodi 2 baris terakhir adalah pemilpil untuk menuju gong.

Dalam permainan tabuh Lelambatan, pola kekendangan sebagai penanda. Pukulan kendang menuju kempur dimainkan pola kendang cedugan, menuju jatuhnya pukulan kempli dimainkan pola kaplak tangan kiri.

Pengawak adalah sebuah identitas yang melekat pada penyajiannya. Bagiannya dikenal dengan istilah palet dan pada/paragraf. I Ketut Gede Asnawa menghimbau, jangan membawakan tabuh lelambatan seperti memainkan tabuh kreasi. Lelambatan bersifat ke dalam, kreasi baru lebih ke arah keluar.

Penciptaan berawal dari pengalaman dan analisis. Menurut I Ketut Gede Asnawa, saran membuat pengawak teridiri dari 3 syarat, diantaranya:

1. Keterampilan.

Pencipta harus pernah memainkan, mampu menganalisa, dan mempunyai pengalaman.

Praktek melakoni akan memberikan banyak pelajaran. Wicaksana dan wiraga.

2. Sensitif/kepekaan

Ditunjang oleh rasa.

3. Imajinasi

Perjalanan nada-nada untuk menuju nada yang dituju. Sistim melodi pada lelambatan diawal dari nada rendah ke tinggi, di tengah ngubeng (berpusat di Tengah), dan diakhir dari tinggi ke rendah. Hal ini juga mengacu pada ranah rasa komposer. Kreasi diperlukan melodi yang mudah untuk dikreasikan. Untuk kesan manis bawa melodinya ke nada kecil. Perhatikan karakteristik nada. Terpenting adalah terminal/nada kunci yang digunakan.

Kreativitas mengacu pada kepekaan. Pengembangan dan kepertahanan dari yang sudah ada perlu dilakukan secara bersama. Perlu konsep dalam menunjukan idialis berkesenian. Tidak semena-mena tanpa arah dan konsep yang jelas. Proses adalah suatu perjalanan yang harus dilalui, dimaknai, dan dilakukan.

Penuangan Gending Ding Ro Karya Ketut Gede Asnawa Pada Workshop Pegongan di Puri Lukisan Ubud, 27 November 2022 | Dokumentasi,I Nyoman Mariyana, Tahun 2022

Tabuh Lelambatan Dua Ding Ro  

Pada tabuh Lelambatan Ding Ro, nada ding digunakan sebagai nada pokok. Kawitan gendingnya diawali dari nada ding, bebaturan nada dasar ding, pengawaknya mempergunakan nada dasar ding begitu juga di pengecetmya nada ding jatuhnya pukulan gongnya. Ro mengacu pada bentuk struktur tabuhnya yakni Tabuh Dua.

Maksimal dalam kawitan terdapat 2 pukulan jegogan.  Melodi progresif dari tinggi ke rendah. Dalam penyajian gending Lelambatan, instrumen Terompong mempunyai otoritas, kekuasaan dalam penyajian, kemana akan dibawa melodinya. Didahului oleh intro oleh Terompong dan finalnya jatuhnya ke nada kunci yang digunakan. Intro adalah tanda bahwa gending sudah siap untuk dimainkan. Ini merupakan warisan budaya dari pendahulu perlu dilestarikan.

Kesimpulannya, pengawak adalah bagian pokok lagu. Pengawak sudah ada pakem-pakemnya yang harus diperhatikan oleh komposer. Perhatikan fungsi instrumennya dalam penuangan gendingnya bersama dengan rasa Lelambatan. Hal tersebut jangan pernah hilang. Kunci dasar megambel adalah harmonis, kesatuaan dan kebersamaan. Lelambatan adalah sarana untuk mengasah ketrampilan dan musikalitas. [T]

[][][]

BACA esai-esai tentang karawitan Bali dari penulis NYOMAN MARIYANA

“Cerukcuk Punyah”, “Cangak Merengang” | Judul-judul Gending Gender Wayang, Lucu dan Blak-blakan
Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan
Gusti Sudarta | Sejak SD Main Gender Wayang, Pentas Jalan Kaki ke Desa-Desa
Tags: gong kebyargong lelambatankarawitankarawitan balikesenian baliseni karawitantabuh gong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BUDAYA LAMA BALI SEDANG MENGHILANG — Koran Het vaderland, 17-05-1952

Next Post

Winda Karuna Dita, Gadis Disabilitas yang Terus Melukis Hingga Jadi Tulang Punggung Keluarga

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Winda Karuna Dita, Gadis Disabilitas yang Terus Melukis Hingga Jadi Tulang Punggung Keluarga

Winda Karuna Dita, Gadis Disabilitas yang Terus Melukis Hingga Jadi Tulang Punggung Keluarga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co