26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Marga dan Rana

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
November 20, 2022
in Esai
Marga dan Rana

Dalam Agama Hindu musuh internal paling familiar diistilahkan dengan Arishadvarga atau di Bali lebih populer sebagai sad ripu yang terdiri dari kama (nafsu), krodha (kemarahan), lobha (keserakahan), moha (kebingungan  karena kemelekatan), mada (kesombongan), dan matsarya (kedengkian).

Uniknya musuh-musuh itu dikabarkan bermukim dalam diri sehingga dibutuhkan taktik khusus untuk memeranginya. Kesucian merupakan penarget sasaran paling akurat untuk membidik musuh-musuh internal. Kabar buruknya, kesucian bukanlah sesuatu yang bisa diraih dengan mudah.

Kenneth Pargament (1999:12) secara padat dan ringkas berpendapat bahwa spiritualitas adalah a search for the sacred (pencarian kesucian). Sayangnya banyak dari mereka yang memiliki hasrat pada spiritual tidak memahami kesucian secara utuh, hanya menganggap diri suci, lalu menyeterui sesuatu yang dipersepsikan tidak suci. Perang (rana) terhadap ketidaksucian kemudian tidak hanya berlangsung dalam tataran simbol tetapi terealisasi pada pertempuran denotatif antarmanusia.

Agresi semacam itu banyak yang melanggar kriteria kesucian. Ketika mereka yang terburu-buru mengambil jalan perang tidak mengetahui peta jalan (marga) perang maka agama dapat menjadi musibah baik secara individual maupun komunal.

Pada beberapa teks Hindu rana antara kebaikan serta keburukan disimbolkan dengan konflik tiada henti antara deva dan asura. Terdapat pendapat yang menyatakan bila secara etimologis asura berasal dari akar kata asu yang memiliki arti original unsur rohaniah, udara, kekuatan vital, dan sebagainya.

Asura mulanya dilukiskan sebagai makhluk yang memiliki kekuatan luar biasa bahkan berpeluang dilekati sifat kebaikan. Kelompok asura bertabiat baik dipimpin oleh Varuna sementara asura berkarakter buruk dikepalai oleh Vrtra.

Wash Edward Hale (1999) dalam bukunya Asura In Early Vedic Religion menyatakan jika pada periode Veda awal dewa-dewa seperti Mitra, Agni, Indra, Aryama, Bhaga, dan yang lainnya juga digolongkan sebagai asura. Pada masa sesudahnya barulah diadakan pembatasan yang lebih tegas antara golongan deva dan asura.

Dewa dan asura meskipun telah digambarkan beroposisi namun tetap diakui berasal dari sumber yang sama (Prajapati) serta memiliki potensi bawaan yang tidak berbeda. Jelaslah penekanan istilah deva dan asura tidak pada kejahatan ataupun kebaikannya yang mutlak, namun pada pengendalian energi potensial dalam diri manusia yang berpeluang sama untuk condong ke kedua sisi.

Hindu dalam mengawal perjalanan menuju sacred sebagaimana yang dimaksudkan Pargament tetap memberi perhatian pada dinamika. Dalam Purana beberapa deva tidak luput dari kesalahan, sebaliknya terdapat asura yang dikisahkan malah mengedepankan kesalehan. Indra sendiri ketika sukses menduduki tahta sebagai raja para deva terlalu larut dalam kesenangan sensual di istananya sehingga mengabaikan kehadiran gurunya, Brhaspati.

Akibat kelalaian Indra, Brhaspati menghilang dari surga dan menyebabkan ketidakmakmuran. Selain itu kepergian Brhaspati juga dimanfaatkan oleh golongan asura untuk menaklukkan para Dewa. Menghadapi masalah yang demikian serius, Indra yang menjadi biang kerok masalah memohon solusi dari Dewa Brahma yang selanjutnya memberi anjuran untuk meminta bantuan seorang asura bernama Visvarupa yang telah ditasbihkan menjadi Brahmana. Indra menuruti saran Brahma dan mendatangi kediaman Visvarupa.

Mendengar keluhan Indra, Visvarupa menyatakan kesanggupannya untuk membantu para Dewa. Visvarupa memberikan sebuah jubah (kavaca) untuk Indra yang selanjutnya mendatangkan kemenangan bagi golongan dewata. Mengingat Visvarupa berdarah asura maka ketika melakukan pemujaan selain ditujukan bagi para dewa, sisa-sisa ritual diperuntukkan pula untuk kelompok asura.

Mengetahui itu Indra sangat murka dan membunuh Visvarupa dengan memenggal kepalanya. Dalam kisah tersebut Indra mewakili potensi buruk dewa-dewa sedangkan bibit kebaikan asura tercermin dari sosok Visvarupa.

Cerita lainnya tentang Indra adalah penjelmaannya ke dalam wujud babi. Salah satu versi menyebutkan jika kelahiran Indra tersebut akibat kutukan Brhaspati sementara versi lainnya mengisahkan bila hal itu didorong oleh rasa penasaran Indra sendiri.

Pada suatu kesempatan Indra dan dewa-dewa di surga memperhatikan polah beberapa babi yang berguling-guling pada kotorannya sendiri. Pemandangan itu memantik hasrat dalam benak sang raja surga untuk menyelamatkan babi-babi tersebut dari perilakunya yang demikian menjijikan. Satu-satunya cara yang dinilainya efektif untuk memberikan pencerahan bagi babi adalah lahir menjadi babi. Indrapun tanpa berpikir panjang segera mengubah wujudnya menjadi babi.

Pemerintahan surga menjadi tidak teratur selama Indra turun ke bumi. Kemudian para dewa yang menginginkan pimpinannya untuk kembali melakukan pemantauan ke kandang babi tempat Indra berganti tubuh. Versi lainnya menerangkan bila kunjungan ke kandang babi dilakukan oleh Dewa Brahma.

Alangkah terkejutnya para dewa ketika Indra tidak lagi dapat mengenali mereka dan terlihat telah melupakan sifat kedewataannya. Indra bertubuh babi demikian mencintai babi betina pasangannya yang telah memberinya beberapa anak.

Selain itu, Indra juga tampak menikmati makanan babi yang diberikan oleh pemiliknya. Dewa-dewa bergiliran memanggil Indra untuk kembali ke Indraloka dan menyadarkan akan identitas kedewataannya namun semuanya diabaikan begitu saja.

Para dewa memutuskan untuk membunuh satu demi satu anak-anak yang disayangi Indra dalam tubuh babinya. Indra menjadi sangat sedih, celakanya lebih terpacu lagi untuk melakukan aktivtas seksual dengan pasangan babinya guna mendapatkan anak-anak baru.

Selanjutnya para dewa membinasakan pasangan babi Indra namun belum juga sang svargapati dapat disadarkan. Upaya terakhirpun ditempuh dengan membunuh tubuh babi tempat Indra menyusupkan dirinya. Ketika terbebaskan dari tubuh babinya Indra demikian kaget atas kebiasaan menjijikan yang selama ini diakrabinya serta memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke surga.

Di Bali hingga kini ritual penyembelihan babi hampir tidak bisa dipisahkan dari upacara-upacara keagamaan. Sayangnya belakangan hanya dimaknai sebagai pestapora belaka sedangkan pesan untuk membebaskan indera-indera yang terbelenggu hampir tidak lagi diperhatikan.

Dari perspektif teologi tubuh, deva-deva dalam tubuh manusia adalah keutamaan-keutamaan yang mampu memperlancar keberlangsungan kehidupan. Atharvaveda X.2.31 mengandaikan tubuh manusia sebagai kota para dewa (ayodhya) yang memiliki delapan cakra (astacakra) serta sembilan pintu (navadvara).  Masing-masing dewa mencerimkan kesadaran bawaan yang dapat menuntun menuju jalan rohani.

Akibat sifat materialnya tubuh manusia tetaplah menjadi medan pertempuran (kshetra) antara deva dan asura (baca: sifat-sifat yang membawa kemajuan atau kemunduran rohani). Dalam lontar Tutur Anacaraka 2a disebutkan jika belum memahami peta tentang hakikat diri (kandhaning kaputusan ring raga sarira) maka tidak dianjurkan untuk melakukan taba brata serta mengurangi jatah makan dan tidur (angurangin pangan turu) agar ketika ajal menjemput tidak menemui kepapaan. Jangan sampai brata hanya dijadikan kedok luar karena yang dirugikan paling fatal tentu si pelaku sendiri.

Saat deva-deva dalam tubuh dimaknai dengan dangkal maka penurunan kualitasnya bisa tidak disadari, sebagaimana digambarkan oleh sifat-sifat buruk Indra. Dalam teks Purana, Sukracarya  putra Bhrgu dikisahkan selalu menghidupkan kembali asura-asura yang binasa akibat pertempuran dengan para deva dengan mantra Amrta sanjivani. Guna mengimbanginya para sadhaka mesti memacu diri untuk menghidupkan deva-deva dalam tubuhnya setiap saat.

Seorang sadhaka tidak diajarkan untuk membenci musuh-musuhnya sehingga terbebani oleh rasa takut yang berlebihan. Para pencinta Tuhan malah dianjurkan untuk melakukan pendekatan dengan musuh-musuh dalam dirinya sehingga memahami karakteristiknya dengan baik serta lambat laun ditemukan pula cara-cara untuk mengatasinya.

Sadhaka mirip laku pemain bola yang tidak menemukan keasyikan bila tidak ada lawan main sebab pertandingan tidak akan bisa dilakukan. Hanya pemain yang tidak tahu diri yang dengan penuh emosional membenci lawan mainnya. Seringkali lawan dijadikan kambing hitam atas kekalahan yang sejatinya berakar dari kelalaian sendiri. Banyak sadhaka mencapai kemajuan rohani luar biasa setelah belajar dari tabiat-tabiat buruknya di masa lalu, inilah yang disimbolkan oleh asura-asura yang beralih meniti jalan kesalehan.

Jalan perang sejati dicontohkan oleh Bhisma yang bertabur senyum ketika Srikandi mengarahkan bentangan busur ke tubuhnya. Bhisma tidak sedang melakukan pertempuran eksternal namun lebih kepada peperangan internal yang tidak bisa dimenangkan dengan mudah, apalagi oleh sembarang orang. [T]

Tags: balifilosofihinduMargaranapahlawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Paling Rentan Dalam Memegang Data Pribadi Seseorang Adalah KPU

Next Post

Emas Kedua Taekwondo Buleleng Dipersembahkan Kadek Ristina Indriani

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails
Next Post
Kadek Ristina Indriani

Emas Kedua Taekwondo Buleleng Dipersembahkan Kadek Ristina Indriani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co