6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Marga dan Rana

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
November 20, 2022
in Esai
Marga dan Rana

Dalam Agama Hindu musuh internal paling familiar diistilahkan dengan Arishadvarga atau di Bali lebih populer sebagai sad ripu yang terdiri dari kama (nafsu), krodha (kemarahan), lobha (keserakahan), moha (kebingungan  karena kemelekatan), mada (kesombongan), dan matsarya (kedengkian).

Uniknya musuh-musuh itu dikabarkan bermukim dalam diri sehingga dibutuhkan taktik khusus untuk memeranginya. Kesucian merupakan penarget sasaran paling akurat untuk membidik musuh-musuh internal. Kabar buruknya, kesucian bukanlah sesuatu yang bisa diraih dengan mudah.

Kenneth Pargament (1999:12) secara padat dan ringkas berpendapat bahwa spiritualitas adalah a search for the sacred (pencarian kesucian). Sayangnya banyak dari mereka yang memiliki hasrat pada spiritual tidak memahami kesucian secara utuh, hanya menganggap diri suci, lalu menyeterui sesuatu yang dipersepsikan tidak suci. Perang (rana) terhadap ketidaksucian kemudian tidak hanya berlangsung dalam tataran simbol tetapi terealisasi pada pertempuran denotatif antarmanusia.

Agresi semacam itu banyak yang melanggar kriteria kesucian. Ketika mereka yang terburu-buru mengambil jalan perang tidak mengetahui peta jalan (marga) perang maka agama dapat menjadi musibah baik secara individual maupun komunal.

Pada beberapa teks Hindu rana antara kebaikan serta keburukan disimbolkan dengan konflik tiada henti antara deva dan asura. Terdapat pendapat yang menyatakan bila secara etimologis asura berasal dari akar kata asu yang memiliki arti original unsur rohaniah, udara, kekuatan vital, dan sebagainya.

Asura mulanya dilukiskan sebagai makhluk yang memiliki kekuatan luar biasa bahkan berpeluang dilekati sifat kebaikan. Kelompok asura bertabiat baik dipimpin oleh Varuna sementara asura berkarakter buruk dikepalai oleh Vrtra.

Wash Edward Hale (1999) dalam bukunya Asura In Early Vedic Religion menyatakan jika pada periode Veda awal dewa-dewa seperti Mitra, Agni, Indra, Aryama, Bhaga, dan yang lainnya juga digolongkan sebagai asura. Pada masa sesudahnya barulah diadakan pembatasan yang lebih tegas antara golongan deva dan asura.

Dewa dan asura meskipun telah digambarkan beroposisi namun tetap diakui berasal dari sumber yang sama (Prajapati) serta memiliki potensi bawaan yang tidak berbeda. Jelaslah penekanan istilah deva dan asura tidak pada kejahatan ataupun kebaikannya yang mutlak, namun pada pengendalian energi potensial dalam diri manusia yang berpeluang sama untuk condong ke kedua sisi.

Hindu dalam mengawal perjalanan menuju sacred sebagaimana yang dimaksudkan Pargament tetap memberi perhatian pada dinamika. Dalam Purana beberapa deva tidak luput dari kesalahan, sebaliknya terdapat asura yang dikisahkan malah mengedepankan kesalehan. Indra sendiri ketika sukses menduduki tahta sebagai raja para deva terlalu larut dalam kesenangan sensual di istananya sehingga mengabaikan kehadiran gurunya, Brhaspati.

Akibat kelalaian Indra, Brhaspati menghilang dari surga dan menyebabkan ketidakmakmuran. Selain itu kepergian Brhaspati juga dimanfaatkan oleh golongan asura untuk menaklukkan para Dewa. Menghadapi masalah yang demikian serius, Indra yang menjadi biang kerok masalah memohon solusi dari Dewa Brahma yang selanjutnya memberi anjuran untuk meminta bantuan seorang asura bernama Visvarupa yang telah ditasbihkan menjadi Brahmana. Indra menuruti saran Brahma dan mendatangi kediaman Visvarupa.

Mendengar keluhan Indra, Visvarupa menyatakan kesanggupannya untuk membantu para Dewa. Visvarupa memberikan sebuah jubah (kavaca) untuk Indra yang selanjutnya mendatangkan kemenangan bagi golongan dewata. Mengingat Visvarupa berdarah asura maka ketika melakukan pemujaan selain ditujukan bagi para dewa, sisa-sisa ritual diperuntukkan pula untuk kelompok asura.

Mengetahui itu Indra sangat murka dan membunuh Visvarupa dengan memenggal kepalanya. Dalam kisah tersebut Indra mewakili potensi buruk dewa-dewa sedangkan bibit kebaikan asura tercermin dari sosok Visvarupa.

Cerita lainnya tentang Indra adalah penjelmaannya ke dalam wujud babi. Salah satu versi menyebutkan jika kelahiran Indra tersebut akibat kutukan Brhaspati sementara versi lainnya mengisahkan bila hal itu didorong oleh rasa penasaran Indra sendiri.

Pada suatu kesempatan Indra dan dewa-dewa di surga memperhatikan polah beberapa babi yang berguling-guling pada kotorannya sendiri. Pemandangan itu memantik hasrat dalam benak sang raja surga untuk menyelamatkan babi-babi tersebut dari perilakunya yang demikian menjijikan. Satu-satunya cara yang dinilainya efektif untuk memberikan pencerahan bagi babi adalah lahir menjadi babi. Indrapun tanpa berpikir panjang segera mengubah wujudnya menjadi babi.

Pemerintahan surga menjadi tidak teratur selama Indra turun ke bumi. Kemudian para dewa yang menginginkan pimpinannya untuk kembali melakukan pemantauan ke kandang babi tempat Indra berganti tubuh. Versi lainnya menerangkan bila kunjungan ke kandang babi dilakukan oleh Dewa Brahma.

Alangkah terkejutnya para dewa ketika Indra tidak lagi dapat mengenali mereka dan terlihat telah melupakan sifat kedewataannya. Indra bertubuh babi demikian mencintai babi betina pasangannya yang telah memberinya beberapa anak.

Selain itu, Indra juga tampak menikmati makanan babi yang diberikan oleh pemiliknya. Dewa-dewa bergiliran memanggil Indra untuk kembali ke Indraloka dan menyadarkan akan identitas kedewataannya namun semuanya diabaikan begitu saja.

Para dewa memutuskan untuk membunuh satu demi satu anak-anak yang disayangi Indra dalam tubuh babinya. Indra menjadi sangat sedih, celakanya lebih terpacu lagi untuk melakukan aktivtas seksual dengan pasangan babinya guna mendapatkan anak-anak baru.

Selanjutnya para dewa membinasakan pasangan babi Indra namun belum juga sang svargapati dapat disadarkan. Upaya terakhirpun ditempuh dengan membunuh tubuh babi tempat Indra menyusupkan dirinya. Ketika terbebaskan dari tubuh babinya Indra demikian kaget atas kebiasaan menjijikan yang selama ini diakrabinya serta memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke surga.

Di Bali hingga kini ritual penyembelihan babi hampir tidak bisa dipisahkan dari upacara-upacara keagamaan. Sayangnya belakangan hanya dimaknai sebagai pestapora belaka sedangkan pesan untuk membebaskan indera-indera yang terbelenggu hampir tidak lagi diperhatikan.

Dari perspektif teologi tubuh, deva-deva dalam tubuh manusia adalah keutamaan-keutamaan yang mampu memperlancar keberlangsungan kehidupan. Atharvaveda X.2.31 mengandaikan tubuh manusia sebagai kota para dewa (ayodhya) yang memiliki delapan cakra (astacakra) serta sembilan pintu (navadvara).  Masing-masing dewa mencerimkan kesadaran bawaan yang dapat menuntun menuju jalan rohani.

Akibat sifat materialnya tubuh manusia tetaplah menjadi medan pertempuran (kshetra) antara deva dan asura (baca: sifat-sifat yang membawa kemajuan atau kemunduran rohani). Dalam lontar Tutur Anacaraka 2a disebutkan jika belum memahami peta tentang hakikat diri (kandhaning kaputusan ring raga sarira) maka tidak dianjurkan untuk melakukan taba brata serta mengurangi jatah makan dan tidur (angurangin pangan turu) agar ketika ajal menjemput tidak menemui kepapaan. Jangan sampai brata hanya dijadikan kedok luar karena yang dirugikan paling fatal tentu si pelaku sendiri.

Saat deva-deva dalam tubuh dimaknai dengan dangkal maka penurunan kualitasnya bisa tidak disadari, sebagaimana digambarkan oleh sifat-sifat buruk Indra. Dalam teks Purana, Sukracarya  putra Bhrgu dikisahkan selalu menghidupkan kembali asura-asura yang binasa akibat pertempuran dengan para deva dengan mantra Amrta sanjivani. Guna mengimbanginya para sadhaka mesti memacu diri untuk menghidupkan deva-deva dalam tubuhnya setiap saat.

Seorang sadhaka tidak diajarkan untuk membenci musuh-musuhnya sehingga terbebani oleh rasa takut yang berlebihan. Para pencinta Tuhan malah dianjurkan untuk melakukan pendekatan dengan musuh-musuh dalam dirinya sehingga memahami karakteristiknya dengan baik serta lambat laun ditemukan pula cara-cara untuk mengatasinya.

Sadhaka mirip laku pemain bola yang tidak menemukan keasyikan bila tidak ada lawan main sebab pertandingan tidak akan bisa dilakukan. Hanya pemain yang tidak tahu diri yang dengan penuh emosional membenci lawan mainnya. Seringkali lawan dijadikan kambing hitam atas kekalahan yang sejatinya berakar dari kelalaian sendiri. Banyak sadhaka mencapai kemajuan rohani luar biasa setelah belajar dari tabiat-tabiat buruknya di masa lalu, inilah yang disimbolkan oleh asura-asura yang beralih meniti jalan kesalehan.

Jalan perang sejati dicontohkan oleh Bhisma yang bertabur senyum ketika Srikandi mengarahkan bentangan busur ke tubuhnya. Bhisma tidak sedang melakukan pertempuran eksternal namun lebih kepada peperangan internal yang tidak bisa dimenangkan dengan mudah, apalagi oleh sembarang orang. [T]

Tags: balifilosofihinduMargaranapahlawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Paling Rentan Dalam Memegang Data Pribadi Seseorang Adalah KPU

Next Post

Emas Kedua Taekwondo Buleleng Dipersembahkan Kadek Ristina Indriani

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails
Next Post
Kadek Ristina Indriani

Emas Kedua Taekwondo Buleleng Dipersembahkan Kadek Ristina Indriani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co