7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Marga dan Rana

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
November 20, 2022
in Esai
Marga dan Rana

Dalam Agama Hindu musuh internal paling familiar diistilahkan dengan Arishadvarga atau di Bali lebih populer sebagai sad ripu yang terdiri dari kama (nafsu), krodha (kemarahan), lobha (keserakahan), moha (kebingungan  karena kemelekatan), mada (kesombongan), dan matsarya (kedengkian).

Uniknya musuh-musuh itu dikabarkan bermukim dalam diri sehingga dibutuhkan taktik khusus untuk memeranginya. Kesucian merupakan penarget sasaran paling akurat untuk membidik musuh-musuh internal. Kabar buruknya, kesucian bukanlah sesuatu yang bisa diraih dengan mudah.

Kenneth Pargament (1999:12) secara padat dan ringkas berpendapat bahwa spiritualitas adalah a search for the sacred (pencarian kesucian). Sayangnya banyak dari mereka yang memiliki hasrat pada spiritual tidak memahami kesucian secara utuh, hanya menganggap diri suci, lalu menyeterui sesuatu yang dipersepsikan tidak suci. Perang (rana) terhadap ketidaksucian kemudian tidak hanya berlangsung dalam tataran simbol tetapi terealisasi pada pertempuran denotatif antarmanusia.

Agresi semacam itu banyak yang melanggar kriteria kesucian. Ketika mereka yang terburu-buru mengambil jalan perang tidak mengetahui peta jalan (marga) perang maka agama dapat menjadi musibah baik secara individual maupun komunal.

Pada beberapa teks Hindu rana antara kebaikan serta keburukan disimbolkan dengan konflik tiada henti antara deva dan asura. Terdapat pendapat yang menyatakan bila secara etimologis asura berasal dari akar kata asu yang memiliki arti original unsur rohaniah, udara, kekuatan vital, dan sebagainya.

Asura mulanya dilukiskan sebagai makhluk yang memiliki kekuatan luar biasa bahkan berpeluang dilekati sifat kebaikan. Kelompok asura bertabiat baik dipimpin oleh Varuna sementara asura berkarakter buruk dikepalai oleh Vrtra.

Wash Edward Hale (1999) dalam bukunya Asura In Early Vedic Religion menyatakan jika pada periode Veda awal dewa-dewa seperti Mitra, Agni, Indra, Aryama, Bhaga, dan yang lainnya juga digolongkan sebagai asura. Pada masa sesudahnya barulah diadakan pembatasan yang lebih tegas antara golongan deva dan asura.

Dewa dan asura meskipun telah digambarkan beroposisi namun tetap diakui berasal dari sumber yang sama (Prajapati) serta memiliki potensi bawaan yang tidak berbeda. Jelaslah penekanan istilah deva dan asura tidak pada kejahatan ataupun kebaikannya yang mutlak, namun pada pengendalian energi potensial dalam diri manusia yang berpeluang sama untuk condong ke kedua sisi.

Hindu dalam mengawal perjalanan menuju sacred sebagaimana yang dimaksudkan Pargament tetap memberi perhatian pada dinamika. Dalam Purana beberapa deva tidak luput dari kesalahan, sebaliknya terdapat asura yang dikisahkan malah mengedepankan kesalehan. Indra sendiri ketika sukses menduduki tahta sebagai raja para deva terlalu larut dalam kesenangan sensual di istananya sehingga mengabaikan kehadiran gurunya, Brhaspati.

Akibat kelalaian Indra, Brhaspati menghilang dari surga dan menyebabkan ketidakmakmuran. Selain itu kepergian Brhaspati juga dimanfaatkan oleh golongan asura untuk menaklukkan para Dewa. Menghadapi masalah yang demikian serius, Indra yang menjadi biang kerok masalah memohon solusi dari Dewa Brahma yang selanjutnya memberi anjuran untuk meminta bantuan seorang asura bernama Visvarupa yang telah ditasbihkan menjadi Brahmana. Indra menuruti saran Brahma dan mendatangi kediaman Visvarupa.

Mendengar keluhan Indra, Visvarupa menyatakan kesanggupannya untuk membantu para Dewa. Visvarupa memberikan sebuah jubah (kavaca) untuk Indra yang selanjutnya mendatangkan kemenangan bagi golongan dewata. Mengingat Visvarupa berdarah asura maka ketika melakukan pemujaan selain ditujukan bagi para dewa, sisa-sisa ritual diperuntukkan pula untuk kelompok asura.

Mengetahui itu Indra sangat murka dan membunuh Visvarupa dengan memenggal kepalanya. Dalam kisah tersebut Indra mewakili potensi buruk dewa-dewa sedangkan bibit kebaikan asura tercermin dari sosok Visvarupa.

Cerita lainnya tentang Indra adalah penjelmaannya ke dalam wujud babi. Salah satu versi menyebutkan jika kelahiran Indra tersebut akibat kutukan Brhaspati sementara versi lainnya mengisahkan bila hal itu didorong oleh rasa penasaran Indra sendiri.

Pada suatu kesempatan Indra dan dewa-dewa di surga memperhatikan polah beberapa babi yang berguling-guling pada kotorannya sendiri. Pemandangan itu memantik hasrat dalam benak sang raja surga untuk menyelamatkan babi-babi tersebut dari perilakunya yang demikian menjijikan. Satu-satunya cara yang dinilainya efektif untuk memberikan pencerahan bagi babi adalah lahir menjadi babi. Indrapun tanpa berpikir panjang segera mengubah wujudnya menjadi babi.

Pemerintahan surga menjadi tidak teratur selama Indra turun ke bumi. Kemudian para dewa yang menginginkan pimpinannya untuk kembali melakukan pemantauan ke kandang babi tempat Indra berganti tubuh. Versi lainnya menerangkan bila kunjungan ke kandang babi dilakukan oleh Dewa Brahma.

Alangkah terkejutnya para dewa ketika Indra tidak lagi dapat mengenali mereka dan terlihat telah melupakan sifat kedewataannya. Indra bertubuh babi demikian mencintai babi betina pasangannya yang telah memberinya beberapa anak.

Selain itu, Indra juga tampak menikmati makanan babi yang diberikan oleh pemiliknya. Dewa-dewa bergiliran memanggil Indra untuk kembali ke Indraloka dan menyadarkan akan identitas kedewataannya namun semuanya diabaikan begitu saja.

Para dewa memutuskan untuk membunuh satu demi satu anak-anak yang disayangi Indra dalam tubuh babinya. Indra menjadi sangat sedih, celakanya lebih terpacu lagi untuk melakukan aktivtas seksual dengan pasangan babinya guna mendapatkan anak-anak baru.

Selanjutnya para dewa membinasakan pasangan babi Indra namun belum juga sang svargapati dapat disadarkan. Upaya terakhirpun ditempuh dengan membunuh tubuh babi tempat Indra menyusupkan dirinya. Ketika terbebaskan dari tubuh babinya Indra demikian kaget atas kebiasaan menjijikan yang selama ini diakrabinya serta memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke surga.

Di Bali hingga kini ritual penyembelihan babi hampir tidak bisa dipisahkan dari upacara-upacara keagamaan. Sayangnya belakangan hanya dimaknai sebagai pestapora belaka sedangkan pesan untuk membebaskan indera-indera yang terbelenggu hampir tidak lagi diperhatikan.

Dari perspektif teologi tubuh, deva-deva dalam tubuh manusia adalah keutamaan-keutamaan yang mampu memperlancar keberlangsungan kehidupan. Atharvaveda X.2.31 mengandaikan tubuh manusia sebagai kota para dewa (ayodhya) yang memiliki delapan cakra (astacakra) serta sembilan pintu (navadvara).  Masing-masing dewa mencerimkan kesadaran bawaan yang dapat menuntun menuju jalan rohani.

Akibat sifat materialnya tubuh manusia tetaplah menjadi medan pertempuran (kshetra) antara deva dan asura (baca: sifat-sifat yang membawa kemajuan atau kemunduran rohani). Dalam lontar Tutur Anacaraka 2a disebutkan jika belum memahami peta tentang hakikat diri (kandhaning kaputusan ring raga sarira) maka tidak dianjurkan untuk melakukan taba brata serta mengurangi jatah makan dan tidur (angurangin pangan turu) agar ketika ajal menjemput tidak menemui kepapaan. Jangan sampai brata hanya dijadikan kedok luar karena yang dirugikan paling fatal tentu si pelaku sendiri.

Saat deva-deva dalam tubuh dimaknai dengan dangkal maka penurunan kualitasnya bisa tidak disadari, sebagaimana digambarkan oleh sifat-sifat buruk Indra. Dalam teks Purana, Sukracarya  putra Bhrgu dikisahkan selalu menghidupkan kembali asura-asura yang binasa akibat pertempuran dengan para deva dengan mantra Amrta sanjivani. Guna mengimbanginya para sadhaka mesti memacu diri untuk menghidupkan deva-deva dalam tubuhnya setiap saat.

Seorang sadhaka tidak diajarkan untuk membenci musuh-musuhnya sehingga terbebani oleh rasa takut yang berlebihan. Para pencinta Tuhan malah dianjurkan untuk melakukan pendekatan dengan musuh-musuh dalam dirinya sehingga memahami karakteristiknya dengan baik serta lambat laun ditemukan pula cara-cara untuk mengatasinya.

Sadhaka mirip laku pemain bola yang tidak menemukan keasyikan bila tidak ada lawan main sebab pertandingan tidak akan bisa dilakukan. Hanya pemain yang tidak tahu diri yang dengan penuh emosional membenci lawan mainnya. Seringkali lawan dijadikan kambing hitam atas kekalahan yang sejatinya berakar dari kelalaian sendiri. Banyak sadhaka mencapai kemajuan rohani luar biasa setelah belajar dari tabiat-tabiat buruknya di masa lalu, inilah yang disimbolkan oleh asura-asura yang beralih meniti jalan kesalehan.

Jalan perang sejati dicontohkan oleh Bhisma yang bertabur senyum ketika Srikandi mengarahkan bentangan busur ke tubuhnya. Bhisma tidak sedang melakukan pertempuran eksternal namun lebih kepada peperangan internal yang tidak bisa dimenangkan dengan mudah, apalagi oleh sembarang orang. [T]

Tags: balifilosofihinduMargaranapahlawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Paling Rentan Dalam Memegang Data Pribadi Seseorang Adalah KPU

Next Post

Emas Kedua Taekwondo Buleleng Dipersembahkan Kadek Ristina Indriani

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Kadek Ristina Indriani

Emas Kedua Taekwondo Buleleng Dipersembahkan Kadek Ristina Indriani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co