27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Marga dan Rana

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
November 20, 2022
in Esai
Marga dan Rana

Dalam Agama Hindu musuh internal paling familiar diistilahkan dengan Arishadvarga atau di Bali lebih populer sebagai sad ripu yang terdiri dari kama (nafsu), krodha (kemarahan), lobha (keserakahan), moha (kebingungan  karena kemelekatan), mada (kesombongan), dan matsarya (kedengkian).

Uniknya musuh-musuh itu dikabarkan bermukim dalam diri sehingga dibutuhkan taktik khusus untuk memeranginya. Kesucian merupakan penarget sasaran paling akurat untuk membidik musuh-musuh internal. Kabar buruknya, kesucian bukanlah sesuatu yang bisa diraih dengan mudah.

Kenneth Pargament (1999:12) secara padat dan ringkas berpendapat bahwa spiritualitas adalah a search for the sacred (pencarian kesucian). Sayangnya banyak dari mereka yang memiliki hasrat pada spiritual tidak memahami kesucian secara utuh, hanya menganggap diri suci, lalu menyeterui sesuatu yang dipersepsikan tidak suci. Perang (rana) terhadap ketidaksucian kemudian tidak hanya berlangsung dalam tataran simbol tetapi terealisasi pada pertempuran denotatif antarmanusia.

Agresi semacam itu banyak yang melanggar kriteria kesucian. Ketika mereka yang terburu-buru mengambil jalan perang tidak mengetahui peta jalan (marga) perang maka agama dapat menjadi musibah baik secara individual maupun komunal.

Pada beberapa teks Hindu rana antara kebaikan serta keburukan disimbolkan dengan konflik tiada henti antara deva dan asura. Terdapat pendapat yang menyatakan bila secara etimologis asura berasal dari akar kata asu yang memiliki arti original unsur rohaniah, udara, kekuatan vital, dan sebagainya.

Asura mulanya dilukiskan sebagai makhluk yang memiliki kekuatan luar biasa bahkan berpeluang dilekati sifat kebaikan. Kelompok asura bertabiat baik dipimpin oleh Varuna sementara asura berkarakter buruk dikepalai oleh Vrtra.

Wash Edward Hale (1999) dalam bukunya Asura In Early Vedic Religion menyatakan jika pada periode Veda awal dewa-dewa seperti Mitra, Agni, Indra, Aryama, Bhaga, dan yang lainnya juga digolongkan sebagai asura. Pada masa sesudahnya barulah diadakan pembatasan yang lebih tegas antara golongan deva dan asura.

Dewa dan asura meskipun telah digambarkan beroposisi namun tetap diakui berasal dari sumber yang sama (Prajapati) serta memiliki potensi bawaan yang tidak berbeda. Jelaslah penekanan istilah deva dan asura tidak pada kejahatan ataupun kebaikannya yang mutlak, namun pada pengendalian energi potensial dalam diri manusia yang berpeluang sama untuk condong ke kedua sisi.

Hindu dalam mengawal perjalanan menuju sacred sebagaimana yang dimaksudkan Pargament tetap memberi perhatian pada dinamika. Dalam Purana beberapa deva tidak luput dari kesalahan, sebaliknya terdapat asura yang dikisahkan malah mengedepankan kesalehan. Indra sendiri ketika sukses menduduki tahta sebagai raja para deva terlalu larut dalam kesenangan sensual di istananya sehingga mengabaikan kehadiran gurunya, Brhaspati.

Akibat kelalaian Indra, Brhaspati menghilang dari surga dan menyebabkan ketidakmakmuran. Selain itu kepergian Brhaspati juga dimanfaatkan oleh golongan asura untuk menaklukkan para Dewa. Menghadapi masalah yang demikian serius, Indra yang menjadi biang kerok masalah memohon solusi dari Dewa Brahma yang selanjutnya memberi anjuran untuk meminta bantuan seorang asura bernama Visvarupa yang telah ditasbihkan menjadi Brahmana. Indra menuruti saran Brahma dan mendatangi kediaman Visvarupa.

Mendengar keluhan Indra, Visvarupa menyatakan kesanggupannya untuk membantu para Dewa. Visvarupa memberikan sebuah jubah (kavaca) untuk Indra yang selanjutnya mendatangkan kemenangan bagi golongan dewata. Mengingat Visvarupa berdarah asura maka ketika melakukan pemujaan selain ditujukan bagi para dewa, sisa-sisa ritual diperuntukkan pula untuk kelompok asura.

Mengetahui itu Indra sangat murka dan membunuh Visvarupa dengan memenggal kepalanya. Dalam kisah tersebut Indra mewakili potensi buruk dewa-dewa sedangkan bibit kebaikan asura tercermin dari sosok Visvarupa.

Cerita lainnya tentang Indra adalah penjelmaannya ke dalam wujud babi. Salah satu versi menyebutkan jika kelahiran Indra tersebut akibat kutukan Brhaspati sementara versi lainnya mengisahkan bila hal itu didorong oleh rasa penasaran Indra sendiri.

Pada suatu kesempatan Indra dan dewa-dewa di surga memperhatikan polah beberapa babi yang berguling-guling pada kotorannya sendiri. Pemandangan itu memantik hasrat dalam benak sang raja surga untuk menyelamatkan babi-babi tersebut dari perilakunya yang demikian menjijikan. Satu-satunya cara yang dinilainya efektif untuk memberikan pencerahan bagi babi adalah lahir menjadi babi. Indrapun tanpa berpikir panjang segera mengubah wujudnya menjadi babi.

Pemerintahan surga menjadi tidak teratur selama Indra turun ke bumi. Kemudian para dewa yang menginginkan pimpinannya untuk kembali melakukan pemantauan ke kandang babi tempat Indra berganti tubuh. Versi lainnya menerangkan bila kunjungan ke kandang babi dilakukan oleh Dewa Brahma.

Alangkah terkejutnya para dewa ketika Indra tidak lagi dapat mengenali mereka dan terlihat telah melupakan sifat kedewataannya. Indra bertubuh babi demikian mencintai babi betina pasangannya yang telah memberinya beberapa anak.

Selain itu, Indra juga tampak menikmati makanan babi yang diberikan oleh pemiliknya. Dewa-dewa bergiliran memanggil Indra untuk kembali ke Indraloka dan menyadarkan akan identitas kedewataannya namun semuanya diabaikan begitu saja.

Para dewa memutuskan untuk membunuh satu demi satu anak-anak yang disayangi Indra dalam tubuh babinya. Indra menjadi sangat sedih, celakanya lebih terpacu lagi untuk melakukan aktivtas seksual dengan pasangan babinya guna mendapatkan anak-anak baru.

Selanjutnya para dewa membinasakan pasangan babi Indra namun belum juga sang svargapati dapat disadarkan. Upaya terakhirpun ditempuh dengan membunuh tubuh babi tempat Indra menyusupkan dirinya. Ketika terbebaskan dari tubuh babinya Indra demikian kaget atas kebiasaan menjijikan yang selama ini diakrabinya serta memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke surga.

Di Bali hingga kini ritual penyembelihan babi hampir tidak bisa dipisahkan dari upacara-upacara keagamaan. Sayangnya belakangan hanya dimaknai sebagai pestapora belaka sedangkan pesan untuk membebaskan indera-indera yang terbelenggu hampir tidak lagi diperhatikan.

Dari perspektif teologi tubuh, deva-deva dalam tubuh manusia adalah keutamaan-keutamaan yang mampu memperlancar keberlangsungan kehidupan. Atharvaveda X.2.31 mengandaikan tubuh manusia sebagai kota para dewa (ayodhya) yang memiliki delapan cakra (astacakra) serta sembilan pintu (navadvara).  Masing-masing dewa mencerimkan kesadaran bawaan yang dapat menuntun menuju jalan rohani.

Akibat sifat materialnya tubuh manusia tetaplah menjadi medan pertempuran (kshetra) antara deva dan asura (baca: sifat-sifat yang membawa kemajuan atau kemunduran rohani). Dalam lontar Tutur Anacaraka 2a disebutkan jika belum memahami peta tentang hakikat diri (kandhaning kaputusan ring raga sarira) maka tidak dianjurkan untuk melakukan taba brata serta mengurangi jatah makan dan tidur (angurangin pangan turu) agar ketika ajal menjemput tidak menemui kepapaan. Jangan sampai brata hanya dijadikan kedok luar karena yang dirugikan paling fatal tentu si pelaku sendiri.

Saat deva-deva dalam tubuh dimaknai dengan dangkal maka penurunan kualitasnya bisa tidak disadari, sebagaimana digambarkan oleh sifat-sifat buruk Indra. Dalam teks Purana, Sukracarya  putra Bhrgu dikisahkan selalu menghidupkan kembali asura-asura yang binasa akibat pertempuran dengan para deva dengan mantra Amrta sanjivani. Guna mengimbanginya para sadhaka mesti memacu diri untuk menghidupkan deva-deva dalam tubuhnya setiap saat.

Seorang sadhaka tidak diajarkan untuk membenci musuh-musuhnya sehingga terbebani oleh rasa takut yang berlebihan. Para pencinta Tuhan malah dianjurkan untuk melakukan pendekatan dengan musuh-musuh dalam dirinya sehingga memahami karakteristiknya dengan baik serta lambat laun ditemukan pula cara-cara untuk mengatasinya.

Sadhaka mirip laku pemain bola yang tidak menemukan keasyikan bila tidak ada lawan main sebab pertandingan tidak akan bisa dilakukan. Hanya pemain yang tidak tahu diri yang dengan penuh emosional membenci lawan mainnya. Seringkali lawan dijadikan kambing hitam atas kekalahan yang sejatinya berakar dari kelalaian sendiri. Banyak sadhaka mencapai kemajuan rohani luar biasa setelah belajar dari tabiat-tabiat buruknya di masa lalu, inilah yang disimbolkan oleh asura-asura yang beralih meniti jalan kesalehan.

Jalan perang sejati dicontohkan oleh Bhisma yang bertabur senyum ketika Srikandi mengarahkan bentangan busur ke tubuhnya. Bhisma tidak sedang melakukan pertempuran eksternal namun lebih kepada peperangan internal yang tidak bisa dimenangkan dengan mudah, apalagi oleh sembarang orang. [T]

Tags: balifilosofihinduMargaranapahlawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Paling Rentan Dalam Memegang Data Pribadi Seseorang Adalah KPU

Next Post

Emas Kedua Taekwondo Buleleng Dipersembahkan Kadek Ristina Indriani

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Kadek Ristina Indriani

Emas Kedua Taekwondo Buleleng Dipersembahkan Kadek Ristina Indriani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co