26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Taman, Halaman Belakang, dan Tahi Ayam

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 3, 2022
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Sejak kecil, Grudug selalu dibisiki oleh orang tua, bibi, paman, dan keluarga lainnya, “Habiskan makananmu biar ayam gak mati,” kata mereka. Belakangan ini, tiba-tiba kata-kata itu mondar-mandir dalam kepala Grudug, tapi ia pikir, bisikan itu mesti dibalik. Harusnya begini, “Jangan habiskan makanan biar ayam gak mati.”

Pariwisata Bali sesungguhnya tidak melulu tampak berhubungan dengan orang-orang, tetapi diam-diam mereka menyelinap dalam benak banyak orang. Entah bagian mana: penampilan, sikap, termasuk penataan rumah. Grudug selalu berandai untuk tinggal di rumah yang memiliki halaman seperti taman di villa atau hotel. Ah lugu banget. Di sana, tanaman tak melulu harus rapi seperti di taman kota. Kadang, tanaman terlihat berantakan tapi tetap saja enak dilihat. Grudug yakin itu tertata dengan cara yang berbeda dengan tanaman di taman kota yang umumnya Grudug jumpai.

“Tampilan begitu, meski tertata, tetap mudah diikuti,” pikir Grudug.

Tapi sialnya, cara berpikir menyeluruh semacam itu, lho, ya, mesti dipakai dalam hal-hal yang terlihat sepele seperti ini. Karena itu, jangan berharap taman seperti itu bisa terwujud atau bertahan di rumah—walaupun kau sudah merawat taman itu sepenuh hati. Ada masalah serius yang mesti ditanggulangi: serbuan para ayam!

Kampung memang lekat dengan ayam. Barangkali, sebagian orang berpikir ini stereotif, tapi tunggu dulu. Ini kenyataan. Ayam selalu dibutuhkan. Kalau tidak untuk upacara, bisa untuk hobi, tajen, dan sebangsanya itu. Tak sedikit pula yang memelihara ayam tanpa punya alasan. Memelihara ya untuk memelihara. Orang tipe ini biasanya hanya berbekal keyakinan: suatu saat pasti bermanfaat.

Ayah Grudug tampaknya memiliki masalah dengan caranya memelihara ayam—dia adalah tipe terakhir—setiap orang yang menawarinya ayam, ia akan terima—Grudug tahu, sesekali ayahnya menodong dari teman baiknya. Tapi perlakuan pada mereka tak pernah sama dari pemilik sebelumnya. Bila pemilik sebelumnya memperlakukan mereka seperti Malika si kedelai hitam pilihan, ayah Grudug malah melepas ayam-ayam itu begitu saja, dan Grudug tak menyukai sikap ayam-ayam yang kurang terpelajar itu. Berak sembarangan.

Ayam sesungguhnya adalah ancaman bagi taman, Saudara-saudara. Coba saja Saudara bayangkan: Saudara menanam tanaman hias yang paling dimimpikan banyak orang, Saudara rawat sebagaimana tanaman itu terlihat di halaman hotel atau villa. Begitulah hal yang dilakukan Grudug. Dan, simsalabim! Pasukan ayam peliharaan ayah Grudug datang untuk berak sembarangan di halaman rumah, memakan pucuk-pucuk daun muda, mematahkan dahan-dahan muda. Mereka seperti negara api yang menyerang!

Kau tahu, kadang anak muda seperti Grudug memiliki kepala yang ramah pada tamu: “tahi silakan naik ke sini!” Maka tak segan Grudug melempar ayam-ayam itu dengan sandal, sapu lidi, atau se-soroh-nya. Semua itu Grudug lakukan atas dasar agar ayam tidak berkeliaran di halaman rumah, tidak memakan daun, batang muda.

Tai dan daun cacat jarang Grudug lihat di halaman hotel, Bung! Tentu Grudug ingin situasi yang begitu juga. Tapi selain itu, “Jika pacar datang ke rumah, masak iya, sepatu hak tingginya menginjak tahi ayam karena berkunjung ke rumah,” gumam Grudug. Ah… Grudug akan merasa harga dirinya lenyap jika itu sampai terjadi. Dan, lemparan-lemparan itu berlangsung berkali-kali, berhari-hari—sebagai bentuk protes atas ekspansi para ayam.

Tanpa banyak bicara, ayahnya memberikan ayam-ayam itu pada tetangga. Memang itulah yang Grudug inginkan. Tentu Grudug merasa menang. Beberapa hari tanpa kehadiran ayam di halaman rumah, rasanya seperti menikmati liburan: tak ada tahi berserak, tak ada daun yang baru patah, tak ada bunga yang rusak. Maklum, ayah Grudug memelihara ayam ber-genre Hardcore! Alias ayam Bangkok. Saudara tahu, tahinya bisa sebesar jempol.

Tapi sesungguhnya, ada sesuatu yang hilang sejak saat itu—yang Grudug sadari belakangan, dan kadang inilah yang membuat Grudug menyesal bukan kepalang atas perlakuan itu. Ayam di rumah bukan hanya untuk peliharaan, bukan hanya untuk hobi, tetapi mereka sesungguhnya menjadi bagian dari ekosistem pengolahan sisa makanan. Ah, ampun! Grudug rupanya telah menjadi biang kerok pemutus ekosistem itu.

Ketika ayam-ayam itu masih ada, Grudug—sebagaimana ayah atau ibunya—biasanya menaruh nasi pada satu tempat. Setiap sore, nasi itu akan disetor pada ayam, dan untuk nasi malam akan disetor pada pagi hari. Semua makanan benar-benar habis tak ada sisa sama sekali!

Penyesalan selalu datang belakangan. Tentu. Grudug tumbuh dengan mitos harus menghabiskan makanan. Dan bisikan dari kecil itu telah melekat begitu kuat dalam kepala Grudug. Tapi, tunggu dulu. Ketika ayam-ayam itu masih ada, sesungguhnya Grudug menghapus dosa sisa nasi itu dengan melemparnya ke kerumunan ayam. Mereka akan makan dengan lahap sisa nasi Grudug. Mereka membuat nasi sisa itu tak terbuang sia-sia. Kau tahu, mereka memiliki mata yang jeli dan paruh yang cukup baik untuk membersihkan sebiji nasi.

Dan sialnya, kadang penyesalan membawa kita pada hayalan-hayalan yang tidak fiks. Ekosistem ini, Grudug pikir tidak hanya terencana pada peliharaan. Tetapi terjadi pula pada pengelolaan sampah rumah tangga. Kadang orang Bali suka latah. Ya, latah tren! Semestinya, setiap rumah memiliki teba—halaman belakang rumah yang biasa menjadi tempat pembuangan sampah. Itulah TPA rumah tangga. Semestinya, tempat ini telah menyelesaikan sebagian masalah sampah. Tapi, sebagian orang sudah tidak memiliki TPA lagi, karena belakang rumah telah disulap menjadi tempat artifisial: “Kita perlu tempat healing,” kata Grudug sebelum menyesali perbuatannya.

Karena alasan itulah ia berencana meletakkan Gazebo di teba atau membuat kolam ikan koi yang justru menghabiskan banyak makanan, yang harus dibeli khusus, mengeluarkan biaya listrik untuk mesin air, dan sebagainya. Teba juga seharusnya menjadi tempat para ayam untuk mencari makan. Grudug pikir ada dua masalah ketika kita latah menerima bentuk-bentuk pariwisata: kita menatapnya hanya dengan kacamata bentuk sehingga kita memperkosa ruang dan memutus sebagian pengetahuan, kedua kita menjadi boros, berlagak sebagai turis.

Tapi sekarang, nasi sisa hanya menjadi sampah, lalu busuk, kemudian direbut lalat. Bahkan ini tampak lebih menjijikkan daripada kotoran ayam. Grudug mestinya mensyukuri penyesalan itu! [T]

Tags: Kolom GrudugPariwisataRumahSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Nyanyian Sepasang Mata

Next Post

Krisna Satya, Sikut Satak, dan Usaha Menerjemahkan Arsitektur dalam Anatomi Tubuh

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Krisna Satya, Sikut Satak, dan Usaha Menerjemahkan Arsitektur dalam Anatomi Tubuh

Krisna Satya, Sikut Satak, dan Usaha Menerjemahkan Arsitektur dalam Anatomi Tubuh

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co