6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Taman, Halaman Belakang, dan Tahi Ayam

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 3, 2022
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Sejak kecil, Grudug selalu dibisiki oleh orang tua, bibi, paman, dan keluarga lainnya, “Habiskan makananmu biar ayam gak mati,” kata mereka. Belakangan ini, tiba-tiba kata-kata itu mondar-mandir dalam kepala Grudug, tapi ia pikir, bisikan itu mesti dibalik. Harusnya begini, “Jangan habiskan makanan biar ayam gak mati.”

Pariwisata Bali sesungguhnya tidak melulu tampak berhubungan dengan orang-orang, tetapi diam-diam mereka menyelinap dalam benak banyak orang. Entah bagian mana: penampilan, sikap, termasuk penataan rumah. Grudug selalu berandai untuk tinggal di rumah yang memiliki halaman seperti taman di villa atau hotel. Ah lugu banget. Di sana, tanaman tak melulu harus rapi seperti di taman kota. Kadang, tanaman terlihat berantakan tapi tetap saja enak dilihat. Grudug yakin itu tertata dengan cara yang berbeda dengan tanaman di taman kota yang umumnya Grudug jumpai.

“Tampilan begitu, meski tertata, tetap mudah diikuti,” pikir Grudug.

Tapi sialnya, cara berpikir menyeluruh semacam itu, lho, ya, mesti dipakai dalam hal-hal yang terlihat sepele seperti ini. Karena itu, jangan berharap taman seperti itu bisa terwujud atau bertahan di rumah—walaupun kau sudah merawat taman itu sepenuh hati. Ada masalah serius yang mesti ditanggulangi: serbuan para ayam!

Kampung memang lekat dengan ayam. Barangkali, sebagian orang berpikir ini stereotif, tapi tunggu dulu. Ini kenyataan. Ayam selalu dibutuhkan. Kalau tidak untuk upacara, bisa untuk hobi, tajen, dan sebangsanya itu. Tak sedikit pula yang memelihara ayam tanpa punya alasan. Memelihara ya untuk memelihara. Orang tipe ini biasanya hanya berbekal keyakinan: suatu saat pasti bermanfaat.

Ayah Grudug tampaknya memiliki masalah dengan caranya memelihara ayam—dia adalah tipe terakhir—setiap orang yang menawarinya ayam, ia akan terima—Grudug tahu, sesekali ayahnya menodong dari teman baiknya. Tapi perlakuan pada mereka tak pernah sama dari pemilik sebelumnya. Bila pemilik sebelumnya memperlakukan mereka seperti Malika si kedelai hitam pilihan, ayah Grudug malah melepas ayam-ayam itu begitu saja, dan Grudug tak menyukai sikap ayam-ayam yang kurang terpelajar itu. Berak sembarangan.

Ayam sesungguhnya adalah ancaman bagi taman, Saudara-saudara. Coba saja Saudara bayangkan: Saudara menanam tanaman hias yang paling dimimpikan banyak orang, Saudara rawat sebagaimana tanaman itu terlihat di halaman hotel atau villa. Begitulah hal yang dilakukan Grudug. Dan, simsalabim! Pasukan ayam peliharaan ayah Grudug datang untuk berak sembarangan di halaman rumah, memakan pucuk-pucuk daun muda, mematahkan dahan-dahan muda. Mereka seperti negara api yang menyerang!

Kau tahu, kadang anak muda seperti Grudug memiliki kepala yang ramah pada tamu: “tahi silakan naik ke sini!” Maka tak segan Grudug melempar ayam-ayam itu dengan sandal, sapu lidi, atau se-soroh-nya. Semua itu Grudug lakukan atas dasar agar ayam tidak berkeliaran di halaman rumah, tidak memakan daun, batang muda.

Tai dan daun cacat jarang Grudug lihat di halaman hotel, Bung! Tentu Grudug ingin situasi yang begitu juga. Tapi selain itu, “Jika pacar datang ke rumah, masak iya, sepatu hak tingginya menginjak tahi ayam karena berkunjung ke rumah,” gumam Grudug. Ah… Grudug akan merasa harga dirinya lenyap jika itu sampai terjadi. Dan, lemparan-lemparan itu berlangsung berkali-kali, berhari-hari—sebagai bentuk protes atas ekspansi para ayam.

Tanpa banyak bicara, ayahnya memberikan ayam-ayam itu pada tetangga. Memang itulah yang Grudug inginkan. Tentu Grudug merasa menang. Beberapa hari tanpa kehadiran ayam di halaman rumah, rasanya seperti menikmati liburan: tak ada tahi berserak, tak ada daun yang baru patah, tak ada bunga yang rusak. Maklum, ayah Grudug memelihara ayam ber-genre Hardcore! Alias ayam Bangkok. Saudara tahu, tahinya bisa sebesar jempol.

Tapi sesungguhnya, ada sesuatu yang hilang sejak saat itu—yang Grudug sadari belakangan, dan kadang inilah yang membuat Grudug menyesal bukan kepalang atas perlakuan itu. Ayam di rumah bukan hanya untuk peliharaan, bukan hanya untuk hobi, tetapi mereka sesungguhnya menjadi bagian dari ekosistem pengolahan sisa makanan. Ah, ampun! Grudug rupanya telah menjadi biang kerok pemutus ekosistem itu.

Ketika ayam-ayam itu masih ada, Grudug—sebagaimana ayah atau ibunya—biasanya menaruh nasi pada satu tempat. Setiap sore, nasi itu akan disetor pada ayam, dan untuk nasi malam akan disetor pada pagi hari. Semua makanan benar-benar habis tak ada sisa sama sekali!

Penyesalan selalu datang belakangan. Tentu. Grudug tumbuh dengan mitos harus menghabiskan makanan. Dan bisikan dari kecil itu telah melekat begitu kuat dalam kepala Grudug. Tapi, tunggu dulu. Ketika ayam-ayam itu masih ada, sesungguhnya Grudug menghapus dosa sisa nasi itu dengan melemparnya ke kerumunan ayam. Mereka akan makan dengan lahap sisa nasi Grudug. Mereka membuat nasi sisa itu tak terbuang sia-sia. Kau tahu, mereka memiliki mata yang jeli dan paruh yang cukup baik untuk membersihkan sebiji nasi.

Dan sialnya, kadang penyesalan membawa kita pada hayalan-hayalan yang tidak fiks. Ekosistem ini, Grudug pikir tidak hanya terencana pada peliharaan. Tetapi terjadi pula pada pengelolaan sampah rumah tangga. Kadang orang Bali suka latah. Ya, latah tren! Semestinya, setiap rumah memiliki teba—halaman belakang rumah yang biasa menjadi tempat pembuangan sampah. Itulah TPA rumah tangga. Semestinya, tempat ini telah menyelesaikan sebagian masalah sampah. Tapi, sebagian orang sudah tidak memiliki TPA lagi, karena belakang rumah telah disulap menjadi tempat artifisial: “Kita perlu tempat healing,” kata Grudug sebelum menyesali perbuatannya.

Karena alasan itulah ia berencana meletakkan Gazebo di teba atau membuat kolam ikan koi yang justru menghabiskan banyak makanan, yang harus dibeli khusus, mengeluarkan biaya listrik untuk mesin air, dan sebagainya. Teba juga seharusnya menjadi tempat para ayam untuk mencari makan. Grudug pikir ada dua masalah ketika kita latah menerima bentuk-bentuk pariwisata: kita menatapnya hanya dengan kacamata bentuk sehingga kita memperkosa ruang dan memutus sebagian pengetahuan, kedua kita menjadi boros, berlagak sebagai turis.

Tapi sekarang, nasi sisa hanya menjadi sampah, lalu busuk, kemudian direbut lalat. Bahkan ini tampak lebih menjijikkan daripada kotoran ayam. Grudug mestinya mensyukuri penyesalan itu! [T]

Tags: Kolom GrudugPariwisataRumahSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Nyanyian Sepasang Mata

Next Post

Krisna Satya, Sikut Satak, dan Usaha Menerjemahkan Arsitektur dalam Anatomi Tubuh

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Krisna Satya, Sikut Satak, dan Usaha Menerjemahkan Arsitektur dalam Anatomi Tubuh

Krisna Satya, Sikut Satak, dan Usaha Menerjemahkan Arsitektur dalam Anatomi Tubuh

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co