23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

A Hero (2021) : Sebuah Kabar dari Kebaikan yang Dipertanyakan

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
May 18, 2022
in Ulasan
A Hero (2021) : Sebuah Kabar dari Kebaikan yang Dipertanyakan

Film A Hero (2021) | Sumber foto: https://www.imdb.com/

Ashgar Farhadi kembali dengan segala dramanya yang dibalut oleh dialog-dialog yang cerdik dan akting dari para pemeran yang begitu alami. A Hero menjadi sebuah nuansa ketegangan yang tak memiliki satu pun adegan berbau-bau ketegangan, bahkan scoring pun tak ada mengiringi sepenuhnya film ini.

Memang, itulah kehebatan yang dimiliki oleh sutradara Iran yang satu ini, Ashgar Farhadi. Setelah berhasil dengan A Separation, About Elly dan The Salesman. Farhadi kembali dengan filmnya, A Hero. Satu film dengan pemantik sedemikian kecil, tapi betapa membakar emosi para penontonnya.

A Hero ditulis dan diarahkan sendiri oleh Farhadi, dibintangi oleh Amir Jadidi, Mohsen Tanabandeh, Alireza Jahandideh dan masih banyak lagi. Filmnya berhasil menyabet Grand Prix pada perhelatan Festival Film Cannes kemarin. Tapi sayangnya tak berhasil membawa pulang Palme D’or yang banyak orang harapkan untuknya.

Film ini berfokus kepada Rahim Soltani, seorang narapidana yang memiliki kesempatan bebas selama 2 hari. Rahim sendiri berakhir di penjara akibat memiliki hutang kepada Bahram sebesar 150,000,000 tomans. Dan di Iran sistem semacam ini masuk ke hukum diyyeh. Kesempatan yang singkat itu digunakan Rahim untuk mengunjungi kakaknya dan iparnya, Malileh & Hossein, serta anaknya, Siavash, yang mengalami keterbatasan berbicara.

Tidak dengan tujuan itu saja, Rahim memiliki kekasih yang bernama Farkhondeh. Farkhondeh mempunyai keberuntungan yang bisa digunakannya untuk membantu Rahim. Farkhondeh menemukan tas yang berisi 17 koin emas. Dan dengan itu mereka mencairkannya menjadi uang, yang nantinya guna melunasi hutang yang dimiliki Rahim. Namun ternyata, 17 koin emas itu harganya menurun, dan tak cukup untuk melunasi hutang yang ditanggung oleh Rahim.

Beda Agama, Menikah, dan Setelah Itu | Dari Pemutaran dan Diskusi Film Pendek “Ratna” di Mash Denpasar

Di sini, Ashgar Farhadi menyuguhkan sebuah dilema dari karater Rahim ketika kesusahan bertemu dengan keberuntungan. Rahim diuji dengan tawaran apakah ia harus mengembalikan 17 koin emas tersebut, yang tanpa ia tahu itu akan menjadi akar dari permasalahan, atau menggunakan 17 koin emas untuk membersihkan kesusahannya, kemudian menemukan kebebasan dan tak lagi mendekam di dalam penjara.

Rahim lantas membawa tas itu ke rumah Malileh. Dan Malileh mengetahui tas itu berisikan barang berharga. Malileh meminta Rahim untuk mengembalikan tas tersebut. Rahim memang berkeinganan demikian, dan keesokannya ia membuat iklan pengumuman. Ketika masa bebas sudah berakhir dan Rahim sedang berada di penjara. Pemilik tas menemui kakaknya, Malileh, menagih tas yang Rahim umumkan di iklan.

Tak berselang lama, pihak penjara mengetahui kebaikan Rahim, dan menfaatkan kebaikannya tersebut. Sontak, Rahim diliput banyak media dan menjadi panutan yang dipuji oleh banyak orang atas kebaikannya. Di samping hidupnya yang begitu sengsara dan tak memiliki apa-apa. Bagaimana tidak? Alih-alih menggunakan 17 koin emas di dalam tas itu untuk meringankan hutangnya, Rahim malah memilih untuk mengembalikan dengan ikhlas tanpa imbalan apapun.

Kebaikan Rahim memang awalnya berbuah manis. Rahim mendapatkan imbalan kebebasan lagi untuk berusaha melunasi hutangnya, juga badan amal menjanjikan sebuah pekerjaan untuknya. Ketika Rahim datang dan mengkonfimasikan itu ke perusahaan yang disebutkan, Rahim malah mendapat sambutan yang tak mengenakkan.

Film Pendek “Putu, Berbeda Tetap Keluarga”: Merawat Tradisi, Menjunjung Toleransi

Kedatangan itu yang berbuah pahit untuknya. Perusahaan tersebut malah memampang wajah pesimis atas kebaikan yang telah diperbuat Rahim. Mereka menyuruh Rahim mendatangkan si pemilik tas, namun Rahim sama sekali tak pernah melihat pemilik tas tersebut, juga tak mempunyai kontaknya sama sekali.

Di sini agaknya bisa kita bayangkan akan seperti apa selanjutnya. Latar masalah mencuat, dinamika semakin menjadi-jadi, sosok Rahim yang polos kemudian tak memiliki kepercayaan dari orang lain. Dan kebaikannya yang sebagai narapidana dipertanyakan. Orang-orang di sekitarnya pun selalu mengait-ngaitkan kebaikannya dengan masa lalunya yang kontradiktif

Dari Rahim yang tak bisa menghadirkan sosok pemilik tas, juga kehadiran permainannya untuk menyelesaikan masalah dengan cara sedikit berbohong inilah memulai drama yang emosional. Skenario yang ditindihkan kebohongan dengan maksud membenahi kesalahpahaman, tak kunjung dapat pengertian dari semuanya. Hal itu ikut turut berjalan terus-menerus, dan itu mengaduk perasaan kita pada kedua pihak. Di sini, Farhadi sepertinya tak membiarkan kita memilih siapa yang benar dan siapa yang salah.

Bahkan, Bahram pun menaruh curiga bahwa kebaikan Rahim itu merupakan rekayasa belaka yang dibuatnya. Bahram terus menyudutkan Rahim, dan menyebarkan rumor-rumor tentang masa lalunya yang tak pernah menepati janji kepada Bahram.

Entah apa yang dipikirkan semua orang, sedang Bahram pun memang sudah tak mempercayai lagi apa yang disampaikan oleh Rahim karena hubungan mereka di masa lalu. Di sini memang tak disebutkan begitu terperinci oleh Farhadi tentang kehidupan masa lalu Rahim yang sampai-sampai Bahram enggan mempercayainya.

Tapi saya menganggap itu satu kesengajaan yang biasa darinya, karena melihat di setiap film garapannya. Farhadi tak menempatkan komponen kecil semacam itu, sebab fokus filmnya ada pada masalah sederhana, yang nantinya digoreng dengan berbagai macam bumbu.

Kecurigaan orang-orang atas kebaikan Rahim terus berlanjut. Kecurigaan tersebut yang bersinggungan dengannya menjadi tragedi yang sedemikian rumit, dan memulai drama moralitas yang begitu menyeluruh. Pertumbuhan dari runtutan kisah serta peran karakter-karakter di sekitar Rahim yang selalu menenggelamkannya ketika bersuara, menjadikan kita bersimpati kepada sosok Rahim yang selalu kalah.

Namun, krisis kepercayaan dari setiap karakter di film ini juga tak patut untuk kita salahkan, karena melihat dari kebohongan Rahim yang meski itu bertujuan memecahkan masalah sepele, menjadi keberlanjutan yang terus dilakukan. Terkadang kita sulit untuk memihak mana yang benar dan mana yang salah. Ashgar Farhadi seperti tak memberikan kesempatan bagi kita untuk memilih.

Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

A Hero hadir bukan membuat kita memilih siapa yang berhak kita bela. A Hero hadir hanya sebagai pandangan untuk kita dapat melihat bagaimana orang kecil serupa Rahim, sama sekali tak punya kesempatan mengambil perhatian banyak orang sepenuhnya. Walau dengan kebaikan yang sudah dilakukan olehnya. Dan kebohongan dari skenarionya pun tak dapat kita curigai apakah Rahim mengambil sebuah keuntungan? Karena melihat bahwa dia selalu terpojokkan dan tak diberi ruang sama sekali untuk mengklarifikasi segalanya.

Keterbatasan ruang bagi Rahim untuk bersuara ketika mayoritas meragukannya membuat kita berfikir. Bahwa kenyataannya, masa lalu yang buruk masih akan tetap melekat, dan itu menjadi sorotan pertama bagi masyarakat dalam menilai seseorang.

Farhadi dengan kemampuannya mengulas permasalahan sederhana, telah memoles A Hero menjadi getaran alur yang memukau, yang selalu bergerak ke arah-arah sensitif. Tak jarang para penonton selalu melihat objek apa yang sedang disinggung oleh sutradara kondang ini. Permasalahan sosial di sekitar, dan juga kebengisan oknum-oknum yang mengambil keuntungan, atas tindakan karakter utama dalam film tersebut, turut hadir dengan begitu subtil, sembari mewarnai gejolak emosi para penonton.

Seperti film-film garapannya yang lain, Farhadi selalu berhasil membuat para penonton berfikir kritis, dan memberikan pandangan tersendiri dengan sajian drama masyarakatnya yang tak biasa. Meski bagi saya tak sesempurna A Separation dan About Elly. Ashgar Farhadi tetap mampu menjahit setiap adegan dengan ketegangan narasi yang luar biasa kompleks. [T]

Tags: filmFilm A HeroUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Bersama Minikino | Apa Saja yang Perlu Diketahui Saat Menulis Ulasan Film Pendek?

Next Post

HINDU DRESTA NUSANTARA: DRESTA KAHARINGAN, DRESTA TENGGER, DRESTA TORAJA, DAN SETERUSNYA

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

HINDU DRESTA NUSANTARA: DRESTA KAHARINGAN, DRESTA TENGGER, DRESTA TORAJA, DAN SETERUSNYA

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co