13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HINDU DRESTA NUSANTARA: DRESTA KAHARINGAN, DRESTA TENGGER, DRESTA TORAJA, DAN SETERUSNYA

Sugi Lanus by Sugi Lanus
May 18, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?
— Catatan Harian Sugi Lanus, 17 Mei 2022

1. Sangat mengagetkan ternyata banyak pihak berpikir bahwa istilah DRESTA (DṚṢṬA) sebatas berlaku atau ada di Bali. Padahal DṚṢṬA adalah bentukan istilah yang ditemukan dalam Vedic text (teks-teks bersumber dari kitab Weda dan turunannya).

DṚṢṬA adalah istilah umum yang dipakai dalam berbagai naskah-naskah Sanskerta (Sanskrit), seperti dalam berbagai cabang keilmuan dan seni: Vyakarana (tata bahasa Sansekerta), Natyashastra (teater dan dramaturgi), Śilpaśastra (ikonografi), Jyotiśa (astronomi dan astrologi) Śaivisme (filsafat Śaiva atau ajaran ke-Śiwa-an), Kavya (persajakan atau puisi), dan seterusnya.

— Dalam Vyakarana (tata bahasa Sansekerta) istilah dṛṣṭa (दृष्ट) digunakan dalam Sastra Veda, atau Sastra Klasik, muncul sehubungan dengan kata-kata yang coba dijelaskan oleh ahli tata bahasa; seperti  dṛṣṭānuvidhiśchandasi bhavati.

— Dalam Śilpaśastra (ikonografi) istilah ini mengacu pada “dunia yang terlihat” dikaitkan dengan seni pahat, lukisan, dan ikonografi, sebagian besar figurnya didasarkan pada tubuh manusia.

— Dṛṣṭa (दृष्ट) dalam ilmu Jyotisha, mengacu pada “visibilitas” (planet).

— Dalam filsafat Śiwaisme istilah dṛṣṭa mengacu pada “(apa yang dirasakan)” (sebagai lawan dari Adṛṣṭa—’tidak terlihat’), menurut Īśvarapratyabhijñāvivṛtivimarśinī 2.131:—“‘adhikatara’ [berarti berikut]: [berbagai] fenomena adalah [sesuatu lebih (adhika)] daripada kesadaran, sama seperti pantulan adalah sesuatu yang lebih dari sekadar cermin [memantulkan mereka]; dan apa yang merupakan sesuatu yang lebih dari sesuatu yang lebih, [yaitu, sesuatu yang lebih] daripada [fenomena,] ini tidak pernah dapat dirasakan (dṛṣṭa) dalam [keadaan] apa pun karena [alasan berbeda dari fenomena] ; dan bagaimana itu bisa menjadi entitas [nyata] ( Vastu )?”.

2. Dṛṣṭa mengandung makna sebagai berikut:

1) Terlihat, tampak, dirasakan, diamati, dilihat; (ubhayorapi dṛṣṭo’ntaḥ) Bg.2.16.

2) Terlihat, dapat diamati.

3) Dianggap, dipertimbangkan; ( dṛṣṭo vivṛtya bahuśo’pyanayā satṛṣṇam) Ś.3.1.

4) Terjadi, ditemukan.

5) Muncul, terwujud.

6) Diketahui, dipelajari, dipahami.

7) Ditentukan, diputuskan, tetap; (tadahaṃ yaṣṭumicchāmi āstradṛṣṭena karmaṇā ) Rām.1.8.9.

8) Berlaku.

Silahkan buka kamus besar Sanskerta (seperti: Cologne Digital Sanskrit Dictionary, atau Monier-Williams Sanskrit-English Dictionary), pemakaian kata dṛṣṭa ditemui dalam berbagai kitab atau pustaka Hindu.

Dṛṣṭa (दृष्ट) berarti:

— dilihat, diperhatikan, [dipakai dalam Manu-smṛti; Mahabharata; Sastra Kavya] dll.

— terlihat, nyata, [dipakai dalam Atharva-veda; Vājasaneyi-saṃhitā]

— dianggap, dianggap, diperlakukan, digunakan, [dipakai dalam Śakuntalā iii, 7; Pañcatantra i, 401/402]

— muncul, terwujud, terjadi, ada, ditemukan, nyata, [dipakai dalam sastra Kāvya; Pañcatantra; Hitopadeśa]

— dialami, dipelajari, diketahui, dipahami, [dipakai dalam Mahābhārata; Sastra Kavya] dll.

— terlihat dalam pikiran, dirancang, dibayangkan, [dipakai dalam Mahābhārata; Rāmāyaṇa]

— diselesaikan, diputuskan, ditetapkan, diakui, sah, [dipakai dalam Manu-smṛti; Yajñavalkya; Mahābhārata] dll.

— persepsi, pengamatan, [dipakai dalam Sāṃkhyakārikā; Tattvasamāsa]

Kitab-kitab Atharva-veda; Vājasaneyi-saṃhitā; Manu-smṛti; Mahābhārata; Sastra Kavya; Pañcatantra; Hitopadeśa; Rāmāyaṇa; Yajñavalkya; Sāṃkhyakārikā; Tattvasamāsa — dari ratusan tahun bahkan ribuan tahun sebelum masehi telah memakai kata ini.

Dalam makna luas dan konteks makna tersebut di atas istilah dṛṣṭa dalam Hindu dṛṣṭa Kaharingan, Hindu dṛṣṭa Toraja, Hindu dṛṣṭa Tengger, Hindu dṛṣṭa Banyuwangi, dan seterusnya. dirujuk atau dijadikan panduan semantik dalam catatan ini.

3. Pemakaian dṛṣṭa dalam istilah Hindu dṛṣṭa Bali adalah merujuk pada Hinduisme yang berkembang dengan mengakar kuat dengan warna lokalitas Bali, dengan sejarah panjangnya bersinkretik dengan tradisi kuno Bali, dengan masyarakat pre-Hindu di Bali yang telah mengenal religi lokal yang mendalam, dan perjumpaan dalam sejarah panjang ini yang menghasilkan apa yang kita kenal sebagai Hindu dṛṣṭa Bali.

Jika melihat ke wilayah atau kepulauan lainnya di Nusantara, yang terdiri dari berbagai suku bangsa, maka Hinduisme yang berkembang di luar Bali juga tumbuh bermetamorfose dengan dṛṣṭa atau lokalitasnya masing-masing. Kita pun sekarang mendapati Hinduisme dalam pelukan lokalitas Kaharingan berkembang sebagai Hindu dṛṣṭa Kaharingan. Hindu dengan warna khazanah lokal Karo dan Batak lainnya merupakan Hindu dṛṣṭa Batak. Hinduisme yang berkembang dalam warna budaya kuno Toraja adalah Hindu dṛṣṭa Toraja. Hindu Tengger adalah Hindu dṛṣṭa Tengger.

Hindu di Lombok, sekalipun warganya kebanyakan berleluhur dari migrasi suku Bali ke Lombok, kalau kita telisik secara lebih rinci perkembangannya, religi Hindu di Lombok adalah persemaian Hinduisme dari Bali yang telah baur dengan lokalitas Lombok, menjadi Hindu dṛṣṭa Lombok atau Sasak. Salah satu tradisinya di Pura Lingsar, dan atau upakara di Lombok Daya yang punya lokalitas yang terkait dengan etnis setempat, yang memberi warna Hinduisme di Lombok yang khas.

4. Jika kita amati Hindu Ngaju, dengan upacara Tiwah yang merupakan upacara kematian yang digelar untuk seseorang yang sudah meninggal, untuk mendoakan dan mengantar perjalanan salumpuk liau menuju lewu tatau, merupakan konsep alam pitara di masyarakat Dayak Ngaju — bisa disebut sebagai upakara Pitra Yadnya berdasarkan Hindu dṛṣṭa Ngaju.

Apa yang disebut sebagai Upacara Tiwah dalam Hindu dṛṣṭa Ngaju, dalam Hindu dṛṣṭa Bali dikenal sebagai Upakara Atiwa-tiwa. Tiwah dan Atiwa-tiwa masing-masing secara ekspresi budaya yang kandungan lokalitasnya masing-masing mengakar kuat, dengan ekspresi tradisi lokal yang kental. Secara esensi, keduanya masuk dalam rumpun Pitra Yadnya.

Dalam Hindu dṛṣṭa Tengger upakara sejenis ini disebut ENTAS-ENTAS. Secara spirit sama dengan ATIWA-TIWA dalam dṛṣṭa Bali, dan TIWAH dalam dṛṣṭa Ngaju. Kata ENTAS-ENTAS mengingatkan kita pada keberadaan Tirta Pangetas dalam tradisi Hindu dṛṣṭa Bali, yaitu air suci penyucian ruh orang meninggal untuk pembuka-gerbang suci keberangkatannya menuju alam Pitra.

Masih banyak lagi upakara dari kelahiran sampai kematian di berbagai daerah di Nusantara mengikuti atau seirama dengan ajaran Vaidika (bersumber dari teks kuno Weda) dengan lokalitasnya yang kuat.

Apa yang dikenal sebagai Ashtasamskara dalam tradisi Nigama dan Agama berbasis Weda — 8 Ritus Peralihan Hidup Manusia Hindu — masih banyak ditemui dalam masyarakat Nusantara di berbagai daerah, sekalipun secara KTP tidak memeluk Hindu.

Upakara Ashtasamskara itu sebegai berikut:

— Namakarana: Upacara pemberian nama.

— Anna Prasana: Awal dari makanan padat.

— Karnavedha: Tindik telinga.

— Chudakarma atau Chudakarana: Mencukur Kepala.

— Vidyarambha: Awal Pendidikan.

— Upanayana: Upacara Benang Suci. [Ini bisa dikatakan tidak lagi ditemui di Nusantara].

— Vivaha: Pernikahan.

— Antyeshti: Pemakaman atau Ritus Terakhir.

Upacara-upacara tersebut di atas bisa dilacak dalam budaya Jawa, Kalimantan, Melayu, dstnya. Semua masih dilangsungkan dengan lokalitanya masing-masing. Inilah yang kita sebut sebagai dṛṣṭa di masing-masing daerah dimana diselenggarakan ritual atau upakara tersebut.

5. Dalam urusan kepanditaan atau kependetaan Hindu di Nusantara mempunyai inisiasi atau DIKSA-nya masing-masing sesuai DRESTA-nya masing-masing. Di suku-suku di Kalimantan, dari Ngaju-Kaharingan dll, punya dṛṣṭa tersendiri dalam meng-INISIASI atau DIKSA calon pendetanya masing-masing.

Proses inisiasi tersebut umumnya disaksikan oleh lembaga adat, oleh perwakilan atau tetua suku, dan selanjutnya yang bersangkutan diakui secara sah sebagai pendeta yang resmi atau sah untuk Hindu Ngaju — inilah yang bisa kita disebut sebagai DIKSA-DRESTA-NGAJU atau DIKSA-DRESTA-KAHARINGAN. Demikian juga masyarakat Tengger punya tradisi kuno dalam inisiasi resmi pengangkatan resmi pandita Hindu Tengger. Hindu Batak juga memiliki dṛṣṭa-nya dalam pemilihan dan pelantikan kepanditaannya.

Tradisi kepanditaan Hindu dalam berbagai suku bangsa di Nusantara tersebut adalah buah perjumpaan teks-teks suci kuno dan praksis yang berabad-abad, bertumbuh-kembang dengan kedalaman lokalitasnya masing-masing. Jika diperhatikan koridornya satu dalam tujuan, yaitu: Pemuliaan jiwa-atma (atma yang dilingkupi oleh wasana-karma personal), yang kemudian disucikan dengan upakara untuk dilepas wasana-karmanya, sehingga yang tertinggal diharapkan kesucian atmanya belaka, “dimatikan masa lalu dan kehidupan lampaunya” dan terlahir kembali dalam kesucian. Untuk selanjutnya ‘atma’ yang bersangkutan menjadi “perantara umat” terhubung dengan “parama-atma”.

Berbagai inisiasi kepanditaan tersebut, yang telah mengakar dengan lokalitasnya itulah, yang tersebar di berbagai wilayah yang menjadi tradisi suku-suku Hindu di Nusantara tersebut, perlu digali dari tradisi lisan dan dibantu rumuskan agar menjadi warisan tertulis. Dari tradisi yang diingat secara lisan dalam praksis-laku upakara, perlu disurat sebagai rekaman jejak tradisi, sehingga menjadi legasi yang bisa dipakai koridor umum generasi masa depan dalam kegiatan keagamaan, terkhusus pengangkatan pandita Hindu di masing-masing daerah di Nusantara.

Inisiasi kependetaan Hindu di Dayak, Batak, dll. ini mesti dipahami dan dirumuskan oleh lembaga Hindu di Nusantara, berdasarkan lokalitasnya, berdasarkan keragaman budayanya.

Jika kita bandingkan dengan persebaran Hinduisme di India Selatan, di sana pun mempunyai dresta-nya sendiri-sendiri. Demikian juga di Nepal, atau di utara di Kashmir, semua dengan lokalitasnya yang khas. Secara umum masyarakat Hindu di bentang Jambu Dvipa merasakan pentingnya untuk tetap menjaga dṛṣṭa mereka masing-masing, karena itulah wujud hasil jalinan tradisi Vedic dengan tradisi kuno di masing-masing wilayah dan suku-sukunya yang berbeda.

Hinduisme ketika menyebar di berbagai belahan dunia berbaur dan menyusup. Perjumpaannya dengan religi lokal membuatnya mengakar-mendṛṣṭa. Tradisi dan religi lokal tidak diberangus, tetapi dijadikan akar-akar serabut yang membumi. Dengan proses berabad-abad penyatuan diri dengan lokalitas-lokalitas inilah resapan saripati Hinduisme menjadi sangat mengakar. Hindusime bertumbuh dengan warna kulturalnya yang beragam di berbagai belahan dunia, dengan tetap sejiwa di lubuk terdalamnya. [T]

Tags: Dresta BalihinduHindu NusantaraNusantara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

A Hero (2021) : Sebuah Kabar dari Kebaikan yang Dipertanyakan

Next Post

Setelah Panen, Jerami Jangan Dibakar, Jadikan Kompos

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Setelah Panen, Jerami Jangan Dibakar, Jadikan Kompos

Setelah Panen, Jerami Jangan Dibakar, Jadikan Kompos

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co