2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HINDU DRESTA NUSANTARA: DRESTA KAHARINGAN, DRESTA TENGGER, DRESTA TORAJA, DAN SETERUSNYA

Sugi Lanus by Sugi Lanus
May 18, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?
— Catatan Harian Sugi Lanus, 17 Mei 2022

1. Sangat mengagetkan ternyata banyak pihak berpikir bahwa istilah DRESTA (DṚṢṬA) sebatas berlaku atau ada di Bali. Padahal DṚṢṬA adalah bentukan istilah yang ditemukan dalam Vedic text (teks-teks bersumber dari kitab Weda dan turunannya).

DṚṢṬA adalah istilah umum yang dipakai dalam berbagai naskah-naskah Sanskerta (Sanskrit), seperti dalam berbagai cabang keilmuan dan seni: Vyakarana (tata bahasa Sansekerta), Natyashastra (teater dan dramaturgi), Śilpaśastra (ikonografi), Jyotiśa (astronomi dan astrologi) Śaivisme (filsafat Śaiva atau ajaran ke-Śiwa-an), Kavya (persajakan atau puisi), dan seterusnya.

— Dalam Vyakarana (tata bahasa Sansekerta) istilah dṛṣṭa (दृष्ट) digunakan dalam Sastra Veda, atau Sastra Klasik, muncul sehubungan dengan kata-kata yang coba dijelaskan oleh ahli tata bahasa; seperti  dṛṣṭānuvidhiśchandasi bhavati.

— Dalam Śilpaśastra (ikonografi) istilah ini mengacu pada “dunia yang terlihat” dikaitkan dengan seni pahat, lukisan, dan ikonografi, sebagian besar figurnya didasarkan pada tubuh manusia.

— Dṛṣṭa (दृष्ट) dalam ilmu Jyotisha, mengacu pada “visibilitas” (planet).

— Dalam filsafat Śiwaisme istilah dṛṣṭa mengacu pada “(apa yang dirasakan)” (sebagai lawan dari Adṛṣṭa—’tidak terlihat’), menurut Īśvarapratyabhijñāvivṛtivimarśinī 2.131:—“‘adhikatara’ [berarti berikut]: [berbagai] fenomena adalah [sesuatu lebih (adhika)] daripada kesadaran, sama seperti pantulan adalah sesuatu yang lebih dari sekadar cermin [memantulkan mereka]; dan apa yang merupakan sesuatu yang lebih dari sesuatu yang lebih, [yaitu, sesuatu yang lebih] daripada [fenomena,] ini tidak pernah dapat dirasakan (dṛṣṭa) dalam [keadaan] apa pun karena [alasan berbeda dari fenomena] ; dan bagaimana itu bisa menjadi entitas [nyata] ( Vastu )?”.

2. Dṛṣṭa mengandung makna sebagai berikut:

1) Terlihat, tampak, dirasakan, diamati, dilihat; (ubhayorapi dṛṣṭo’ntaḥ) Bg.2.16.

2) Terlihat, dapat diamati.

3) Dianggap, dipertimbangkan; ( dṛṣṭo vivṛtya bahuśo’pyanayā satṛṣṇam) Ś.3.1.

4) Terjadi, ditemukan.

5) Muncul, terwujud.

6) Diketahui, dipelajari, dipahami.

7) Ditentukan, diputuskan, tetap; (tadahaṃ yaṣṭumicchāmi āstradṛṣṭena karmaṇā ) Rām.1.8.9.

8) Berlaku.

Silahkan buka kamus besar Sanskerta (seperti: Cologne Digital Sanskrit Dictionary, atau Monier-Williams Sanskrit-English Dictionary), pemakaian kata dṛṣṭa ditemui dalam berbagai kitab atau pustaka Hindu.

Dṛṣṭa (दृष्ट) berarti:

— dilihat, diperhatikan, [dipakai dalam Manu-smṛti; Mahabharata; Sastra Kavya] dll.

— terlihat, nyata, [dipakai dalam Atharva-veda; Vājasaneyi-saṃhitā]

— dianggap, dianggap, diperlakukan, digunakan, [dipakai dalam Śakuntalā iii, 7; Pañcatantra i, 401/402]

— muncul, terwujud, terjadi, ada, ditemukan, nyata, [dipakai dalam sastra Kāvya; Pañcatantra; Hitopadeśa]

— dialami, dipelajari, diketahui, dipahami, [dipakai dalam Mahābhārata; Sastra Kavya] dll.

— terlihat dalam pikiran, dirancang, dibayangkan, [dipakai dalam Mahābhārata; Rāmāyaṇa]

— diselesaikan, diputuskan, ditetapkan, diakui, sah, [dipakai dalam Manu-smṛti; Yajñavalkya; Mahābhārata] dll.

— persepsi, pengamatan, [dipakai dalam Sāṃkhyakārikā; Tattvasamāsa]

Kitab-kitab Atharva-veda; Vājasaneyi-saṃhitā; Manu-smṛti; Mahābhārata; Sastra Kavya; Pañcatantra; Hitopadeśa; Rāmāyaṇa; Yajñavalkya; Sāṃkhyakārikā; Tattvasamāsa — dari ratusan tahun bahkan ribuan tahun sebelum masehi telah memakai kata ini.

Dalam makna luas dan konteks makna tersebut di atas istilah dṛṣṭa dalam Hindu dṛṣṭa Kaharingan, Hindu dṛṣṭa Toraja, Hindu dṛṣṭa Tengger, Hindu dṛṣṭa Banyuwangi, dan seterusnya. dirujuk atau dijadikan panduan semantik dalam catatan ini.

3. Pemakaian dṛṣṭa dalam istilah Hindu dṛṣṭa Bali adalah merujuk pada Hinduisme yang berkembang dengan mengakar kuat dengan warna lokalitas Bali, dengan sejarah panjangnya bersinkretik dengan tradisi kuno Bali, dengan masyarakat pre-Hindu di Bali yang telah mengenal religi lokal yang mendalam, dan perjumpaan dalam sejarah panjang ini yang menghasilkan apa yang kita kenal sebagai Hindu dṛṣṭa Bali.

Jika melihat ke wilayah atau kepulauan lainnya di Nusantara, yang terdiri dari berbagai suku bangsa, maka Hinduisme yang berkembang di luar Bali juga tumbuh bermetamorfose dengan dṛṣṭa atau lokalitasnya masing-masing. Kita pun sekarang mendapati Hinduisme dalam pelukan lokalitas Kaharingan berkembang sebagai Hindu dṛṣṭa Kaharingan. Hindu dengan warna khazanah lokal Karo dan Batak lainnya merupakan Hindu dṛṣṭa Batak. Hinduisme yang berkembang dalam warna budaya kuno Toraja adalah Hindu dṛṣṭa Toraja. Hindu Tengger adalah Hindu dṛṣṭa Tengger.

Hindu di Lombok, sekalipun warganya kebanyakan berleluhur dari migrasi suku Bali ke Lombok, kalau kita telisik secara lebih rinci perkembangannya, religi Hindu di Lombok adalah persemaian Hinduisme dari Bali yang telah baur dengan lokalitas Lombok, menjadi Hindu dṛṣṭa Lombok atau Sasak. Salah satu tradisinya di Pura Lingsar, dan atau upakara di Lombok Daya yang punya lokalitas yang terkait dengan etnis setempat, yang memberi warna Hinduisme di Lombok yang khas.

4. Jika kita amati Hindu Ngaju, dengan upacara Tiwah yang merupakan upacara kematian yang digelar untuk seseorang yang sudah meninggal, untuk mendoakan dan mengantar perjalanan salumpuk liau menuju lewu tatau, merupakan konsep alam pitara di masyarakat Dayak Ngaju — bisa disebut sebagai upakara Pitra Yadnya berdasarkan Hindu dṛṣṭa Ngaju.

Apa yang disebut sebagai Upacara Tiwah dalam Hindu dṛṣṭa Ngaju, dalam Hindu dṛṣṭa Bali dikenal sebagai Upakara Atiwa-tiwa. Tiwah dan Atiwa-tiwa masing-masing secara ekspresi budaya yang kandungan lokalitasnya masing-masing mengakar kuat, dengan ekspresi tradisi lokal yang kental. Secara esensi, keduanya masuk dalam rumpun Pitra Yadnya.

Dalam Hindu dṛṣṭa Tengger upakara sejenis ini disebut ENTAS-ENTAS. Secara spirit sama dengan ATIWA-TIWA dalam dṛṣṭa Bali, dan TIWAH dalam dṛṣṭa Ngaju. Kata ENTAS-ENTAS mengingatkan kita pada keberadaan Tirta Pangetas dalam tradisi Hindu dṛṣṭa Bali, yaitu air suci penyucian ruh orang meninggal untuk pembuka-gerbang suci keberangkatannya menuju alam Pitra.

Masih banyak lagi upakara dari kelahiran sampai kematian di berbagai daerah di Nusantara mengikuti atau seirama dengan ajaran Vaidika (bersumber dari teks kuno Weda) dengan lokalitasnya yang kuat.

Apa yang dikenal sebagai Ashtasamskara dalam tradisi Nigama dan Agama berbasis Weda — 8 Ritus Peralihan Hidup Manusia Hindu — masih banyak ditemui dalam masyarakat Nusantara di berbagai daerah, sekalipun secara KTP tidak memeluk Hindu.

Upakara Ashtasamskara itu sebegai berikut:

— Namakarana: Upacara pemberian nama.

— Anna Prasana: Awal dari makanan padat.

— Karnavedha: Tindik telinga.

— Chudakarma atau Chudakarana: Mencukur Kepala.

— Vidyarambha: Awal Pendidikan.

— Upanayana: Upacara Benang Suci. [Ini bisa dikatakan tidak lagi ditemui di Nusantara].

— Vivaha: Pernikahan.

— Antyeshti: Pemakaman atau Ritus Terakhir.

Upacara-upacara tersebut di atas bisa dilacak dalam budaya Jawa, Kalimantan, Melayu, dstnya. Semua masih dilangsungkan dengan lokalitanya masing-masing. Inilah yang kita sebut sebagai dṛṣṭa di masing-masing daerah dimana diselenggarakan ritual atau upakara tersebut.

5. Dalam urusan kepanditaan atau kependetaan Hindu di Nusantara mempunyai inisiasi atau DIKSA-nya masing-masing sesuai DRESTA-nya masing-masing. Di suku-suku di Kalimantan, dari Ngaju-Kaharingan dll, punya dṛṣṭa tersendiri dalam meng-INISIASI atau DIKSA calon pendetanya masing-masing.

Proses inisiasi tersebut umumnya disaksikan oleh lembaga adat, oleh perwakilan atau tetua suku, dan selanjutnya yang bersangkutan diakui secara sah sebagai pendeta yang resmi atau sah untuk Hindu Ngaju — inilah yang bisa kita disebut sebagai DIKSA-DRESTA-NGAJU atau DIKSA-DRESTA-KAHARINGAN. Demikian juga masyarakat Tengger punya tradisi kuno dalam inisiasi resmi pengangkatan resmi pandita Hindu Tengger. Hindu Batak juga memiliki dṛṣṭa-nya dalam pemilihan dan pelantikan kepanditaannya.

Tradisi kepanditaan Hindu dalam berbagai suku bangsa di Nusantara tersebut adalah buah perjumpaan teks-teks suci kuno dan praksis yang berabad-abad, bertumbuh-kembang dengan kedalaman lokalitasnya masing-masing. Jika diperhatikan koridornya satu dalam tujuan, yaitu: Pemuliaan jiwa-atma (atma yang dilingkupi oleh wasana-karma personal), yang kemudian disucikan dengan upakara untuk dilepas wasana-karmanya, sehingga yang tertinggal diharapkan kesucian atmanya belaka, “dimatikan masa lalu dan kehidupan lampaunya” dan terlahir kembali dalam kesucian. Untuk selanjutnya ‘atma’ yang bersangkutan menjadi “perantara umat” terhubung dengan “parama-atma”.

Berbagai inisiasi kepanditaan tersebut, yang telah mengakar dengan lokalitasnya itulah, yang tersebar di berbagai wilayah yang menjadi tradisi suku-suku Hindu di Nusantara tersebut, perlu digali dari tradisi lisan dan dibantu rumuskan agar menjadi warisan tertulis. Dari tradisi yang diingat secara lisan dalam praksis-laku upakara, perlu disurat sebagai rekaman jejak tradisi, sehingga menjadi legasi yang bisa dipakai koridor umum generasi masa depan dalam kegiatan keagamaan, terkhusus pengangkatan pandita Hindu di masing-masing daerah di Nusantara.

Inisiasi kependetaan Hindu di Dayak, Batak, dll. ini mesti dipahami dan dirumuskan oleh lembaga Hindu di Nusantara, berdasarkan lokalitasnya, berdasarkan keragaman budayanya.

Jika kita bandingkan dengan persebaran Hinduisme di India Selatan, di sana pun mempunyai dresta-nya sendiri-sendiri. Demikian juga di Nepal, atau di utara di Kashmir, semua dengan lokalitasnya yang khas. Secara umum masyarakat Hindu di bentang Jambu Dvipa merasakan pentingnya untuk tetap menjaga dṛṣṭa mereka masing-masing, karena itulah wujud hasil jalinan tradisi Vedic dengan tradisi kuno di masing-masing wilayah dan suku-sukunya yang berbeda.

Hinduisme ketika menyebar di berbagai belahan dunia berbaur dan menyusup. Perjumpaannya dengan religi lokal membuatnya mengakar-mendṛṣṭa. Tradisi dan religi lokal tidak diberangus, tetapi dijadikan akar-akar serabut yang membumi. Dengan proses berabad-abad penyatuan diri dengan lokalitas-lokalitas inilah resapan saripati Hinduisme menjadi sangat mengakar. Hindusime bertumbuh dengan warna kulturalnya yang beragam di berbagai belahan dunia, dengan tetap sejiwa di lubuk terdalamnya. [T]

Tags: Dresta BalihinduHindu NusantaraNusantara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

A Hero (2021) : Sebuah Kabar dari Kebaikan yang Dipertanyakan

Next Post

Setelah Panen, Jerami Jangan Dibakar, Jadikan Kompos

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Setelah Panen, Jerami Jangan Dibakar, Jadikan Kompos

Setelah Panen, Jerami Jangan Dibakar, Jadikan Kompos

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co