24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Biar Kumiliki Segala Kenangan Itu, Bapak | Membincangkan Buku Puisi “Prihentemen”

Ari Dwijayanthi by Ari Dwijayanthi
March 23, 2022
in Ulasan
Biar Kumiliki Segala Kenangan Itu, Bapak | Membincangkan Buku Puisi “Prihentemen”

Akhirnya, manusia datang pada simpulannya yang tak pernah lepas bernama ingatan. Ya, semasih ingatan ada, semasih ada yang diingat, susah melepaskannya. Manusia, ingatan, rasa, kenangan, semuanya kait mengait tanpa kemudian bisa diputus. Setidaknya, saat manusia merasakan desir yang sama, di sana manusia terdiam sejenak, untuk benar-benar menyadari rasa ngilu menjalar panas dingin di sekujur tubuh. Apakah mengenang itu selamanya menyakitkan?

Perpisahan apa pun bentuknya memang selalu melahirkan duka lara. Perpisahan yang paling dirasakan memisahkan adalah kematian (mati raga dan jiwa). Mereka yang mati, seolah-olah pergi begitu saja tanpa basa-basi guna sedikit saja memastikan yang ditinggalkan baik-baik saja. Mati yang mati, begitulah disebutkan pada Kekawin Sumanasantaka: kematian adalah caraku untuk tahu seberapa dalam kau mencintaiku.

Dunia sastra kawi itu memang memandang kematian adalah sebuah keromantisan, tak heran memang karya-karya yang lahir memang memiliki tujuan: manunggal. Satu. Sederhananya: mati.

Membaca “Sembahyang Bhuvana” Karya Saras Dewi Dari Perspektif Wittgenstein

Membaca Sumanasantaka, seketika bayangan kematian yang penuh derita itu sirna. Kematian digambarkan seperti hujan bunga-bunga dari langit, mereka yang mati maupun yang masih hidup sama-sama merasakan turunnya hujan itu dalam suka cita yang berbeda. Kematian juga digambarkan matinya manusia dengan begitu saja (tiba-tiba), ya bisa dikatakan bahwa hidup tidak lebih dari satu hembusan napas.

Lalu, pujian-pujian terhadap penguasa waktu (Kala) menjadi melodi dari puisi cinta para penyair pemuja kematian itu. Begini kurang lebih: Kala, kelak bila saatnya tiba, aku ingin mati dengan indah, aku mati begitu saja, saat bunga-bunga sumanasa (cempaka) itu berguguran lalu jatuh tepat di dadaku. Kala, aku akan menemuimu dalam kesempurnaan pujaku saat mataku terkatup, dadaku berhenti naik turun, dan senyumku manis mengembang. (salah satu bagian dari Kekawin Sumasantaka, bagian tokoh utama Putri Indumati menginginkan kematiannya).

Entah mengapa kemudian, ketika membaca karya sastra kawi saya selalu diajak jalan-jalan mengenal lebih dekat kematian. Teks-teks lontar itu mengajarkan pada saya, bahwa kematian itu nyata adanya. Lalu, bagaimana cara mengantar kematian orang terkasih kita dengan indah: puisilah mantranya.

Prihentemen, karya Kadek Sonia Piscayanti kembali mengajak saya menjenguk ingatan saya tentang apa itu kematian, apa itu kehilangan, dan bagaimana rasanya kehilangan seorang bapak. Lelaki yang tak lain adalah cinta pertama setiap anak perempuan. Menyebut kata: Bapak, seperti yang saya sudah katakan ada desir ngilu yang membuat sekujur tubuh panas dingin, adalah ribuan ingatan melesat serupa kilatan cahaya, berlompatan ke sana-sini.

Kepergian bapak bagi anak perempuannya adalah hari patah hati paling berat. Lelaki yang selalu hangat, penuh cinta, kasih yang melimpah ruah tetiba hanya terdiam tanpa mengucapkan apa pun. Tak ada lagi, genggaman hangat tangannya saat kita merasa dunia ini tak adil. Tak ada lagi, senyum penuh optimisme yang membangkitkan rasa percaya diri untuk tetap melangkah.

Atau tak ada lagi hal-hal konyol yang sering kita lewati bersama: menertawakan hal-hal sepele atau menjadikan hal-hal yang dianggap sepele bernilai luar biasa. Mengenang itu membuat kita gila, kadang tertawa sendiri, kadang berlinang air mata tanpa henti.

Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Prihentemen memuat sembilan belas puisi yang semuanya menguras rasa dalam membacanya. Rasa kehilangan itu nyata bila kita merasa memilikinya. Puisi-puisi ini seperti biografi Bapak dalam ingatan anak perempuannya. Seakan-akan tidak ingin cepat berlalu dan lupa, puisi-puisi ini menjadi luapan segala rasa yang mengamuk dalam dada seorang anak perempuan yang patah hati. Kematian yang indah dan begitu saja, tanpa pesan, hanya sendiri menempuh jalan sunyi.

[PRIHENTEMEN

Prihentemen dharma dumaranang sarat
“sunia memanggil manggil dalam gigil: lepaslah lepaslah dengan adil ]

Petikan puisi di atas bila dibaca berulang-ulang terasa getar serupa mantra, hangat yang mememuhi rongga dada seakan-akan api yang membakar seluruh raga Bapak. Setitik air mata menjadi semacam air suci yang meruwat segala kemalaan Bapak semasa hidup. Mata yang nanar adalah seberkas cahaya yang menerangi jalannya menuju penyatuannya dengan sunya.

Tubuh adalah tungku pemujaan, tubuh dan jiwa anak perempuanmu sedang melakukan upacara karang mengarang untuk mengantar kepergianmu yang indah itu, Bapak.

Seseorang yang belajar hakikat melepas tidak akan berhenti untuk senantiasa mengikhlaskan yang terjadi. Menerima sesuai dengan kadar ikhlas dalam dirinya dan berusaha mengatasi apa pun dengan memaksimalkan dirinya. Berkali-kali jatuh sedih, berkali-kali pula bangkit memerintahkan diri untuk tetap berjalan meski lorong kesunyian selalu terbuka. Hyang Sunyi penguasa kesunyian, seperti mengutuk  manusia menjadi  makhluk yang paling sunyi.

[SUNIA

Aku lahir dari kesunyian yang kau ciptakan
Semadi yang abadi

Pada tiap sel-sel yang kau puja dalam pori-pori
Pada api dan air yang menjadi energi
Pada rongga udara yang menerka cahaya
Aku ada pada semua getar debar sunia
Kau ada pada setiap tapak detak retak
Ruang ruang yang ning
Nun
Ngang
Ang Ung Mang…]

Hakikat manusia berjalan menuju rumah yang paling sunyi. Manusia mencari-cari rumah sunyi itu. Di mana? Katanya, dalam Kekawin Dharma Niskala letaknya dalam hati. Orang-orang sering menyebutnya puspa-hredaya, isinya hati, mekar kuncupnya hati, gelap terangnya hati, riuh sunyinya hati. Semuanya di hati.

Seperti puisi Sunyi, yang lahir dari kesunyian akan kembali dalam kesunyian. Mereka pemuja kesunyian, mendamba mati yang begitu saja, sebab waktu kematian selalu menjadi rahasia. Rindu untuk pulang ke rumah, adalah alasan menjenguk ingatan, seberapa dalam kenangan itu melekat. Bila belum sama sekali mengalami mohon agar tidak berpura-pura merasakan, sebab air mata selalu mengalir bahkan ketika mengenang kekonyolan sekali pun. Seberapa pun membangun benteng kesadaran, tetap saja kematian itu tidak bisa diterima sebagai sesuatu keadaan yang indah.

Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner

Pikiran manusia sering merespon perasaan yang kemudian membiarkannya larut berlama-lama. Sadar bahwa diri sedang tak sadar, melarutkan perasaan itu menjadi semacam aktivitas untuk menyegarkan kembali berbagai peristiwa. Mengulang yang dialami dalam ingatan rasa. Respon-respon bermunculan, hantaman, hentakan, semuanya diulang berkali-kali oleh ingatan rasa. Penguasa rasa tak pernah berhenti bermain-main dengan perasaan. Sayangnya, ingatan itu selalu menang menyeret manusia.

Saya ingin selalu menjenguk Bapak dalam kesembilan belas puisi ini, karena saya merasa memilikinya. Mengenangnya meski dikatakan manusia terjebak dalam ingatan rasa, saya tidak peduli. Siapa yang peduli pada perasaan seorang anak perempuan yang patah hati? Hanya mereka [para anak perempuan] yang mengalami perpisahan abadi dengan Bapaknya yang [tahu, paham] bagaimana kenangan itu sangat mahal.

Sejenak, biarkan upacara kata dari Kadek Sonia Piscayanti itu juga mengantarkan para anak perempuan yang patah hati untuk merasakan kehadiran Bapak mereka di setiap kata yang ditulis dalam Prihentemen.

Bila reinkarnasi nanti, aku hanya ingin tetap menjadi anak perempuanmu, Bapak. Kumohon. [T]

  • Artikel ini disampaikan dalam sesi Book Launch Buku Puisi Prihentemen pada acara Mahima March March March di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Rabu 23 Maret 2022

Tags: buku puisiKadek Sonia Piscayantikumpulan puisiMahima March March March 2022Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Destination Branding”, Potensi Buleleng Luar Biasa, dan Bla Bla Bla…

Next Post

Bobit dari Les, Jual Nasi Jinggo di Denpasar | Omzet 90 Juta, Jika Sisa Digratiskan ke Pemulung

Ari Dwijayanthi

Ari Dwijayanthi

Bernama lengkap Ni Made Ari Dwijayanthi, lahir di Tabanan, 1988. Lulusan S2 Jawa Kuno, Unud, ini banyak menulis puisi dan prosa dalam bahasa Bali, antara lain dimuat di Bali Post dan Pos Bali. Bukunya yang berjudul Blanjong (prosa liris Bali modern) mengantarkannya meraih penghargaan Widya Pataka dari Gubernur Bali tahun 2014

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Bobit dari Les, Jual Nasi Jinggo di Denpasar | Omzet 90 Juta, Jika Sisa Digratiskan ke Pemulung

Bobit dari Les, Jual Nasi Jinggo di Denpasar | Omzet 90 Juta, Jika Sisa Digratiskan ke Pemulung

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co