23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa Penonton Film “Istirahatlah Kata-Kata” di Bali?

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Ulasan

Foto: Sonia

WIJI Thukul, seorang sastrawan dan aktivis yang tak pernah lekang oleh waktu. Puisi-puisinya seakan menjadi nyanyian dalam sebuah aksi turun ke jalan untuk perlawanan menolak keadilan. Hingga banyak orang percaya bahwa ia masih ada dan berlipat ganda dalam jiwa-jiwa pembangkang yang menolak tunduk.

Beberapa minggu terakhir nama Wiji Thukul kembali ramai dibicarakan. Bukan karena MayDay, atau bukan karena ia ditemukan setelah dihilangkan sebulan sebelum tumbangnya kediktatoran ala Orde Baru. Ini karena sebuah film. Film “Istirahatlah Kata-Kata” yang memang mengisah satu penggal pelarian Wiji Thukul dengan latar wilayah Pontianak.

Film merupakan media edukasi paling mudah dan menyenangkan untuk mempelajari apapun, sejarah salah satunya. Tapi itu tak sama halnya dengan menonton film Wiji Thukul di hari ke-4 di Bali. Di pemutaran pukul 14:10 hanya delapan orang yang menduduki kursi penonton dari sekian banyaknya kursi yang tersedia. Ini ada apa?

Kenapa penonton “Istirahatlah Kata-Kata” tak seheboh penonton daya imaji hantu Valak yang bahkan hingga dua minggu orang masih antri untuk membeli tiket. Jangan-jangan orang lebih suka berkaca pada hantu daripada berkaca pada sejarah? Ah, urusan itu saya kurang tahu.

Ngeri, membayangkan orang berkaca pada mantan saja yang orang sungguhan masih agak sungkan memikirkannya, apalagi pada hantu.

Film “Istirahatlah Kata-Kata” diputar secara bersamaan 19 Januari 2017. Di Bali pemutaran film itu dilakukan di Park 23 XXI, Kuta. Saya menonton di hari ke-4, pukul 14.10. Ya, seperti saya katakan, di kursi penonton saat itu hanya ada delapan orang, termasuk saya.

Saya tak tahu, apakah pada hari-hari sebelumnya, atau pada jam pemutaran malam, penontonnya ramai. Kalau pun ramai, saya kira penontonnya tak seheboh ruang cineplex di sebelah-sebelahnya. Saya lupa melihat, film jenis apa yang diputar di ruang sebelahnya. Film apa pun itu, yang jelas “Istirahat Kata-Kata” kalah jauh dari segi jumlah penonton.

Saya curiga, Bali memang tak diperhitungkan sebagai masyarakat penggemar Wiji Thukul oleh “penjual” film “Istirahatlah Kata-Kata”. Buktinya, pada awalnya, Bali tak masuk dalam daftar 10 kota sebagai tempat pemutaran film itu. Lalu belakangan saya baca di Rolling Stones Indonesia lokasinya bertambah menjadi jadi 15. Akhirnya pada 19 Januari menjadi 17 kota dan Denpasar masuk di dalamnya.

Saya termasuk yang sangat gembira karena pada akhirnya Bali kebagian. Karena jika Bali tak kebagian, saya anggap itu bentuk ketidakadilan. Tapi, mengherankan sekali, kenapa film itu tampaknya sepi peminat, terutama anak muda dari kalangan saya?

Siapa sebenarnya penonton “Istirahatlah Kata-Kata” di Bali?

Dari tujuh orang yang saya ajak nonton pada hari ke-4 pukul 14:10 itu saya hanya kenal satu orang, yakni dosen saya sendiri. Saya tak heran dia nonton. Dia memang dosen pengajar sastra yang juga dikenal sebagai sastrawan di Bali. Enam lainnya, saya tak kenal, meski mungkin saja mereka orang terkenal.

Saya hanya menduga-duga mereka adalah penyair, mantan aktivis 98, atau filmmaker. Atau mereka warga biasa yang hanya sekadar ingin tahu.

Di Bali memang terdapat banyak sastrawan, banyak juga seperti Wiji Thukul, menulis puisi. Banyak juga mantan aktivis, seperti Wiji Thukul, yang ikut berjuang menumbangkan kekuasaan Orde Baru. Banyak juga pembuat film, pengamat film, LSM dan anak-anak muda kreatif yang menyukai sesuatu yang jauh dari mainstreams. Merekalah yang saya bayangkan sebagai penonton film Wiji Thukul itu.

Beberapa tahun lalu, sebuah kelompok mahasiswa di sebuah kampus menggelar acara sastra dengan mengambil tema khusus Wiji Thukul. Saat itu ada ratusan mahasiswa menggunakan baju kaos bergambar Wiji Thukul. Ada musikalisasi puisi, ada diskusi puisi, ada pembacaan puisi Wiji Thukul. Saya pikir, mahasiswa itulah yang akan memenuhi bioskop saat “Istirahatlah Kata-Kata” diputar.

Namun melihat kenyataan bahwa bersama saya hanya ada 8 orang di kursi bioskop, saya menjadi tidak yakin. Atau mereka malas menuju bioskop yang lokasinya memang berada di wilayah turis, wilayah yang mungkin jauh dari “pemukiman” kaum pecinta Wiji Thukul. Jika begitu, saya tak khawatir, mungkin film itu akan ditonton ramai-ramai setelah dengan mudah bisa didapatkan di internet.

Saya sendiri – yang hanya sastrawan KW dan tak paham banyak soal teknis film – tak kecewa menonton film ini. Film ini sangat bagus. Saya sendiri bangga dengan karya-karya anak bangsa yang kualitasnya semakin hari semakin bagus. Pengambilan gambar yang apik serta pengaturan yang pas membuat kita seakan-akan dibawa ke situasi tersebut, situasi yang mencekam, terancam dan dikejar kemanapun layaknya seorang buronan.

Memang Anggi Noen ini sutradara edan. Pantas saja film ini mendapat banyak penghargaan. Peran seorang Wiji Thukul yang dibawakan oleh Gunawan Maryanto dilakukan dengan baik, apalagi saat pembacaan puisi. Gaya berjalan khas Sipon, istri Wiji Thukul, yang diperankan oleh Marissa Anita juga menarik perhatian.

Jadi, film ini memang harus masuk dalam daftar film yang wajib kamu tonton. Ada banyak yang dapat dipelajari dari film ini, lebih dari sekedar imaji takut-takutan ala hantu. Tapi belajar tentang kebenaran yang harus diperjuangkan.

Dalam film yang berdurasi 1 jam 45 menit itu dapat dibayangkan bagaimana seorang Wiji Thukul hidup dalam pengejaran hanya karena sajak  dan suaranya yang melawan ketidakadilan dan memperjuangkan kebenaran. Hanya dengan kata-kata. (T)

Tags: filmPuisisastrawiji thukul
Share101TweetSendShareSend
Previous Post

Hari Pagerwesi Meriah di Buleleng, Kenapa?

Next Post

Siwalatri: Bukan Penebusan Dosa, tapi Merenungkan Dosa Pikiran, Kata dan Perbuatan

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Siwalatri: Bukan Penebusan Dosa, tapi Merenungkan Dosa Pikiran, Kata dan Perbuatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co