6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HINDU & KEJAWEN BERHALA?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 10, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 9 Pebruari 2022

1. Banyak orang Indonesia tidak bisa membedakan arti kata: BHAKTI dan SEMBAHYANG. Inilah yang menjadi sebab kenapa dengan mudah menyebut semua orang yang memakai sarana sesaji sebagai berhala.

SEMBAHYANG ditujukan kepada HYANG TUNGGAL (Yang Mahaesa), tetapi bhakti atau bakti adalah sikap hormat yang bisa ditujukan pada ibu, guru, para orang tua, pahlawan bangsa, dan semua yang berjasa bagi kehidupan kita. Orang yang berbakti pada guru dan membawakan oleh-oleh buah, tidaklah sedang menyembahyang gurunya. Anak-anak yang bakti pada orang tuanya, yang pulang ke rumahnya membawakan bingkisan-bingkisan, bukanlah sedang sembahyang di depan orang tuanya.

BERBAKTI pada Nusa dan Bangsa, serta para pahlawan bangsa, tidak berarti kita sedang mempertuhankan Negara dan ruh para Pahlawan Bangsa.

Berbakti pada ibu-pertiwi, bukanlah mempertuhan ibu-pertiwi, tapi sujud dan secara mendalam menghormat pada berkah bumi, seperti halnya kita bakti dan sungkem pada ibu kandung atau orang tua yang telah memberi kita hidup, merawat dan menjaga kita dari baru lahir.

Hindu dan Kejawen bersikap bhakti pada para leluhur, bhakti pada alam yang telah memberi kita hidup, bhakti kepada ruh-ruh agung yang menjaga kita — yang dalam banyak kasus disebut sebagai Dewa Penjaga atau ruh agung lainnya. Rasa bakti itu tidaklah sama dengan mempertuhankan apa yang kita hormati.

Membawa kembang ke kuburan, membawa sesaji ke sumber air di desa-desa di Jawa, adalah wujud bakti, bukan sembahyang mentuhankan sumber air atau nisan di kuburan. Mereka para penganut Kejawen atau Hindu paham betul bahwa mata air suci tidak akan “makan mengunyah” buah-buahan atau bunga-bunga yang kita bawa. Sama halnya kita paham bahwa ketika Hari Guru, anak-anak atau siswa membawakan kembang ke ruang guru. Para siswa ingin menunjukkan baktinya, merasa senang ikhlas membawa kembang untuk bapak-ibu guru. Dan mereka paham bahwa bapak-ibu guru tidak akan “makan dan mengunyah” kembang-bunga yang dipersembahkan sebagai tanda bakti itu. Begitu juga dengan penganut Kejawen atau Hindu, jika membawa sesaji, mereka sedang mengekpresikan rasa bakti, dan tanda baktinya itu berupa kembang dan sesaji.

2. SEMBAHYANG punya tingkatan berbeda dengan BHAKTI. Demikian juga dengan PUJA.

“wruh sira ring wéda bhakti ring déwa,
tar malupéng pitra pūja,
māsih ta siréng swagotra kabéh”.

Kutipan bagian depan Kitab Kakawin Ramayana dalam Bahasa Kawi (Jawa Kuno) menyebutkan dengan jelas, bahwa sikap yang tepat terpuji pada dewa adalah bhakti. Bukan mempertuhankan Dewa-Dewa. Dewa-dewa adalah guru jagat, sebagaimana halnya malaikat pengantar wahyu dan ajaran suci, kita diharapkan menghargai dan bhakti pada dewa-dewa yang menjadi guru-guru suci “cahaya suci” yang menuntun dan memberikan kita bimbingan.

Pitra (ruh leluhur) juga bukan dipertuhankan. Leluhur sebatas dipuja. Puja adalah mendoakan mereka yang telah berpulang. Mendoakan orang tua yang berpulang atau meninggal, dilakukan oleh hampir semua agama besar dunia. Puja (berdoa) adalah tindakan mulia untuk mengirim pikiran baik dan harapan suci kita pada yang kita Puja. Melakukan Puja bukan mentuhankan ruh-ruh yang kita puja.

Tingkatannya jelas: Rasa bhakti kepada para guru suci, para pembimbing spiritual, para malaikat pembawa wahyu, orang tua, dan pahlawan pendiri bangsa, mereka yang berjasa bagi kehidupan kita. Puja (doa suci) untuk ruh-ruh leluhur atau orang tua yang telah berpulang, mendoakan agar damai dan mendapat tempat TERANG dan di sisi Tuhan, adalah sikap terpuji. Seorang anak atau keturunan yang tidak pernah melalukan PUJA (berdoa dalam sujud berharap agar yang kita doakan mendapat tempat terbaik), secara Kejawen atau Hindu, dianggap anak durhaka (orang yang menyimpang jalan suci).

Kata PUJA dalam lagu Indonesia Pusaka sangat tepat. Penulis syair lagu ini memahami arti kata PUJA, yang kini banyak tidak dipahami secara baik.

“Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
S’lalu dipuja-puja bangsa”

Ungkapan: “S’lalu dipuja-puja bangsa” ini mengandung arti “dihormati” dan “dihargai”, tidak mengandung makna “dipertuhan-tuhankan”.

Demikianlah, dalam PITRA-PUJA (doa suci untuk leluhur) seseorang tidak mempertuhankan para leluhur. Tapi sebagai wujud atau ungkapan hormat, menghargai jasa orang tua, leluhur, pahlawan, pendiri bangsa atau kerajaan, disertai doa suci agar mereka mendapat tempat terbaik sesuai karma-kebajikannya di masa hidupnya. Juga memohonkan doa suci agar kesalahannya dimaafkan oleh Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa).

3. Di Bali tindakan memuliakan Dewa-Dewa disebut sebagai “NGATURANG BHAKTI”. Artinya, menyampaikan tanda bhakti dan terima kasih atas bimbingan dan sesuluh yang diberikan para Dewa atau Ruh Agung, para malaikat, yang telah memberikan ajaran suci dan tuntunan kekuatan batin pada kita.

Ucapan bhakti itu jelas:

guru brahmā guru viṣṇū | guruḥ devo maheśvarā ||
guru śākṣāta parabrahmā | tasmai śrī guruve namaḥ ||

“Hormat kepada Guru Brahma, Guru Vishnu, Guru Maheshwara [yang menguasai keilahian transendental (prinsip kehidupan abadi, yang merupakan esensi dari pencipta, dll.)] Salam hormat saya kepada guru yang mulia itu.”

ajñāna-timirāndhasya | jñānāñjana-śalākayā ||
cakṣur unmīlitaṁ yena | tasmai śrī-gurave namaḥ ||

“Hormat saya kepada guru terhormat itu, yang membuka mata saya, dengan membasuh mata saya untuk pengetahuan bisa melihat keilahian (sinar suci), yang [selama ini] telah dibutakan oleh selaput gelap ketidaktahuan.”

Dewa-dewa adalah ciptaan Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa) yang bertugas menjaga manusia, mengantar wahyu suci, yang disampaikan melalui para Maharsi atau Nabi-Nabi Agung, disamping juga wahyu-wahyu diterima langsung dari HYANG TUNGGAL. Ada berbagai tugas para Dewa, diantaranya menjadi malaikat yang turun ke dunia, yang menjadi “Petugas Tuhan Yang Maha Esa” penuntun manusia, sepatutnya dimuliakan. Sebagaimana halnya kita berbakti pada guru-guru di dunia, yang membukakan jalan terang dan ilmu pengetahuan, bhakti pada Dewa adalah tindakan terpuji. Sekali lagi, bhakti tidak sama dengan mentuhankan siapa yang kita hormati dengan seluruh kedalaman hati. Para Dewa menurunkan Pengetahuan Suci yang membukakan mata manusia untuk senantiasa berjalan di jalan TERANG jalan suci Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa).

4. Pemeluk Kejawen atau Hindu hanya SEMBAHYANG atau mentuhankan HYANG TUNGGAL. Bukan yang lain.

Kata SEMBAHYANG memang sering dicampur-adukkan. Kadang ada yang menyebutkan Pitra-puja sebagai “sembahyang pada leluhur”. Orang awam yang tidak pahampun langsung mengganggap kegiatan itu sebagai “mempertuhan leluhur”. Kenyataannya, itu adalah PUJA. Sekali lagi: Puja (berdoa) adalah tindakan mulia untuk mengirim pikiran baik dan harapan suci kita pada siapa yang kita hormati. Bukan mempertuhan. Tidak ada “sembahyang leluhur”. Di Bali disebut “NGATURANG SEMBAH-BAKTI” — jelas caranya sujud-bhakti mengungkapkan tanda kita hormat, bukan mempertuhankan leluhur atau nenek-moyang yang telah berpulang agar diterima di sisi HYANG TUNGGAL.

SEMBAH-HYANG jelas ditujukan kepada HYANG TUNGGAL. Bukan yang lain.

Kepada guru-guru suci dan para Dewa atau malaikat suci dilakukan “NGATURANG BHAKTI”.

5. Sementara itu, SELAMETAN dalam Kejawen adalah PERAYAAN RASA BERSYUKUR. Bentuknya doa bersama. Rasa bersyukur dalam SELAMETAN dilakukan secara bersama, mengundang keluarga dan tetangga. Lalu ada doa bersama. Itupun juga bukan mempertuhankan kegiatan perayaan syukuran atau ungkapan beryukur atas apa yang telah dicapai atau diberikan. Pernikahan, anak lahir, 3 bulanan, perayaan pernikahan, dll, adalah ungkapan bersyukur. Isinya bisa doa dan terima kasih untuk nenek-moyang (Pitra-puja) karena berkah hari ini atas nikmat yang dirasakan tidak lepas dari jasa warisan atau penghidupan (kehidupan) yang diberikan pada kita lewat rantai kelahiran dari leluhur ke orang tua kita, semuanya disyukuri di saat SELAMETAN.

Dalam Selametan juga ada disertai SEMBAH-HYANG pada HYANG TUNGGAL, dirangkai SEMBAH-BHAKTI pada LELUHUR sebagai rasa tidak pernah lupa dan ingkar atas nikmat yang kita terima. Biasanya ditutup berdoa bersama agar siapa yang melakukan SLAMETAN terus sehat dan sukses, serta berdoa bersama untuk kesehatan dan ketenangan semua yang hadir. Pokok inti Slametan jelas: Ungkapan rasa bersykur pada HYANG TUNGGAL. Ekspresinya bisa kembang, sesaji, ada punya bernyanyi-nyanyi, semuanya ekspresi kegembiraan atas berkah HYANG TUNGGAL pada kita.

6. Kembali ke pertanyaan di depan: APAKAH HINDU & KEJAWEN BERHALA?

Tidak.

Hanya mereka yang tidak paham beda ungkapan BHAKTI, SEMBAHYANG, PUJA, dan PERAYAAN RASA SYUKUR, gagal paham akibat pendek referensi, kesemuannya dipikir mempertuhankan semuannya. Membawa bunga bagi guru di Hari Guru, tidaklah mempertuhan guru. Menabur bunga di nisan atau makam pahlawan bukanlah mentuhankan nisan atau seonggok batu. Demikian juga menghias kursi sepasang pengantin bukanlah mempertuhan kedua mempelai. Kasih kemanusiaan mendasari. Bakti pada guru dan orang tua mendasari. Rasa bhakti pada Ruh-Ruh Agung yang telah menuntun yang mendasari.

Memahami tingkatan rasa-rasa itu penting agar kita tidak salah persepsi, agar tidak tidak tersesat jalan, agar paham anggah-ungguh di jalan batin. [T]

Tags: hinduHindu BalikejawenKetuhananTuhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menghidupkan Kuta dengan Pameran Neodalan: Tilem Kesangȇ dalam Fraksi Epos 2022

Next Post

Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Waspada, "Branding" Bali Kadaluwarsa!

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co