23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HINDU & KEJAWEN BERHALA?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 10, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 9 Pebruari 2022

1. Banyak orang Indonesia tidak bisa membedakan arti kata: BHAKTI dan SEMBAHYANG. Inilah yang menjadi sebab kenapa dengan mudah menyebut semua orang yang memakai sarana sesaji sebagai berhala.

SEMBAHYANG ditujukan kepada HYANG TUNGGAL (Yang Mahaesa), tetapi bhakti atau bakti adalah sikap hormat yang bisa ditujukan pada ibu, guru, para orang tua, pahlawan bangsa, dan semua yang berjasa bagi kehidupan kita. Orang yang berbakti pada guru dan membawakan oleh-oleh buah, tidaklah sedang menyembahyang gurunya. Anak-anak yang bakti pada orang tuanya, yang pulang ke rumahnya membawakan bingkisan-bingkisan, bukanlah sedang sembahyang di depan orang tuanya.

BERBAKTI pada Nusa dan Bangsa, serta para pahlawan bangsa, tidak berarti kita sedang mempertuhankan Negara dan ruh para Pahlawan Bangsa.

Berbakti pada ibu-pertiwi, bukanlah mempertuhan ibu-pertiwi, tapi sujud dan secara mendalam menghormat pada berkah bumi, seperti halnya kita bakti dan sungkem pada ibu kandung atau orang tua yang telah memberi kita hidup, merawat dan menjaga kita dari baru lahir.

Hindu dan Kejawen bersikap bhakti pada para leluhur, bhakti pada alam yang telah memberi kita hidup, bhakti kepada ruh-ruh agung yang menjaga kita — yang dalam banyak kasus disebut sebagai Dewa Penjaga atau ruh agung lainnya. Rasa bakti itu tidaklah sama dengan mempertuhankan apa yang kita hormati.

Membawa kembang ke kuburan, membawa sesaji ke sumber air di desa-desa di Jawa, adalah wujud bakti, bukan sembahyang mentuhankan sumber air atau nisan di kuburan. Mereka para penganut Kejawen atau Hindu paham betul bahwa mata air suci tidak akan “makan mengunyah” buah-buahan atau bunga-bunga yang kita bawa. Sama halnya kita paham bahwa ketika Hari Guru, anak-anak atau siswa membawakan kembang ke ruang guru. Para siswa ingin menunjukkan baktinya, merasa senang ikhlas membawa kembang untuk bapak-ibu guru. Dan mereka paham bahwa bapak-ibu guru tidak akan “makan dan mengunyah” kembang-bunga yang dipersembahkan sebagai tanda bakti itu. Begitu juga dengan penganut Kejawen atau Hindu, jika membawa sesaji, mereka sedang mengekpresikan rasa bakti, dan tanda baktinya itu berupa kembang dan sesaji.

2. SEMBAHYANG punya tingkatan berbeda dengan BHAKTI. Demikian juga dengan PUJA.

“wruh sira ring wéda bhakti ring déwa,
tar malupéng pitra pūja,
māsih ta siréng swagotra kabéh”.

Kutipan bagian depan Kitab Kakawin Ramayana dalam Bahasa Kawi (Jawa Kuno) menyebutkan dengan jelas, bahwa sikap yang tepat terpuji pada dewa adalah bhakti. Bukan mempertuhankan Dewa-Dewa. Dewa-dewa adalah guru jagat, sebagaimana halnya malaikat pengantar wahyu dan ajaran suci, kita diharapkan menghargai dan bhakti pada dewa-dewa yang menjadi guru-guru suci “cahaya suci” yang menuntun dan memberikan kita bimbingan.

Pitra (ruh leluhur) juga bukan dipertuhankan. Leluhur sebatas dipuja. Puja adalah mendoakan mereka yang telah berpulang. Mendoakan orang tua yang berpulang atau meninggal, dilakukan oleh hampir semua agama besar dunia. Puja (berdoa) adalah tindakan mulia untuk mengirim pikiran baik dan harapan suci kita pada yang kita Puja. Melakukan Puja bukan mentuhankan ruh-ruh yang kita puja.

Tingkatannya jelas: Rasa bhakti kepada para guru suci, para pembimbing spiritual, para malaikat pembawa wahyu, orang tua, dan pahlawan pendiri bangsa, mereka yang berjasa bagi kehidupan kita. Puja (doa suci) untuk ruh-ruh leluhur atau orang tua yang telah berpulang, mendoakan agar damai dan mendapat tempat TERANG dan di sisi Tuhan, adalah sikap terpuji. Seorang anak atau keturunan yang tidak pernah melalukan PUJA (berdoa dalam sujud berharap agar yang kita doakan mendapat tempat terbaik), secara Kejawen atau Hindu, dianggap anak durhaka (orang yang menyimpang jalan suci).

Kata PUJA dalam lagu Indonesia Pusaka sangat tepat. Penulis syair lagu ini memahami arti kata PUJA, yang kini banyak tidak dipahami secara baik.

“Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
S’lalu dipuja-puja bangsa”

Ungkapan: “S’lalu dipuja-puja bangsa” ini mengandung arti “dihormati” dan “dihargai”, tidak mengandung makna “dipertuhan-tuhankan”.

Demikianlah, dalam PITRA-PUJA (doa suci untuk leluhur) seseorang tidak mempertuhankan para leluhur. Tapi sebagai wujud atau ungkapan hormat, menghargai jasa orang tua, leluhur, pahlawan, pendiri bangsa atau kerajaan, disertai doa suci agar mereka mendapat tempat terbaik sesuai karma-kebajikannya di masa hidupnya. Juga memohonkan doa suci agar kesalahannya dimaafkan oleh Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa).

3. Di Bali tindakan memuliakan Dewa-Dewa disebut sebagai “NGATURANG BHAKTI”. Artinya, menyampaikan tanda bhakti dan terima kasih atas bimbingan dan sesuluh yang diberikan para Dewa atau Ruh Agung, para malaikat, yang telah memberikan ajaran suci dan tuntunan kekuatan batin pada kita.

Ucapan bhakti itu jelas:

guru brahmā guru viṣṇū | guruḥ devo maheśvarā ||
guru śākṣāta parabrahmā | tasmai śrī guruve namaḥ ||

“Hormat kepada Guru Brahma, Guru Vishnu, Guru Maheshwara [yang menguasai keilahian transendental (prinsip kehidupan abadi, yang merupakan esensi dari pencipta, dll.)] Salam hormat saya kepada guru yang mulia itu.”

ajñāna-timirāndhasya | jñānāñjana-śalākayā ||
cakṣur unmīlitaṁ yena | tasmai śrī-gurave namaḥ ||

“Hormat saya kepada guru terhormat itu, yang membuka mata saya, dengan membasuh mata saya untuk pengetahuan bisa melihat keilahian (sinar suci), yang [selama ini] telah dibutakan oleh selaput gelap ketidaktahuan.”

Dewa-dewa adalah ciptaan Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa) yang bertugas menjaga manusia, mengantar wahyu suci, yang disampaikan melalui para Maharsi atau Nabi-Nabi Agung, disamping juga wahyu-wahyu diterima langsung dari HYANG TUNGGAL. Ada berbagai tugas para Dewa, diantaranya menjadi malaikat yang turun ke dunia, yang menjadi “Petugas Tuhan Yang Maha Esa” penuntun manusia, sepatutnya dimuliakan. Sebagaimana halnya kita berbakti pada guru-guru di dunia, yang membukakan jalan terang dan ilmu pengetahuan, bhakti pada Dewa adalah tindakan terpuji. Sekali lagi, bhakti tidak sama dengan mentuhankan siapa yang kita hormati dengan seluruh kedalaman hati. Para Dewa menurunkan Pengetahuan Suci yang membukakan mata manusia untuk senantiasa berjalan di jalan TERANG jalan suci Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa).

4. Pemeluk Kejawen atau Hindu hanya SEMBAHYANG atau mentuhankan HYANG TUNGGAL. Bukan yang lain.

Kata SEMBAHYANG memang sering dicampur-adukkan. Kadang ada yang menyebutkan Pitra-puja sebagai “sembahyang pada leluhur”. Orang awam yang tidak pahampun langsung mengganggap kegiatan itu sebagai “mempertuhan leluhur”. Kenyataannya, itu adalah PUJA. Sekali lagi: Puja (berdoa) adalah tindakan mulia untuk mengirim pikiran baik dan harapan suci kita pada siapa yang kita hormati. Bukan mempertuhan. Tidak ada “sembahyang leluhur”. Di Bali disebut “NGATURANG SEMBAH-BAKTI” — jelas caranya sujud-bhakti mengungkapkan tanda kita hormat, bukan mempertuhankan leluhur atau nenek-moyang yang telah berpulang agar diterima di sisi HYANG TUNGGAL.

SEMBAH-HYANG jelas ditujukan kepada HYANG TUNGGAL. Bukan yang lain.

Kepada guru-guru suci dan para Dewa atau malaikat suci dilakukan “NGATURANG BHAKTI”.

5. Sementara itu, SELAMETAN dalam Kejawen adalah PERAYAAN RASA BERSYUKUR. Bentuknya doa bersama. Rasa bersyukur dalam SELAMETAN dilakukan secara bersama, mengundang keluarga dan tetangga. Lalu ada doa bersama. Itupun juga bukan mempertuhankan kegiatan perayaan syukuran atau ungkapan beryukur atas apa yang telah dicapai atau diberikan. Pernikahan, anak lahir, 3 bulanan, perayaan pernikahan, dll, adalah ungkapan bersyukur. Isinya bisa doa dan terima kasih untuk nenek-moyang (Pitra-puja) karena berkah hari ini atas nikmat yang dirasakan tidak lepas dari jasa warisan atau penghidupan (kehidupan) yang diberikan pada kita lewat rantai kelahiran dari leluhur ke orang tua kita, semuanya disyukuri di saat SELAMETAN.

Dalam Selametan juga ada disertai SEMBAH-HYANG pada HYANG TUNGGAL, dirangkai SEMBAH-BHAKTI pada LELUHUR sebagai rasa tidak pernah lupa dan ingkar atas nikmat yang kita terima. Biasanya ditutup berdoa bersama agar siapa yang melakukan SLAMETAN terus sehat dan sukses, serta berdoa bersama untuk kesehatan dan ketenangan semua yang hadir. Pokok inti Slametan jelas: Ungkapan rasa bersykur pada HYANG TUNGGAL. Ekspresinya bisa kembang, sesaji, ada punya bernyanyi-nyanyi, semuanya ekspresi kegembiraan atas berkah HYANG TUNGGAL pada kita.

6. Kembali ke pertanyaan di depan: APAKAH HINDU & KEJAWEN BERHALA?

Tidak.

Hanya mereka yang tidak paham beda ungkapan BHAKTI, SEMBAHYANG, PUJA, dan PERAYAAN RASA SYUKUR, gagal paham akibat pendek referensi, kesemuannya dipikir mempertuhankan semuannya. Membawa bunga bagi guru di Hari Guru, tidaklah mempertuhan guru. Menabur bunga di nisan atau makam pahlawan bukanlah mentuhankan nisan atau seonggok batu. Demikian juga menghias kursi sepasang pengantin bukanlah mempertuhan kedua mempelai. Kasih kemanusiaan mendasari. Bakti pada guru dan orang tua mendasari. Rasa bhakti pada Ruh-Ruh Agung yang telah menuntun yang mendasari.

Memahami tingkatan rasa-rasa itu penting agar kita tidak salah persepsi, agar tidak tidak tersesat jalan, agar paham anggah-ungguh di jalan batin. [T]

Tags: hinduHindu BalikejawenKetuhananTuhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menghidupkan Kuta dengan Pameran Neodalan: Tilem Kesangȇ dalam Fraksi Epos 2022

Next Post

Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Waspada, "Branding" Bali Kadaluwarsa!

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co