13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HINDU & KEJAWEN BERHALA?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 10, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 9 Pebruari 2022

1. Banyak orang Indonesia tidak bisa membedakan arti kata: BHAKTI dan SEMBAHYANG. Inilah yang menjadi sebab kenapa dengan mudah menyebut semua orang yang memakai sarana sesaji sebagai berhala.

SEMBAHYANG ditujukan kepada HYANG TUNGGAL (Yang Mahaesa), tetapi bhakti atau bakti adalah sikap hormat yang bisa ditujukan pada ibu, guru, para orang tua, pahlawan bangsa, dan semua yang berjasa bagi kehidupan kita. Orang yang berbakti pada guru dan membawakan oleh-oleh buah, tidaklah sedang menyembahyang gurunya. Anak-anak yang bakti pada orang tuanya, yang pulang ke rumahnya membawakan bingkisan-bingkisan, bukanlah sedang sembahyang di depan orang tuanya.

BERBAKTI pada Nusa dan Bangsa, serta para pahlawan bangsa, tidak berarti kita sedang mempertuhankan Negara dan ruh para Pahlawan Bangsa.

Berbakti pada ibu-pertiwi, bukanlah mempertuhan ibu-pertiwi, tapi sujud dan secara mendalam menghormat pada berkah bumi, seperti halnya kita bakti dan sungkem pada ibu kandung atau orang tua yang telah memberi kita hidup, merawat dan menjaga kita dari baru lahir.

Hindu dan Kejawen bersikap bhakti pada para leluhur, bhakti pada alam yang telah memberi kita hidup, bhakti kepada ruh-ruh agung yang menjaga kita — yang dalam banyak kasus disebut sebagai Dewa Penjaga atau ruh agung lainnya. Rasa bakti itu tidaklah sama dengan mempertuhankan apa yang kita hormati.

Membawa kembang ke kuburan, membawa sesaji ke sumber air di desa-desa di Jawa, adalah wujud bakti, bukan sembahyang mentuhankan sumber air atau nisan di kuburan. Mereka para penganut Kejawen atau Hindu paham betul bahwa mata air suci tidak akan “makan mengunyah” buah-buahan atau bunga-bunga yang kita bawa. Sama halnya kita paham bahwa ketika Hari Guru, anak-anak atau siswa membawakan kembang ke ruang guru. Para siswa ingin menunjukkan baktinya, merasa senang ikhlas membawa kembang untuk bapak-ibu guru. Dan mereka paham bahwa bapak-ibu guru tidak akan “makan dan mengunyah” kembang-bunga yang dipersembahkan sebagai tanda bakti itu. Begitu juga dengan penganut Kejawen atau Hindu, jika membawa sesaji, mereka sedang mengekpresikan rasa bakti, dan tanda baktinya itu berupa kembang dan sesaji.

2. SEMBAHYANG punya tingkatan berbeda dengan BHAKTI. Demikian juga dengan PUJA.

“wruh sira ring wéda bhakti ring déwa,
tar malupéng pitra pūja,
māsih ta siréng swagotra kabéh”.

Kutipan bagian depan Kitab Kakawin Ramayana dalam Bahasa Kawi (Jawa Kuno) menyebutkan dengan jelas, bahwa sikap yang tepat terpuji pada dewa adalah bhakti. Bukan mempertuhankan Dewa-Dewa. Dewa-dewa adalah guru jagat, sebagaimana halnya malaikat pengantar wahyu dan ajaran suci, kita diharapkan menghargai dan bhakti pada dewa-dewa yang menjadi guru-guru suci “cahaya suci” yang menuntun dan memberikan kita bimbingan.

Pitra (ruh leluhur) juga bukan dipertuhankan. Leluhur sebatas dipuja. Puja adalah mendoakan mereka yang telah berpulang. Mendoakan orang tua yang berpulang atau meninggal, dilakukan oleh hampir semua agama besar dunia. Puja (berdoa) adalah tindakan mulia untuk mengirim pikiran baik dan harapan suci kita pada yang kita Puja. Melakukan Puja bukan mentuhankan ruh-ruh yang kita puja.

Tingkatannya jelas: Rasa bhakti kepada para guru suci, para pembimbing spiritual, para malaikat pembawa wahyu, orang tua, dan pahlawan pendiri bangsa, mereka yang berjasa bagi kehidupan kita. Puja (doa suci) untuk ruh-ruh leluhur atau orang tua yang telah berpulang, mendoakan agar damai dan mendapat tempat TERANG dan di sisi Tuhan, adalah sikap terpuji. Seorang anak atau keturunan yang tidak pernah melalukan PUJA (berdoa dalam sujud berharap agar yang kita doakan mendapat tempat terbaik), secara Kejawen atau Hindu, dianggap anak durhaka (orang yang menyimpang jalan suci).

Kata PUJA dalam lagu Indonesia Pusaka sangat tepat. Penulis syair lagu ini memahami arti kata PUJA, yang kini banyak tidak dipahami secara baik.

“Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
S’lalu dipuja-puja bangsa”

Ungkapan: “S’lalu dipuja-puja bangsa” ini mengandung arti “dihormati” dan “dihargai”, tidak mengandung makna “dipertuhan-tuhankan”.

Demikianlah, dalam PITRA-PUJA (doa suci untuk leluhur) seseorang tidak mempertuhankan para leluhur. Tapi sebagai wujud atau ungkapan hormat, menghargai jasa orang tua, leluhur, pahlawan, pendiri bangsa atau kerajaan, disertai doa suci agar mereka mendapat tempat terbaik sesuai karma-kebajikannya di masa hidupnya. Juga memohonkan doa suci agar kesalahannya dimaafkan oleh Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa).

3. Di Bali tindakan memuliakan Dewa-Dewa disebut sebagai “NGATURANG BHAKTI”. Artinya, menyampaikan tanda bhakti dan terima kasih atas bimbingan dan sesuluh yang diberikan para Dewa atau Ruh Agung, para malaikat, yang telah memberikan ajaran suci dan tuntunan kekuatan batin pada kita.

Ucapan bhakti itu jelas:

guru brahmā guru viṣṇū | guruḥ devo maheśvarā ||
guru śākṣāta parabrahmā | tasmai śrī guruve namaḥ ||

“Hormat kepada Guru Brahma, Guru Vishnu, Guru Maheshwara [yang menguasai keilahian transendental (prinsip kehidupan abadi, yang merupakan esensi dari pencipta, dll.)] Salam hormat saya kepada guru yang mulia itu.”

ajñāna-timirāndhasya | jñānāñjana-śalākayā ||
cakṣur unmīlitaṁ yena | tasmai śrī-gurave namaḥ ||

“Hormat saya kepada guru terhormat itu, yang membuka mata saya, dengan membasuh mata saya untuk pengetahuan bisa melihat keilahian (sinar suci), yang [selama ini] telah dibutakan oleh selaput gelap ketidaktahuan.”

Dewa-dewa adalah ciptaan Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa) yang bertugas menjaga manusia, mengantar wahyu suci, yang disampaikan melalui para Maharsi atau Nabi-Nabi Agung, disamping juga wahyu-wahyu diterima langsung dari HYANG TUNGGAL. Ada berbagai tugas para Dewa, diantaranya menjadi malaikat yang turun ke dunia, yang menjadi “Petugas Tuhan Yang Maha Esa” penuntun manusia, sepatutnya dimuliakan. Sebagaimana halnya kita berbakti pada guru-guru di dunia, yang membukakan jalan terang dan ilmu pengetahuan, bhakti pada Dewa adalah tindakan terpuji. Sekali lagi, bhakti tidak sama dengan mentuhankan siapa yang kita hormati dengan seluruh kedalaman hati. Para Dewa menurunkan Pengetahuan Suci yang membukakan mata manusia untuk senantiasa berjalan di jalan TERANG jalan suci Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa).

4. Pemeluk Kejawen atau Hindu hanya SEMBAHYANG atau mentuhankan HYANG TUNGGAL. Bukan yang lain.

Kata SEMBAHYANG memang sering dicampur-adukkan. Kadang ada yang menyebutkan Pitra-puja sebagai “sembahyang pada leluhur”. Orang awam yang tidak pahampun langsung mengganggap kegiatan itu sebagai “mempertuhan leluhur”. Kenyataannya, itu adalah PUJA. Sekali lagi: Puja (berdoa) adalah tindakan mulia untuk mengirim pikiran baik dan harapan suci kita pada siapa yang kita hormati. Bukan mempertuhan. Tidak ada “sembahyang leluhur”. Di Bali disebut “NGATURANG SEMBAH-BAKTI” — jelas caranya sujud-bhakti mengungkapkan tanda kita hormat, bukan mempertuhankan leluhur atau nenek-moyang yang telah berpulang agar diterima di sisi HYANG TUNGGAL.

SEMBAH-HYANG jelas ditujukan kepada HYANG TUNGGAL. Bukan yang lain.

Kepada guru-guru suci dan para Dewa atau malaikat suci dilakukan “NGATURANG BHAKTI”.

5. Sementara itu, SELAMETAN dalam Kejawen adalah PERAYAAN RASA BERSYUKUR. Bentuknya doa bersama. Rasa bersyukur dalam SELAMETAN dilakukan secara bersama, mengundang keluarga dan tetangga. Lalu ada doa bersama. Itupun juga bukan mempertuhankan kegiatan perayaan syukuran atau ungkapan beryukur atas apa yang telah dicapai atau diberikan. Pernikahan, anak lahir, 3 bulanan, perayaan pernikahan, dll, adalah ungkapan bersyukur. Isinya bisa doa dan terima kasih untuk nenek-moyang (Pitra-puja) karena berkah hari ini atas nikmat yang dirasakan tidak lepas dari jasa warisan atau penghidupan (kehidupan) yang diberikan pada kita lewat rantai kelahiran dari leluhur ke orang tua kita, semuanya disyukuri di saat SELAMETAN.

Dalam Selametan juga ada disertai SEMBAH-HYANG pada HYANG TUNGGAL, dirangkai SEMBAH-BHAKTI pada LELUHUR sebagai rasa tidak pernah lupa dan ingkar atas nikmat yang kita terima. Biasanya ditutup berdoa bersama agar siapa yang melakukan SLAMETAN terus sehat dan sukses, serta berdoa bersama untuk kesehatan dan ketenangan semua yang hadir. Pokok inti Slametan jelas: Ungkapan rasa bersykur pada HYANG TUNGGAL. Ekspresinya bisa kembang, sesaji, ada punya bernyanyi-nyanyi, semuanya ekspresi kegembiraan atas berkah HYANG TUNGGAL pada kita.

6. Kembali ke pertanyaan di depan: APAKAH HINDU & KEJAWEN BERHALA?

Tidak.

Hanya mereka yang tidak paham beda ungkapan BHAKTI, SEMBAHYANG, PUJA, dan PERAYAAN RASA SYUKUR, gagal paham akibat pendek referensi, kesemuannya dipikir mempertuhankan semuannya. Membawa bunga bagi guru di Hari Guru, tidaklah mempertuhan guru. Menabur bunga di nisan atau makam pahlawan bukanlah mentuhankan nisan atau seonggok batu. Demikian juga menghias kursi sepasang pengantin bukanlah mempertuhan kedua mempelai. Kasih kemanusiaan mendasari. Bakti pada guru dan orang tua mendasari. Rasa bhakti pada Ruh-Ruh Agung yang telah menuntun yang mendasari.

Memahami tingkatan rasa-rasa itu penting agar kita tidak salah persepsi, agar tidak tidak tersesat jalan, agar paham anggah-ungguh di jalan batin. [T]

Tags: hinduHindu BalikejawenKetuhananTuhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menghidupkan Kuta dengan Pameran Neodalan: Tilem Kesangȇ dalam Fraksi Epos 2022

Next Post

Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Waspada, "Branding" Bali Kadaluwarsa!

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co