25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KENAPA PEDANDA ŚIWA DI BALI (JUGA) MEMUJA NĀRĀYAṆA?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
December 31, 2021
in Esai
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

—Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Desember 2021

1. Salah satu lontar yang paling disucikan di kalangan Pedanda Śiwa di Bali adalah lontar pustaka suci Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa.

Dengan sangat jelas disebutkan:

prathamaḥ khaṇḍaḥ . nārāyaṇāt sarvacetanācetanajanma. oṃ atha puruṣo ha vai nārāyaṇo’kāmayata prajāḥ sṛjeyeti . nārāyaṇātprāṇo jāyate . manaḥ sarvendriyāṇi ca . khaṃ vāyurjyotirāpaḥ pṛthivī viśvasya dhāriṇī . nārāyaṇād brahmā jāyate . nārāyaṇād rudro jāyate . nārāyaṇādindro jāyate, nārāyaṇātprajāpatayaḥ prajāyante . nārāyaṇāddvādaśādityā rudrā vasavaḥ sarvāṇi ca chandāgͫsi . nārāyaṇādeva samutpadyante, nārāyaṇe pravartante . nārāyaṇe pralīyante ..

Disebutkan dalam mantra ini vaikuṇṭhabhuvanalokaṃ atau  “vaikuṇṭha-bhuvana-lokaṃ” sebagai salah satu acuan dipersamakan dengan dengan Śiva-laya, Sūnya-laya atau Kaivalya sebagaimana disebutkan dalam lontar-lontar Siddhānta yang diwarisi di Bali.

oṃ namo nārāyaṇāyeti mantropāsakaḥ, vaikuṇṭhabhuvanalokaṃ gamiṣyati, tadidaṃ paraṃ puṇḍarīkaṃ vijñānaghanam, tasmāttaṭidābhamātram

Dimana “medal” mantra ini? Dimana dipakai mantra ini?

Pada saat purnama tertentu, dan saat pamaripurna NGENTEG LINGGIH & BALIGYA.

Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa memang utuh ditemukan dan dijadikan acuan dalam kependetaan Śiwa di Bali — mohon maaf jika pengetahuan saya tidak mencukupi untuk menjelaskan kependetaan beracuan garis silsilah kependetaan lainnya. Lontar yang dikenal sebagai Vedaśīrṣa(h) ini secara umum di kalangan Pedanda Śiwa di Bali menjadi salah satu kunci memahami ‘rumusan teologi Pedanda Śiwa yang sangat inkslusif’.

Bagian dari lontar yang dianggap puja atau stawa dari kependetaan Śiwa di Bali ini telah “diadopsi” menjadi bagian penting dari Puja Trisandya baik ke 2 yang bunyinya:

Oṁ Nārāyaṇa evedam sarvaṁ

yad bhūtaṁ yac ca bhāvyaṁ        

niṣkalaṅko nirañjano

nirvikalpo nirākhyātaḥ        

śuddho deva eko

nārāyaṇo na dvitīyo’sti kaścit

Oṁ Nārāyaṇa adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Nārāyaṇa, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.

Selanjutnya bait 3:

Oṁ tvaṁ śivaḥ tvaṁ mahādevaḥ      

Īśvaraḥ parameśvaraḥ                        

brahmā viṣṇuśca rudraśca                

puruṣaḥ parikīrtitaḥ

Oṁ Engkau dipanggil Śiva, Mahādeva, Īśvara, Parameśvara, Brahma, Viṣṇu, Rudra dan Puruṣa

2. Kenapa Nārāyaṇa menjadi salah satu puncak puja dan stawa Pedanda Śiwa di Bali?

Mahāviṣṇu and Sadāśiva are also one. As the Sammohana Tantra (Ch. VIII) says “Without Prakṛti the Saṃsāra (World) cannot be. Without Puruṣa true knowledge cannot be attained. Therefore should both be worshipped; with Mahākālī, Mahākāla.” Some, it says, speak of Śiva, some of Śakti, some of Nārāyaṇa (Viṣṇu). But the supreme Nārāyaṇa (Ādinārāyaṇa) is supreme Śiva (Paraśambhu), the Nirguṇa Brahman pure as crystal. The two aspects of the Supreme reflect the one in the other. The Reflection (Pratibimba) is Māyā whence the World-Lords (Lokapālas) and the Worlds are born.

Terjemahannya: “Mahāviṣṇu dan Sadāśiva juga satu. Seperti yang dikatakan Sammohana Tantra (Bab VIII) “Tanpa Prakṛti, Saṃsāra (Dunia) tidak mungkin ada. Tanpa Puruṣa, pengetahuan sejati tidak dapat dicapai. Oleh karena itu keduanya harus disembah; dengan Mahākāl, Mahākāla.” Beberapa, dikatakan [seolah-olah berbeda], berbicara tentang [gelar] Śiva, beberapa tentang [gelar] Śakti, beberapa tentang [gelar] Nārāyaṇa (Viṣṇu). Tetapi Nārāyaṇa (Ādinārāyaṇa) yang tertinggi adalah Śiva (Paraśambhu) tertinggi, Brahman Nirguṇa yang murni seperti kristal. Kedua aspek Yang Mahakuasa mencerminkan yang satu di dalam yang lain. Pantulan (Pratibimba) adalah Māyā tempat para Penguasa Dunia (Lokapālas) dan Dunia-Dunia dilahirkan.”

Penjelasan SIR JOHN WOODROFFE (Avalon) dalam karyanya ŚAKTI AND ŚĀKTA, ESSAYS AND ADDRESSES ON THE ŚĀKTA TANTRAŚĀSTRA, sangat tepat menjelaskan bagaimana dalam praktek pemujaan atau kehidupan Pedanda Śiwa yang memahami Tantra-Agama sebagai pedoman ritual dan “berteologi”. Dalam pandangan kependetaan Śiwa di Bali sebagaimana tercermin dalam lontar Vedaśīrṣa(h), kita melihat bagaimana Pedanda Śiwa “sudah melampaui perbedaan sekat-sekat penyebutan gelar Brahman yang tunggal itu”.

Pedanda Śiwa di Bali jelas telah selesai dengan debat kusir sekat-sekat penamaan atau gelar pemuliaan Hyang Widhi dengan berbagai atribut pemuliaannya yang dikenal dari berabad-abad silam.

Kesimpulan ini saya simpulkan setelah membaca pedoman puja dan stawa yang dalam ratusan lontar-lontar yang saya temukan dan ‘kebit-kebitin’ (buka-buka) di sebagian besar griya-griya Pedanda Śiwa di Bali Utara, ditambah berbagai koleksi Gedong Kirtya dan Pusat Dokumentasi Bali, serta koleksi pribadi kami. Ini sebabnya, sebegaimana saya sebutkan di atas, bahwa ‘rumusan teologi Pedanda Śiwa yang sangat inkslusif’.

3. Jika belajar dari secara penyusunan komposisi dari bait-bait Puja Tri Sandhya yang dirumuskan dan terbit cetak dalam Dasa Sila Agama Bali tahun 1951, kesadaran ‘rumusan teologi insklusif’ Hindu (di) Bali ini bukan semata-mata berkembang di kalangan Pedanda Śiwa di Bali. Para pakar lontar, intelektual ternama dan mumpuni di tahun 1940-1950-an, pun telah selesai dengan urusan sekat-sekat gelar-pemuliaan Hyang Widhi yang dari berabad-abad silam telah diterima sebagai pemuliaan berbagai gelar YANG BERBEDA TAPI TUNGGAL ITU.

Data sejarah menunjukkan para tokoh mumpuni Bali tersebut, yang menyetujui terbitan pertama kali dari versi terawal Trisandhya dalam Dasa Sila Agama Bali yang kini dipakai puja harian Hindu di Indonesia tersebut — bukan hanya para Pedanda Śiwa — terdapat tokoh-tokoh mumpuni lainnya yang tidak bergelar Pedanda.

Dalam pengantarnya Pandit Shastri yang menjadi “juru tulis” (penyusunan) buku Dasa Sila Agama Bali  yang memuat Tri Sandhya cetak paling awal, versi ini telah disetujui oleh: “Para Padanda2 dan orang2 jang tertjantum namanja dibawah ini telah menjetudjui isinja kitab ini. 1. Ida Padanda Made Aseman, Sanur. 2. Ida Putu Maron, Denpasar. 3. Ida Padanda Made Kamenuh, Ketua Pusat Paruman Para Pandita Singaradja. 4. Ida Padanda Gede Ngenjung Singaradja. 5. Tuan Wajan Bhadra, the Director of Gedong Kirtya Singaradja. 6. Tuan Anak Agung Pandji Tisna (Anggauta of D.P.R.) Singaradja. 7. Ida Bagus Ktut Djelantik Banjar. 8. Ida Anak Agung Anglurah Ktut Karangasem. 9. Ida Padanda Made Badjra Tabanan. 10. Ida Padanda Gde Manuabe Djambarana. 11. Ida Padanda Gde Made Sewali Wesnawa Mataram Lombok. 12. Ida Padanda Ktut Buruan, Pagesangan Lombok. 13. I Gusti Agung Djalantik Blambangan Cakranagara Lombok. 14. Gusti Bagus Sugriva Singaradja”.

Para Pedanda Śiwa yang tersebut di atas, yaitu Ida Padanda Made Aseman, Sanur, Ida Padanda Made Kamenuh (Ketua Pusat Paruman Para Pandita Singaradja), Ida Padanda Gede Ngenjung Singaradja (Pendiri Panti Agama Hindu Bali), Ida Padanda Made Badjra Tabanan, Ida Padanda Gde Manuabe Djambarana, Ida Padanda Gde Made Sewali Wesnawa Mataram Lombok, Ida Padanda Ktut Buruan, Pagesangan Lombok adalah semacam perwakilan dari para terkemuka, terpelajar, disucikan atau tokoh besar Hindu Dharma Indonesia awal kemerdekaan RI dengan kesadaran ‘teologi inklusif’. Sekali lagi, deretan nama tersebut menjadi penjamin diakuinya Hindu-Dharma Indonesia yang telah selesai dengan urusan perdebatan sekat-sekat gelar Hyang Widhi. Yang malah kini masih sering diperdekatkan dan merunjing menjadi debat kusir kelompok-kelompok yang sedang bertumbuh (mungkinkah ini bisa dipahami sebagai gejala “pubertas beragama”?)

Sebagai tambahan lebih lanjut dan rinci, tentang penyusunan dan sejarah perumusan serta perkembangan PUJA TRI SANDHYA, telah saya tulis dalam Puja Tri Sandhyā: Indian Mantras Recomposed and Standardised in Bali dimuat dalam  The Journal of Hindu Studies, Volume 7, Issue 2, August 2014, Pages 243–272, diterbitkan oleh Oxford University Press, bisa didownload di link ini: https://www.academia.edu/11567914/Puja_Tri_Sandhy%C4%81_Indian_Mantras_Recomposed_and_Standardized_in_Bali

4. Tradisi pemuliaan Nārāyaṇa yang dijadikan pedoman sangat penting dalam kependetaan Pedanda Śiwa di Bali, yang kitabnya berjudul Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa atau secara umum dalam tradisi Hindu di dunia dikenal sebagai Nārāyaṇopaniṣad, serta bukti bagaimana bait 2 dan 3 Puja Trisandhya yang dipakai umat Hindu Dharma di Indonesia sekarang, adalah bukti bagaimana perdebatan antar “perguruan”, “sekte”, “golongan”, “sampradaya”, “gotra”, “paramparāṃ”, yang bersifat ekslusif atau paling merasa paling benar dan paling tinggi sudah selesai di Bali dari dahulu kala.

Meminjam ungkapan yang disebutkan oleh Ida Padanda Gede Ngenjung Singaradja (Pendiri Panti Agama Hindu Bali) dalam tulisannya tanggal 10 Oktober 1951:

“Inti-sari Agama kita adalah: Om tat sat Ekam Ewa Adwieyam Brhman-Widhiyam. Om tat sat artinja: Sanghjang Widhilah jang benar (Rahaju). Ekam Ewa artinja: hanja Satulah (Tunggallah). Adwitiyam artinja: tak ada dua-Nja Brhman-Widhiyam artinja: Brhman gelaran Sanghjang Widhi.”

5. Jika di masa depan, atau mungkin di hari ini, lagi ada riak-riak perdebatan atau barangkali perpecahan akibat kembali mundur karena merasa paling benar dengan paham junjungan yang terbagi-bagi, dan kembalai ada kelompok merasa paling ekslusif alias paling benar dan punya pedoman yang paling tertinggi, serta merasa paling maha-benar, sebaiknya kembali belajar pada sejarah bagaimana selama berabad-abad Pedanda Śiwa di Bali (yang merupakan kelanjutan tradisi Kawi yang menganut pedoman Śiwasasana yang telah dirumuskan kembali dalam pemerintahan Mpu Sindok dari tradisi sebelumnya) telah secara terang benderang selesai dengan perdebatan tersebut — silahkan membaca Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa atau Nārāyaṇopaniṣad.

Atau, setidaknya, membaca kembali secara cermat-nalar bait ke-2 dan ke-3 dari Puja Trisandhya yang merupakan rumusan ‘teologi-inklusif’ Hindu di Nusantara di abad modern.

Rumusan dari Puja Tri Sandhya, secara gamblang, disamping merupakan kesadaran ‘teologi-inklusif’ Hindu Dharma Indonesia, juga perlu dicatat, ini juga menjadi saripati “sila pertama” dari Pañca Śraddha yang menjadi acuan dasar dalam ber-Hindu di Indonesia.

Percaya dengan adanya Brahman atau Sang Hyang Widhiwasa, dalam “sila pertama” dalam Pañca Śraddha, dirumuskan dengan kesadaran * ekaṁ sad viprā bahudhā vadanty* dari kutipan utuhnya Rig Veda 1.164.46.

इन्द्रं॑ मि॒त्रं वरु॑णम॒ग्निमा॑हु॒रथो॑ दि॒व्यः स सु॑प॒र्णो ग॒रुत्मा॑न्। एकं॒ सद्विप्रा॑ बहु॒धा व॑दन्त्य॒ग्निं य॒मं मा॑त॒रिश्वा॑नमाहुः ॥

indram mitraṁ varuṇam agnim āhur atho divyaḥ sa suparṇo garutmān | ekaṁ sad viprā bahudhā vadanty agniṁ yamam mātariśvānam āhuḥ ||

Yang kalau diterjemahkan, sbb:

Mereka memanggilnya Indra, Mitra, Varuna, Agni; dan dia adalah Garuda surgawi, yang memiliki sayap yang indah. Kebenarannya adalah satu, tetapi viprā (para rsi bijak atau terpelajar) menyebutnya dengan banyak nama atau menggambarkannya dengan banyak cara; mereka memanggilnya Agni, Yama, Mātariśvan.

6. Semua para pedanda dan cendikiawan Hindu Dharma Indonesia yang mendirikan Parisada di Nusantara di era awal kemerdekaan mengamini dan mengutip-ngutip Rig Veda 1.164.46 tersebut sebagai pedoman dasar dalam ber-Hindu di Indonesia. Pedoman ini kesepakatan bersama para pendahulu kita yang mendaftarkan Hindu Dharma sebagai agama resmi yang diakui oleh pemerintah NKRI. Telah final. Titik, tanpa koma.

Kesadaran itu pulalah yang beradab-abad telah dipedomani oleh Pedanda Śiwa di Bali:

nārāyaṇād brahmā jāyate . nārāyaṇād rudro jāyate . nārāyaṇādindro jāyate, nārāyaṇātprajāpatayaḥ prajāyante . nārāyaṇāddvādaśādityā rudrā vasavaḥ sarvāṇi ca chandāgͫsi .nārāyaṇādeva samutpadyante, nārāyaṇe pravartante . nārāyaṇe pralīyante .. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Pariwisata dan Ruang Air di Nusa Penida

Next Post

Menimbang Rasa, Sekarang Mabuk Besok Tobat | Selamat Tahun Baru

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Rasa, Sekarang Mabuk Besok Tobat | Selamat Tahun Baru

Menimbang Rasa, Sekarang Mabuk Besok Tobat | Selamat Tahun Baru

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co