25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nurat Asing Gon : Kunci Produktivitas Ida Padanda Made Sidemen dalam Bersastra

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
December 3, 2021
in Esai
Nurat Asing Gon : Kunci Produktivitas Ida Padanda Made Sidemen dalam Bersastra

Sumber foto: Rubinstein Raechelle dalam Archipel Vol.2 Tahun 1996

Salah satu hal yang paling berkesan dari Geguritan Salampah Laku adalah proses belajar yang ditapaki oleh Ida Padanda Made Sidemen. Dalam karya sastra tersebut, beliau menyatakan dirinya telah paruh baya, tetapi baru berguru hanya dua kali. Oleh sebab itu, bersama sang istri, Ida Padanda Made Sidemen meneruskan pembelajaran intelektual, ritual, dan spiritualnya ke Gria Mandara Giri Sidemen-Karangasem. Dengan menuturkan proses berguru itu, Ida Padanda Made Sidemen tidak menggurui pembaca karyanya. 

Di masa lampau, perjalanan masih biasa dilakukan dengan berjalan kaki. Akan tetapi, menempuh perjalanan dari Sanur ke Karangasem bukanlah jarak yang dekat. Namun demikian, jarak konon adalah persoalan yang terletak di tataran pikiran seperti yang diingatkan oleh Kakawin Dharma Shunya dengan ungkapan hiḍĕpta pamĕkas panangkana kabeh tan madoh prihĕn. Bagi seseorang yang pikirannya tengah disusupi Dewa Smara atau Dewa Cinta, jarak bisa seketika lebur entah kemana. Sama halnya dengan pikiran yang telah dirasuki oleh Dewi Saraswati maka pengetahuan bisa menjadi lebih cantik tinimbang kecantikan biologis, bahkan bagi pasangan yang baru menikah sekalipun. Kakawin Wretta Sancaya karya Mpu Tanakung mengilustrasikan bahwa bagi seorang penyair, gairah untuk menulis keindahan lebih diprioritaskan tinimbang menemani istrinya di peraduan yang baru saja dinikahi (nimittangku yan layat aninggal i sang ahayu nguni ring tilami, ndatan lali si langĕning sayana, saka ring harĕpku lalita nggurit langö).            

Meskipun Mpu Tanakung mengilustrasikan sisi lain seorang pengarang yang meninggalkan istrinya demi menulis keindahan, Ida Padanda Made Sidemen agaknya memilih jalan yang tidak sama. Sebagai seorang kawi, mungkin saja beliau terpikat untuk menulis keindahan hingga di titik ekstrimnya meninggalkan sang istri untuk anglanglang kalangwan angdon langö. Akan tetapi, sebagai seorang pendeta yang akan ngeloka pala sraya, Ida Padanda Made Sidemen tampaknya merasakan arti penting seorang patni atau istri, sama seperti Siwa yang dilengkapi oleh saktinya Dewi Parwati dalam proses penciptaan hingga peleburan.

Bersama istrinya itulah Ida Padanda Made Sidemen menempuh proses pembelajaran atau aguron-guron di Gria Mandara-Sidemen. Sebelum belajar ke Karangasem, beliau juga belajar sastra kepada IB. Jlantik alias I.B. Tangeb dari Gerya Sindhu[1], Sanur sebagai guru dan juga sahabatnya. I.B. Jlantik tidak hanya sangat mumpuni di bidang sastra seperti kakawin dan kidung namun juga adat, budaya, dan kerohanian (kedhyatmikari). Di dalam Geguritan Salampah LakuIB. Jlantik disebutkan sebagai “juru Kawi Bali Kuna.” Di samping itu ia gemar membimbing anak-anak muda belajar nyastra. Konon setiap sore hari, ada saja orang datang ke gerianya untuk belajar. Di lingkungan Sanur, I.B. Jlantik dikenal sebagai orang nyastra yang disegani. Sebagai trah Gerya Punia di Sidemen, I.B, Jlantik mewariskan tradisi nyastra yang ia dapatkan dari leluhurnya.

Ternyata berguru kepada I.B. Jlantik merupakan tonggak penting di dalam perjalanan kepengarangan Ida Pedanda Made. Berguru kepada I.B. Jlantik ini disebutkan sebagai guru pertama sebelum berguru kepada dua guru lainnya, yaitu Ida Pedanda Wayan Kekeran [guru lokajagat Badung pada saat itu] dari Gerya Gede Taman Sari, Sanur dan Ida Pedanda Nabe di Gerya Mandhara, Sidemen. Perjalanan ke asrama guru nabe yang berasal dari Sidemen-Karangasem inilah yang banyak dilukiskan oleh Ida Padanda Made Sidemen pada Geguritan Salampah Laku. Kala menapaki perjalanan menuju Gria Mandara, Sidemen-Karangasem Ida Padanda Made Sidemen bersama patni beliau melewati pantai termasuk pula muara sungai yang akan segera bertemu dengan laut lepas. Tidak jarang dalam perjalanan itu, Ida Padanda Made Sidemen bersama sang istri tidur di pinggir jalan. Sebelum tidur itulah beliau mengajarkan teknik yoga nidra yang sangat penting untuk mendapatkan sari tidur [deep sleep]. Ajaran yoga nidra juga diwacanakan dalam pustaka-pustaka seperti Gana Pati Tattwa, Jnyana Siddhanta, dan Dharma Sunya.  Ajaran yoga nidra dalam pustaka lontar Bali perlu mendapatkan tinjauan khusus pada di kajian berikutnya.

Perjalanan yang ditempuh untuk sampai di Gria Mandara Giri melalui Klungkung [Smarajaya], melintasi Desa Tulibeng melewati Sangkan Gunung. Di Gria Mandara Giri itulah Ida Padanda Made Sidemen berguru. Geguritan Salampah Laku tidak menyebutkan berapa panjang waktu berguru kepada Ida Padanda Nabe di Sidemen-Karangasem. Akan tetapi, “mata pelajaran” yang diberikan oleh Ida Sang Nabe kepada beliau yang menjadi seorang abdi pengetahuan kala itu tercatat dalam Geguritan Salampah Laku. Pelajaran itu di antaranya tentang hakikat dan teknik melepaskan jiwa dari kungkungan tubuh ketika kematian tiba [gelaring pati urip, pasurupaning jnyana, yan katĕkan hantu, pasahing atma bandana], teguh memegang sasana atau etika [angamongi sasana yukti], tahu cara mengurangi indria [wruh angurangi indriya], memerangi sad ripu dan tri mala [manglagada sad ripu, krodha lobha göng katresnan], menahan panas dan dingin [anahĕn panĕs tis], dan yang lainnya.      

Apakah guru daksina [imbalan] yang dihaturkan oleh Ida Padanda Made Sidemen pasca dianugerahi berbagai pengetahuan itu oleh Ida Padanda Nabe? Ida Padanda Nabe menyatakan tidak meminta imbalan atau panguriyaga berupa sesuatu yang bersifat material kepada nanaknya [Ida Padanda Made Sidemen], meskipun sesungguhnya beliau berhak. Dalam itihasa Mahabharata kita tahu bahwa Drona meminta imbalan guru daksina kepada Ekalawya berupa ibu jari untuk menjadikan Arjuna sebagai pemanah terbaik di dunia. Ia juga meminta Panca Pandawa dan Korawa berperang mengalahkan kerajaan Drupada sebagai imbalan setelah pendidikan anak-anak Hastinapura dinyatakan selesai. Kenapa Ida Padanda Nabe tidak meminta imbalan itu? Tentu bukan karena materi tidak penting yang menyebabkan beliau tidak menerima balas budi dengan materi, melainkan bagi seorang pendeta sejati hal-hal material bisa menghambat pendakian rohani atau spiritual. Selain itu, busana seorang pendeta ketika melaksanakan berbagai swadharma beliau tidak lagi emas dan permata melainkan kebenaran.

Yang diminta oleh seorang Ida Padanda Nabe kepada murid beliau setelah dianggap purna pendidikannya adalah perilaku utama [ulah juga utama]. Perilaku utama itu terdiri atas perkataan yang lembut dan hati suci. Dua hal itulah sadana seorang sadaka yang dapat dimaknai lebih tinggi nilainya dari emas dan perak. Sudah tentu dua hal itu pula lebih sulit untuk dihaturkan daripada emas dan perak. Dari kata-kata yang lembut, kesucian pikiran seorang pendea yang dilandasi sastra itu dicerminkan. Oleh sebab itu, Kakawin Nitisastra menyatakan sang sastrajnya wuwusnirāmrĕta padayangde sutusteng praja ‘seseorang yang telah membadankan sastra, perkataannya dapat menyebabkan hati masyarakat bahagia’. Teks Brahma Wangsa juga menyarankan pendeta yang ideal adalah ia yang bersahabat dengan sastra. Pustaka Nirartha Prakertha menyatakan pendeta adalah seseorang yang bertongkatkan sastra (atĕkĕn lambang). Sementara itu, pustaka Niti Raja Sasana menegaskan bahwa pendeta yang sebaiknya menjadi patirtan jagat adalah ia yang aktivitasnya membadankan sastra, terutama yoga Samadhi, sebab beliaulah sang penjaga benteng rohani (panditane wicaksana, dados papagĕring gumi, reh karyane ngaji sastra miwah yoga samadhi).

Secara implisit, Ida Padanda Nabe juga memberikan rahasia agar puja yang dipanjatkan setiap hari oleh seorang pendeta dapat berhasil. Barangkali dengan cara yang agak kontrastif, pernyataan ini dapat dibaca bahwa banyak pendeta yang belum tentu berhasil dalam memanjatkan puja. Kenapa puja tidak berhasil dilakukan pendeta? Tentu ada banyak hal yang menjadi faktor penyebab kegagalan suatu puja yang dilakukan oleh seorang wiku. Adakah klasifikasi tiga jenis wiku yang terdiri atas (1) wiku taluh [wiku yang tidak berhasil menemukan ajaran nabenya sampai tuntas, hanya pada tingkatan wahya/tidak sampai pada yang adhyatmika]; (2) wiku raksasa [wiku yang hanya memperhitungkan sesari/komersil]; dan (3) wiku mayong [tidak ingin mencapai alam sunya, tidak menemukan bayangan dewa, pitara, dan buta dalam tubuh] yang dimaksud oleh Ida Padanda Nabe?

Yang jelas, rahasia keberhasilan puja seorang pendeta menurut Ida Padanda Nabe terletak pada pelaksanaan yoga. Beliau bahkan menyatakan yoga mesti dijadikan sebagai bekal penjelmaan [yoga bĕkĕl numadi]. Yoga berasal dari akar kata yuj yang artinya menghubungkan. Dalam konteks ini, yoga dapat dimaknai sebagai usaha tanpa henti untuk menghubungkan kesadaran jiwa dengan Paramajiwa melalui (1) panca yama brata; (2) panca niyama brata; (3) asana; (4) pranayama; (5) praytahara; (6) dharana; (7) dhyana; dan (8) samadhi. Ida Padanda Nabe juga menyatakan pelaksanaan yoga mesti dilengkapi dengan pelaksanaan mahabrata dan sutapa.

Dua hal yang dianggap sebagai fondasi etik pelaksanaan yoga, brata, dan tapa adalah panca yama dan panca niyama brata. Pustaka Wrati Sasana memberikan penjelasan tentang Panca Yama dan Panca Niyama Brata sebagai berikut.

Ika tang yama niyama brata, ya ta rinakṣan de Sang Wiku sari-sāri, makadon katĕguhanira Sang Hyang Brata, apan yan tan karakṣaha salah siki ika, niyata ng buddhi cañcala tĕmahanya, ya ta matangyan panangsar sangken kawikun, makāwasāna ng abhakṣana, apeya-peya, agamyāgamana, yeka pantĕn bwat awanya (Tim Penyusun, 2006: 7).

Terjemahan:

Yama dan Niyama Brata itulah yang selalu dipegang oleh seorang Wiku dengan tujuan agar kokoh bratanya, sebab bila tidak dipegang salah satunya, tentu pikirannya akan menjadi goyah itulah yang menyebabkan ia menjadi menyimpang dari kedudukannya sebagai wiku yang mengakibatkan ia makan sembarangan, minum-minuman terlarang, melakukan gamya-gamana, semua itu menyebabkan panten.

Petikan pustaka Wrati Sasana di atas dengan terang menyebutkan bahwa  pelaksanaan Yama dan Niyama Brata dapat memperkokoh pelaksanaan brata seseorang. Yama Brata dapat diklasifikasikan menjadi lima yaitu (1) ahimsa yang artinya tidak membunuh; (2) brahmacarya yang artinya tidak menyentuh perempuan sejak kecil dan memahami mantra kebrahmacaryan; (3) satya yang artinya berkata jujur; (4) awyawaharika yang artinya tidak bertengkar; (5) astainya artinya tidak berniat jahat kepada milik orang lain. Tidak berbeda dengan Yama Brata, ajaran Niyama Brata juga diklasifikasikan menjadi lima yaitu (1) akrodha yang artinya tidak marah; (2) guru susrusa yang artinya berbakti kepada guru; (3) sauca yang artinya selalu memuja Bhatara Siwa dengan penuh kesucian; (4) aharalagawa yang artinya puas dengan apa yang dimakan; (5) apramadha yang artinya tidak lalai dengan nasihat guru.

Ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Ida Padanda Nabe di atas terutama dalam hal brata, yoga, dan tapa tampaknya dilakukan dengan penuh dedikasi oleh Ida Padanda Made Sidemen. Oleh sebab itu, seorang pendeta bergelar Ida Padanda Putra dari Geria Puseh, Intaran, Sanur mengarang sebuah karya sastra kakawin yang dipersembahkan kepada Ida Padanda Made Sidemen dengen judul Kakawin Sang Wrĕddha Pandita Subrata [seorang pendeta senior yang teguh dalam pelaksanaan brata] (Agastia, 1987: 162). Memang Ida Padanda Made Sidemen dalam Geguritan Salampah Laku juga menekankan pentingnya pelaksanaan brata oleh seseorang yang ingin mengubah yoni atau sifat-sifat yang melekat dalam kelahirannya. Beliau menyatakan dados yonine gĕntosin, mangde ri wĕkasan janma, tapa brata denya kukuh, matatakan dharma satya, tri kaya rĕko brĕsihin, sagawa tan kasalimur, rajah tamahe wus mari.  

Pasca menerima pelajaran dari Ida Padanda Nabe di Gria Mandara-Sidemen, Ida Padanda Made Sidemen melanjutkan perjalanan pulang ke Sanur. Perjalanan yang ditempuh untuk tiba di Sanur melalui Klungkung melewati Masceti. Fragmen Geguritan Salampah Laku yang menceritakan kepulangan Ida Padanda Made Sidemen ke Sanur inilah yang memuat kunci produktivitas beliau dalam bersastra.

Hana brata rahina tan suptā-turu, suptaning tĕtĕp inapti, sakĕdap denya awungu, sabhranyā-lungguh anulis, ring sawah nurat asing nggon. [Geguritan Salampah Laku, Puh Megatruh, 9].

Terjemahan.

Ada brata siang hari tidak tidur, tidur tetap dilakukan, sekejap lalu terbangun, di manapun-duduk menulis, di sawah, menulis di semua tempat.

Petikan karya sastra di atas cukup memberikan jawaban di balik produktivitas Ida Padanda Made Sidemen dalam proses kreatif menulis karya sastra dan menyalin naskah lontar. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh IBG Agastia (2008) masa produktif Ida Padanda Made Sidemen diperkirakan dari antara tahun 1938 s.d. 1948. Memang sangat mengagumkan bahwa dalam masa sepuluh tahun itu beliau telah melahirkan karya-karya sastradengan berbagai bentuk: sebuah karya sastra prosa yangbesar (Siwagama atau Purwagama Sasana), tujuh buahkakawin (Cayadijaya, Candra Bherawa, Singhalanggyala,Kalpha Sanhara, Kalepasan, Manuk Dadali, dan PurwaningGunung Agung), dua sastra kidung (Rangsang, dan PisacaHarana), sebuah geguritan (Salampah Laku); dan mungkin masih ada karya sastra lain yang belum teridentifikasi. Di samping menulis karya sastra, beliau juga aktif menyalin pustaka-pustaka lontar penting dalam peradaban batin Bali. Hasil katalogisasi naskah yang dilakukan oleh Tim Balai Bahasa Bali menunjukkan beliau menyalin sekitar 142 (Suamba, 2016: 340-344).

Jumlah karya sastra dan salinan lontar yang banyak dan berkualitas seperti yang diuraikan di atas ternyata dilatarbelakangi oleh sikap hidup dengan landasan brata. Brata atau janji diri yang beliau terapkan salah satunya adalah tan supta rahina yang bermakna tidak tidur pada siang hari. Jikapun tidur, hal itu hanya dilakukan sebentar lalu sadar atau terjaga lagi [Hana brata rahina tan suptā-turu, suptaning tĕtĕp inapti, sakĕdap denya awungu]. Brata tidak tidur pada siang hari itu adalah usaha untuk memuliakan Matahari yang tengah bekerja menyinari alam semesta. Matahari secara spiritual juga perwujudan Siwa di dunia, sebagaimana seluruh pendeta menyambut singsingan fajar beliau di pagi hari melalui surya sewana. Sinar yang terpancar darinya secara langsung maupun melalui bulan menjadi penanda waktu dunia. Ia juga adalah saksi agung kehidupan dan kematian yang tidak akan pernah dikelabuhi oleh siapapun. Dengan tidak tidur atau tidur sebentar, setiap individu dapat mengisi harinya dengan penuh. Di titik ini, kita merasa bahwa brata yang diterapkan oleh Ida Padanda Made Sidemen mendorong etos setiap insan untuk mengisi waktu secara maksimal dengan bekerja sesuai swadharma.

Jenis pekerjaan itu tentu beragam sesuai dengan profesi yang digeluti masing-masing. Akan tetapi, bagi Ida Padanda Made Sidemen, brata untuk tidak tidur itu digunakan untuk melakukan satu aktivitas yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai bekerja untuk keabadian yaitu menulis. Proses menulis yang dilakoni oleh Ida Padanda Made Sidemen dapat dikatakan melampaui ruang. Sebab beliau menulis di manapun beliau duduk, tidak peduli ruang itu adalah areal persawahan sekalipun. Beliau menyatakan bawah dirinya menulis di semua tempat dengan ungkapan anurat asing nggon. Dengan menulislah, Ida Padanda Made Sidemen memuja Saraswati dalam laku keseharian yang diyakini berstana dalam rangkaian aksara. Berbeda dengan masyarakat saat ini, yang memuja Saraswati saban enam bulan sekali meskipun dalam keseharian proses membaca dan menulis tidak pernah dilakukan. Sesuatu yang sangat ironis. 

Satu hal yang penting dari konsep pemikiran Ida Padanda Made Sidemen tentang menulis di semua tempat atau anurat asing nggon berkaitan erat dengan wacana literasi yang dibumikan pemerintah saat ini. Di tengah-tengah pusaran wacana untuk mendorong gerakan literasi anak bangsa, konsep menulis yang ditawarkan oleh Ida Padanda Made Sidemen tersebut menjadi wacana aktual untuk direnungkan. Daya literasi yang berarti peningkatan kuantitas dan kualitas membaca anak-anak bangsa tentu tidak akan tercapai apabila ketersediaan sumber literasi kita masih kering. Sumber literasi yang dimaksud tidak hanya terbatas pada bahan literasi berbahasa Indonesia dan berhuruf Latin, tetapi juga berbahasa dan beraksara daerah.

Seperti yang telah jamak diketahui bahwa Indonesia adalah ‘sarang hidup’ sekitar 652 bahasa daerah menurut catatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa RI tahun 2018. Dari jumlah tersebut, terdapat 11 aksara daerah yang masih digunakan sebagai wahana tulis masyarakat di tingkat daerah. Kepada siapakah jaminan hidup bahasa dan aksara daerah itu mesti digantungkan dalam arus kepunahan sejumlah bahasa daerah di kawasan Indonesia Timur? Jawabannya bisa dipalingkan kepada pemerintah maupun dipulangkan pada diri sendiri. Akan tetapi, apabila kita bertanya kepada Ida Padanda Made Sidemen, salah satu jawaban yang telah beliau sediakan kepada kita adalah konsep nurat asing nggon atau menulis di semua tempat. Menulis merupakan keterampilan yang berdialektika dengan membaca. Untuk menghasilkan anak bangsa yang mampu membaca dengan kritis berbagai informasi yang diterimanya, Ida Padanda Made Sidemen menawarkan konsep “menulis di semua tempat”.

Dari tangan Ida Padanda Made Sidemen kita telah mewarisi sumber-sumber literasi yang penting dibaca oleh anak negeri. Untuk mengetahui hakikat ajaran Siwa-Buddha Nusantara yang dipraktikkan di Bali, sumber literasi yang telah beliau siapkan adalah Siwabuddhagama. Tidak hanya itu, aspek teohistoris keberadaan gunung-gunung di Bali sebagai sumber literasi telah beliau tulis dalam Kakawin Purwaning Gunung Agung. Demikian pula untuk mengetahui hakikat yoga sanyasa dan karma sanyasa sebagai inti penunggalan ajaran Siwa-Buddha dapat ditelusuri dalam karya sastra Kakawin Candra Bhairawa. Di samping itu, untuk mendalami spektrum pengembangan ajaran panca tantra di Indonesia khususnya di Bali, para peminat sastra telah disediakan sumber literasi berjudul Tantri Pisacaharana yang menarasikan salampah laku Prabhu Aji Dharma. Segayut dengan hal itu, kisah-kisah yang bertalian dengan kehancuran zaman dapat ditemukan dalam sumber literasi Kakawin Kalpa Sanghara. Suluh tentang nilai-nilai kepemimpinan juga telah beliau wariskan dalam Kakawin Cayadijaya dan Singghalangghyala. Sampai pada sumber literasi untuk mendapatkan pembebasan akhir dari lingkaran samsara hidup, Ida Padanda Made Sidemen telah mempersiapkan Kakawin Panglepasan.

Sumber-sumber literasi Bali yang telah diwariskan oleh Ida Padanda Made Sidemen cukup untuk bekal hidup dan sangu pati. [T]


[1] Sumber lain menyebutkan Gerya Somawati. Lihat I.B.M. Dharma Palguna, Ida Pedanda Ngurah: Pengarang Besar Bali Abad ke-19 (Denpasar: Yayasan Dharma Sastra, 1998), hal. III

Tags: Ida Pedanda Made Sidemenkawisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keris Pencok Sahang dan Karier Kepemimpinan Dalem Dukut di Nusa Penida

Next Post

Puisi-puisi Iyut Fitra | hari tua sebuah kelewang

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Iyut Fitra | hari tua sebuah kelewang

Puisi-puisi Iyut Fitra | hari tua sebuah kelewang

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co