24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nurat Asing Gon : Kunci Produktivitas Ida Padanda Made Sidemen dalam Bersastra

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
December 3, 2021
in Esai
Nurat Asing Gon : Kunci Produktivitas Ida Padanda Made Sidemen dalam Bersastra

Sumber foto: Rubinstein Raechelle dalam Archipel Vol.2 Tahun 1996

Salah satu hal yang paling berkesan dari Geguritan Salampah Laku adalah proses belajar yang ditapaki oleh Ida Padanda Made Sidemen. Dalam karya sastra tersebut, beliau menyatakan dirinya telah paruh baya, tetapi baru berguru hanya dua kali. Oleh sebab itu, bersama sang istri, Ida Padanda Made Sidemen meneruskan pembelajaran intelektual, ritual, dan spiritualnya ke Gria Mandara Giri Sidemen-Karangasem. Dengan menuturkan proses berguru itu, Ida Padanda Made Sidemen tidak menggurui pembaca karyanya. 

Di masa lampau, perjalanan masih biasa dilakukan dengan berjalan kaki. Akan tetapi, menempuh perjalanan dari Sanur ke Karangasem bukanlah jarak yang dekat. Namun demikian, jarak konon adalah persoalan yang terletak di tataran pikiran seperti yang diingatkan oleh Kakawin Dharma Shunya dengan ungkapan hiḍĕpta pamĕkas panangkana kabeh tan madoh prihĕn. Bagi seseorang yang pikirannya tengah disusupi Dewa Smara atau Dewa Cinta, jarak bisa seketika lebur entah kemana. Sama halnya dengan pikiran yang telah dirasuki oleh Dewi Saraswati maka pengetahuan bisa menjadi lebih cantik tinimbang kecantikan biologis, bahkan bagi pasangan yang baru menikah sekalipun. Kakawin Wretta Sancaya karya Mpu Tanakung mengilustrasikan bahwa bagi seorang penyair, gairah untuk menulis keindahan lebih diprioritaskan tinimbang menemani istrinya di peraduan yang baru saja dinikahi (nimittangku yan layat aninggal i sang ahayu nguni ring tilami, ndatan lali si langĕning sayana, saka ring harĕpku lalita nggurit langö).            

Meskipun Mpu Tanakung mengilustrasikan sisi lain seorang pengarang yang meninggalkan istrinya demi menulis keindahan, Ida Padanda Made Sidemen agaknya memilih jalan yang tidak sama. Sebagai seorang kawi, mungkin saja beliau terpikat untuk menulis keindahan hingga di titik ekstrimnya meninggalkan sang istri untuk anglanglang kalangwan angdon langö. Akan tetapi, sebagai seorang pendeta yang akan ngeloka pala sraya, Ida Padanda Made Sidemen tampaknya merasakan arti penting seorang patni atau istri, sama seperti Siwa yang dilengkapi oleh saktinya Dewi Parwati dalam proses penciptaan hingga peleburan.

Bersama istrinya itulah Ida Padanda Made Sidemen menempuh proses pembelajaran atau aguron-guron di Gria Mandara-Sidemen. Sebelum belajar ke Karangasem, beliau juga belajar sastra kepada IB. Jlantik alias I.B. Tangeb dari Gerya Sindhu[1], Sanur sebagai guru dan juga sahabatnya. I.B. Jlantik tidak hanya sangat mumpuni di bidang sastra seperti kakawin dan kidung namun juga adat, budaya, dan kerohanian (kedhyatmikari). Di dalam Geguritan Salampah LakuIB. Jlantik disebutkan sebagai “juru Kawi Bali Kuna.” Di samping itu ia gemar membimbing anak-anak muda belajar nyastra. Konon setiap sore hari, ada saja orang datang ke gerianya untuk belajar. Di lingkungan Sanur, I.B. Jlantik dikenal sebagai orang nyastra yang disegani. Sebagai trah Gerya Punia di Sidemen, I.B, Jlantik mewariskan tradisi nyastra yang ia dapatkan dari leluhurnya.

Ternyata berguru kepada I.B. Jlantik merupakan tonggak penting di dalam perjalanan kepengarangan Ida Pedanda Made. Berguru kepada I.B. Jlantik ini disebutkan sebagai guru pertama sebelum berguru kepada dua guru lainnya, yaitu Ida Pedanda Wayan Kekeran [guru lokajagat Badung pada saat itu] dari Gerya Gede Taman Sari, Sanur dan Ida Pedanda Nabe di Gerya Mandhara, Sidemen. Perjalanan ke asrama guru nabe yang berasal dari Sidemen-Karangasem inilah yang banyak dilukiskan oleh Ida Padanda Made Sidemen pada Geguritan Salampah Laku. Kala menapaki perjalanan menuju Gria Mandara, Sidemen-Karangasem Ida Padanda Made Sidemen bersama patni beliau melewati pantai termasuk pula muara sungai yang akan segera bertemu dengan laut lepas. Tidak jarang dalam perjalanan itu, Ida Padanda Made Sidemen bersama sang istri tidur di pinggir jalan. Sebelum tidur itulah beliau mengajarkan teknik yoga nidra yang sangat penting untuk mendapatkan sari tidur [deep sleep]. Ajaran yoga nidra juga diwacanakan dalam pustaka-pustaka seperti Gana Pati Tattwa, Jnyana Siddhanta, dan Dharma Sunya.  Ajaran yoga nidra dalam pustaka lontar Bali perlu mendapatkan tinjauan khusus pada di kajian berikutnya.

Perjalanan yang ditempuh untuk sampai di Gria Mandara Giri melalui Klungkung [Smarajaya], melintasi Desa Tulibeng melewati Sangkan Gunung. Di Gria Mandara Giri itulah Ida Padanda Made Sidemen berguru. Geguritan Salampah Laku tidak menyebutkan berapa panjang waktu berguru kepada Ida Padanda Nabe di Sidemen-Karangasem. Akan tetapi, “mata pelajaran” yang diberikan oleh Ida Sang Nabe kepada beliau yang menjadi seorang abdi pengetahuan kala itu tercatat dalam Geguritan Salampah Laku. Pelajaran itu di antaranya tentang hakikat dan teknik melepaskan jiwa dari kungkungan tubuh ketika kematian tiba [gelaring pati urip, pasurupaning jnyana, yan katĕkan hantu, pasahing atma bandana], teguh memegang sasana atau etika [angamongi sasana yukti], tahu cara mengurangi indria [wruh angurangi indriya], memerangi sad ripu dan tri mala [manglagada sad ripu, krodha lobha göng katresnan], menahan panas dan dingin [anahĕn panĕs tis], dan yang lainnya.      

Apakah guru daksina [imbalan] yang dihaturkan oleh Ida Padanda Made Sidemen pasca dianugerahi berbagai pengetahuan itu oleh Ida Padanda Nabe? Ida Padanda Nabe menyatakan tidak meminta imbalan atau panguriyaga berupa sesuatu yang bersifat material kepada nanaknya [Ida Padanda Made Sidemen], meskipun sesungguhnya beliau berhak. Dalam itihasa Mahabharata kita tahu bahwa Drona meminta imbalan guru daksina kepada Ekalawya berupa ibu jari untuk menjadikan Arjuna sebagai pemanah terbaik di dunia. Ia juga meminta Panca Pandawa dan Korawa berperang mengalahkan kerajaan Drupada sebagai imbalan setelah pendidikan anak-anak Hastinapura dinyatakan selesai. Kenapa Ida Padanda Nabe tidak meminta imbalan itu? Tentu bukan karena materi tidak penting yang menyebabkan beliau tidak menerima balas budi dengan materi, melainkan bagi seorang pendeta sejati hal-hal material bisa menghambat pendakian rohani atau spiritual. Selain itu, busana seorang pendeta ketika melaksanakan berbagai swadharma beliau tidak lagi emas dan permata melainkan kebenaran.

Yang diminta oleh seorang Ida Padanda Nabe kepada murid beliau setelah dianggap purna pendidikannya adalah perilaku utama [ulah juga utama]. Perilaku utama itu terdiri atas perkataan yang lembut dan hati suci. Dua hal itulah sadana seorang sadaka yang dapat dimaknai lebih tinggi nilainya dari emas dan perak. Sudah tentu dua hal itu pula lebih sulit untuk dihaturkan daripada emas dan perak. Dari kata-kata yang lembut, kesucian pikiran seorang pendea yang dilandasi sastra itu dicerminkan. Oleh sebab itu, Kakawin Nitisastra menyatakan sang sastrajnya wuwusnirāmrĕta padayangde sutusteng praja ‘seseorang yang telah membadankan sastra, perkataannya dapat menyebabkan hati masyarakat bahagia’. Teks Brahma Wangsa juga menyarankan pendeta yang ideal adalah ia yang bersahabat dengan sastra. Pustaka Nirartha Prakertha menyatakan pendeta adalah seseorang yang bertongkatkan sastra (atĕkĕn lambang). Sementara itu, pustaka Niti Raja Sasana menegaskan bahwa pendeta yang sebaiknya menjadi patirtan jagat adalah ia yang aktivitasnya membadankan sastra, terutama yoga Samadhi, sebab beliaulah sang penjaga benteng rohani (panditane wicaksana, dados papagĕring gumi, reh karyane ngaji sastra miwah yoga samadhi).

Secara implisit, Ida Padanda Nabe juga memberikan rahasia agar puja yang dipanjatkan setiap hari oleh seorang pendeta dapat berhasil. Barangkali dengan cara yang agak kontrastif, pernyataan ini dapat dibaca bahwa banyak pendeta yang belum tentu berhasil dalam memanjatkan puja. Kenapa puja tidak berhasil dilakukan pendeta? Tentu ada banyak hal yang menjadi faktor penyebab kegagalan suatu puja yang dilakukan oleh seorang wiku. Adakah klasifikasi tiga jenis wiku yang terdiri atas (1) wiku taluh [wiku yang tidak berhasil menemukan ajaran nabenya sampai tuntas, hanya pada tingkatan wahya/tidak sampai pada yang adhyatmika]; (2) wiku raksasa [wiku yang hanya memperhitungkan sesari/komersil]; dan (3) wiku mayong [tidak ingin mencapai alam sunya, tidak menemukan bayangan dewa, pitara, dan buta dalam tubuh] yang dimaksud oleh Ida Padanda Nabe?

Yang jelas, rahasia keberhasilan puja seorang pendeta menurut Ida Padanda Nabe terletak pada pelaksanaan yoga. Beliau bahkan menyatakan yoga mesti dijadikan sebagai bekal penjelmaan [yoga bĕkĕl numadi]. Yoga berasal dari akar kata yuj yang artinya menghubungkan. Dalam konteks ini, yoga dapat dimaknai sebagai usaha tanpa henti untuk menghubungkan kesadaran jiwa dengan Paramajiwa melalui (1) panca yama brata; (2) panca niyama brata; (3) asana; (4) pranayama; (5) praytahara; (6) dharana; (7) dhyana; dan (8) samadhi. Ida Padanda Nabe juga menyatakan pelaksanaan yoga mesti dilengkapi dengan pelaksanaan mahabrata dan sutapa.

Dua hal yang dianggap sebagai fondasi etik pelaksanaan yoga, brata, dan tapa adalah panca yama dan panca niyama brata. Pustaka Wrati Sasana memberikan penjelasan tentang Panca Yama dan Panca Niyama Brata sebagai berikut.

Ika tang yama niyama brata, ya ta rinakṣan de Sang Wiku sari-sāri, makadon katĕguhanira Sang Hyang Brata, apan yan tan karakṣaha salah siki ika, niyata ng buddhi cañcala tĕmahanya, ya ta matangyan panangsar sangken kawikun, makāwasāna ng abhakṣana, apeya-peya, agamyāgamana, yeka pantĕn bwat awanya (Tim Penyusun, 2006: 7).

Terjemahan:

Yama dan Niyama Brata itulah yang selalu dipegang oleh seorang Wiku dengan tujuan agar kokoh bratanya, sebab bila tidak dipegang salah satunya, tentu pikirannya akan menjadi goyah itulah yang menyebabkan ia menjadi menyimpang dari kedudukannya sebagai wiku yang mengakibatkan ia makan sembarangan, minum-minuman terlarang, melakukan gamya-gamana, semua itu menyebabkan panten.

Petikan pustaka Wrati Sasana di atas dengan terang menyebutkan bahwa  pelaksanaan Yama dan Niyama Brata dapat memperkokoh pelaksanaan brata seseorang. Yama Brata dapat diklasifikasikan menjadi lima yaitu (1) ahimsa yang artinya tidak membunuh; (2) brahmacarya yang artinya tidak menyentuh perempuan sejak kecil dan memahami mantra kebrahmacaryan; (3) satya yang artinya berkata jujur; (4) awyawaharika yang artinya tidak bertengkar; (5) astainya artinya tidak berniat jahat kepada milik orang lain. Tidak berbeda dengan Yama Brata, ajaran Niyama Brata juga diklasifikasikan menjadi lima yaitu (1) akrodha yang artinya tidak marah; (2) guru susrusa yang artinya berbakti kepada guru; (3) sauca yang artinya selalu memuja Bhatara Siwa dengan penuh kesucian; (4) aharalagawa yang artinya puas dengan apa yang dimakan; (5) apramadha yang artinya tidak lalai dengan nasihat guru.

Ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Ida Padanda Nabe di atas terutama dalam hal brata, yoga, dan tapa tampaknya dilakukan dengan penuh dedikasi oleh Ida Padanda Made Sidemen. Oleh sebab itu, seorang pendeta bergelar Ida Padanda Putra dari Geria Puseh, Intaran, Sanur mengarang sebuah karya sastra kakawin yang dipersembahkan kepada Ida Padanda Made Sidemen dengen judul Kakawin Sang Wrĕddha Pandita Subrata [seorang pendeta senior yang teguh dalam pelaksanaan brata] (Agastia, 1987: 162). Memang Ida Padanda Made Sidemen dalam Geguritan Salampah Laku juga menekankan pentingnya pelaksanaan brata oleh seseorang yang ingin mengubah yoni atau sifat-sifat yang melekat dalam kelahirannya. Beliau menyatakan dados yonine gĕntosin, mangde ri wĕkasan janma, tapa brata denya kukuh, matatakan dharma satya, tri kaya rĕko brĕsihin, sagawa tan kasalimur, rajah tamahe wus mari.  

Pasca menerima pelajaran dari Ida Padanda Nabe di Gria Mandara-Sidemen, Ida Padanda Made Sidemen melanjutkan perjalanan pulang ke Sanur. Perjalanan yang ditempuh untuk tiba di Sanur melalui Klungkung melewati Masceti. Fragmen Geguritan Salampah Laku yang menceritakan kepulangan Ida Padanda Made Sidemen ke Sanur inilah yang memuat kunci produktivitas beliau dalam bersastra.

Hana brata rahina tan suptā-turu, suptaning tĕtĕp inapti, sakĕdap denya awungu, sabhranyā-lungguh anulis, ring sawah nurat asing nggon. [Geguritan Salampah Laku, Puh Megatruh, 9].

Terjemahan.

Ada brata siang hari tidak tidur, tidur tetap dilakukan, sekejap lalu terbangun, di manapun-duduk menulis, di sawah, menulis di semua tempat.

Petikan karya sastra di atas cukup memberikan jawaban di balik produktivitas Ida Padanda Made Sidemen dalam proses kreatif menulis karya sastra dan menyalin naskah lontar. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh IBG Agastia (2008) masa produktif Ida Padanda Made Sidemen diperkirakan dari antara tahun 1938 s.d. 1948. Memang sangat mengagumkan bahwa dalam masa sepuluh tahun itu beliau telah melahirkan karya-karya sastradengan berbagai bentuk: sebuah karya sastra prosa yangbesar (Siwagama atau Purwagama Sasana), tujuh buahkakawin (Cayadijaya, Candra Bherawa, Singhalanggyala,Kalpha Sanhara, Kalepasan, Manuk Dadali, dan PurwaningGunung Agung), dua sastra kidung (Rangsang, dan PisacaHarana), sebuah geguritan (Salampah Laku); dan mungkin masih ada karya sastra lain yang belum teridentifikasi. Di samping menulis karya sastra, beliau juga aktif menyalin pustaka-pustaka lontar penting dalam peradaban batin Bali. Hasil katalogisasi naskah yang dilakukan oleh Tim Balai Bahasa Bali menunjukkan beliau menyalin sekitar 142 (Suamba, 2016: 340-344).

Jumlah karya sastra dan salinan lontar yang banyak dan berkualitas seperti yang diuraikan di atas ternyata dilatarbelakangi oleh sikap hidup dengan landasan brata. Brata atau janji diri yang beliau terapkan salah satunya adalah tan supta rahina yang bermakna tidak tidur pada siang hari. Jikapun tidur, hal itu hanya dilakukan sebentar lalu sadar atau terjaga lagi [Hana brata rahina tan suptā-turu, suptaning tĕtĕp inapti, sakĕdap denya awungu]. Brata tidak tidur pada siang hari itu adalah usaha untuk memuliakan Matahari yang tengah bekerja menyinari alam semesta. Matahari secara spiritual juga perwujudan Siwa di dunia, sebagaimana seluruh pendeta menyambut singsingan fajar beliau di pagi hari melalui surya sewana. Sinar yang terpancar darinya secara langsung maupun melalui bulan menjadi penanda waktu dunia. Ia juga adalah saksi agung kehidupan dan kematian yang tidak akan pernah dikelabuhi oleh siapapun. Dengan tidak tidur atau tidur sebentar, setiap individu dapat mengisi harinya dengan penuh. Di titik ini, kita merasa bahwa brata yang diterapkan oleh Ida Padanda Made Sidemen mendorong etos setiap insan untuk mengisi waktu secara maksimal dengan bekerja sesuai swadharma.

Jenis pekerjaan itu tentu beragam sesuai dengan profesi yang digeluti masing-masing. Akan tetapi, bagi Ida Padanda Made Sidemen, brata untuk tidak tidur itu digunakan untuk melakukan satu aktivitas yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai bekerja untuk keabadian yaitu menulis. Proses menulis yang dilakoni oleh Ida Padanda Made Sidemen dapat dikatakan melampaui ruang. Sebab beliau menulis di manapun beliau duduk, tidak peduli ruang itu adalah areal persawahan sekalipun. Beliau menyatakan bawah dirinya menulis di semua tempat dengan ungkapan anurat asing nggon. Dengan menulislah, Ida Padanda Made Sidemen memuja Saraswati dalam laku keseharian yang diyakini berstana dalam rangkaian aksara. Berbeda dengan masyarakat saat ini, yang memuja Saraswati saban enam bulan sekali meskipun dalam keseharian proses membaca dan menulis tidak pernah dilakukan. Sesuatu yang sangat ironis. 

Satu hal yang penting dari konsep pemikiran Ida Padanda Made Sidemen tentang menulis di semua tempat atau anurat asing nggon berkaitan erat dengan wacana literasi yang dibumikan pemerintah saat ini. Di tengah-tengah pusaran wacana untuk mendorong gerakan literasi anak bangsa, konsep menulis yang ditawarkan oleh Ida Padanda Made Sidemen tersebut menjadi wacana aktual untuk direnungkan. Daya literasi yang berarti peningkatan kuantitas dan kualitas membaca anak-anak bangsa tentu tidak akan tercapai apabila ketersediaan sumber literasi kita masih kering. Sumber literasi yang dimaksud tidak hanya terbatas pada bahan literasi berbahasa Indonesia dan berhuruf Latin, tetapi juga berbahasa dan beraksara daerah.

Seperti yang telah jamak diketahui bahwa Indonesia adalah ‘sarang hidup’ sekitar 652 bahasa daerah menurut catatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa RI tahun 2018. Dari jumlah tersebut, terdapat 11 aksara daerah yang masih digunakan sebagai wahana tulis masyarakat di tingkat daerah. Kepada siapakah jaminan hidup bahasa dan aksara daerah itu mesti digantungkan dalam arus kepunahan sejumlah bahasa daerah di kawasan Indonesia Timur? Jawabannya bisa dipalingkan kepada pemerintah maupun dipulangkan pada diri sendiri. Akan tetapi, apabila kita bertanya kepada Ida Padanda Made Sidemen, salah satu jawaban yang telah beliau sediakan kepada kita adalah konsep nurat asing nggon atau menulis di semua tempat. Menulis merupakan keterampilan yang berdialektika dengan membaca. Untuk menghasilkan anak bangsa yang mampu membaca dengan kritis berbagai informasi yang diterimanya, Ida Padanda Made Sidemen menawarkan konsep “menulis di semua tempat”.

Dari tangan Ida Padanda Made Sidemen kita telah mewarisi sumber-sumber literasi yang penting dibaca oleh anak negeri. Untuk mengetahui hakikat ajaran Siwa-Buddha Nusantara yang dipraktikkan di Bali, sumber literasi yang telah beliau siapkan adalah Siwabuddhagama. Tidak hanya itu, aspek teohistoris keberadaan gunung-gunung di Bali sebagai sumber literasi telah beliau tulis dalam Kakawin Purwaning Gunung Agung. Demikian pula untuk mengetahui hakikat yoga sanyasa dan karma sanyasa sebagai inti penunggalan ajaran Siwa-Buddha dapat ditelusuri dalam karya sastra Kakawin Candra Bhairawa. Di samping itu, untuk mendalami spektrum pengembangan ajaran panca tantra di Indonesia khususnya di Bali, para peminat sastra telah disediakan sumber literasi berjudul Tantri Pisacaharana yang menarasikan salampah laku Prabhu Aji Dharma. Segayut dengan hal itu, kisah-kisah yang bertalian dengan kehancuran zaman dapat ditemukan dalam sumber literasi Kakawin Kalpa Sanghara. Suluh tentang nilai-nilai kepemimpinan juga telah beliau wariskan dalam Kakawin Cayadijaya dan Singghalangghyala. Sampai pada sumber literasi untuk mendapatkan pembebasan akhir dari lingkaran samsara hidup, Ida Padanda Made Sidemen telah mempersiapkan Kakawin Panglepasan.

Sumber-sumber literasi Bali yang telah diwariskan oleh Ida Padanda Made Sidemen cukup untuk bekal hidup dan sangu pati. [T]


[1] Sumber lain menyebutkan Gerya Somawati. Lihat I.B.M. Dharma Palguna, Ida Pedanda Ngurah: Pengarang Besar Bali Abad ke-19 (Denpasar: Yayasan Dharma Sastra, 1998), hal. III

Tags: Ida Pedanda Made Sidemenkawisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keris Pencok Sahang dan Karier Kepemimpinan Dalem Dukut di Nusa Penida

Next Post

Puisi-puisi Iyut Fitra | hari tua sebuah kelewang

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Iyut Fitra | hari tua sebuah kelewang

Puisi-puisi Iyut Fitra | hari tua sebuah kelewang

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co