25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Iyut Fitra | hari tua sebuah kelewang

Iyut Fitra by Iyut Fitra
December 5, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Iyut Fitra | hari tua sebuah kelewang

Salah satu karya pada pameran seni rupa di Undiksha Singaraja, Januari 2020

hari tua sebuah kelewang

kelewang itu tergeletak di tepi sungai. telah lama
bekas darah di tubuhnya mengering. bahkan ada yang mengeras dan hitam
ia ingin membasuhnya. berharap diri kembali menjadi sediakala
kilat dan berkilau. bersih tak berlunau
tersangkut di dinding. tidak terlibat sengketa dan huru-hara
satu-satunya rindu yang kurawat adalah tentang kedamaian, gumamnya
pada air yang mengalir
tapi sungai di hadapannya tertawa. sinis dan tidak percaya

dengan perih ia ungkit ingatan itu. bila hari telah beranjak malam
rombongan menuju parak-parak tepi sungai. atau sumur di ladang tebu
perintah dengan bermacam isyarat. sergah dalam ragam bahasa
saat itu ia tak sendiri
celurit, parang, badik (dan mungkin pelor) juga telah menunggu
merih-merih pasrah tiada berdaya. merih-merih menanti ajal tiba
lalu di sepanjang sungai mayat-mayat tanpa kepala mengambang
sebagian dengan paras tersenyum. selebihnya mungkin mengumbar dendam
kemudian dari jauh terlihat api berkobar. seolah menyempurnakan sebuah pesta

begitu setiap malam. pada bulan-bulan kelam
ia pergi dan kembali dini hari
kadang tak sempat menyelesaikan airmata
karena mayat-mayat yang mengambang tanpa kepala adalah saudara
atau tetangga
sudah lama aku ingin melupakan. tapi bayangan-bayangan terus mengejar,
isaknya pada hari-hari tersisa yang tak lagi bermakna

kelewang itu tergeletak di tepi sungai. telah lama

mesin ketik

dalam sebuah gudang. di antara kardus-kardus, mainan rusak,
baju usang, dan tumpukan kertas. ia tertimbun kesunyian
melawan dingin dan jaring laba-laba. lama ia tak lagi berketak-ketik
teronggok bagai bangkai-bangkai tak berkutik
telah aku antarkan ribuan kata. bahkan bertimbun-timbun kata
bila arti tak sampai mengapa aku yang dipenjara? ucapnya satu ketika
bersamaan dengan huruf-huruf yang berloncatan. menggelembung di udara
menjelma kias. membentuk sayap-sayap
lalu menerbangkan barisan kalimat menuju bahasa

bahasa yang kemudian menjulur ke jalan-jalan. membangun poster
dan slogan-slogan. adalah kelahiran yang tak pernah ia harapkan
ia ingat satu ketika. sebelum perayaan perpisahan dengan selembar kertas
mereka pernah bersepakat pada sebuah pepatah
lalu menulisnya bersama; yang baik-baik dipegang mati,
yang buruk-buruk dibuang jauh
kata yang dicetak miring itu melambai-lambai sepanjang angkasa
menidurkan umur demi umur. mendewasakan ribuan para pejalan

tapi semenjak ia terkurung di gudang itu. semuanya menjadi liar
huruf-huruf, kata, kalimat, bahasa yang membentuk pepatah
semua berpanjatan menuju dinding-dinding
memeluk apartemen, gedung, kantor-kantor pemerintah, lalu bersekongkol
untuk menumpahkan darah dan airmata

mesin ketik itu memangil-manggil kertas
ia ingin menuliskan sesuatu: anak harimau bila sudah besar pun
tetaplah harimau

jalan tan malaka

entah sejak bila aku diberi nama tan malaka, kata plang nama jalan itu
dari simpang bunian ia bayangkan sebuah perjalanan panjang ke pandam gadang
pada satu kalender ketika tabungan demi tabungan diiurkan
maka sungai yang dilintasi akan bersaksi
batu-batu siap sebagai penarung. duri sikejut terhampar kembang kuncup
ditujulah bukittingi setelah kereta meninggalkan stasiun suliki
lalu sepanjang itu buku-buku berceceran
sepanjang itu pula berbagai ilmu dilipatkan
kamar kos. trotoar menuju kampus
hari-hari yang panjang. noni-noni bermantel dingin melintas riang
pertempuran dan kemerdekaan
sampai pada lagu-lagu orang diburu. aku hanya mendengar kisah itu

lalu mengapa namaku tan malaka, bukankah itu sebuah nama yang angkuh?
tanya plang nama jalan itu, kepada sejarah yang berbaris
sejarah yang kadang dicurigai juga. warnanya barangkali merah
di sebelahnya kandang oto gagak hitam dan sinar riau menyimpan gelak
melihat beban yang dipikul plang itu
kadang ada yang lewat seraya bermata sabak
kadang ada sekedar berfoto lalu menulis entah apa
kadang ada yang bermata sabak itu berfoto sambil hormat sembunyi-sembunyi
mengenang atau berbasa-basi

mestikah namamu ellias fuentes, estahislau rivera, alisio rivera
sebagaimana cerita-cerita revolusi itu
atau ilyas husein, ong song lee, tan ming sion, hasan gozali?
tanya sebuah spanduk usang yang terbentang membelah jalan
satu talinya lepas tergujai-gujai. huruf yang tertera pun sudah tergerajai
serupa nama-nama asing yang ia sebut dengan terbata

plang jalan itu bergeming
menatap jauh sejauh pandang ke pandam gadang
sebuah rumah tua, kolam, dan surau. tak ada buku-buku itu di sana
selain barisan lengang di antara tebing dan lembah
seolah segala sesuatu tak pernah ada
oto dan onda lalu begitu saja. meninggalkan bising dan desing
kenangan bunyi peluru

sungguh berat menyandang namamu, tan, kata plang itu

jam kuning gading

mengapa kau berjalan terlalu lamban, tanya jarum panjang
pada jarum pendek. suatu masa ketika hujan dan angin kencang
pintu-pintu ditutup. suara sirene
dari jendela wabah terus mengintip. tak sekalipun berkedip
jam itu berwarna kuning gading. sejak kapan jarum panjang dan jarum pendek
berumah di situ, tak ada yang tahu
aku justru merasa lebih cepat dari langkahmu. dari setiap hela napas
kita begitu saja menjadi tua dan saling menunggu
tidakkah kaulihat di udara setiap hari pesan-pesan keberangkatan berterbangan
tak menanti detak-detik kita
entah berapa lama sudah keinginan terkepung
loteng, lukisan hitam putih di dinding, karpet lembab,
dan sebuah gitar usang yang terbengkalai. semua menatap atau berharap
karena gerak kita adalah usia

sekali waktu aku ingin berhenti, gumam jarum pendek
tetapi matahari selalu terbit
semuanya tiba-tiba bergegas entah ke mana. adakah menuju abadi
atau hanya sekedar hidup yang pura-pura

sekali waktu aku ingin kita jalan bersisian, balas jarum panjang
bersama-sama membantah waktu yang memaksa
agar memberi kita jeda untuk berdoa

dan pada suatu waktu rindu mereka pun bertemu
jarum pendek dan jarum panjang itu berpelukan. berhimpitan
mereka bercerita tentang rasa cemas, hujan, dan angin kencang
tentang sirene dan wabah yang terus mengintip
tunggu aku, tunggu aku, teriak jarum pendek ketika jarum panjang
kembali meninggalkan
tapi sesungguhnya mereka sama-sama menuju kematian

sebuah buku pada hari pembakaran

bersama tumpukan yang lain ia telah diculik terang-terangan
kejadian yang berulang. barangkali telah beralaf-alaf lamanya
tembakan artileri. bom yang merubuhkan gedung-gedung
atau luas lapang tempat pembakaran. bagai kesunyian yang tersimpan
dalam brangkas dingin. di antara rak-rak yang bersedih
malam itu di sela gugu burung hantu. sebuah tempat penyelesaian
ia menekur. tanpa rasa takluk dan tunduk
mendekap kata-kata dan alinea. gambar-gambar maupun sketsa
dingin berangin-angin
di depannya hantu berseragam kekuasaan, senjata laras panjang, bahkan panser
berbaris tanpa perkabungan

lembar-lembar yang gempal. halaman ingatan yang dituduh merecoki
membuka liang-liang sejarah. gua rahasia yang menyibak aib dunia
kucatatkan semua. kusimpan sebagaimana mereka menggilai kasih sayang
jika hari ini harus bertekuk
menerima akibat dari huruf-huruf. bukankah penghancuran buku serupa menutup
payung langit. unta-unta akan berjalan di dalam kelam
katanya menatap cakrawala
ia tak berdoa. tapi ia merasa bahagia

bunga api menari-nari di angkasa
kertas-kertas menghitam juga menari
tarian yang kemudian membentuk lubang-lubang aneh
lubang di kepala-kepala yang kosong
di bumi yang kosong

pada hari yang barangkali tak perlu dicatat. seketika ia ingat kota-kota
tempat aksara demi aksara menjadi abu. menjadi beku
pelan-pelan membunuh segala masa lalu

_____

KLIK PUISI-PUISI LAINNYA

Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS | Jatuh Cinta, Sesungguhnya Sunyi
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nurat Asing Gon : Kunci Produktivitas Ida Padanda Made Sidemen dalam Bersastra

Next Post

Cinta yang Tak Menua | Cerpen Yahya Umar

Iyut Fitra

Iyut Fitra

Lahir di Payakumbuh 16 Februari. Karya-karyanya dalam bentuk puisi dan cerpen telah diterbitkan di berbagai media. Ia mendapatkan Anugerah Sastra dari Balai Bahasa Padang tahun 2009 sebagai pegiat yang telah berjasa membina dunia sastra dan penulisan kreatif di Sumatra Barat. Kini aktif di Komunitas Seni INTRO Payakumbuh.

Related Posts

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails
Next Post
Cinta yang Tak Menua | Cerpen Yahya Umar

Cinta yang Tak Menua | Cerpen Yahya Umar

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co