25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Iyut Fitra | hari tua sebuah kelewang

Iyut Fitra by Iyut Fitra
December 5, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Iyut Fitra | hari tua sebuah kelewang

Salah satu karya pada pameran seni rupa di Undiksha Singaraja, Januari 2020

hari tua sebuah kelewang

kelewang itu tergeletak di tepi sungai. telah lama
bekas darah di tubuhnya mengering. bahkan ada yang mengeras dan hitam
ia ingin membasuhnya. berharap diri kembali menjadi sediakala
kilat dan berkilau. bersih tak berlunau
tersangkut di dinding. tidak terlibat sengketa dan huru-hara
satu-satunya rindu yang kurawat adalah tentang kedamaian, gumamnya
pada air yang mengalir
tapi sungai di hadapannya tertawa. sinis dan tidak percaya

dengan perih ia ungkit ingatan itu. bila hari telah beranjak malam
rombongan menuju parak-parak tepi sungai. atau sumur di ladang tebu
perintah dengan bermacam isyarat. sergah dalam ragam bahasa
saat itu ia tak sendiri
celurit, parang, badik (dan mungkin pelor) juga telah menunggu
merih-merih pasrah tiada berdaya. merih-merih menanti ajal tiba
lalu di sepanjang sungai mayat-mayat tanpa kepala mengambang
sebagian dengan paras tersenyum. selebihnya mungkin mengumbar dendam
kemudian dari jauh terlihat api berkobar. seolah menyempurnakan sebuah pesta

begitu setiap malam. pada bulan-bulan kelam
ia pergi dan kembali dini hari
kadang tak sempat menyelesaikan airmata
karena mayat-mayat yang mengambang tanpa kepala adalah saudara
atau tetangga
sudah lama aku ingin melupakan. tapi bayangan-bayangan terus mengejar,
isaknya pada hari-hari tersisa yang tak lagi bermakna

kelewang itu tergeletak di tepi sungai. telah lama

mesin ketik

dalam sebuah gudang. di antara kardus-kardus, mainan rusak,
baju usang, dan tumpukan kertas. ia tertimbun kesunyian
melawan dingin dan jaring laba-laba. lama ia tak lagi berketak-ketik
teronggok bagai bangkai-bangkai tak berkutik
telah aku antarkan ribuan kata. bahkan bertimbun-timbun kata
bila arti tak sampai mengapa aku yang dipenjara? ucapnya satu ketika
bersamaan dengan huruf-huruf yang berloncatan. menggelembung di udara
menjelma kias. membentuk sayap-sayap
lalu menerbangkan barisan kalimat menuju bahasa

bahasa yang kemudian menjulur ke jalan-jalan. membangun poster
dan slogan-slogan. adalah kelahiran yang tak pernah ia harapkan
ia ingat satu ketika. sebelum perayaan perpisahan dengan selembar kertas
mereka pernah bersepakat pada sebuah pepatah
lalu menulisnya bersama; yang baik-baik dipegang mati,
yang buruk-buruk dibuang jauh
kata yang dicetak miring itu melambai-lambai sepanjang angkasa
menidurkan umur demi umur. mendewasakan ribuan para pejalan

tapi semenjak ia terkurung di gudang itu. semuanya menjadi liar
huruf-huruf, kata, kalimat, bahasa yang membentuk pepatah
semua berpanjatan menuju dinding-dinding
memeluk apartemen, gedung, kantor-kantor pemerintah, lalu bersekongkol
untuk menumpahkan darah dan airmata

mesin ketik itu memangil-manggil kertas
ia ingin menuliskan sesuatu: anak harimau bila sudah besar pun
tetaplah harimau

jalan tan malaka

entah sejak bila aku diberi nama tan malaka, kata plang nama jalan itu
dari simpang bunian ia bayangkan sebuah perjalanan panjang ke pandam gadang
pada satu kalender ketika tabungan demi tabungan diiurkan
maka sungai yang dilintasi akan bersaksi
batu-batu siap sebagai penarung. duri sikejut terhampar kembang kuncup
ditujulah bukittingi setelah kereta meninggalkan stasiun suliki
lalu sepanjang itu buku-buku berceceran
sepanjang itu pula berbagai ilmu dilipatkan
kamar kos. trotoar menuju kampus
hari-hari yang panjang. noni-noni bermantel dingin melintas riang
pertempuran dan kemerdekaan
sampai pada lagu-lagu orang diburu. aku hanya mendengar kisah itu

lalu mengapa namaku tan malaka, bukankah itu sebuah nama yang angkuh?
tanya plang nama jalan itu, kepada sejarah yang berbaris
sejarah yang kadang dicurigai juga. warnanya barangkali merah
di sebelahnya kandang oto gagak hitam dan sinar riau menyimpan gelak
melihat beban yang dipikul plang itu
kadang ada yang lewat seraya bermata sabak
kadang ada sekedar berfoto lalu menulis entah apa
kadang ada yang bermata sabak itu berfoto sambil hormat sembunyi-sembunyi
mengenang atau berbasa-basi

mestikah namamu ellias fuentes, estahislau rivera, alisio rivera
sebagaimana cerita-cerita revolusi itu
atau ilyas husein, ong song lee, tan ming sion, hasan gozali?
tanya sebuah spanduk usang yang terbentang membelah jalan
satu talinya lepas tergujai-gujai. huruf yang tertera pun sudah tergerajai
serupa nama-nama asing yang ia sebut dengan terbata

plang jalan itu bergeming
menatap jauh sejauh pandang ke pandam gadang
sebuah rumah tua, kolam, dan surau. tak ada buku-buku itu di sana
selain barisan lengang di antara tebing dan lembah
seolah segala sesuatu tak pernah ada
oto dan onda lalu begitu saja. meninggalkan bising dan desing
kenangan bunyi peluru

sungguh berat menyandang namamu, tan, kata plang itu

jam kuning gading

mengapa kau berjalan terlalu lamban, tanya jarum panjang
pada jarum pendek. suatu masa ketika hujan dan angin kencang
pintu-pintu ditutup. suara sirene
dari jendela wabah terus mengintip. tak sekalipun berkedip
jam itu berwarna kuning gading. sejak kapan jarum panjang dan jarum pendek
berumah di situ, tak ada yang tahu
aku justru merasa lebih cepat dari langkahmu. dari setiap hela napas
kita begitu saja menjadi tua dan saling menunggu
tidakkah kaulihat di udara setiap hari pesan-pesan keberangkatan berterbangan
tak menanti detak-detik kita
entah berapa lama sudah keinginan terkepung
loteng, lukisan hitam putih di dinding, karpet lembab,
dan sebuah gitar usang yang terbengkalai. semua menatap atau berharap
karena gerak kita adalah usia

sekali waktu aku ingin berhenti, gumam jarum pendek
tetapi matahari selalu terbit
semuanya tiba-tiba bergegas entah ke mana. adakah menuju abadi
atau hanya sekedar hidup yang pura-pura

sekali waktu aku ingin kita jalan bersisian, balas jarum panjang
bersama-sama membantah waktu yang memaksa
agar memberi kita jeda untuk berdoa

dan pada suatu waktu rindu mereka pun bertemu
jarum pendek dan jarum panjang itu berpelukan. berhimpitan
mereka bercerita tentang rasa cemas, hujan, dan angin kencang
tentang sirene dan wabah yang terus mengintip
tunggu aku, tunggu aku, teriak jarum pendek ketika jarum panjang
kembali meninggalkan
tapi sesungguhnya mereka sama-sama menuju kematian

sebuah buku pada hari pembakaran

bersama tumpukan yang lain ia telah diculik terang-terangan
kejadian yang berulang. barangkali telah beralaf-alaf lamanya
tembakan artileri. bom yang merubuhkan gedung-gedung
atau luas lapang tempat pembakaran. bagai kesunyian yang tersimpan
dalam brangkas dingin. di antara rak-rak yang bersedih
malam itu di sela gugu burung hantu. sebuah tempat penyelesaian
ia menekur. tanpa rasa takluk dan tunduk
mendekap kata-kata dan alinea. gambar-gambar maupun sketsa
dingin berangin-angin
di depannya hantu berseragam kekuasaan, senjata laras panjang, bahkan panser
berbaris tanpa perkabungan

lembar-lembar yang gempal. halaman ingatan yang dituduh merecoki
membuka liang-liang sejarah. gua rahasia yang menyibak aib dunia
kucatatkan semua. kusimpan sebagaimana mereka menggilai kasih sayang
jika hari ini harus bertekuk
menerima akibat dari huruf-huruf. bukankah penghancuran buku serupa menutup
payung langit. unta-unta akan berjalan di dalam kelam
katanya menatap cakrawala
ia tak berdoa. tapi ia merasa bahagia

bunga api menari-nari di angkasa
kertas-kertas menghitam juga menari
tarian yang kemudian membentuk lubang-lubang aneh
lubang di kepala-kepala yang kosong
di bumi yang kosong

pada hari yang barangkali tak perlu dicatat. seketika ia ingat kota-kota
tempat aksara demi aksara menjadi abu. menjadi beku
pelan-pelan membunuh segala masa lalu

_____

KLIK PUISI-PUISI LAINNYA

Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS | Jatuh Cinta, Sesungguhnya Sunyi
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nurat Asing Gon : Kunci Produktivitas Ida Padanda Made Sidemen dalam Bersastra

Next Post

Cinta yang Tak Menua | Cerpen Yahya Umar

Iyut Fitra

Iyut Fitra

Lahir di Payakumbuh 16 Februari. Karya-karyanya dalam bentuk puisi dan cerpen telah diterbitkan di berbagai media. Ia mendapatkan Anugerah Sastra dari Balai Bahasa Padang tahun 2009 sebagai pegiat yang telah berjasa membina dunia sastra dan penulisan kreatif di Sumatra Barat. Kini aktif di Komunitas Seni INTRO Payakumbuh.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Cinta yang Tak Menua | Cerpen Yahya Umar

Cinta yang Tak Menua | Cerpen Yahya Umar

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co