6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tips Mensyukuri Hidup yang (Mungkin) Berbahaya

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
August 7, 2021
in Esai
Tips Mensyukuri Hidup yang (Mungkin) Berbahaya

Ilustrasi tatkala.co | Nata Kusuma

Kecemasan atau ke-tidakpede-an terhadap diri sendiri (insecurity) semakin menjadi topik yang hangat dewasa ini terutama bagi kaum muda. Entahlah, mungkin ada juga kaum orang tua yang merasakan insecurity ini.

Siapapun itu, perasaan cemas terhadap diri sendiri sangatlah wajar terjadi. Akan tetapi, di masa ini kecemasan tersebut seolah mudah sekali untuk terjadi. Tentu hal ini dipicu oleh beberapa faktor yang, salah satunya adalah kemajuan teknologi.

Hadirnya media sosial menjadi pemicu utama atas terjadinya rasa insecure di kalangan anak muda. Media sosial kerap menjadi media dengan momok terbesar bagi mereka yang memiliki tingkat ke-pede-an yang rendah dalam diri mereka.

Ini dikarenakan seluruh hal yang terunggah di media sosial kini sangatlah beragam dan “menggila” tanpa batas. Orang-orang bisa mengunggah hal mulai dari kegiatan mereka sehari-hari, aktifitas hangout, pamer barang baru, aktifitas seru bersama pasangan bahkan pamer proses glow up tubuh mereka dari yang dulunya gendut sampai sekarang sudah mencapai body goals.

Tentu, tidak ada yang salah dengan apa yang mereka unggah karena itu merupakan hak setiap orang.

Hanya saja, terkadang tanpa kita sadari sesuatu yang kita unggah di media sosial memiliki dampak yang signifikan terhadap orang lain baik secara langsung maupun tak langsung. Itulah mengapa, banyak orang yang berkata untuk berhati-hatilah atas apa yang kamu unggah di media sosial karena hal tersebut bisa saja merugikan diri sendiri dan  atau orang lain.

Nah, pastinya kita tak bisa menyuruh terlebih membatasi seseorang untuk hal yang ingin mereka unggah. Maka, di sinilah kita sendiri yang harus membiasakan serta menguatkan diri agar tidak mudah merasa rendah diri atas kehidupan orang lain yang terunggah di media sosial.

Berikut adalah tips yang akan saya berikan kepada para pembaca tentang cara mensyukuri hidup yang (mungkin) akan jadi berbahaya apabila tips ini disalahgunakan. Tips ini sebenarnya sudah sering disampaikan dari mulut ke mulut dan sudah lumrah terjadi ditengah masyarakat.

Di sini, saya hanya mempertegasnya kembali dan menambahkan sedikit penjelasan terkait hal ini. Tips mensyukuri hidup yang saya maksud di sini erat kaitannya dengan mind-set atau pola pikir.

Nah, agar bisa menjalankan tips ini dengan baik terlebih dahulu seseorang harus mematangkan mind-set nya untuk bisa memandang sesuatu sebagaimana yang akan saya jelaskan nanti.

Baiklah, tanpa berlama-lama lagi ini adalah tips mensyukuri hidup yang (mungkin) berbahaya yaitu:

“Pahamilah bahwa setiap orang memiliki kekurangan dalam hidup mereka yang tidak mereka unggah/ceritakan”.

Bagaimana tips dari saya kali ini? Terdengar biasa saja bukan? Memang, ini hanyalah ucapan biasa yang mungkin sudah sering pembaca dengar entah dari orang tua atau mungkin teman sejawat. Tetapi, tips ini sudah mampu membantu saya mengurangi insecurity dalam diri saya setidaknya hingga 80%.

Bagaimana caranya? Jadi begini, saya pun adalah orang yang memiliki banyak insecurity dalam diri saya apalagi saat melihat orang-orang di sekeliling saya lebih baik, lebih sukses daripada diri saya (setidaknya, saya merasakan demikian).

Namun, belakangan ini saya kerap melihat berbagai pemberitaan di media massa dan atau media elektronik tentang kasus perceraian, pembunuhan, narkoba, kriminalitas dan lain-lain yang notabene berasal dari public figure yang kehidupannya saya anggap sudah bahkan sangat sempurna.

Kita ambil saja salah satu contoh kasus yang masih hangat dari seorang public figure yakni Nia Ramadhani. Seperti yang kita semua tahu bahwa Nia adalah seorang artis dan juga istri dari seorang pengusaha ternama. Tentunya, harta bukan lagi permasalahan besar bagi Nia dan suaminya.

Hidup mereka terlihat sempurna di mata publik hingga akhirnya mereka terjerat kasus penggunaan narkoba yang isunya disebabkan oleh kejenuhan mereka menghadapi situasi pandemi seperti ini.

Berangkat dari hal ini, saya percaya bahwa orang yang kita inginkan atau iri-kan kesempurnaan hidupnya pun sesungguhnya memiliki permasalahan mereka sendiri yang mungkin saja mereka menganggap itu sebagai kekurangan mereka dan memilih untuk tidak menunjukkannya ke hadapan khalayak ramai.

Sekarang, mari kita tarik contohnya lebih dekat ke lingkungan di sekitar kita. Sebelumnya, saya mohon maaf jika contoh kali ini menyinggung beberapa dari para pembaca.

Saya memiliki seorang kolega yang secara karir terbilang sudah menjanjikan. Benar, beliau adalah seorang PNS. Sebuah pekerjaan yang hingga saat ini sangat diminati oleh masyarakat pada umumnya.

Tak banyak orang bisa lulus tes CPNS pada kali pertama mencoba. Namun tidak dengan kolega saya yang langsung lolos CPNS saat kali pertama mencobanya. Tentu, hal ini sangat didambakan oleh orang lain dan menganggap kolega saya tersebut adalah orang yang sangat beruntung dan kini kehidupannya telah terjamin.

Tetapi di sisi lain hingga 10 tahun lebih usia pernikahannya, ia belum juga dikaruniai seorang anak. Anak tentunya merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagi mereka yang telah menikah terlebih bagi mereka yang sangat mendambakan kehadirannya di tengah keluarga. Mungkin, Tuhan belum mengizinkan rezeki tersebut datang pada kolega saya.

Contoh lain saya ambil dari masa saya berkuliah dulu. Saya adalah tipe orang yang santai, cenderung ceroboh dalam mengerjakan sesuatu namun selalu bisa menyelesaikan segala tugas yang diberikan kepada saya dengan baik. Saya selalu ingin menjadi seperti salah seorang teman sekelas saya yang sangat pintar dan disiplin dalam mengerjakan segala tugas-tugasnya.

“Jadi dia mah enak, apa aja pasti cepet selesai,” begitu pikir saya.

Hingga sebuah diskusi bersamanya mengubah cara pandang saya terhadap teman saya tersebut. Suatu hari, kami berkeluh kesah tentang tugas individu yang baru saja kami kumpulkan.

“Eh, aku pengen deh punya jiwa santai dalam dirimu itu,” celetuk teman saya

“Maksudnya?” tanya saya bingung

“Iya soalnya aku orangnya tu tegang banget dan kadang lama buat ngerjain sesuatu karena kelamaan mikir. Pengen aja gitu tugasnya itu dibawa santai biar aku juga bisa nikmatin hal lain. Gak sampe berjam-jam mengurung diri dalam kamar” jawab teman saya

Benar, curhatan teman saya itu mengubah sedikit tidaknya cara pandang saya dalam melihat diri sendiri. Saya yang sebelumnya merasa bahwa diri ini tidak ada apa-apanya, ternyata ada seseorang yang secara diam-diam menginginkan salah satu karakter dalam diri saya yaitu sikap santai yang saya miliki (ya meskipun hanya itu yang diinginkan teman saya dari diri saya tetapi hey! Itu artinya saya spesial dimata seseorang kan?)

Cerita tentang kolega saya yang karirnya PNS namun tak kunjung memiliki anak hingga lebih dari 10 tahun dan cerita tentang teman kuliah saya yang pintar namun menginginkan agar bisa lebih santai dalam menjalani hidup seperti saya membuat saya semakin yakin bahwa bahwa setiap orang memiliki kekurangan dalam hidup mereka yang tidak mereka unggah/ceritakan kepada orang lain.

Di saat kita membanggakan orang lain atas kesuksesan yang mereka miliki entah itu punya rumah/mobil baru, punya bentuk tubuh yang sempurna, punya karir yang cemerlang dan lain-lain, di saat yang sama yakinlah bahwa di balik itu semua ada sebuah kekurangan yang mereka sembunyikan dan tidak mereka ceritakan pada siapapun.

Lalu, percayalah bahwa disekelilingmu bisa saja ada seseorang yang sedang mendambakan sesuatu dalam dirimu yang mungkin mereka tak miliki dalam diri mereka dan bisa saja seseorang tersebut adalah dia, orang yang kau banggakan selama ini.

Haha, memang kunci dalam pola pikir seperti ini adalah ke-GR-an atau kepercayaan diri yang tinggi. Terlepas dari benar atau tidaknya ada seseorang yang sedang mengagumi kita diam-diam dan terlepas dari ada atau tidaknya kekurangan yang disembunyikan oleh mereka yang kita kagumi, hal-hal tersebut biarkanlah tetap menjadi “imajinasi” kita saja agar kita bisa tetap mensyukuri apa yang diri kita miliki dan tidak mudah membanding-bandingkan diri dengan orang lain sehingga kita tidak mudah merasa insecure.

Nah, mengapa pola pikir atau tips ini mungkin saja menjadi berbahaya? Hal ini bisa menjadi berbahaya terutama bagi diri sendiri apabila tips ini terlalu paten kita tanamkan dalam pikiran kita.

Kerugiannya bagi diri kita adalah kita akan menjadi pribadi yang pemalas dan pasrah akan hidup yang kita miliki karena merasa bahwa “Mereka juga pasti ada jeleknya kok. Jadi, ngapain aku repot-repot menjadi yang terbaik?”.

Dalam fase ini, kita cenderung tidak lagi ingin berproses dalam hidup. Padahal sejatinya hidup adalah tentang bersyukur juga tentang menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu sehingga kita bisa beradaptasi pada perubahan yang terjadi.

Nah, kunci daripada tips mensyukuri hidup ini adalah keseimbangan dalam melihat segala sesuatunya. Mana saat kita harus bersyukur dan bangga terhadap diri sendiri dan mana saat kita harus berbenah dan berproses menjadi lebih baik lagi.

Intinya adalah kita sesungguhnya adalah orang yang berguna dan sempurna (setidaknya lebih dari cukup agar bisa menjalani hidup setiap hari). Maka, jangan pernah berkecil hati karena hidup bukan buku katalog yang untuk dicari mana manusia yang terbaik. Terima kasih. [T]

Baca esai lain dari penulis Nata Kusuma

Tags: kehidupanrenungantips
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selamat Malam Cinta | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Next Post

Donor Darah, Kesadaran Bersaudara dari Desa Tembok

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Donor Darah, Kesadaran Bersaudara dari Desa Tembok

Donor Darah, Kesadaran Bersaudara dari Desa Tembok

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co