24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendidikan Ekokritik dalam Tiga Cerpen Pemenang Lomba Bulan Bahasa Bali III Tahun 2021

Vera Puspita Dewi by Vera Puspita Dewi
July 8, 2021
in Ulasan
Pendidikan Ekokritik dalam Tiga Cerpen Pemenang Lomba Bulan Bahasa Bali III Tahun 2021

Nuansa kelingkungan hidupan yang tercermin dalam karya-karya cerpen pemenang lomba Bulan Bahasa Bali 2021 memang dipantik oleh tema Wana Pinaka Prananing Kauripan. Tentu dalam menulis sastra penentuan tema tidak melumpuhkan kebebasan penulis untuk mengembangkan imajinasinya. Satu tema bisa berkembang menjadi banyak tulisan bahkan dihidupi oleh pengembangan-pengembangan yang tidak terduga. Dalam jenis penulisan yang lebih bakupun seperti artikel penentuan tema acapkali digunakan sebagai pengukur profesionalitas seorang penulis.

Rahardi  (2006:45-46) menyatakan bahwa penulis yang mampu mengembangkan tema apa saja dengan sama baiknya digolongkan sebagai penulis professional dengan kemampuan menulis tinggi. Baik dalam tulisan sastra maupun non sastra penetapan tema menjadi semacam stimulan. Tema ini akan menggali imajinasi maupun pandangan-pandangan yang ada pada diri masing-masing penulis mengenai suatu hal. Suatu hal yang menarik adalah Pendidikan kelingkunganhidupan kini merupakan kebutuhan mendesak. Terbukti seberapa mutakhirpun metode pembelajaran belum lengkap jika tidak memberikan ruang bagi pelestarian bumi. Manusia tidak bisa hanya hidup dari alat-alat canggih atau Gedung-gedung pencakar langit.  

Tiga cerpen yang menjadi pemenang dalam Bulan Bahasa Bali 2021 adalah Léak Ngalas karya I Putu Suweka Oka Sugiharta, Ngempi ring Alas Embid karya I Wayan Wikana, dan Madé Wana lan Klebutan ring Ulun Désa. Ketiga cerpen tersebut beserta 7 cerpen lainnya termuat dalam buku Pupulan 10 Cerpen miwah 20 Puisi Pinaka Jayanti Sajeroning Wimbakara Bulan Bahasa Bali III Warsa 2021.

Ekokritik sendiri dalam sejarahnya adalah hasil kolaborasi antara kajian kritis dan lingkungan. Upaya kritik lingkungan ini terjadi tentu diakibatkan oleh berbagai pergeseran yang terjadi di dalamnya yang diakibatkan ulah manusia. Sastra dalam hal ini memiliki ruang yang sangat luas untuk membahasakan pergeseran-pergeseran tersebut yang tidak hanya berkutat dalam data-data faktual. Sastra memiliki aspek imajinatif yang dapat berkembang dengan seluas-luasnya namun tetap terarah. Salah satu pendapat yang menjembatani itu dikemukakan Greg Garrard (2004) bahwa ekoritisme menawarkan ‘pembayangan’ dan ‘penggamabaran’ tentang hubungan manusia dan lingkungannya.

Pencinta lingkungan adalah Orang-orang yang Terpinggirkan Bahkan Teraniaya

Keterasingan dan nasib-nasib buruk yang dialami tokok-tokoh dalam sastra digambarkan Gifford dalam model kajian narasi pastoral. Gifford (1991:1) menyebut keterasingan ini sebagai pelarian diri (retreat) atau kembali (return) menuju alam pedesaan atau kebiasaan masa lampau. Akibat dari retreat dan return itu tokoh-tokoh pencinta lingkungan menjadi berbeda, dianggap aneh, bahkan dimusuhi oleh lingkungan sekitarnya. Cerpen Léak Ngalas menampilkan tokoh Dadong Wangi, seorang janda renta yang menjalani pernikahan bukan atas kehendaknya sendiri.

Sebenarnya Dadong Wangi tidak begitu tertarik untuk mencari pasangan, namun fokus menjaga hutan kecil yang diperoleh dari leluhurnya. Hal inilah yang menyebabkan Dadong Wangi dumusuhi oleh kerabat-kerabat dekatnya yang ingin menjual hutan warisan yang ditempati Dadong Wangi. Terlebih keponakan-keponakannya sangat berhasrat menjual hutan kecil itu kepada investor untuk selanjutnya dibanguni Villa. Perlawanan Dadong Wangi kepada kehendak jahat kerabat-kerabatnya terlihat dari keteguhan hatinya untuk pergi dari rumah suami-suaminya, kembali ke hutan warisan leluhurnya.

Setelah usaha pertamanya mengalami kegagalan, kerabat-kerabatnya menyusun rencana lain untuk menyingkirkan Dadong Wangi. Janda tua itu dilaporkan ke sebuah yayasan yang menangani para lanjut usia terlantar. Seolah-olah Dadong Wangi adalah lansia terbelit kemiskinan yang tidak berdaya dalam hutan. Seakan-akan pula Dadong Wangi sangat mendesak untuk dibantu. Informasi itulah yang menyebabkan tokoh Putu Puspita yang merupakan salah satu anggota Yayasan diutus untuk mendatangi langsung tempat Dadong Wangi menjalani kesehariannya.

Manakala dengan penuh percaya diri Putu Puspita telah membawakan bantuan sembako yang sebelumnya diyakininya sangat dibutuhkan oleh seorang lansia terlantar, dugaan itu berubah manakala Putu Puspita telah memasuki hutan kecil dimana Dadong Wangi Tinggal. Kediaman Dadong wangi ternyata adalah tempat yang dipenuhi keasrian. Tiada tampak jika penghuninya tengah menderita misalnya karena kekurangan makanan. Malahan bungkusan sembako yang diberikan Putu Puspita dibalas dengan madu lebah trigona.

Apabila dihitung nominalnya tentu harga madu itu sangat tinggi. Merasa gagal ‘menjual’ keterlantaran Dadong Wangi, Nyoman Bontoan salah satu keponakan Dadong Wangi kemudian menyusun siasat lain. Tokoh ini berupaya mempengaruhi Putu Puspita dengan cerita mistik. Dadong Wangi difitnah menguasai ilmu hitam (ngléak) dan ilmunya akan terus berkembang menjadi makin sempurna apabila terus menerus berdiam dalam hutan. Hasutan yang sama juga telah lama disebarluaskan oleh Nyoman Bontoan kepada para warga desa.

Dahulu Dadong Wangi banyak membantu orang yang sakit karena memiliki kebun tanaman obat di sekitar rumahnya. Semenjak Nyoman Bontoan menyebarluaskan fitnah tidak ada lagi warga desa yang mendatangi Dadong Wangi untuk meminta bahan obat. Kali ini Nyoman Bontoan menghasut Putu Puspita agar membantu dirinya mengeluarkan orangtua tersebut dari dalam hutan. Dengan begitu ilmu hitam yang dimilikinya akan hilang. Putu Puspita yang termakan hasutan Nyoman Bontoan menjadi membenci Dadong Wangi. berupaya sekuat tenaga untuk merayu Dadong Wangi agar mau dipindahkan dari hutan meskipun usahanya tersebut sia-sia belaka.

Keterasingan yang sama juga dialami tokoh Pekak Wana dalam cerpen Ngempi Alas Embid. Pekak Wana adalah orangtua pencinta lingkungan yang mendiami suatu Kawasan hutan dan jauh dari pemukiman penduduk pada umumnya. Mulanya ia mendiami rumah yang berada di tepi pantai namun karena anaknya mendirikan Villa di tempat itu Pekak Wana tergusur ke tempat tinggalnya sekarang. Mirip dengan tokoh Dadong Wangi dalam cerpen Léak Ngalas, awalnya lelaki ini adalah seorang penyembuh tradisional yang dengan ringan tangan membantu orang-orang di sekitanya.

Sayangnya ketika orang-orang yang berniat jahat menyebarluaskan fitnah, Pekak Wana ditinggalkan pasien-pasiennya. Orang jahat yang digambarkan tiada lain dari anak cucunya sendiri yang kini malahan ingin menggusur Pekak Wana dari pondoknya di perbatasan hutan dan desa. Tempat itu rencananya akan dijual ke investor untuk dijadikan villa. Praktis orang-orang yang ingin mendapatkan keuntungan dari proyek besar itu bahu membahu turut memojokkan Pekak Wana. Bahkan pihak desa yang sepatutnya memberikan pernaungan bagi warganya yang terdiksriminasi malahan turut mematangkan rencana perusakan lingkungan itu.

Tempat tinggal dan bidang keahlian Pekak Wana justru dijadikan sebagai bahan fitnah yang sempurna. Pekak Wana disebut menguasai ilmu yang mendua, selain ilmu putih juga ilmu hitam. Tempat tinggalnya di dalam hutan akan melancarkan aksinya untuk meminta bantuan kepada mahluk-makhluk halus yang berdiam disana. Pekak Wanapun melakukan perlawanan seperti tidak mau pergi dari pondoknya di tepi hutan maupun menentang himbauan-himbauan perangkat desa yang disampaikan kepadanya.

Dalam cerpen Madé Wana lan Klebutan ring Ulun Désa tertampilkan tokoh nuansa yang berbeda. Berbeda dari dua cerpen sebelumnya yang menggambarkan tokoh pencinta lingkungan yang disisihkan adalah golongan sepuh. Dalam cerpen ini pecinta lingkungan itu dilukiskan sebagai seorang anak kecil bernama Madé Wana yang masih duduk di bangku kelas 4 SD. Penampilan tokoh belia ini dapat membawa pesan jika pecinta-pecinta lingkungan yang dimarginalkan oleh lingkungannya bukan cuma karena perbedaan generasi.

Namun orang-orang dengan kelompok usia yang samapun berpotensi melakukan hal tersebut. Dengan demikian masalah pelestarian lingkungan bukan sekadar trend yang menjangkiti monousia tertentu, tetapi lintas umur maupun generasi. Idealisme cinta lingkungan yang diperlihatkan Made Wana dalam cerpen ini terlihat sangat halus. Begitu pula dengan konflik yang nantinya terjalin dengan tokoh-tokoh lain yang ada di sekitanya. Madé Wana mengungkapkan kecintaannya kepada lingkungan dengan terus menerus menggambar objek yang sama yakni mata air dan pancuran yang ada di hulu desa.

Orang-orang dewasa yang ada di sekitar Madé Wana justru tidak pahan dengan ‘pesan gambar’ yang disampaikannya. Padahal jika ditelaah lebih lanjut tentu keberadaan mata air berelasi erat dengan kelestarian hutan maupun pepohonan yang ada di hulunya yang dalam cerpen ini dinamai sebagai alas tutupan. Mata air dan pancuran yang dilukis Madé Wana memegang peran yang sangat vital pada penduduk Désa Kawiswara seperti untuk mengairi sawah, membersihkan diri, keperluan ritual, dan kepentingan lainnya. Khusus untuk ritual mata air ini digunakan untuk memandikan anak yang baru lahir lewat prosesi macolongan.

Madé Wana diceritakan demikian terlena menyaksikan tiap ada anak kecil yang tubuhnya sedang dibasuh di mata air itu. Ia akan mengabadikannya dalam lukisan. Silang pendapat terjadi antara Madé Wana justru dengan tokoh-tokoh yang lebih tua. Terutama Ketika ia mengungkapkan jika Madé Wana menceritakan jika rasa gerah dan haus dalam dirinya akan hilang dengan menggambar mata air dan pancuran.  

Seperti Ketika Kak Sugati melontarkan pertanyaan itu, Madé Wana menceritakan pengalamannya ketika tubuhnya menjadi gerah sehabis main kejar-kejaran dengan kawan-kawannya di sebelah selatan desa. Ajaibnya dalam isirahatnya Ketika ia mulai menggambar, rasa gerahnya itu perlahan lenyap. Kak Sugati hanya tersenyum geli mendengar jawaban Madé Wana. Konflik yang lebih serius tampak manakala terjadi dialog dengan tokoh Nyoman Suarka.  Tokoh ini menuduh Madé Bawa berbohong ketika menyebut bila menggambar dapat menghilangkan rasa haus.

Kesimpulan dialog itu mengarah kepada rasa jengah dalam diri Nyoman Suarka manakala percakapan dengan Madé Bawa menghasilkan kesimpulan seolah-olah jika dirinya tidak mampu merasakan segarnya mata air lewat melukis karena tidak memiliki keahlian menggambar. Kegagalan komunikasi yang dialami Madé Bawa dengan orang-orang yang ada di sekitarnya yang tidak paham dengan maksud dari lukisan-lukisannya dalam beberapa segi melukiskan kegagalan literasi kelingkunganhidupan. Tokoh-tokoh yang dewasa secara umur malahan demikian girang ketika mendengar rencana pembangunan desanya yang mengancam kelestarian hutan dan tentu saja mata air yang bertekun dilukis Madé Bawa.

Akhir dari ketiga cerpen menampilkan kondisi yang sama, keterasingan si tokoh utama beserta ide-idenya yang belum mampu tersebarluas. Dadong Wangi harus menemui ajal karena penderitaan fisik akibat kejahatan yang dilakukan Nyoman Bontoan. Pekak Wana juga mengalami nasib serupa karena penderitaan psikis yang melebihi daya tamping otaknya. Sementara Madé Wana tetap menggambar, tidak ada yang bisa memahami jalan pikirannya. Ketiga tokoh itu mengalami keterasingan fisik, emosional, hingga simbolik.

Ketidakberdayaan karena Tekanan yang Masif

Ketiadaan kuasa pada golongan-golongan proletar merupakan corak dari kapitalisme yang menyebar dengan kuat. Kekuasaan hanya dimiliki kauh borjuis/ kapitalis yang memiliki modal dan menjadi tumpuan hidup kalangan proletar. Kaum proletar sendiri hanya bisa mengalah demi keamanannya sendiri bahkan dengan sukarela masuk dalam perangkap tipudaya. Seolah-olah turut merasakan kebahagiaan dan kemajuan yang dijanjikan kaum borjuis.  

Ketidakberdayaan dalam cerpen Léak Ngalas terutama dialami oleh Putu Puspita yang tidak mampu menolong Dadong Wangi yang sejatinya memiliki upaya luhur untuk menjaga lingkungan. Putu Puspita bahkan tidak kuasa melepaskan dirinya dari jerat tipu daya yang disebarluaskan Nyoman Bontoan dan kelompoknya. Ia hanya bisa menyesali diri ketika Dadong Wangi telah menjadi korban dan menyadari jika perjuangan yang dijalani Dadong Wangi tidaklah mudah. Dalam cerpen ini juga dilukiskan ketidakberdayaan pemilik warung di tepi bukit yang sebelumnya demikian takut dengan teror yang dilakukan Nyoman Bontoan. Lelaki ini juga tidak mampu memberikan perlindungan kepada Dadong Wangi yang diketahuinya dalam posisi benar.

Pada cerpen Ngempi ring Alas Embid rasa penyesalan yang tak terbendung meliputi diri Gedé Putra karena turut menjadi sebab kematian Pekak Wana. Walaupun begitu ia juga tidak berdaya dalam tekanan anak Pekak Wana dan pihak lain yang berkepentingan. Ia hanya bisa menyimpan rasa penyesalan dan rasa salah langkahnya sendiri. Termasuk ketika orang-orang yang berkepentingan bersorak atas kematian Pekak Wana. Itu sungguh tidak manusiawi tetapi orang-orang seperti Gedé Putra hanya bisa diam. Sementara Pada cerpen Madé Wana lan Klebutan ring Ulun Desa ketidakberdayaan itu digambarkan dengan rasa frustasi dalam diri Madé yang memilih menuangkan kecintaannya kepada alam di atas buku gambar. Sedangkan orang-orang  terdekatnyapun tidak mampu memahami pesan cinta lingkungan itu.  

Peluang dan Peran Masa Depan Pendidikan Ekokritik

Pendidikan Ekokritisme yang terkandung dalam karya sastra sebenarnya memiliki peluang yang demikian strategis untuk membawa misi pelestarian lingkungan hidup. Cara semacam ini tentu saja lebih lentur ketimbang tulisan-tulisan ilmiah kadar tinggi yang memerlukan modal cara memahami lebih kompleks. Sebagaimana kini mulai menjamur bentuk-bentuk sekolah seperti sekolah alam. Selain itu sastra dapat dibaca lebih santai bahkan bernuansa rekreatif untuk semua kalangan. Kendatipun harus diakui jika nilai ekokritik dalam sastra juga bergantung penuh kepada perkembangan literasi kesusastraan pada suatu wilayah.

Manakala ada kemandegan literasi tentu ekokritik juga tersumbat dengan sendirinya. Literasi kesusatraan sesungguhnya mampu berjalan harmonis tanpa saling mengganggu dengan kampanye pelestarian lingkungan. Dalam sastra daerah kegemaran pada karya sastra yang memakai bahasa ibu perlu digalakkan. Ketika timbul kecintaan maka nilai-nilai yang terkandung dalam sastra dapat mudah menjelma dalam sikap maupun perilaku. Upaya ini dapat menghasilkan keuntungan yang integral seperti kemajuan budaya, kemajuan kemajuan bahasa, dan masa depan baik dalam etika lingkungan hidup. [T]

Tags: Bahasa Balilingkungansastrasastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berbagi Proses Berkarya dari Beji Langon Kapal

Next Post

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian II: Internalisasi

Vera Puspita Dewi

Vera Puspita Dewi

Wanita berzodiak Aquarius yang diberi nama Ni Nengah Vera Puspita Dewi oleh almarum Ayahanda tercinta, kini bekerja sebagai guru kontrak di SMPN 2 Semarapura.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian II: Internalisasi

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian II: Internalisasi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co