2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian II: Internalisasi

Ridwan Hasyimi by Ridwan Hasyimi
July 8, 2021
in Esai
Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian II: Internalisasi

Pedntas teater "Perempuan Tanpa Nama" oleh Komunitas Mahima, Buleleng, 23/07/2017 [Foto: Agus Wiryadi]

Tak dapat dipungkiri, ada kalangan yang memandang metode akting realis yang punya sekian varian itu sudah ketinggalan zaman. Apalagi dengan gempuran sejumlah aliran teater yang kini sering jadi perbincangan yang secara simpel dapat diringkas dalam bingkai teater kontemporer.

Tapi tetap saja, metode akting realis dibutuhkan. Seliar-gila apa pun aliran teater itu, sejauh masih berkaitan dengan aktor, metode ini masih relevan sebab ia adalah metode, cara, bukan gaya atau bentuk. Soal gaya, bentuk, dan aplikasinya, tentu bisa sangat kaya dan bermacam-macam sesuai dengan konsep pertunjukan yang disepakati.

Di tulisan sebelumnya, saya berbagi pengalaman tentang apa yang guru-guru saya ajarkan kepada saya tentang akting realis. Saya bukan anak kuliahan. Jadi, besar kemungkinan ada, atau bahkan banyak, perbedaan istilah atau apa pun dengan yang biasa digunakan oleh teman-teman kampus. Tapi itu tidak harus jadi soal. Teater jangan dikerangkeng di kampus melulu. Biarkan ia kawin dengan berbagai dunia mungkin yang ada yang barang tentu melahirkan terminologi yang boleh jadi berbeda satu sama lain.

Kembali ke soal akting. Di tulisan lalu, saya sampaikan bahwa sebelum aktor melakoni sebuah peran, pertama-tama ia harus tahu, kenal, sadar, paham, dan menerima tubuhnya. Setelah seorang aktor tuntas, atau setidaknya dianggap tuntas, barulah ia berkenalan dengan tubuh tokoh.

Sebetulnya, prosesnya tidak sekaku itu. Bisa sambil menyelam minum air. Sambil menganali tubuhku, kenali pula tubuh “aku yang lain”. Tapi, idealnya, ya, tuntas dulu dengan tubuh sendiri sebelum kenalan dengan tubuh tokoh.

Cara mengenalinya, pertama-tama, dari teks. Yang tidak tertera dalam teks, itulah ruang tafsir. Tapi jangan sampai tidak nyambung dengan teks. Misalnya, di teks tertulis ada seorang tokoh bernama Cecep Dadan Sobarna. Dikisahkan ia adalah seorang perantau. Sementara seting lakon berlangsung adalah di sebuah perdukuhan di Jepara, Jawa Timur, tahun 1980-an.

Aktor yang memerankan Cecep musti paham bahwa nama Cecep bukan nama yang nama yang umum bagi laki-laki di Jepara di tahun 80-an. Hal ini nyambung dengan keterangan dalam teks bahwa ia seorang perantau. Hanya saja, tidak ada informasi dari mana Cecep berasal. Lantas, dari mana Cecep berasal?

Cecep adalah nama yang umum digunakan oleh laki-laki di Jawa Barat (Sunda). Terlebih dengan kepanjangan Dadan Sobarna, hal ini lebih menguatkan lagi sebab baik Dadan maupun Sobarna juga adalah nama yang umum digunakan laki-laki di Jawa Barat.

Meski teks tidak menyuratkan daerah asal tokoh ini, namun, dari namanya besar kemungkinan Cecep berasal dari Jawa Barat. Hal ini penting diketahui sebab merupakan bagian dari biografi tokoh. Saya diajarkan oleh guru saya, Gusjur Mahesa, untuk menulis biografi tokoh selengkap mungkin. Jadi semacam cerpen atau autobiografi. Jadi, saya dan kawan-kawan aktor yang lain mengembangkan sejumlah keterangan yang tertulis di teks untuk kami jadikan biografi yang utuh. Lengkap dari mulai tokoh lahir sampai masa ketika peristiwa lakon berlangsung.

Kami juga menuliskan pandangan tokoh terhadap tokoh lain. Hal ini sangat penting karena akan menjadi dasar bagi aktor untuk eksplorasi dan mengembangkan karakter serta sikap luar-dalamnya kepada tokoh lain.

Setelah semua informasi prihal tubuh dan biografi tokoh didapat, selanjutnya tinggal menginternalisasikan ke dalam tubuh luar-dalam sang aktor. Proses internalisasi ini sebetulnya tidak kaku dalam arti tidak musti dilakukan setelah semua informasi ketokohan diperoleh.

Seperti yang pernah saya sampaikan di bagian awal, jawaban atas berbagai pertanyaan untuk menguak karakter tokoh kadang kala tidak ketemu dalam waktu singkat. Jadi, proses internalisasi itu ibarat memaham biak: dikunyah, ditelan, dikunyah lagi, ditelan lagi, dan seterusnya sampai pada titik pas. Akting dan teater secara umum adalah soal takaran. Ukurannya adalah pas.

Proses internalisasi meliputi segala hal ihwal tubuh luar-dalam, termasuk pikiran. Kalau untuk menjiwai emosi tokoh, biasanya aktor sudah punya metode untuk itu. Misalnya, dengan cara sang aktor mengingat momen tertentu dalam hidupnya yang mengandung muatan emosi yang mirip dengan emosi tokoh dalam suatu adegan.

Yang biasanya sukar—atau tepatnya sering dilupakan—adalah soal menginternalisasikan pikiran, atau lebih tepatnya, pola pikir tokoh. Tiap orang kan punya pikiran yang terbentuk dari suatu pola pikir atau paradigma tertentu. Pola pikir ini dibentuk dan ditentukan oleh banyak faktor. Agama, ideologi, bacaan, teman pergaulan, akar budaya, sejarah hidup, dan lain sebagianya adalah sejumlah faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola pikir seseorang.

Seorang aktor, sebagai manusia beradab dan berbudaya, barang tentu punya pola pikir sendiri. Demikian pula seorang tokoh. Meski, katakanlah, fiksi, namun ia harus hadir di panggung sebagai manusia utuh, punya tubuh luar-dalam yang utuh, termasuk pikiran dan pola pikir.

Ada kalanya pola pikir seorang aktor tabrakan dengan pola pikir tokoh. Umpamanya, dalam kehidupan sehari-hari aktor A adalah seseorang yang sangat religius. Suatu ketika, ia mendapat peran sebagai seorang atheis. Pola pikir orang religius tentu sangat berbeda dengan orang atheis. Nah, yang jadi tantangan sekaligus keasyikan buat aktor adalah bagaimana cara menyerap pola pikir tokoh secara utuh tanpa kemudian “kebawa-bawa” ke kehidupan pribadi.

Yang harus elastis dari aktor bukan cuma tubuh luarnya, tapi juga emosi dan pikirannya. Aktor harus mampu mengikuti arus namun jangan sampai terbawa arus. Apalagi terseret-seret. Kalau sampai terseret-seret jadinya bukan akting, tapi kesurupan. Repot.

Kira-kira, butuh waktu berapa lama menginternalisasikan tubuh luar-dalam (termasuk emosi, pikiran, dan pola pikir) tokoh ke dalam tubuh aktor? Sebentar atau lama?   [T]

___

BACA JUGA:

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Tags: seni pertunjukanTeaterTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pendidikan Ekokritik dalam Tiga Cerpen Pemenang Lomba Bulan Bahasa Bali III Tahun 2021

Next Post

Perupa Arya Palguna | Kembali ke Bali, Menyambung Ingatan

Ridwan Hasyimi

Ridwan Hasyimi

Pekerja Seni. Tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Perupa Arya Palguna | Kembali ke Bali, Menyambung Ingatan

Perupa Arya Palguna | Kembali ke Bali, Menyambung Ingatan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co