24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam | Sebuah Sisi Gelap dari Tradisi Kawin Tangkap

Rastiti Era by Rastiti Era
June 28, 2021
in Ulasan
Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam | Sebuah Sisi Gelap dari Tradisi Kawin Tangkap

Novel “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam”

  • Judul : Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
  • Pengarang : Dian Purnomo
  • Editor: Ruth Priscilia Angelina
  • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit : 2020
  • Tebal Halaman : 320 Halaman
  • Ukuran Buku : 20 cm

“Kematian adalah kepastian, ada yang membiarkan kedatangannya menjadi misteri, ada yang menjemputnya dengan paksa.”

Novel “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam” mengisahkan tentang Magi Diela, seorang lulusan Sarjana Pertanian sebuah universitas di Yogyakarta yang menjadi pegawai honorer di Dinas Pertanian Waikabubak, Sumba.

Setelah menempuh pendidikan di luar daerahnya alias merantau, Magi kembali ke tanah kelahirannya dan mengabdikan dirinya pada bidang yang ia tekuni semasa kuliah. Suatu hari saat dia akan memberikan penyuluhan pertanian ke Desa Hupu Mada, berangkatlah dia menggunakan sepeda motor.

Waktu itu jalanan sangat sepi dan hari itu menjadi hari terburuk sepanjang hidupnya. Sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Magi dipaksa menghentikan motornya dan tak berselang berapa lama, beberapa pria keluar dari mobil dan segera mengangkutnya secara paksa. Sambil bergurau, pria-pria itu menyentuh tubuh perempuan malang itu. Magi masih kebingungan dengan apa yang terjadi.

Tradisi Kawin Tangkap atau Yappa Mawine, itulah hal yang dihadapi Magi. Sebuah tradisi dimana calon suami menculik calon istrinya. Umumnya, telah terjadi kesepakatan di kedua belah pihak sebelum kawin tangkap ini terjadi. Sayangnya, Magi tidak mengetahui apapun tentang rencana kawin tangkap ini apalagi orang yang akan menjadi calon suaminya adalah Leba Ali, seseorang yang sudah mengincarnya bahkan sejak ia masih belia.

Magi merasa dirinya sangat rendah saat digiring menuju rumah Leba Ali dan bahkan telah dilecehkan olehnya. Namun tak sampai disitu, Magi mencoba membunuh dirinya sendiri dengan mengigit pergelangan tangannya. Bagian ini disajikan tepat di bab pertama pada novel perempuan yang menangis kepada bulan hitam yang terkesan blak-blakan.

Magi Diela digambarkan sebagai seorang perempuan yang rapuh di awal cerita yang berangsur-angsur memberanikan diri untuk melawan tradisi yang membelenggu kaum perempuan di daerahnya. Ketidakberdayaan perempuan sangat ditonjolkan dalam novel ini, bagaimana perempuan tak memiliki hak bersuara dalam pernikahan, memiliki keterbatasan bahkan di rumah sendiripun menjadi pilu yang dialami Magi dan perempuan di sekitarnya.

Magi memiliki seorang sahabat bernama Tara yang sekaligus menjadi kakak iparnya. Bersama Tara-lah Magi berkeluh kesah tentang banyak hal walaupun tak bisa mengubah sesuatu yang sudah menjadi kodrat perempuan yang harus tunduk pada budaya patriarki yang sangat kental. Perbedaan derajat antara laki-laki dan perempuan dalam novel ini juga ditunjukkan dari keberadaan pintu laki-laki dan pintu perempuan dalam rumah Magi dan orang-orang di kampungnya. Perempuan tidak diijinkan untuk menggunakan pintu laki-laki. Hal ini menginsyaratkan terbatasnya gerak perempuan bahkan di rumah sendiri.

Magi memiliki kawan yang begitu perhatian dan siap membantunya di berbagai macam situasi. Dangu Toda, si pria baik hati yang sayangnya satu suku dengan Magi yang membuat mereka tak boleh menikah. Pernikahan dalam satu suku ibaratnya menikahi saudara sendiri atau biasa disebut sebagai inses.

Kedekatan Magi Diela dan Dangu Toda memberikan kesan sebuah cerita kasih tak sampai, yang terhalang oleh adat yang membelenggu. Dangu Toda sering menyebut Magi sebagai “perempuan bodok” yang artinya perempuan bodoh namun bukan dalam artian yang ofensif. Sayangnya, kedekatan Magi dan Dangu menjadi bahan pergunjingan orang-orang kampung sehingga keluarga mereka saling membatasi gerak keduanya untuk saling bertemu.

Novel perempuan yang menangis kepada bulan hitam memiliki penokohoan yang kuat dan bisa mendorong pembaca untuk meresapi kejadian-kejadian yang dihadapi oleh Magi Diela sebagai tokoh utama. Hal inipun terlihat di cetakan terbaru buku ini, terdapat “trigger warning” atau peringatan yang menyebutkan bahwa buku tersebut mengandung hal-hal yang bisa menyebabkan perubahan emosi pada pembaca.

Novel ini secara gamblang mengisahkan ketidakberdayaan perempuan yang terbelenggu adat patriarki yang sangat mengikat. Cita-cita Magi untuk mengabdi pada tanah kelahiran dan menyejahterakan kehidupan orang-orang Humba (sebutan untuk orang-orang Sumba) terhalang oleh perlakuan keji dari Leba Ali dan antek-anteknya. Kenekatan Magi untuk bunuh diri dengan menggigit pergelangan tangannya sampai putus memperlihatkan keputusasaan yang menyala terang di tengah kecilnya harapan yang dimilikinya.

Bab pembuka yang langsung menusuk pada konflik cerita memberikan kesan nyata yang membuat pembaca menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi sampai seorang perempuan mencoba bunuh diri dengan cara yang cukup gila.

Bab-bab dalam novel perempuan yang menangis kepada bulan hitam terkesan lebih pendek dari bab novel pada umumnya sehingga membuat pembaca semakin ingin mengetahuinya kelanjutan setiap babnya. Hal ini pula menjadikan novel setebal 320 halaman ini sepertinya tak akan sulit diselesaikan dalam waktu yang singkat. Selain itu, penggambaran adegan penculikan dalam novel ini juga digambarkan dengan detail oleh penulis, mungkin karena Dian Purnomo sendiri adalah seorang lulusan jurusan kriminologi sehingga penggambaran adegan berunsur “kriminal” bisa tergambarkan dengan jelas dan nyata.

Penggunaan bahasa Sumba pada beberapa bagian dalam novel ini juga merupakan salah satu hal yang menarik yang tidak boleh dilewatkan oleh pembaca. Penggunaan kata-kata seperti “sa”, “su”, dan “ko” bisa saja membuat pembaca merasakan sensasi logat Sumba saat membaca novel ini. Terlebih lagi, kata-kata ini sering muncul dalam percakapan-percakapan yang mewarnai perjalanan Magi sebagai tokoh utama yang menghadapi berbagai kerumitan sepanjang alur cerita. Ada kalanya pembaca diajak menyelami Sumba secara lebih dalam melalui kata-kata yang juga ada di salah satu lagu yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Hal menarik lainnya adalah sampul berwarna merah muda dengan ilustrasi cantik di tengahnya, yang cukup membuat mata melirik tajam. Sampul yang menurut saya terkesan ceria malah memberikan kisah pilu yang benar-benar membuat emosi meledak-ledak serta kesedihan yang menyala terang.

Kisah Magi yang disajikan dalam novel ini membuka mata saya bahwa kasus pelecehan terhadap perempuan adalah sebuah tindakan keji yang tak patut disepelekan. Sampai detik ini, masih banyak perempuan di luar sana yang tak berani mengungkapkan pelecehan yang menimpa mereka. Novel ini juga secara tidak langsung mengajak pembaca untuk peka terhadap kasus pelecehan dan perampasan hak perempuan secara paksa yang merugikan perempuan-perempuan seperti Magi Diela.

Sebagai sesama perempuan, saya merasa turut prihatin terhadap kasus-kasus pelecehan yang marak dihadapi oleh sesama perempuan. Perlu adanya pergerakan terhadap kasus semacam ini agar tidak terjadi lagi di kemudian hari. [T]

Tags: adatresensi bukuUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasek Govinda | Masih Mahasiswa Sudah Jadi Direktur dan CEO Usaha Sampah Plastik

Next Post

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Rastiti Era

Rastiti Era

Biasa dipanggil Era, adalah penikmat teh, kopi, susu, dan buku. Mengulas buku melalui Podcast Sahabat Buku. Kini tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Punya hobi unik: berteman dengan siapa saja. Silakan hubungi di Instagram @rastiti_era.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co