2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi “Masambetan” di Nusa Penida di Ambang Punah

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
June 5, 2021
in Opini
Tradisi “Masambetan” di Nusa Penida di Ambang Punah

Jika saya menderita sakit panas (waktu kecil), orang tua saya tidak pernah terlalu cemas. Tidak seperti orang tua zaman sekarang. Sungguh. Kedua ortu saya tak pernah  panik mencarikan obat penurun panas apalagi mengantar saya ke medis. Mereka cukup mengajak saya masambetan (pengobatan tradisional) ke balian. Sorenya masambetan, tengah malam atau pagi harinya, panas langsung ambyar (turun). Saya pun dapat beraktivitas seperti semula.

Bukan sulap, bukan sihir. Anak-anak kampung di Nusa Penida, dekade 90-an ke bawah pasti merasakan jasa tukang sambet (balian) tersebut. Pasti pernah menggunakan jasa tukang sambet untuk menurunkan sakit panasnya—dan merasakan betapa dahsyatnya efek masambetan dalam menurunkan sakit panas.

Padahal, metode pengobatannya sangat sederhana. Cukup menggunakan sarana suna (bawang putih) dan jangu, yang dibawa oleh keluarga pasien. Kemudian, suna jangu dikunyah oleh sang balian sampai halus. Hasil kunyahan ini disimbuhkan (disemburkan) di atas kepala si pasien. Persisnya di atas ubun-ubun dan sekitarnya.

Selanjutnya, sang balian memegang kepala sang pasien sedikit kuat sambil memejamkan mata seperti berkonsentrasi penuh. Sementara, bibirnya berkomat-kamit mengucapkan mantra setengah berbisik.

Akhir mantra ditandai dengan gerakan memijat-mijat (oleh kedua tangan sang balian) hampir ke seluruh bagian kepala si pasien. Gerakan memijatnya bervariasi mulai dari tekanan halus/ ringan, sedang hingga berpower (cukup kuat). Prosesi memijat ini berlangsung dalam hitungan menit.

Jadi, tidak ada ritual memasukan sesuatu (obat) ke dalam tubuh si pasien. Misalnya meminum sejenis loloh atau ramuan yang lain. Sama sekali tidak ada. Dari pengalaman dan pengamatan saya, murni menggunakan teknik pengobatan luar yaitu kombinasi simbuh, mantra dan pijatan.

Namun, efeknya tidak diragukan lagi. Dalam hitungan beberapa jam, sakit panas langsung turun. “Ya, paling karena faktor sugestilah.” Awalnya, saya juga berpikir demikian. Lama-kelamaan, saya malah berpikir lain. Saya meyakini bahwa ada korelasi ilmiah (rasionalitas) antara metode mesambetan dalam menyembuhkan sakit panas.

Sayangnya, sampai sekarang saya belum menemukan korelasi ilmiah tersebut. Saya malah berpikir bahwa kasus ini cocoknya dikaji (PR) oleh kaum peneliti terutama dari kalangan pakar usadha, ahli saint, dan agama. Mereka pasti dapat menemukan titik temu antara kandungan suna jangu, energi mantra dan efek pemijatan di kepala dalam menurunkan sakit panas. 

Jika dilihat dari tekniknya, tradisi masambetan ini sangat aman karena tidak ada ritual atau prosesi yang aneh-aneh kepada pasien. Tidak ada prosesi memasukan sesuatu ke dalam tubuh si pasien. Tidak ada rangkaian proses yang mengancam atau membahayakan si pasien. Pun praktik dalam mengeksekusi pasien bersifat terbuka.

Biasanya, sang balian mengobati pasiennya di amben atau halaman rumah secara terbuka. Semua keluarga pasien yang hadir dapat menyaksikan secara penuh. Karena itulah, prosesi mesambetan biasanya pada sore hingga malam hari. Namun, ada juga beberapa keluarga pasien mendatangi sang balian pada pagi hari.

Di tempat saya, pekerjaan tukang sambet murni “mapitulung”. Sang balian sama sekali tidak mendapatkan penghasilan dari jasanya. Bayangkan, semua keluarga pasien yang datang berobat hanya membawa sarana simbuh saja. Tidak ada yang membawa canang sari apalagi sesari.

Meskipun murni pelayan sosial, keberadaannya cukup banyak. Hampir di setiap kompleks perumahan atau perkampungan di NP, ada saja orang yang bisa “nyambetin”. Mereka biasanya dari kalangan yang tahu sastra (baca-tulis), umumnya jero mangku. Namun, ada pula dari kalangan masyarakat biasa, bahkan dari kalangan orang yang sama sekali tidak mengenal sastra (di kampung saya disebut balian petengan).

Pengkaderannya juga tergolong cukup stabil. Artinya, tidak pernah sampai putus regenerasi. Ada saja generasi-generasi tumbuh sebagai penerus balian sambet ini. Saya tidak tahu persis bagaimana generasi balian sambet ini bertumbuh. Apakah ada kaitannya dengan faktor keturunan, perguruan, pawisik, otodidak atau kombinasi lebih dari satu faktor.

Yang jelas eksistensinya kuat di tengah masyarakat. Penggunaan jasanya oleh masyarakat sangat tinggi. Puncaknya sekitar akhir tahun 90-an. Padahal, praktik bidan, mantri/ perawat dan dokter sudah ada di NP—tetapi eksistensinya masih terbatas.

Tradisi Masambetan Kian Meredup

Memasuki tahun 2000-an, tradisi masambetan mulai meredup. Penggunaan jasa balian sambetan ini, semakin berkurang. Ego modernitas masyarakat NP mulai menggeliat. Metode tradisional mesambetan kian ditinggalkan pendukungnya. Mungkin dianggap kuno, kolot, premitif, syirik, klenik, kurang higienis, kurang praktis dan sejenisnya.

Karena itu, ketertarikan masyarakat terhadap tradisi mesambetan kian memudar. Ketika sakit panas, masyarakat lebih memilih pergi ke puskesmas, praktik mantri atau praktik dokter. Atau membeli obat penurun panas di warung-warung obat terdekat. Dari sinilah, awal mulanya praktik mesambetan semakin tak populer.

Redupnya pamor tradisi masambetan bertambah parah ketika puskesmas-puskesmas di NP terus mengalami revitalisasi dari pemerintah. Pemerintah terus mendorong pemodernan fasilitas medis, SDM, pelayanan, termasuk sistem dan lain sebagainya.

Revitalisasi dan pemodernan ini kian menggeser mindset masyarakat ke pengobatan modern. Segala jenis penyakit termasuk sakit panas di bawa ke medis. Masyarakat seolah-olah meragukan metode mesambetan. Sebaliknya, metode pengobatan medis semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat.

Dominasi kepercayaan masyarakat ini terus mengalami progres positif seiring dengan stimulus revitalisasi puskesmas di NP. Belakangan, kian dipertajam lagi dengan keberadaan Rumah Sakit Pratama Gema Santi di NP. Rumah sakit yang berdiri pada penghujung tahun 2017 ini mendapat sambutan baik dari masyarakat NP.

Sebagai kecamatan kepulauan, keberadaan rumah sakit sudah lama menjadi impian masyarakat NP. Karena itu, eksistensi rumah sakit Pratama Gema Santi dianggap cukup representatif. Apalagi, kini rumah sakit Pratama sudah naik kasta menjadi RSUD Gema Santi Nusa Penida. Ke depan, tentu pencapaian ini akan menstimulus pemda Klungkung, Dinas Kesehatan dan pihak rumah sakit untuk menggapai tipe yang diidealkan.

Keberadaan puskesmas dan rumah sakit yang representatif tersebut setidaknya lebih menguatkan eksistensi pengobatan modern (medis) dan sekaligus kian memodernkan “pola pikir berobat” masyarakat NP.

Karena itu, tradisi mesambetan nyaris hilang dan dilupakan oleh pendukungnya. Walaupun beberapa generasi tua hingga sekarang masih menggunakan jasa masambetan, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Ilmu pengobatan warisan leluhur ini tinggal menunggu waktu lenyap dari permukaan.

Tentu tidak lama. Sebab hingga kini, saya belum melihat ada upaya penyelamatan terhadap warisan leluhur ini. Penyelamatan bukan berarti ajeg mempertahankan kemurnian metodenya. Justru mesti ada tindakan pemodernan terhadap metode dan teknik mesambetan tersebut. Tekniknya mesti dikembangkan dan diadaptasikan sehingga dapat diterima oleh masyarakat modern sekarang.

Mungkin tukang sambet, masyarakat dan terutama desa adat di NP sudah memiliki pemikiran ke arah tersebut. Ah, Anda mungkin menganggap pemikiran ini lucu. Tak apalah. Akan tetapi, apa salahnya jika tradisi mesambetan tetap eksis berdampingan dengan metode pengobatan medis. Tentu akan menjadi variatif, bukan?

Masyarakat ditawarkan lebih dari satu opsi atau alternatif pengobatan. Namun, otoritas pilihan tetap ada di tangan masyarakat. Bukankah ini lebih baik? Dibandingkan membiarkan warisan mesambetan ini punah oleh pola pikir masyarakat modern NP yang sesungguhnya liberal. [T]

___

BACA artikel lain tentang Nusa Penida dari penulis Ketut Serawan

Di Nusa Penida, Ada Gadis Menikah dengan Halilintar
Tags: baliNusa Penidapengobatanpengobatan tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yennu Ariendra dalam “A-Z Sampai Tuntas” | Identitas dan Ekosistem dalam Skena yang Blur

Next Post

Laki Bali Turun Selera? | Tentang Udeng dan Lain-lain

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Laki Bali Turun Selera? | Tentang Udeng dan Lain-lain

Laki Bali Turun Selera? | Tentang Udeng dan Lain-lain

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co