24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yennu Ariendra dalam “A-Z Sampai Tuntas” | Identitas dan Ekosistem dalam Skena yang Blur

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
June 5, 2021
in Khas
Yennu Ariendra dalam “A-Z Sampai Tuntas” | Identitas dan Ekosistem dalam Skena yang Blur

Yennu Ariendra dalam diskusi A-Z Tuntas di Denpasar Bali

Senin, 31 Mei 2021, Denpasar kedatangan tamu spesial dari Yogyakarta, dia adalah seorang musisi yang penuh dengan mitos di kepala para pegiat kesenian kontemporer di Denpasar. Termasuk kalangan musik dan teater, karena dia aktif berkegiatan di kedua bidang tersebut meskipun perannya juga dalam teater adalah pengisi latar musik dalam sebuah pementasan.

Yennu Ariendra, adalah mas-mas yang aktif di bidang kesenian music, dia tergabung dalam sebuah kelompok teater di Yogyakarta bernama Teater Garasi, tergabung juga dalam sebuah band bernama Melancholic Bitch, dan projek duo bernama Raja Kirik, dan banyak lagi.  Senin itu, ada diskusi kecil-kecilan yang membicarakan atau menceritakan proses kreatif Yennu selama ini.

Pengalaman saya sendiri mengetahui Yennu dari ketidaksengajaan saya menyaksikan pementasan beliau berjudul “Menara Ingatan” beberapa tahun lalu, walaupun saya hanya dapat menyaksikan lewat You Tube tapi sampai saat ini pementasan itu sangat membekas dalam pikiran, menjadi sebuah pertanyaan besar apa yang melatar belakangi beliau mencipatakan sebuah karya yang saya rasa itu memiliki sifat yang begitu pribadi bagi Mas Yennu.

Dengan pementasan berdurasi 1 jam lebih 6 menit, saya seperti menyaksikan sebuah pagelaran musik yang panjang dengan diberi tempelan aktor yang memperagakan lewat bahasa tubuhnya. Narasi-narasi itu menjadi sebuah pertanyaan bagi saya, ini maksudnya bagaimana dan apa? Tapi sebagai penonton yang baik saya sepertinya tidak harus mengetahui jawaban itu secepat kilat.

Pada diskusi yang diberi judul “A-Z Sampai Tuntas” yang diadakan oleh Sumber Jaya Makmur bertempat di Diztro Darurat, Mas Yennu menceritakan banyak proses kreatifnya selama berkecimpung dalam musik.

Yennu Ariendra dalam diskusi “A-Z Sampai Tuntas” di Denpasar

Diskusi ini juga dimeriahkan oleh dua moderator yaitu Kasymin salah satu anggota dari grup musik Gabber Modus Operandi dan Bayu Krisna (Beka) salah satu anggota dari band Rollfast. Dan juga Raka Ibrahim adalah jurnalis sekaligus kritikus yang intens bicara menyoal musik.

Menara Ingatan

Mas Yennu juga menceritakan sedikit tentang projek pribadinya Menara Ingatan, dia menceritakan tentang kejenuhannya selama berkesenian, kemudian ada akal ingin menyudahinya dan memilih untuk bertani di kampungnya di Banyuwangi.

Sampai pada akhirnya Mas Yennu malah menemukan ide baru ketika berada di kampungnya, bahwa dia mengatakan ada semacam identitas yang ditanam dalam tubuhnya dari berlarut-larut lamanya. Entah itu dari bapak, kakek, dan moyangnya sekaligus.

Kemudian Mas Yennu mencoba mencari sekaligus mendekati identitas yang dia pikir tersebut. Sampai akhirnya Mas Yennu mendapati bahwa ada luka besar yang dialami oleh keluarga Mas Yennu, pada tahun 1968 kakek beliau ditangkap dan dihilangkan oleh tempelan isu-isu orde baru.

Yang jelas akhirnya luka itu mengendap menjadi sejarah yang dirawat apik oleh keturunannya sehingga menjadi identitas Mas Yennu sendiri, bahwa dia memiliki DNA itu dalam tubuhnya. Yang akhirnya perlahan itu harus didekatin lewat jalur mengulik ulang bagaimana sejarah panjang Mas Yennu dengan keadaan sosial, lingkungan, politik dan budayanya.

Ternyata latar belakang itu yang membuat Mas Yennu akhirnya tergerak dan semacam menemukan titik gairah lagi dalam berkarya, sehingga akhirnya mengumpulkan banyak data yang berkaitan dengan isu-isu itu di tempat kelahirannya. 

Data-data itu dia kumpulkan dari cerita-cerita orang, literasi bahkan bentuk kesenian daerahnya sekalipun yang dia percayai memiliki kaitan dengan identitas dirinya. Kemudian data-data itu dia kumpulkan dan mengendap dalam dirinya, kemudian dijadikanlah pentas “Menara Ingatan”.

Menariknya adalah bagaimana proses Mas Yennu percaya dan disiplinnya memilah data untuk didekonstruksi ulang menjadi sebuah narasi satu-kesatuan. Sebab saya sangat meyakini dalam proses pencarian data itu tidak mungkin bisa menemukannya dengan terstruktur, ada ulang-alik wacana yang jika dipikirkan alurnya seperti maju mundur bahkan tumpang tindih.

Kemudian data-data itu dia ubah menjadi sebuah musik yang awalnya sangat kental akan tradisi jika dibaca dari bentukan lirik dan alunan utama musik di tiap repertoarnya, dia kemas ulang menjadi sedikit berbeda dengan sentuhan alat musik elektronik dan techno, yang menjadikan pentas ini kemudian menjadi sangat menarik disaksikan.

Mas Yennu mengatakan bahwa identitas dirinya sangat dia yakini memiliki hubungan dengan identitas-identitas orang di sekitarnya, dia percaya bahwa tiap diri memiliki lukanya masing-masing walaupun bentuknya berbeda pula. Memiliki sejarah kekerasannya sendiri dan memiliki DNAnya sendiri, yang kemudian dipecahbelahkan karena komunikasi bahasa pada tiap orang-orang.

Akhirnya Mas Yennu meyakini hanya tubuh satu-satunya komunikasi bahasa yang bisa menjembatani dan menghubungkan satu sama lain menjadi sebuah memori kolektif bersama. Saya mengamini itu akhirnya ketika setelah mendengar Mas Yennu mengatakan hal tersebut, saya langsung terlempar ke waktu pertama kalinya saya menyaksikan Menara Ingatan.

Bagaimana saya seolah dipaksa mengerti oleh tubuh-tubuh aktornya di atas panggung. Bagaimana tubuh itu seolah membahasakan lirik, musik dan narasi yang Mas Yennu bangun. Kemudian tubuh-tubuh itu seperti memancarkan sebuah arti yang hanya antara aktor dan penonton itu sendiri yang mengerti, dan puncaknya adalah ketika di tengah pementasan Mas Yennu menempatkan satu repertoar yang berisi alunan musik dangdut yang diremix ala-ala house musik. Yang secara tanpa disadari oleh penonton temasuk saya seperti merasa hanyut oleh suasana itu, tubuh seolah sepakat memiliki bahasanya sendiri ketika mendengar musik.

Akhirnya ini mungkin yang dikatakan Mas Yennu sebagai memori kolektif bersama. Pembukaan diskusi menjadi sangat hangat oleh cerita latar belakang proses kreatif dari Mas Yennu. Yang kemudian itu menjadi riset berkelanjutannya termasuk ke dalam projek-projek selanjutnya termasuk yang melatarbelakangi karya-karyanya di Raja Kirik. Itu sangat terasa ketika saya juga mencoba riset ala-ala mencari tau tentang Mas Yennu di Raja Kirik. Sangat terasa bagaimana itu adalah identitas yang begitu dekat oleh Mas Yennu, saya hanya bisa merasakan dan mencari celah adakah hal serupa dalam identitas saya yang hampir sama dengan yang Mas Yennu abadikan dari identitas dirinya lewat karya.

Ekosistem Musik

Kemudian diskusi berlanjut ke arah pembicaraan ekosistem musik yang hari ini memang patut menjadi pembicaraan di skena musik manapun. Bahwa ekosistem itu memang harus dibangun dengan sadar bersamaan dengan melesatnya kelahiran karya di sekitar ruang lingkup itu. Misal jika menggunakan Denpasar sebagai objeknya, maka ekosistem permusikan Denpasar itu memang harus dimulai dari sekarang.

Membaca musik bisa sampai sejauh mana dan memasuki ruang-ruang berbentuk apa saja? Yang dalam artiannya memiliki banyak orang-orang yang memang harus siap terjun di luar kekaryaan musik, semisal tentang pembentukan pasar, jurnalis musik bahkan hingga kelangsungan hidup musisi dan teamnya sekalipun.

Mas Yennu mengatakan bahwa sebenarnya seniman musisi itu tidak boleh dibebani oleh pikiran biaya dan lain sebagainya, yang menghambat musisi itu untuk menciptakan sesuatu, musisi biarlah bekarya. Maka orang-orang yang di belakangnya ini yang harus siap menjadi penimba air bagi musisinya, mencarikan dana, mengurus pengemasan karya hingga membaca pasar karya tersebut, bahkan harus menyiapkan pengarsipan karya tersebut baik itu lewat tulisan dan lain sebagainya.

Suasana diskusi “A-Z Sampai Tuntas” di Denpasar

Maka ekosistem itu menjadi penting dalam sebuah skena untk menyelaraskan membludaknya karya yang keluar, bagaimana kemudian memanagement dan mengatur itu semua agar menemukan ruang dan pendengarnya masing-masing. Sedangkan jika dibaca ulang, Denpasar mengalami masalah ekosistem yang memang cukup rentan dalam hal ini, walaupun tidak semua kelompok musik berada di daftar tidak merah tersebut.

Ada beberapa kelompok musik yang sudah mulai melakukan itu dan malah memilih keluar dari Denpasar untuk membuka ruang kemungkinan mencari ekosistem yang baik. Dalam artian keluar bukan merasa mengasingkan diri dan tidak menganggap Denpasar sebagai sebuah domisilinya, tapi karena faktor utama tadi. Tidak ada ekosistem yang siap untuk membantu para musisi dalam bidang keberlangsungan kekaryaan.

Yang menjadi masalah kemudian adalah tiap grup musik atau band merasa memiliki jalannya masing-masing, seolah satu dengan lainnya tidak memiliki kepentingan apapun. Termasuk menutup diri terhadap lintas disiplin lainnya, mungkin itu yang kemudian menghambat kesadaran para pegiat musik menyadari pentingnya sebuah ekosistem dalam berproses kreatif.

Mas Yennu juga mengatakan bahwa identitas dan ekosistem adalah hal paling terpenting dalam sebuah kekaryaan sebagai rujukan untuk menemukan dan membuat pasar musiknya sendiri. Sebagai penutup kapan Denpasar akan memulai hal tersebut?

Jika memang sudah kenapa tidak terdengar dan sampai kepada para pegiat musik yang lebih luas. Mungkin terlalu naif mengatakan mari kita bangun bersama ekosistem dan pasar musik Denpasar yang apik, berbudi luhur dan adi luhung. Mungkin sederhananya kapan para pegiat kesenian antar lintas disiplin mulai sadar dan membuka diri untuk membuat ruang-ruang diskusi yang lebih intens. Sekian. [T]

Tags: balimusikTeaterYennu AriendraYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kontribusi Paus Besar yang Terabaikan

Next Post

Tradisi “Masambetan” di Nusa Penida di Ambang Punah

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Tradisi “Masambetan” di Nusa Penida di Ambang Punah

Tradisi “Masambetan” di Nusa Penida di Ambang Punah

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co