23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jebakan “Overthinking” dan Peluang Antiklimaks | Catatan Jelang Laga Man City vs Chelsea

Komang Adnyana by Komang Adnyana
May 29, 2021
in Ulasan
Jebakan “Overthinking” dan Peluang Antiklimaks | Catatan Jelang Laga Man City vs Chelsea

Foto: UEFA.COM

Apa yang menyebabkan Pep Guardiola selalu gagal menjuarai Liga Champions sejak terakhir kali melakukannya bersama Barcelona 2011 lalu? Bahkan dengan skuad-skuad bertabur bintang pun, Pep memerlukan waktu hingga satu dekade untuk bisa kembali lolos ke final.

Beberapa mengatakan, Pep seperti terjebak dalam sikap overthinking-nya sendiri untuk pertandingan-pertandingan besar, terkhusus di kompetisi level Eropa. Pria yang dianggap jenius ini dituding terkadang terlalu memperumit keadaan yang sebetulnya sederhana. Kalau istilah sok Inggris-nya, too clever, too much tinkering. Terlalu banyak membuat kejutan-kejutan taktik dan susunan pemain sehingga paling mentok dari dua tim lain yang ditukanginya setelah Barcelona, Bayern Munich dan sekarang Manchester City, di tahun-tahun sebelumnya hanya maksimal bisa sampai di semifinal.

Tahun ini, Pep seperti menjadi sosok yang sedikit berbeda. Bersama City, dia seolah sudah menemukan ramuan skuad yang konsisten untuk dimainkan di Liga Champions. Final dengan Chelsea, Minggu (30/05) dini hari nanti akan jadi pembuktian selanjutnya bagi pelatih dengan filosofi total football-nya ini.

Istilah Pep yang overthinking bermula dari jurnalis olahraga sekaligus penulis biografi, Marti Perarnau dalam bukunya, Pep Confidential: The Inside Story of Pep Guardiola’s First Season at Bayern Munich (2014). Istilah ini berkaca dari kekalahan telak Munich 0-4 pada laga kedua semifinal kontra Real Madrid di Allianz Arena 2014 silam. Pep disebutkan terlalu terobsesi untuk kreatif dan mempersiapkan pertandingan itu hingga melakukan tiga kali pergantian formasi, sebelum akhirnya memilih formasi yang justru dianggap menjadi biang kerok kekalahan. Perarnau yang memang diberikan akses leluasa di semua aktivitas Pep saat itu menuturkan betapa kecewanya sang pelatih akibat keputusannya yang keliru.  

Beberapa pertandingan krusial di Liga Champions, khususnya di fase sistem gugur, yang kemudian juga dihubungkan dengan kebiasaan “berpikir berlebihan” ala Pep ini diantaranya semifinal antara Munich dengan Barcelona pada 2015, semifinal berikutnya antara Munich dengan Atletico Madrid pada 2016, termasuk juga fase sistem gugur yang dilakoninya bersama City ketika Pep justru kalah oleh lawan-lawan yang sebetulnya lebih imperior dari mereka. Beberapa pihak mengiyakan, beberapa lainnya mengeluarkan analisis yang membantah hal itu. Pep dibela sebagai pelatih yang hanya merubah strategi berdasarkan kebutuhan situasi.

Akankah jebakan yang sama dialami Pep saat melawan Chelsea? Apakah hantu masa lalu (istilah yang disematkan media) ini bisa dilewati kembali sebagaimana dia telah mengalahkan kutukan tak pernah melebihi fase semifinal (dengan menyingkirkan PSG), dan City benar-benar menjadi kampiun untuk pertama kalinya selayak-layaknya sebuah tim yang memang ideal dan favorit untuk juara?

“Kami harus meneruskan apa yang sudah kami kerjakan bersama selama bertahun-tahun. Mencapai final Liga Champions seperti menyelesaikan sebuah bagian dari proses yang dimulai sejak empat atau lima tahun lalu. Tim yang layak menang akan menang,” kata Pep seperti dikutip Daily Mail, sembari menambahkan, kegugupan bagi pemain dalam menghadapi partai final pertamanya amatlah normal dan harus tetap dihadapi.

Di semifinal Piala FA April lalu, City kalah 0-1 dari Chelsea. Dan saat keduanya bertemu di Liga Inggris dua pekan lalu pun, The Citizens kembali keok 1-2. Ada yang bilang, hantu masa lalu Pep muncul lagi. Terbukti pada laga yang seharusnya bisa mempercepat langkah mereka mengunci gelar, justru Pep melakukan beberapa rotasi pemain. Seolah yang dihadapi The Blues adalah tim bayangan City. Apakah keputusan itu memang akibat beban overthinking Pep ataukah tudingan ini hanya sebatas label yang diberikan media dan semacam stereotipe saja?

Meskipun menurunkan tim yang beberapa pemainnya dirotasi, City sejatinya sangat merepotkan Chelsea ketika itu. Pep seperti sudah menemukan formula untuk meredam taktik Thomas Tuchel. Sangat jarang tim sekelas City, yang lebih banyak memainkan bola dari kaki ke kaki, justru bermain dengan umpan bola lambung jauh dari lini pertahanan, yang ternyata malah berkali-kali berhasil menembus sektor belakang Chelsea dengan formasi tetap 3-4-3.

Pep kemungkinan akan turun dengan kekuatan penuhnya di pertandingan nanti. Bila di kompetisi lain dia terkadang melakukan perubahan, statistik menunjukkan, selama fase knock out Liga Champions musim ini, City hanya dua kali melakukan rotasi pemain untuk starternya. Selebihnya, komposisi pemainnya nyaris sama. Momen dan ritme yang konsisten ini, selain lini pertahanan yang makin kokoh, juga diyakini sebagai salah satu kunci penentu berhasil atau tidaknya City merebut treble winners musim ini sebagai pelengkap gelar Piala Carabao dan Liga Inggris.

Perubahan pendekatan yang dilakukan Pep kali ini juga dirasakan gelandang Kevin de Bruyne. “Dia (Guardiola) memberikan ruang yang lebih leluasa bagi tim ini untuk bernafas. Mungkin sisi itulah yang dilihatnya berhasil. Aku pikir itulah yang menyebabkan setiap pemain merasa sedikit lebih santai menghadapi situasi ini,” jelas si pemain Belgia.

Sebaliknya dalam tiga pekan terakhir, The Blues memang seolah mengalami masa-masa yang penuh antiklimaks. Kita masih ingat Si Biru sempat begitu dipuji-puji usai berhasil menyingkirkan Real Madrid di semifinal. Tuchel seolah dianggap berhasil menyulap Chelsea yang sedang limbung hanya dalam waktu tiga bulan, dan mencapai dua final dalam dua kompetisi berbeda sekaligus.

Namun alih-alih semakin solid, Chelsea justru takluk 0-1 dari Leicester di final Piala FA. Pada laga penutup musim yang sangat krusial untuk merebut satu tiket ke zona Liga Champions musim depan hari Minggu lalu, tim London ini juga menyerah 1-2 dari Aston Villa. Amat beruntung di partai lain Tottenham Hotspur bisa mengalahkan Leicester sehingga membuat Chelsea finish di urutan keempat klasemen Liga Inggris. Urutan terakhir untuk lolos ke Liga Champions musim depan.

Sungguh, kekalahan itu bukanlah persiapan yang ideal bagi Chelsea untuk menghadapi partai final yang venue-nya dipindahkan dari Istanbul ke Porto ini. Taktik Tuchel dianggap sudah terbaca oleh lawan dan lini depan yang tidak efektif masih saja menjadi kendala utama. Sanggupkah Chelsea menghadapi serangan bergelombang City sebagaimana yang mereka tunjukkan pada dua kemenangan sebelumnya? Apakah final kali ini juga bakal berujung antiklimaks untuk Chelsea dan musim mereka berakhir tanpa satu pun trofi? Atau justru kisah manis pada 2012 bisa terulang sewaktu mereka berhasil mengalahkan Munich di final?

Tuchel, yang di final musim lalu kalah dari Munich bersama PSG, memilih cara lain untuk memotivasi anak asuhnya. Bercermin pada mimpi kanak-kanak. “Ini momen untuk menghubungkan kita dengan sisi kanak-kanak kita dan merasakan kegembiraannya sekaligus di saat yang sama merasakan rasa lapar untuk memenuhi mimpi itu,” serunya kepada Daily Express.  

Menarik melihat, di stadion Dragao nanti, lini pertahanan mana yang lebih solid, antara duet John Stones dan Ruben Dias, atau trio Thiago Silva, Toni Rudiger dan Cesar Azpilicueta, begitu juga dengan duel dua pemain muda yang sedang moncer-moncernya di tim masing-masing, Phil Foden dan Mason Mount. Pun secara keseluruhan enak untuk ditunggu, mana yang lebih ampuh, antara City dengan serangan bergelombangnya, atau Chelsea dengan counter attack, dan sesekali juga penguasaan bolanya yang justru berakhir dengan amat membuat frustasi.

Sebab memang, bola itu tidak kotak.  [T]

Tags: ChelseaLIga ChampionManchester Cityolahragasepakbolaulasan sepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Saraswati Sewana | Ari Dwipayana: Gering Agung Tak Boleh Hentikan Penciptaan Karya Sastra

Next Post

Wayan Sumahardika | PR Untuk Sastra Bali Modern yang Berada di Persimpangan

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Wayan Sumahardika | PR Untuk Sastra Bali Modern yang Berada di Persimpangan

Wayan Sumahardika | PR Untuk Sastra Bali Modern yang Berada di Persimpangan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co