24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kresna Tewas

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
April 27, 2021
in Esai
Kresna Tewas

ilustrasi diolah dari gambar Google

Nang Kocong baru saja mengangkat gelas minumannya ketika Pan Gobyah menyela dengan pertanyaan. “Cong, mengapa Kresna bisa terbunuh oleh panah pemburu?”

“Ya, karena kena panah. Kalau meleset, pasti masih hidup.” Nang Kocong menyahut sekenanya sambil tangannya menahan gelas persis di depan mulutnya.

“Masa Kresna tewas di tangan pemburu yang bukan raja, bukan ksatria, bukan siapa-siapa. Bukankah Kresna itu Awatara?” sambung Pan Gobyah.

Suasana di Suck Cafe malam itu tampak nyaman. Sejumlah pengunjung terlihat damai dengan dirinya masing-masing. Musik kafe disetel lembut saja. Nang Kocong dan Pan Gobyah duduk di pojok di bawah lampu remang-remang yang diayunkan angin malam. Seorang waitress meningggalkan siluet tubuhnya yang bahenol di antara bayang-bayang botol minuman.

“Yang namanya mati bisa oleh siapa saja, kapan saja, dengan jalan apa saja, kan begitu?” jawab Nang Kocong.

“Pasti ada alasannya. Apalagi ini mengenai Kresna yang bukan tokoh sembarang.”

“Apa alasannya?”

“Itu yang aku tidak mengerti, makanya aku nanya kamu.”

“Memangnya aku tahu?”

“Biasanya kamu punya saja jawabannya.”

“Kita minum dulu biar dapat inspirasi.”

“Aku penasaran, Cong!”

“Santai, Byah. Itu cuma cerita. Kamu tak perlu terlalu hanyut terbawa pikiran sendiri. Jangan terikat dengan cerita, haha…”

Nang Kocong meneguk minuman dengan halus, menikmati sensasi alkohol sambil memicingkan mata, lalu meletakkan gelas dengan gerakan halus di meja. Sedangkan Pan Gobyah menenggak habis minumannya dalam sekali angkat. Angin malam mendesir di sela-sela jendela kafe.

“Byah, mahabharata itu kisah simbolis,” bisik Nang Kocong di antara sendawanya, “Kamu membaca mahabharata sama dengan kamu membaca diri sendiri, membaca beragam sifat, pikiran, tindakan, peristiwa atau konflik abadi dalam kehidupan ini. Kamu bisa bercermin di sana.”

“Menurutmu itu hanya cerita karangan? Nggaklah, Cong!”

“Sebagian nama tokoh atau tempat peristiwa, mungkin nyata, namun menurutku secara keseluruhan itu adalah ajaran yang dibungkus menjadi cerita indah dan penuh pesona.”

“Itu kan persepsimu, Cong. Tapi yang aku mau cuma jawaban mengapa Kresna bisa tewas di tangan pemburu. Itu saja.”

“Aku tidak ingat bagaimana ceritanya Kresna terbunuh.”

“Kalau tidak salah, ada pemburu bernama Jaras. Kebetulan dia lewat dekat tempat Kresna merebahkan diri.  Jaras melepaskan anak panahnya,  mengira Kresna seekor rusa sedang melepas lelah.  Anak panah itu menembus kaki Kresna. Seketika itu Kresna menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Jiwanya melayang, meninggalkan raganya. Begitu kira-kira, Cong.”

“Nah, kan kamu sudah tahu sendiri bagaimana Kresna tewas.”

“Bukan soal itunya namun kenapa hanya gara-gara panah pemburu bisa membuat Kresna tewas. Kesannya, kok tidak sakti, gitu?”

“Byah, Kresna itu simbol dari realisasi kasih, kebijaksanaan atau kebenaran. Kresna itu kasih yang hadir dalam tindakan. Apakah kamu memahami ini?”

“Sejak SD, yang aku tahu, Kresna itu Awatara Wisnu, penyelamat dunia. Ia tokoh yang agung.”

“Meski pun agung, tak berarti kasih Kresna bertahta di hati dan tindakan setiap orang. Dalam Mahabharata, ia hidup bersama Pandawa, tidak dengan Kurawa.”

“Apa maksudnya?”

“Ia hanya milik para pencari-Nya dan yang mengetahui-Nya. Bagi jiwa-individu tertentu,  kebijaksanaan Kresna itu bisa jadi ‘dibunuhnya’, secara sengaja maupun tidak. Ia ‘dibunuh’ tanpa disadari atau bahkan karena tidak diinginkan.”

“Siapa yang mencari-Nya, siapa yang mengetahui-Nya?”

“Orang yang gelap hati tidak mempedulikan Kresna, bahkan ‘membunuhnya’, seperti disimbolkan lewat tokoh Jaras si pemburu. Seorang pemburu tidak mengenal kasih Kresna.”

“Kenapa ya dia diberi nama Jaras? Apa arti Jaras?”

“Aku tidak tahu. Mungkin itu erasan dari kata jarah. Entahlah. Jarah, penjarah. Kata ini berkonotasi sebagai sifat jahat. Menjarah itu artinya sama dengan merampas, merampok, menggarong hak pihak lain secara paksa. Itu perbuatan jahat. Jiwa yang gelap yang hidup dengan sifat gelap akan membunuh kebijaksanaan dalam dirinya. Cahaya Kresna tidak akan menyala dalam bathin yang gelap.”

“Aku masih belum mengerti. Masalahnya Kresna itu tewas hanya oleh panah pemburu. Kalau saja karena dipanah oleh Dewa lainnya, barangkali aku bisa menerimanya.”

“Panah itu simbol pikiran. Pikiran seorang pemburu hanya fokus kepada hewan buruan. Yang memenuhi pikirannya hanyalah buruannya. Pikirannya digelapkan oleh tujuannya. Pemburu itu juga lambang dari pikiran liar, yang sibuk mencari-cari kegemaran di luar diri, di belantara kehidupan yang luas ini, dan belum settle dengan dirinya.”

“Apa iya seperti itu maksudnya?”

“Rahasia kematian Kresna ada di telapak kakinya. Ia tewas karena panah menembus telapak kakinya. Telapak kaki itu simbol ‘jalan hidup’, ‘hidup membumi’, atau realisasi.”

“Ceritanya memang seperti itu. Panah menembus telapak kakinya.”

“Fragmen tewasnya Kresna akibat panah yang menembus telapak kakinya adalah alegori bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan akan mati atau tidak bermafaat jika tidak direalisasikan dan dibumikan sebagai tindakan dalam kehidupan nyata.”

“Lancar banget otakmu ngarang-ngarang, Cong, padahal minum baru dua gelas, hahaha…”

“Jaras yang membidik kaki Kresna karena menduganya rusa,  menggambarkan orang yang tidak berpengetahuan tidak akan mengerti nilai kebaikan, orang kerdil tidak akan memahami keagungan. Hidup memang selalu dipenuhi kesalahpahaman karena ketidakmengertian.”

“Itu tidak menjawab keingintahuanku. Bukan seperti itu yang aku inginkan. Jawabanmu tidak berbau spiritual tapi spiritus, hehe…”

“Kresna adalah cahaya. Lawan cahaya adalah kegelapan dan hanya kegelapan yang meniadakan cahaya meski hakikat cahaya itu tidak benar-benar lenyap. Kresna adalah cahaya kecerdasan. Hanya kecerdasan yang mampu mengagungkannya.”

“Ya cahaya, tapi cahaya yang kena panah, haha…”

“Begitu juga halnya zaman. Ia bergerak dengan kurvanya sendiri. Di zaman Kali konon moralitas manusia merosot hingga tersisa hanya seperempat dibandingkan zaman Satyayuga. Tewasnya Kresna di tangan pemburu itu menyiratkan tentang datangnya zaman baru, zaman kegelapan, zaman Kali yang didominasi oleh manusia-manusia pemburu kehidupan duniawi. Zaman yang dipenuhi manusia dangkal. Bahkan, mungkin kegelapan ini akan merosot semakin dalam. Itu artinya pengetahuan kasih dan kebijaksanaan Kresna sedang redup dan bahkan terbunuh oleh zaman yang ‘jaras’ ini. Barangkali seperti itu, Byah, maksudnya.”

“Kelihatannya kamu pesimis juga, Cong. Bukankah Awatara selalu hadir di setiap zaman untuk menyelamatkan dunia?”

“Kesadaran akan tumbuh sesuai kurva. Seiring mendalamnya kegelapan, cahaya terang juga akan bergerak naik. Seperti malam disongsong pagi. Ketika zaman sedang menuju puncak kegelapan pada saat yang sama cahaya Awatara juga bersiap terbit memasuki kesadaran zaman. Kegelapan dan terang itu abadi dan saling meniadakan satu sama lain sesuai putaran kehidupan.”

“Memangnya seperti itu pengertian Awatara? Yang aku pahami, kelak pada saatnya Awatara akan lahir sebagai sosok penyelamat dunia seperti lahirnya Kresna.”

“Barangkali saja seperti katamu itu. Semuanya tergantung cara pandangmu, caramu memahami cerita, tergantung juga pada tingkat mabukmu.”

“Aku ingat dengan ucapan Kresna ketika dia mengatakan ‘Aku terlahir dalam segala wujud dan di segala zaman untuk menyelamatkan dunia dan menegakkan kebenaran.  Dalam wujud apa pun, aku harus mengikuti kodrat jasmaniku. Jika aku terlahir berwujud dewa, aku bertindak sebagai dewa. Jika aku terlahir berwujud raksasa, aku bertingkah laku seperti raksasa. Jika aku terlahir sebagai manusia, aku bertindak seperti manusia. Dengan berbagai wujud ragaku, aku menjalankan tugasku sampai kelahiranku selesai’. Itu apa maksudnya, Cong?”

“Kebenaran atau kebijaksanaan itu tidak berwajah tunggal. Aktualisasinya akan menyesuaikan dengan kondisi, situasi, ruang dan waktu. Semua tentara yang terjun di medan perang pasti punya tujuan sama, yakni memenangkan pertempuran, namun situasi, kondisi, lawan, medan perang, serta masalahnya pasti punya latar belakang berbeda, karena itu setiap keadaan perlu pemahaman dan pendekatan yang berbeda.”

“Ah, ruwet otakmu, Cong. Kata-katamu panjang-panjang pula. Bagaimana bisa aku paham,” sela Pan Gobyah

“Agar bisa memahaminya, kita harus tercerahkan dalam pembelajaran yang terus-menerus sebab hidup ini memang kompleks dengan konfliknya.”

“Garis besarnya aku bisa menangkapnya bahwa kebijaksanaan Kresna itu tidak hadir dengan satu persepsi saja. Begitu kan maksudmu? Ternyata kebijaksanaan atau kebenaran itu rumit ya, Cong. Ia bukan nilai yang bergerak di ruang kosong. Seperti kata Kresna sendiri, setiap tindakannya akan mengikuti kodrat kelahirannya.”

“Aku kira begitu. Di dunia ini, kebenaran itu rumit, Byah. Karena itulah diperlukan kebijaksanaan Kresna di hati, seperti halnya Arjuna yang menjadikan Kresna sebagai penasihat dan kusir keretanya di medan perang Kurusetra.”

“Jika menurutmu Kresna itu kasih atau kebijaksanaan mengapa dia justru meminta Arjuna tidak ragu membunuh saudara-saudaranya atau guru-gurunya, bahkan merancang berbagai siasat licik agar Pandawa menang dalam Baratayuda? Karena perilakunya itu justru banyak yang bilang kalau Kresna itu tukang adu domba yang licik. Terus, kalau begitu, mana kasih dan kebijaksanaannya?”

“Itulah salah satu contoh, betapa kebenaran itu tak selalu mudah dipahami, apalagi oleh orang-orang berhati gelap dan dangkal seperti kita.”

“Sebaiknya kita habiskan saja minuman ini sekarang. Besok-besok kita obrolkan soal kebenaran itu. Tapi tujuh hari setelah Kresna tewas bahkan Dwakara, ibu kota kerajaan Kresna itu pun ikut lenyap, tenggelam di dasar samudera. Itu sejarah, Cong!”

“Kamu bisa membangun persepsi dari penggambaran peristiwa itu.”

“Apa itu?”

“Ketika kamu tidak butuh kebijaksanaan maka seluruh pengetahuan itu akan kembali kepada semesta. Kebijaksanaan itu adalah milik semesta. Bila engkau tidak mengaktualisasikannya maka ia akan tenggelam dan tertidur di dasar hatimu. Setiap orang memiliki potensi kebijaksanaan sebagai cahaya yang berstana di dasar batin.”

“Badah! Dasar lidah tak bertulang. Perutku mulai mules, Cong, mungkin aku lelah mendengar ocehanmu.” [T]

Tags: Mahabharatatokohwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebalian Orang Bali Perlu Dijaga?

Next Post

Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co