23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kresna Tewas

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
April 27, 2021
in Esai
Kresna Tewas

ilustrasi diolah dari gambar Google

Nang Kocong baru saja mengangkat gelas minumannya ketika Pan Gobyah menyela dengan pertanyaan. “Cong, mengapa Kresna bisa terbunuh oleh panah pemburu?”

“Ya, karena kena panah. Kalau meleset, pasti masih hidup.” Nang Kocong menyahut sekenanya sambil tangannya menahan gelas persis di depan mulutnya.

“Masa Kresna tewas di tangan pemburu yang bukan raja, bukan ksatria, bukan siapa-siapa. Bukankah Kresna itu Awatara?” sambung Pan Gobyah.

Suasana di Suck Cafe malam itu tampak nyaman. Sejumlah pengunjung terlihat damai dengan dirinya masing-masing. Musik kafe disetel lembut saja. Nang Kocong dan Pan Gobyah duduk di pojok di bawah lampu remang-remang yang diayunkan angin malam. Seorang waitress meningggalkan siluet tubuhnya yang bahenol di antara bayang-bayang botol minuman.

“Yang namanya mati bisa oleh siapa saja, kapan saja, dengan jalan apa saja, kan begitu?” jawab Nang Kocong.

“Pasti ada alasannya. Apalagi ini mengenai Kresna yang bukan tokoh sembarang.”

“Apa alasannya?”

“Itu yang aku tidak mengerti, makanya aku nanya kamu.”

“Memangnya aku tahu?”

“Biasanya kamu punya saja jawabannya.”

“Kita minum dulu biar dapat inspirasi.”

“Aku penasaran, Cong!”

“Santai, Byah. Itu cuma cerita. Kamu tak perlu terlalu hanyut terbawa pikiran sendiri. Jangan terikat dengan cerita, haha…”

Nang Kocong meneguk minuman dengan halus, menikmati sensasi alkohol sambil memicingkan mata, lalu meletakkan gelas dengan gerakan halus di meja. Sedangkan Pan Gobyah menenggak habis minumannya dalam sekali angkat. Angin malam mendesir di sela-sela jendela kafe.

“Byah, mahabharata itu kisah simbolis,” bisik Nang Kocong di antara sendawanya, “Kamu membaca mahabharata sama dengan kamu membaca diri sendiri, membaca beragam sifat, pikiran, tindakan, peristiwa atau konflik abadi dalam kehidupan ini. Kamu bisa bercermin di sana.”

“Menurutmu itu hanya cerita karangan? Nggaklah, Cong!”

“Sebagian nama tokoh atau tempat peristiwa, mungkin nyata, namun menurutku secara keseluruhan itu adalah ajaran yang dibungkus menjadi cerita indah dan penuh pesona.”

“Itu kan persepsimu, Cong. Tapi yang aku mau cuma jawaban mengapa Kresna bisa tewas di tangan pemburu. Itu saja.”

“Aku tidak ingat bagaimana ceritanya Kresna terbunuh.”

“Kalau tidak salah, ada pemburu bernama Jaras. Kebetulan dia lewat dekat tempat Kresna merebahkan diri.  Jaras melepaskan anak panahnya,  mengira Kresna seekor rusa sedang melepas lelah.  Anak panah itu menembus kaki Kresna. Seketika itu Kresna menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Jiwanya melayang, meninggalkan raganya. Begitu kira-kira, Cong.”

“Nah, kan kamu sudah tahu sendiri bagaimana Kresna tewas.”

“Bukan soal itunya namun kenapa hanya gara-gara panah pemburu bisa membuat Kresna tewas. Kesannya, kok tidak sakti, gitu?”

“Byah, Kresna itu simbol dari realisasi kasih, kebijaksanaan atau kebenaran. Kresna itu kasih yang hadir dalam tindakan. Apakah kamu memahami ini?”

“Sejak SD, yang aku tahu, Kresna itu Awatara Wisnu, penyelamat dunia. Ia tokoh yang agung.”

“Meski pun agung, tak berarti kasih Kresna bertahta di hati dan tindakan setiap orang. Dalam Mahabharata, ia hidup bersama Pandawa, tidak dengan Kurawa.”

“Apa maksudnya?”

“Ia hanya milik para pencari-Nya dan yang mengetahui-Nya. Bagi jiwa-individu tertentu,  kebijaksanaan Kresna itu bisa jadi ‘dibunuhnya’, secara sengaja maupun tidak. Ia ‘dibunuh’ tanpa disadari atau bahkan karena tidak diinginkan.”

“Siapa yang mencari-Nya, siapa yang mengetahui-Nya?”

“Orang yang gelap hati tidak mempedulikan Kresna, bahkan ‘membunuhnya’, seperti disimbolkan lewat tokoh Jaras si pemburu. Seorang pemburu tidak mengenal kasih Kresna.”

“Kenapa ya dia diberi nama Jaras? Apa arti Jaras?”

“Aku tidak tahu. Mungkin itu erasan dari kata jarah. Entahlah. Jarah, penjarah. Kata ini berkonotasi sebagai sifat jahat. Menjarah itu artinya sama dengan merampas, merampok, menggarong hak pihak lain secara paksa. Itu perbuatan jahat. Jiwa yang gelap yang hidup dengan sifat gelap akan membunuh kebijaksanaan dalam dirinya. Cahaya Kresna tidak akan menyala dalam bathin yang gelap.”

“Aku masih belum mengerti. Masalahnya Kresna itu tewas hanya oleh panah pemburu. Kalau saja karena dipanah oleh Dewa lainnya, barangkali aku bisa menerimanya.”

“Panah itu simbol pikiran. Pikiran seorang pemburu hanya fokus kepada hewan buruan. Yang memenuhi pikirannya hanyalah buruannya. Pikirannya digelapkan oleh tujuannya. Pemburu itu juga lambang dari pikiran liar, yang sibuk mencari-cari kegemaran di luar diri, di belantara kehidupan yang luas ini, dan belum settle dengan dirinya.”

“Apa iya seperti itu maksudnya?”

“Rahasia kematian Kresna ada di telapak kakinya. Ia tewas karena panah menembus telapak kakinya. Telapak kaki itu simbol ‘jalan hidup’, ‘hidup membumi’, atau realisasi.”

“Ceritanya memang seperti itu. Panah menembus telapak kakinya.”

“Fragmen tewasnya Kresna akibat panah yang menembus telapak kakinya adalah alegori bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan akan mati atau tidak bermafaat jika tidak direalisasikan dan dibumikan sebagai tindakan dalam kehidupan nyata.”

“Lancar banget otakmu ngarang-ngarang, Cong, padahal minum baru dua gelas, hahaha…”

“Jaras yang membidik kaki Kresna karena menduganya rusa,  menggambarkan orang yang tidak berpengetahuan tidak akan mengerti nilai kebaikan, orang kerdil tidak akan memahami keagungan. Hidup memang selalu dipenuhi kesalahpahaman karena ketidakmengertian.”

“Itu tidak menjawab keingintahuanku. Bukan seperti itu yang aku inginkan. Jawabanmu tidak berbau spiritual tapi spiritus, hehe…”

“Kresna adalah cahaya. Lawan cahaya adalah kegelapan dan hanya kegelapan yang meniadakan cahaya meski hakikat cahaya itu tidak benar-benar lenyap. Kresna adalah cahaya kecerdasan. Hanya kecerdasan yang mampu mengagungkannya.”

“Ya cahaya, tapi cahaya yang kena panah, haha…”

“Begitu juga halnya zaman. Ia bergerak dengan kurvanya sendiri. Di zaman Kali konon moralitas manusia merosot hingga tersisa hanya seperempat dibandingkan zaman Satyayuga. Tewasnya Kresna di tangan pemburu itu menyiratkan tentang datangnya zaman baru, zaman kegelapan, zaman Kali yang didominasi oleh manusia-manusia pemburu kehidupan duniawi. Zaman yang dipenuhi manusia dangkal. Bahkan, mungkin kegelapan ini akan merosot semakin dalam. Itu artinya pengetahuan kasih dan kebijaksanaan Kresna sedang redup dan bahkan terbunuh oleh zaman yang ‘jaras’ ini. Barangkali seperti itu, Byah, maksudnya.”

“Kelihatannya kamu pesimis juga, Cong. Bukankah Awatara selalu hadir di setiap zaman untuk menyelamatkan dunia?”

“Kesadaran akan tumbuh sesuai kurva. Seiring mendalamnya kegelapan, cahaya terang juga akan bergerak naik. Seperti malam disongsong pagi. Ketika zaman sedang menuju puncak kegelapan pada saat yang sama cahaya Awatara juga bersiap terbit memasuki kesadaran zaman. Kegelapan dan terang itu abadi dan saling meniadakan satu sama lain sesuai putaran kehidupan.”

“Memangnya seperti itu pengertian Awatara? Yang aku pahami, kelak pada saatnya Awatara akan lahir sebagai sosok penyelamat dunia seperti lahirnya Kresna.”

“Barangkali saja seperti katamu itu. Semuanya tergantung cara pandangmu, caramu memahami cerita, tergantung juga pada tingkat mabukmu.”

“Aku ingat dengan ucapan Kresna ketika dia mengatakan ‘Aku terlahir dalam segala wujud dan di segala zaman untuk menyelamatkan dunia dan menegakkan kebenaran.  Dalam wujud apa pun, aku harus mengikuti kodrat jasmaniku. Jika aku terlahir berwujud dewa, aku bertindak sebagai dewa. Jika aku terlahir berwujud raksasa, aku bertingkah laku seperti raksasa. Jika aku terlahir sebagai manusia, aku bertindak seperti manusia. Dengan berbagai wujud ragaku, aku menjalankan tugasku sampai kelahiranku selesai’. Itu apa maksudnya, Cong?”

“Kebenaran atau kebijaksanaan itu tidak berwajah tunggal. Aktualisasinya akan menyesuaikan dengan kondisi, situasi, ruang dan waktu. Semua tentara yang terjun di medan perang pasti punya tujuan sama, yakni memenangkan pertempuran, namun situasi, kondisi, lawan, medan perang, serta masalahnya pasti punya latar belakang berbeda, karena itu setiap keadaan perlu pemahaman dan pendekatan yang berbeda.”

“Ah, ruwet otakmu, Cong. Kata-katamu panjang-panjang pula. Bagaimana bisa aku paham,” sela Pan Gobyah

“Agar bisa memahaminya, kita harus tercerahkan dalam pembelajaran yang terus-menerus sebab hidup ini memang kompleks dengan konfliknya.”

“Garis besarnya aku bisa menangkapnya bahwa kebijaksanaan Kresna itu tidak hadir dengan satu persepsi saja. Begitu kan maksudmu? Ternyata kebijaksanaan atau kebenaran itu rumit ya, Cong. Ia bukan nilai yang bergerak di ruang kosong. Seperti kata Kresna sendiri, setiap tindakannya akan mengikuti kodrat kelahirannya.”

“Aku kira begitu. Di dunia ini, kebenaran itu rumit, Byah. Karena itulah diperlukan kebijaksanaan Kresna di hati, seperti halnya Arjuna yang menjadikan Kresna sebagai penasihat dan kusir keretanya di medan perang Kurusetra.”

“Jika menurutmu Kresna itu kasih atau kebijaksanaan mengapa dia justru meminta Arjuna tidak ragu membunuh saudara-saudaranya atau guru-gurunya, bahkan merancang berbagai siasat licik agar Pandawa menang dalam Baratayuda? Karena perilakunya itu justru banyak yang bilang kalau Kresna itu tukang adu domba yang licik. Terus, kalau begitu, mana kasih dan kebijaksanaannya?”

“Itulah salah satu contoh, betapa kebenaran itu tak selalu mudah dipahami, apalagi oleh orang-orang berhati gelap dan dangkal seperti kita.”

“Sebaiknya kita habiskan saja minuman ini sekarang. Besok-besok kita obrolkan soal kebenaran itu. Tapi tujuh hari setelah Kresna tewas bahkan Dwakara, ibu kota kerajaan Kresna itu pun ikut lenyap, tenggelam di dasar samudera. Itu sejarah, Cong!”

“Kamu bisa membangun persepsi dari penggambaran peristiwa itu.”

“Apa itu?”

“Ketika kamu tidak butuh kebijaksanaan maka seluruh pengetahuan itu akan kembali kepada semesta. Kebijaksanaan itu adalah milik semesta. Bila engkau tidak mengaktualisasikannya maka ia akan tenggelam dan tertidur di dasar hatimu. Setiap orang memiliki potensi kebijaksanaan sebagai cahaya yang berstana di dasar batin.”

“Badah! Dasar lidah tak bertulang. Perutku mulai mules, Cong, mungkin aku lelah mendengar ocehanmu.” [T]

Tags: Mahabharatatokohwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebalian Orang Bali Perlu Dijaga?

Next Post

Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co