13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kresna Tewas

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
April 27, 2021
in Esai
Kresna Tewas

ilustrasi diolah dari gambar Google

Nang Kocong baru saja mengangkat gelas minumannya ketika Pan Gobyah menyela dengan pertanyaan. “Cong, mengapa Kresna bisa terbunuh oleh panah pemburu?”

“Ya, karena kena panah. Kalau meleset, pasti masih hidup.” Nang Kocong menyahut sekenanya sambil tangannya menahan gelas persis di depan mulutnya.

“Masa Kresna tewas di tangan pemburu yang bukan raja, bukan ksatria, bukan siapa-siapa. Bukankah Kresna itu Awatara?” sambung Pan Gobyah.

Suasana di Suck Cafe malam itu tampak nyaman. Sejumlah pengunjung terlihat damai dengan dirinya masing-masing. Musik kafe disetel lembut saja. Nang Kocong dan Pan Gobyah duduk di pojok di bawah lampu remang-remang yang diayunkan angin malam. Seorang waitress meningggalkan siluet tubuhnya yang bahenol di antara bayang-bayang botol minuman.

“Yang namanya mati bisa oleh siapa saja, kapan saja, dengan jalan apa saja, kan begitu?” jawab Nang Kocong.

“Pasti ada alasannya. Apalagi ini mengenai Kresna yang bukan tokoh sembarang.”

“Apa alasannya?”

“Itu yang aku tidak mengerti, makanya aku nanya kamu.”

“Memangnya aku tahu?”

“Biasanya kamu punya saja jawabannya.”

“Kita minum dulu biar dapat inspirasi.”

“Aku penasaran, Cong!”

“Santai, Byah. Itu cuma cerita. Kamu tak perlu terlalu hanyut terbawa pikiran sendiri. Jangan terikat dengan cerita, haha…”

Nang Kocong meneguk minuman dengan halus, menikmati sensasi alkohol sambil memicingkan mata, lalu meletakkan gelas dengan gerakan halus di meja. Sedangkan Pan Gobyah menenggak habis minumannya dalam sekali angkat. Angin malam mendesir di sela-sela jendela kafe.

“Byah, mahabharata itu kisah simbolis,” bisik Nang Kocong di antara sendawanya, “Kamu membaca mahabharata sama dengan kamu membaca diri sendiri, membaca beragam sifat, pikiran, tindakan, peristiwa atau konflik abadi dalam kehidupan ini. Kamu bisa bercermin di sana.”

“Menurutmu itu hanya cerita karangan? Nggaklah, Cong!”

“Sebagian nama tokoh atau tempat peristiwa, mungkin nyata, namun menurutku secara keseluruhan itu adalah ajaran yang dibungkus menjadi cerita indah dan penuh pesona.”

“Itu kan persepsimu, Cong. Tapi yang aku mau cuma jawaban mengapa Kresna bisa tewas di tangan pemburu. Itu saja.”

“Aku tidak ingat bagaimana ceritanya Kresna terbunuh.”

“Kalau tidak salah, ada pemburu bernama Jaras. Kebetulan dia lewat dekat tempat Kresna merebahkan diri.  Jaras melepaskan anak panahnya,  mengira Kresna seekor rusa sedang melepas lelah.  Anak panah itu menembus kaki Kresna. Seketika itu Kresna menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Jiwanya melayang, meninggalkan raganya. Begitu kira-kira, Cong.”

“Nah, kan kamu sudah tahu sendiri bagaimana Kresna tewas.”

“Bukan soal itunya namun kenapa hanya gara-gara panah pemburu bisa membuat Kresna tewas. Kesannya, kok tidak sakti, gitu?”

“Byah, Kresna itu simbol dari realisasi kasih, kebijaksanaan atau kebenaran. Kresna itu kasih yang hadir dalam tindakan. Apakah kamu memahami ini?”

“Sejak SD, yang aku tahu, Kresna itu Awatara Wisnu, penyelamat dunia. Ia tokoh yang agung.”

“Meski pun agung, tak berarti kasih Kresna bertahta di hati dan tindakan setiap orang. Dalam Mahabharata, ia hidup bersama Pandawa, tidak dengan Kurawa.”

“Apa maksudnya?”

“Ia hanya milik para pencari-Nya dan yang mengetahui-Nya. Bagi jiwa-individu tertentu,  kebijaksanaan Kresna itu bisa jadi ‘dibunuhnya’, secara sengaja maupun tidak. Ia ‘dibunuh’ tanpa disadari atau bahkan karena tidak diinginkan.”

“Siapa yang mencari-Nya, siapa yang mengetahui-Nya?”

“Orang yang gelap hati tidak mempedulikan Kresna, bahkan ‘membunuhnya’, seperti disimbolkan lewat tokoh Jaras si pemburu. Seorang pemburu tidak mengenal kasih Kresna.”

“Kenapa ya dia diberi nama Jaras? Apa arti Jaras?”

“Aku tidak tahu. Mungkin itu erasan dari kata jarah. Entahlah. Jarah, penjarah. Kata ini berkonotasi sebagai sifat jahat. Menjarah itu artinya sama dengan merampas, merampok, menggarong hak pihak lain secara paksa. Itu perbuatan jahat. Jiwa yang gelap yang hidup dengan sifat gelap akan membunuh kebijaksanaan dalam dirinya. Cahaya Kresna tidak akan menyala dalam bathin yang gelap.”

“Aku masih belum mengerti. Masalahnya Kresna itu tewas hanya oleh panah pemburu. Kalau saja karena dipanah oleh Dewa lainnya, barangkali aku bisa menerimanya.”

“Panah itu simbol pikiran. Pikiran seorang pemburu hanya fokus kepada hewan buruan. Yang memenuhi pikirannya hanyalah buruannya. Pikirannya digelapkan oleh tujuannya. Pemburu itu juga lambang dari pikiran liar, yang sibuk mencari-cari kegemaran di luar diri, di belantara kehidupan yang luas ini, dan belum settle dengan dirinya.”

“Apa iya seperti itu maksudnya?”

“Rahasia kematian Kresna ada di telapak kakinya. Ia tewas karena panah menembus telapak kakinya. Telapak kaki itu simbol ‘jalan hidup’, ‘hidup membumi’, atau realisasi.”

“Ceritanya memang seperti itu. Panah menembus telapak kakinya.”

“Fragmen tewasnya Kresna akibat panah yang menembus telapak kakinya adalah alegori bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan akan mati atau tidak bermafaat jika tidak direalisasikan dan dibumikan sebagai tindakan dalam kehidupan nyata.”

“Lancar banget otakmu ngarang-ngarang, Cong, padahal minum baru dua gelas, hahaha…”

“Jaras yang membidik kaki Kresna karena menduganya rusa,  menggambarkan orang yang tidak berpengetahuan tidak akan mengerti nilai kebaikan, orang kerdil tidak akan memahami keagungan. Hidup memang selalu dipenuhi kesalahpahaman karena ketidakmengertian.”

“Itu tidak menjawab keingintahuanku. Bukan seperti itu yang aku inginkan. Jawabanmu tidak berbau spiritual tapi spiritus, hehe…”

“Kresna adalah cahaya. Lawan cahaya adalah kegelapan dan hanya kegelapan yang meniadakan cahaya meski hakikat cahaya itu tidak benar-benar lenyap. Kresna adalah cahaya kecerdasan. Hanya kecerdasan yang mampu mengagungkannya.”

“Ya cahaya, tapi cahaya yang kena panah, haha…”

“Begitu juga halnya zaman. Ia bergerak dengan kurvanya sendiri. Di zaman Kali konon moralitas manusia merosot hingga tersisa hanya seperempat dibandingkan zaman Satyayuga. Tewasnya Kresna di tangan pemburu itu menyiratkan tentang datangnya zaman baru, zaman kegelapan, zaman Kali yang didominasi oleh manusia-manusia pemburu kehidupan duniawi. Zaman yang dipenuhi manusia dangkal. Bahkan, mungkin kegelapan ini akan merosot semakin dalam. Itu artinya pengetahuan kasih dan kebijaksanaan Kresna sedang redup dan bahkan terbunuh oleh zaman yang ‘jaras’ ini. Barangkali seperti itu, Byah, maksudnya.”

“Kelihatannya kamu pesimis juga, Cong. Bukankah Awatara selalu hadir di setiap zaman untuk menyelamatkan dunia?”

“Kesadaran akan tumbuh sesuai kurva. Seiring mendalamnya kegelapan, cahaya terang juga akan bergerak naik. Seperti malam disongsong pagi. Ketika zaman sedang menuju puncak kegelapan pada saat yang sama cahaya Awatara juga bersiap terbit memasuki kesadaran zaman. Kegelapan dan terang itu abadi dan saling meniadakan satu sama lain sesuai putaran kehidupan.”

“Memangnya seperti itu pengertian Awatara? Yang aku pahami, kelak pada saatnya Awatara akan lahir sebagai sosok penyelamat dunia seperti lahirnya Kresna.”

“Barangkali saja seperti katamu itu. Semuanya tergantung cara pandangmu, caramu memahami cerita, tergantung juga pada tingkat mabukmu.”

“Aku ingat dengan ucapan Kresna ketika dia mengatakan ‘Aku terlahir dalam segala wujud dan di segala zaman untuk menyelamatkan dunia dan menegakkan kebenaran.  Dalam wujud apa pun, aku harus mengikuti kodrat jasmaniku. Jika aku terlahir berwujud dewa, aku bertindak sebagai dewa. Jika aku terlahir berwujud raksasa, aku bertingkah laku seperti raksasa. Jika aku terlahir sebagai manusia, aku bertindak seperti manusia. Dengan berbagai wujud ragaku, aku menjalankan tugasku sampai kelahiranku selesai’. Itu apa maksudnya, Cong?”

“Kebenaran atau kebijaksanaan itu tidak berwajah tunggal. Aktualisasinya akan menyesuaikan dengan kondisi, situasi, ruang dan waktu. Semua tentara yang terjun di medan perang pasti punya tujuan sama, yakni memenangkan pertempuran, namun situasi, kondisi, lawan, medan perang, serta masalahnya pasti punya latar belakang berbeda, karena itu setiap keadaan perlu pemahaman dan pendekatan yang berbeda.”

“Ah, ruwet otakmu, Cong. Kata-katamu panjang-panjang pula. Bagaimana bisa aku paham,” sela Pan Gobyah

“Agar bisa memahaminya, kita harus tercerahkan dalam pembelajaran yang terus-menerus sebab hidup ini memang kompleks dengan konfliknya.”

“Garis besarnya aku bisa menangkapnya bahwa kebijaksanaan Kresna itu tidak hadir dengan satu persepsi saja. Begitu kan maksudmu? Ternyata kebijaksanaan atau kebenaran itu rumit ya, Cong. Ia bukan nilai yang bergerak di ruang kosong. Seperti kata Kresna sendiri, setiap tindakannya akan mengikuti kodrat kelahirannya.”

“Aku kira begitu. Di dunia ini, kebenaran itu rumit, Byah. Karena itulah diperlukan kebijaksanaan Kresna di hati, seperti halnya Arjuna yang menjadikan Kresna sebagai penasihat dan kusir keretanya di medan perang Kurusetra.”

“Jika menurutmu Kresna itu kasih atau kebijaksanaan mengapa dia justru meminta Arjuna tidak ragu membunuh saudara-saudaranya atau guru-gurunya, bahkan merancang berbagai siasat licik agar Pandawa menang dalam Baratayuda? Karena perilakunya itu justru banyak yang bilang kalau Kresna itu tukang adu domba yang licik. Terus, kalau begitu, mana kasih dan kebijaksanaannya?”

“Itulah salah satu contoh, betapa kebenaran itu tak selalu mudah dipahami, apalagi oleh orang-orang berhati gelap dan dangkal seperti kita.”

“Sebaiknya kita habiskan saja minuman ini sekarang. Besok-besok kita obrolkan soal kebenaran itu. Tapi tujuh hari setelah Kresna tewas bahkan Dwakara, ibu kota kerajaan Kresna itu pun ikut lenyap, tenggelam di dasar samudera. Itu sejarah, Cong!”

“Kamu bisa membangun persepsi dari penggambaran peristiwa itu.”

“Apa itu?”

“Ketika kamu tidak butuh kebijaksanaan maka seluruh pengetahuan itu akan kembali kepada semesta. Kebijaksanaan itu adalah milik semesta. Bila engkau tidak mengaktualisasikannya maka ia akan tenggelam dan tertidur di dasar hatimu. Setiap orang memiliki potensi kebijaksanaan sebagai cahaya yang berstana di dasar batin.”

“Badah! Dasar lidah tak bertulang. Perutku mulai mules, Cong, mungkin aku lelah mendengar ocehanmu.” [T]

Tags: Mahabharatatokohwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebalian Orang Bali Perlu Dijaga?

Next Post

Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co