12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kresna Tewas

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
April 27, 2021
in Esai
Kresna Tewas

ilustrasi diolah dari gambar Google

Nang Kocong baru saja mengangkat gelas minumannya ketika Pan Gobyah menyela dengan pertanyaan. “Cong, mengapa Kresna bisa terbunuh oleh panah pemburu?”

“Ya, karena kena panah. Kalau meleset, pasti masih hidup.” Nang Kocong menyahut sekenanya sambil tangannya menahan gelas persis di depan mulutnya.

“Masa Kresna tewas di tangan pemburu yang bukan raja, bukan ksatria, bukan siapa-siapa. Bukankah Kresna itu Awatara?” sambung Pan Gobyah.

Suasana di Suck Cafe malam itu tampak nyaman. Sejumlah pengunjung terlihat damai dengan dirinya masing-masing. Musik kafe disetel lembut saja. Nang Kocong dan Pan Gobyah duduk di pojok di bawah lampu remang-remang yang diayunkan angin malam. Seorang waitress meningggalkan siluet tubuhnya yang bahenol di antara bayang-bayang botol minuman.

“Yang namanya mati bisa oleh siapa saja, kapan saja, dengan jalan apa saja, kan begitu?” jawab Nang Kocong.

“Pasti ada alasannya. Apalagi ini mengenai Kresna yang bukan tokoh sembarang.”

“Apa alasannya?”

“Itu yang aku tidak mengerti, makanya aku nanya kamu.”

“Memangnya aku tahu?”

“Biasanya kamu punya saja jawabannya.”

“Kita minum dulu biar dapat inspirasi.”

“Aku penasaran, Cong!”

“Santai, Byah. Itu cuma cerita. Kamu tak perlu terlalu hanyut terbawa pikiran sendiri. Jangan terikat dengan cerita, haha…”

Nang Kocong meneguk minuman dengan halus, menikmati sensasi alkohol sambil memicingkan mata, lalu meletakkan gelas dengan gerakan halus di meja. Sedangkan Pan Gobyah menenggak habis minumannya dalam sekali angkat. Angin malam mendesir di sela-sela jendela kafe.

“Byah, mahabharata itu kisah simbolis,” bisik Nang Kocong di antara sendawanya, “Kamu membaca mahabharata sama dengan kamu membaca diri sendiri, membaca beragam sifat, pikiran, tindakan, peristiwa atau konflik abadi dalam kehidupan ini. Kamu bisa bercermin di sana.”

“Menurutmu itu hanya cerita karangan? Nggaklah, Cong!”

“Sebagian nama tokoh atau tempat peristiwa, mungkin nyata, namun menurutku secara keseluruhan itu adalah ajaran yang dibungkus menjadi cerita indah dan penuh pesona.”

“Itu kan persepsimu, Cong. Tapi yang aku mau cuma jawaban mengapa Kresna bisa tewas di tangan pemburu. Itu saja.”

“Aku tidak ingat bagaimana ceritanya Kresna terbunuh.”

“Kalau tidak salah, ada pemburu bernama Jaras. Kebetulan dia lewat dekat tempat Kresna merebahkan diri.  Jaras melepaskan anak panahnya,  mengira Kresna seekor rusa sedang melepas lelah.  Anak panah itu menembus kaki Kresna. Seketika itu Kresna menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Jiwanya melayang, meninggalkan raganya. Begitu kira-kira, Cong.”

“Nah, kan kamu sudah tahu sendiri bagaimana Kresna tewas.”

“Bukan soal itunya namun kenapa hanya gara-gara panah pemburu bisa membuat Kresna tewas. Kesannya, kok tidak sakti, gitu?”

“Byah, Kresna itu simbol dari realisasi kasih, kebijaksanaan atau kebenaran. Kresna itu kasih yang hadir dalam tindakan. Apakah kamu memahami ini?”

“Sejak SD, yang aku tahu, Kresna itu Awatara Wisnu, penyelamat dunia. Ia tokoh yang agung.”

“Meski pun agung, tak berarti kasih Kresna bertahta di hati dan tindakan setiap orang. Dalam Mahabharata, ia hidup bersama Pandawa, tidak dengan Kurawa.”

“Apa maksudnya?”

“Ia hanya milik para pencari-Nya dan yang mengetahui-Nya. Bagi jiwa-individu tertentu,  kebijaksanaan Kresna itu bisa jadi ‘dibunuhnya’, secara sengaja maupun tidak. Ia ‘dibunuh’ tanpa disadari atau bahkan karena tidak diinginkan.”

“Siapa yang mencari-Nya, siapa yang mengetahui-Nya?”

“Orang yang gelap hati tidak mempedulikan Kresna, bahkan ‘membunuhnya’, seperti disimbolkan lewat tokoh Jaras si pemburu. Seorang pemburu tidak mengenal kasih Kresna.”

“Kenapa ya dia diberi nama Jaras? Apa arti Jaras?”

“Aku tidak tahu. Mungkin itu erasan dari kata jarah. Entahlah. Jarah, penjarah. Kata ini berkonotasi sebagai sifat jahat. Menjarah itu artinya sama dengan merampas, merampok, menggarong hak pihak lain secara paksa. Itu perbuatan jahat. Jiwa yang gelap yang hidup dengan sifat gelap akan membunuh kebijaksanaan dalam dirinya. Cahaya Kresna tidak akan menyala dalam bathin yang gelap.”

“Aku masih belum mengerti. Masalahnya Kresna itu tewas hanya oleh panah pemburu. Kalau saja karena dipanah oleh Dewa lainnya, barangkali aku bisa menerimanya.”

“Panah itu simbol pikiran. Pikiran seorang pemburu hanya fokus kepada hewan buruan. Yang memenuhi pikirannya hanyalah buruannya. Pikirannya digelapkan oleh tujuannya. Pemburu itu juga lambang dari pikiran liar, yang sibuk mencari-cari kegemaran di luar diri, di belantara kehidupan yang luas ini, dan belum settle dengan dirinya.”

“Apa iya seperti itu maksudnya?”

“Rahasia kematian Kresna ada di telapak kakinya. Ia tewas karena panah menembus telapak kakinya. Telapak kaki itu simbol ‘jalan hidup’, ‘hidup membumi’, atau realisasi.”

“Ceritanya memang seperti itu. Panah menembus telapak kakinya.”

“Fragmen tewasnya Kresna akibat panah yang menembus telapak kakinya adalah alegori bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan akan mati atau tidak bermafaat jika tidak direalisasikan dan dibumikan sebagai tindakan dalam kehidupan nyata.”

“Lancar banget otakmu ngarang-ngarang, Cong, padahal minum baru dua gelas, hahaha…”

“Jaras yang membidik kaki Kresna karena menduganya rusa,  menggambarkan orang yang tidak berpengetahuan tidak akan mengerti nilai kebaikan, orang kerdil tidak akan memahami keagungan. Hidup memang selalu dipenuhi kesalahpahaman karena ketidakmengertian.”

“Itu tidak menjawab keingintahuanku. Bukan seperti itu yang aku inginkan. Jawabanmu tidak berbau spiritual tapi spiritus, hehe…”

“Kresna adalah cahaya. Lawan cahaya adalah kegelapan dan hanya kegelapan yang meniadakan cahaya meski hakikat cahaya itu tidak benar-benar lenyap. Kresna adalah cahaya kecerdasan. Hanya kecerdasan yang mampu mengagungkannya.”

“Ya cahaya, tapi cahaya yang kena panah, haha…”

“Begitu juga halnya zaman. Ia bergerak dengan kurvanya sendiri. Di zaman Kali konon moralitas manusia merosot hingga tersisa hanya seperempat dibandingkan zaman Satyayuga. Tewasnya Kresna di tangan pemburu itu menyiratkan tentang datangnya zaman baru, zaman kegelapan, zaman Kali yang didominasi oleh manusia-manusia pemburu kehidupan duniawi. Zaman yang dipenuhi manusia dangkal. Bahkan, mungkin kegelapan ini akan merosot semakin dalam. Itu artinya pengetahuan kasih dan kebijaksanaan Kresna sedang redup dan bahkan terbunuh oleh zaman yang ‘jaras’ ini. Barangkali seperti itu, Byah, maksudnya.”

“Kelihatannya kamu pesimis juga, Cong. Bukankah Awatara selalu hadir di setiap zaman untuk menyelamatkan dunia?”

“Kesadaran akan tumbuh sesuai kurva. Seiring mendalamnya kegelapan, cahaya terang juga akan bergerak naik. Seperti malam disongsong pagi. Ketika zaman sedang menuju puncak kegelapan pada saat yang sama cahaya Awatara juga bersiap terbit memasuki kesadaran zaman. Kegelapan dan terang itu abadi dan saling meniadakan satu sama lain sesuai putaran kehidupan.”

“Memangnya seperti itu pengertian Awatara? Yang aku pahami, kelak pada saatnya Awatara akan lahir sebagai sosok penyelamat dunia seperti lahirnya Kresna.”

“Barangkali saja seperti katamu itu. Semuanya tergantung cara pandangmu, caramu memahami cerita, tergantung juga pada tingkat mabukmu.”

“Aku ingat dengan ucapan Kresna ketika dia mengatakan ‘Aku terlahir dalam segala wujud dan di segala zaman untuk menyelamatkan dunia dan menegakkan kebenaran.  Dalam wujud apa pun, aku harus mengikuti kodrat jasmaniku. Jika aku terlahir berwujud dewa, aku bertindak sebagai dewa. Jika aku terlahir berwujud raksasa, aku bertingkah laku seperti raksasa. Jika aku terlahir sebagai manusia, aku bertindak seperti manusia. Dengan berbagai wujud ragaku, aku menjalankan tugasku sampai kelahiranku selesai’. Itu apa maksudnya, Cong?”

“Kebenaran atau kebijaksanaan itu tidak berwajah tunggal. Aktualisasinya akan menyesuaikan dengan kondisi, situasi, ruang dan waktu. Semua tentara yang terjun di medan perang pasti punya tujuan sama, yakni memenangkan pertempuran, namun situasi, kondisi, lawan, medan perang, serta masalahnya pasti punya latar belakang berbeda, karena itu setiap keadaan perlu pemahaman dan pendekatan yang berbeda.”

“Ah, ruwet otakmu, Cong. Kata-katamu panjang-panjang pula. Bagaimana bisa aku paham,” sela Pan Gobyah

“Agar bisa memahaminya, kita harus tercerahkan dalam pembelajaran yang terus-menerus sebab hidup ini memang kompleks dengan konfliknya.”

“Garis besarnya aku bisa menangkapnya bahwa kebijaksanaan Kresna itu tidak hadir dengan satu persepsi saja. Begitu kan maksudmu? Ternyata kebijaksanaan atau kebenaran itu rumit ya, Cong. Ia bukan nilai yang bergerak di ruang kosong. Seperti kata Kresna sendiri, setiap tindakannya akan mengikuti kodrat kelahirannya.”

“Aku kira begitu. Di dunia ini, kebenaran itu rumit, Byah. Karena itulah diperlukan kebijaksanaan Kresna di hati, seperti halnya Arjuna yang menjadikan Kresna sebagai penasihat dan kusir keretanya di medan perang Kurusetra.”

“Jika menurutmu Kresna itu kasih atau kebijaksanaan mengapa dia justru meminta Arjuna tidak ragu membunuh saudara-saudaranya atau guru-gurunya, bahkan merancang berbagai siasat licik agar Pandawa menang dalam Baratayuda? Karena perilakunya itu justru banyak yang bilang kalau Kresna itu tukang adu domba yang licik. Terus, kalau begitu, mana kasih dan kebijaksanaannya?”

“Itulah salah satu contoh, betapa kebenaran itu tak selalu mudah dipahami, apalagi oleh orang-orang berhati gelap dan dangkal seperti kita.”

“Sebaiknya kita habiskan saja minuman ini sekarang. Besok-besok kita obrolkan soal kebenaran itu. Tapi tujuh hari setelah Kresna tewas bahkan Dwakara, ibu kota kerajaan Kresna itu pun ikut lenyap, tenggelam di dasar samudera. Itu sejarah, Cong!”

“Kamu bisa membangun persepsi dari penggambaran peristiwa itu.”

“Apa itu?”

“Ketika kamu tidak butuh kebijaksanaan maka seluruh pengetahuan itu akan kembali kepada semesta. Kebijaksanaan itu adalah milik semesta. Bila engkau tidak mengaktualisasikannya maka ia akan tenggelam dan tertidur di dasar hatimu. Setiap orang memiliki potensi kebijaksanaan sebagai cahaya yang berstana di dasar batin.”

“Badah! Dasar lidah tak bertulang. Perutku mulai mules, Cong, mungkin aku lelah mendengar ocehanmu.” [T]

Tags: Mahabharatatokohwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebalian Orang Bali Perlu Dijaga?

Next Post

Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co