2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kresna Tewas

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
April 27, 2021
in Esai
Kresna Tewas

ilustrasi diolah dari gambar Google

Nang Kocong baru saja mengangkat gelas minumannya ketika Pan Gobyah menyela dengan pertanyaan. “Cong, mengapa Kresna bisa terbunuh oleh panah pemburu?”

“Ya, karena kena panah. Kalau meleset, pasti masih hidup.” Nang Kocong menyahut sekenanya sambil tangannya menahan gelas persis di depan mulutnya.

“Masa Kresna tewas di tangan pemburu yang bukan raja, bukan ksatria, bukan siapa-siapa. Bukankah Kresna itu Awatara?” sambung Pan Gobyah.

Suasana di Suck Cafe malam itu tampak nyaman. Sejumlah pengunjung terlihat damai dengan dirinya masing-masing. Musik kafe disetel lembut saja. Nang Kocong dan Pan Gobyah duduk di pojok di bawah lampu remang-remang yang diayunkan angin malam. Seorang waitress meningggalkan siluet tubuhnya yang bahenol di antara bayang-bayang botol minuman.

“Yang namanya mati bisa oleh siapa saja, kapan saja, dengan jalan apa saja, kan begitu?” jawab Nang Kocong.

“Pasti ada alasannya. Apalagi ini mengenai Kresna yang bukan tokoh sembarang.”

“Apa alasannya?”

“Itu yang aku tidak mengerti, makanya aku nanya kamu.”

“Memangnya aku tahu?”

“Biasanya kamu punya saja jawabannya.”

“Kita minum dulu biar dapat inspirasi.”

“Aku penasaran, Cong!”

“Santai, Byah. Itu cuma cerita. Kamu tak perlu terlalu hanyut terbawa pikiran sendiri. Jangan terikat dengan cerita, haha…”

Nang Kocong meneguk minuman dengan halus, menikmati sensasi alkohol sambil memicingkan mata, lalu meletakkan gelas dengan gerakan halus di meja. Sedangkan Pan Gobyah menenggak habis minumannya dalam sekali angkat. Angin malam mendesir di sela-sela jendela kafe.

“Byah, mahabharata itu kisah simbolis,” bisik Nang Kocong di antara sendawanya, “Kamu membaca mahabharata sama dengan kamu membaca diri sendiri, membaca beragam sifat, pikiran, tindakan, peristiwa atau konflik abadi dalam kehidupan ini. Kamu bisa bercermin di sana.”

“Menurutmu itu hanya cerita karangan? Nggaklah, Cong!”

“Sebagian nama tokoh atau tempat peristiwa, mungkin nyata, namun menurutku secara keseluruhan itu adalah ajaran yang dibungkus menjadi cerita indah dan penuh pesona.”

“Itu kan persepsimu, Cong. Tapi yang aku mau cuma jawaban mengapa Kresna bisa tewas di tangan pemburu. Itu saja.”

“Aku tidak ingat bagaimana ceritanya Kresna terbunuh.”

“Kalau tidak salah, ada pemburu bernama Jaras. Kebetulan dia lewat dekat tempat Kresna merebahkan diri.  Jaras melepaskan anak panahnya,  mengira Kresna seekor rusa sedang melepas lelah.  Anak panah itu menembus kaki Kresna. Seketika itu Kresna menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Jiwanya melayang, meninggalkan raganya. Begitu kira-kira, Cong.”

“Nah, kan kamu sudah tahu sendiri bagaimana Kresna tewas.”

“Bukan soal itunya namun kenapa hanya gara-gara panah pemburu bisa membuat Kresna tewas. Kesannya, kok tidak sakti, gitu?”

“Byah, Kresna itu simbol dari realisasi kasih, kebijaksanaan atau kebenaran. Kresna itu kasih yang hadir dalam tindakan. Apakah kamu memahami ini?”

“Sejak SD, yang aku tahu, Kresna itu Awatara Wisnu, penyelamat dunia. Ia tokoh yang agung.”

“Meski pun agung, tak berarti kasih Kresna bertahta di hati dan tindakan setiap orang. Dalam Mahabharata, ia hidup bersama Pandawa, tidak dengan Kurawa.”

“Apa maksudnya?”

“Ia hanya milik para pencari-Nya dan yang mengetahui-Nya. Bagi jiwa-individu tertentu,  kebijaksanaan Kresna itu bisa jadi ‘dibunuhnya’, secara sengaja maupun tidak. Ia ‘dibunuh’ tanpa disadari atau bahkan karena tidak diinginkan.”

“Siapa yang mencari-Nya, siapa yang mengetahui-Nya?”

“Orang yang gelap hati tidak mempedulikan Kresna, bahkan ‘membunuhnya’, seperti disimbolkan lewat tokoh Jaras si pemburu. Seorang pemburu tidak mengenal kasih Kresna.”

“Kenapa ya dia diberi nama Jaras? Apa arti Jaras?”

“Aku tidak tahu. Mungkin itu erasan dari kata jarah. Entahlah. Jarah, penjarah. Kata ini berkonotasi sebagai sifat jahat. Menjarah itu artinya sama dengan merampas, merampok, menggarong hak pihak lain secara paksa. Itu perbuatan jahat. Jiwa yang gelap yang hidup dengan sifat gelap akan membunuh kebijaksanaan dalam dirinya. Cahaya Kresna tidak akan menyala dalam bathin yang gelap.”

“Aku masih belum mengerti. Masalahnya Kresna itu tewas hanya oleh panah pemburu. Kalau saja karena dipanah oleh Dewa lainnya, barangkali aku bisa menerimanya.”

“Panah itu simbol pikiran. Pikiran seorang pemburu hanya fokus kepada hewan buruan. Yang memenuhi pikirannya hanyalah buruannya. Pikirannya digelapkan oleh tujuannya. Pemburu itu juga lambang dari pikiran liar, yang sibuk mencari-cari kegemaran di luar diri, di belantara kehidupan yang luas ini, dan belum settle dengan dirinya.”

“Apa iya seperti itu maksudnya?”

“Rahasia kematian Kresna ada di telapak kakinya. Ia tewas karena panah menembus telapak kakinya. Telapak kaki itu simbol ‘jalan hidup’, ‘hidup membumi’, atau realisasi.”

“Ceritanya memang seperti itu. Panah menembus telapak kakinya.”

“Fragmen tewasnya Kresna akibat panah yang menembus telapak kakinya adalah alegori bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan akan mati atau tidak bermafaat jika tidak direalisasikan dan dibumikan sebagai tindakan dalam kehidupan nyata.”

“Lancar banget otakmu ngarang-ngarang, Cong, padahal minum baru dua gelas, hahaha…”

“Jaras yang membidik kaki Kresna karena menduganya rusa,  menggambarkan orang yang tidak berpengetahuan tidak akan mengerti nilai kebaikan, orang kerdil tidak akan memahami keagungan. Hidup memang selalu dipenuhi kesalahpahaman karena ketidakmengertian.”

“Itu tidak menjawab keingintahuanku. Bukan seperti itu yang aku inginkan. Jawabanmu tidak berbau spiritual tapi spiritus, hehe…”

“Kresna adalah cahaya. Lawan cahaya adalah kegelapan dan hanya kegelapan yang meniadakan cahaya meski hakikat cahaya itu tidak benar-benar lenyap. Kresna adalah cahaya kecerdasan. Hanya kecerdasan yang mampu mengagungkannya.”

“Ya cahaya, tapi cahaya yang kena panah, haha…”

“Begitu juga halnya zaman. Ia bergerak dengan kurvanya sendiri. Di zaman Kali konon moralitas manusia merosot hingga tersisa hanya seperempat dibandingkan zaman Satyayuga. Tewasnya Kresna di tangan pemburu itu menyiratkan tentang datangnya zaman baru, zaman kegelapan, zaman Kali yang didominasi oleh manusia-manusia pemburu kehidupan duniawi. Zaman yang dipenuhi manusia dangkal. Bahkan, mungkin kegelapan ini akan merosot semakin dalam. Itu artinya pengetahuan kasih dan kebijaksanaan Kresna sedang redup dan bahkan terbunuh oleh zaman yang ‘jaras’ ini. Barangkali seperti itu, Byah, maksudnya.”

“Kelihatannya kamu pesimis juga, Cong. Bukankah Awatara selalu hadir di setiap zaman untuk menyelamatkan dunia?”

“Kesadaran akan tumbuh sesuai kurva. Seiring mendalamnya kegelapan, cahaya terang juga akan bergerak naik. Seperti malam disongsong pagi. Ketika zaman sedang menuju puncak kegelapan pada saat yang sama cahaya Awatara juga bersiap terbit memasuki kesadaran zaman. Kegelapan dan terang itu abadi dan saling meniadakan satu sama lain sesuai putaran kehidupan.”

“Memangnya seperti itu pengertian Awatara? Yang aku pahami, kelak pada saatnya Awatara akan lahir sebagai sosok penyelamat dunia seperti lahirnya Kresna.”

“Barangkali saja seperti katamu itu. Semuanya tergantung cara pandangmu, caramu memahami cerita, tergantung juga pada tingkat mabukmu.”

“Aku ingat dengan ucapan Kresna ketika dia mengatakan ‘Aku terlahir dalam segala wujud dan di segala zaman untuk menyelamatkan dunia dan menegakkan kebenaran.  Dalam wujud apa pun, aku harus mengikuti kodrat jasmaniku. Jika aku terlahir berwujud dewa, aku bertindak sebagai dewa. Jika aku terlahir berwujud raksasa, aku bertingkah laku seperti raksasa. Jika aku terlahir sebagai manusia, aku bertindak seperti manusia. Dengan berbagai wujud ragaku, aku menjalankan tugasku sampai kelahiranku selesai’. Itu apa maksudnya, Cong?”

“Kebenaran atau kebijaksanaan itu tidak berwajah tunggal. Aktualisasinya akan menyesuaikan dengan kondisi, situasi, ruang dan waktu. Semua tentara yang terjun di medan perang pasti punya tujuan sama, yakni memenangkan pertempuran, namun situasi, kondisi, lawan, medan perang, serta masalahnya pasti punya latar belakang berbeda, karena itu setiap keadaan perlu pemahaman dan pendekatan yang berbeda.”

“Ah, ruwet otakmu, Cong. Kata-katamu panjang-panjang pula. Bagaimana bisa aku paham,” sela Pan Gobyah

“Agar bisa memahaminya, kita harus tercerahkan dalam pembelajaran yang terus-menerus sebab hidup ini memang kompleks dengan konfliknya.”

“Garis besarnya aku bisa menangkapnya bahwa kebijaksanaan Kresna itu tidak hadir dengan satu persepsi saja. Begitu kan maksudmu? Ternyata kebijaksanaan atau kebenaran itu rumit ya, Cong. Ia bukan nilai yang bergerak di ruang kosong. Seperti kata Kresna sendiri, setiap tindakannya akan mengikuti kodrat kelahirannya.”

“Aku kira begitu. Di dunia ini, kebenaran itu rumit, Byah. Karena itulah diperlukan kebijaksanaan Kresna di hati, seperti halnya Arjuna yang menjadikan Kresna sebagai penasihat dan kusir keretanya di medan perang Kurusetra.”

“Jika menurutmu Kresna itu kasih atau kebijaksanaan mengapa dia justru meminta Arjuna tidak ragu membunuh saudara-saudaranya atau guru-gurunya, bahkan merancang berbagai siasat licik agar Pandawa menang dalam Baratayuda? Karena perilakunya itu justru banyak yang bilang kalau Kresna itu tukang adu domba yang licik. Terus, kalau begitu, mana kasih dan kebijaksanaannya?”

“Itulah salah satu contoh, betapa kebenaran itu tak selalu mudah dipahami, apalagi oleh orang-orang berhati gelap dan dangkal seperti kita.”

“Sebaiknya kita habiskan saja minuman ini sekarang. Besok-besok kita obrolkan soal kebenaran itu. Tapi tujuh hari setelah Kresna tewas bahkan Dwakara, ibu kota kerajaan Kresna itu pun ikut lenyap, tenggelam di dasar samudera. Itu sejarah, Cong!”

“Kamu bisa membangun persepsi dari penggambaran peristiwa itu.”

“Apa itu?”

“Ketika kamu tidak butuh kebijaksanaan maka seluruh pengetahuan itu akan kembali kepada semesta. Kebijaksanaan itu adalah milik semesta. Bila engkau tidak mengaktualisasikannya maka ia akan tenggelam dan tertidur di dasar hatimu. Setiap orang memiliki potensi kebijaksanaan sebagai cahaya yang berstana di dasar batin.”

“Badah! Dasar lidah tak bertulang. Perutku mulai mules, Cong, mungkin aku lelah mendengar ocehanmu.” [T]

Tags: Mahabharatatokohwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebalian Orang Bali Perlu Dijaga?

Next Post

Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Cegukan Bikin Tinggi? Ah…

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co