23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebalian Orang Bali Perlu Dijaga?

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
April 26, 2021
in Esai
Kebalian Orang Bali Perlu Dijaga?

Foto ilustrasi: Jayen Photography

PADA bulan April tahun 1989, Bali Post pernah mengadakan diskusi dengan tema “Kebalian masyarakat Bali”. Diskusi ini sangat menarik, melahirkan dialog-dialog yang bermutu tentang Bali.

Saya sangat menikmati pertarungan argumentasi intelektual Bali saat itu, meski hanya bisa saya ikuti melalui kliping Koran. Diskusinya benar-benar hidup, dinamis, cair, dan reflektif. Ada yang berupaya mengafirmasi, ada pula menggugat. Melahirkan tesa, antitesa, dan sintesa.

Beragam pertanyaan mencoba diurai tentang apa itu “kebalian orang Bali”. Darimana dan dengan apa identitas ini dibangun? Bagaimana proses historis pembentukan identitas ini? Jika memang orang Bali sudah kehilangan kebaliannya, lalu pertanyaannya sejak kapan orang Bali jadi pemilik kebalian itu? Apakah kebalian itu sudah jadi, atau masih dalam proses menjadi?

Pada saat itu, mereka sepakat—meski ada yang menolak—bahwa sebutan orang Bali ditempelkan pada mereka yang telah menjadi pendukung budaya Bali. Mereka yang masih aktif terlibat dalam tradisi budaya Bali yang dijiwai oleh agama Hindu.

Lebih menukik lagi: mereka yang beragama Hindu! Jika ada framing demikian, berarti pihak-pihak di luar framing itu berarti orang yang tidak menjadi pendukung budaya Bali. Atau sedang berada “di luar kebathinan Bali”.

Dalam konteks itu, kecemasan orang Bali akan kehilangan kebaliannya juga berarti bahwa semakin menipisnya stok para pendukung budaya Bali. Saya sering berpikir, darimana datangnya kecemasan ini? Tentu dari berbagai macam perubahan obyektif dan subyektif yang terjadi.

Masyarakat Bali mulai beranjak dari masyarakat agraris menuju masyarakat yang modern industrial. Secara subyektif, terjadi pengalihan kebatiniahan orang Bali (konversi). Konversi akibat masuknya ruang bathin modern dan konversi secara spiritualistik. Ini dilakukan oleh pihak-pihak yang masih menganggap orang Bali primitif, klenik, amoral, dan terbelakang sehingga keyakinannya mesti diubah.

Perubahan secara obyektif dan subyektif ini dialami dengan semangat intersubyektif: dialog aktif secara terus-menerus dengan perubahan. Artinya, kebertahanan kebudayaan Bali teruji melalui proses intersubyektif tersebut.

Kata senior saya, Arya Suharja: orang Bali menghayati kebudayaan sebagai kata kerja, bukan kata benda. Mereka bukan hanya pewaris sah kebudayaan yang unggul, tapi juga penerus kebudayaan baru yang mereka wujudkan sebagai pertanggungjawaban sejarah.

Artinya, penerus Bali bukan saja mesti berbudaya dalam konteks melestarikan tradisi budaya Bali, melainkan membudaya—melihat kebudayaan sebagai proses yang terus bergerak dan “menjadi”.

Benar saja, orang Bali mewarisi kebudayaan unggul secara historis. Temuan artefak periode prasejarah di Gilimanuk menunjukkan keunggulan sistem nilai. Saat itu leluhur orang Bali sudah mampu membuat gerabah dengan teknik pembakaran sederhana.

Pada zaman batu muda orang Bali telah mencapai kemampuan pengolahan logam yang tinggi. Nekara yang disimpan di Pura Penataran Sasih Pejeng merupakan nekara terbesar. Orang Bali juga mewarisi tradisi aksara dan literasi yang kuat warisan kebudayaan Hindu-Budha.

Sampai saat ini, tradisi aksara itu masih dilestarikan dan bermanfaat dalam mengokohkan sistem nilai unggul yang selama ini dimiliki. Di Bali juga ditemukan sebuah republik kecil, sebuah bentuk asli pola organisasi komunal dan kekuatan masyarakat sipil. Di desa Bali pegunungan dikenal istilah: kesamen—sebuah konsep kesetaraan ala Bali yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Sistem nilai ini sudah ada jauh sebelum Negara-negara barat bicara tentang kesetaraan.

Kebudayaan Bali tidak berdiri sendirian, tentu. Ia turut dibangun oleh fitur-fitur tradisi pendukungnya seperti misalnya tradisi neolitikum, tradisi Cina dan India. Ini bisa kita lihat secara obyektif dan ekspresif. Sekali lagi, tiga tradisi itu hanyalah sebagai fitur pendukung dalam pembentukan kebudayaan Bali.

Berbagai keunggulan ini memang menghasilkan “pride” bagi orang Bali. Kebanggaan ini memang penting secara kultural. Orang yang tidak memiliki kebanggaan dalam hidupnya, akan berupaya mengakhiri hidupnya. Orang Bali punya kebanggaan akan tradisinya, ritualnya, kosmosnya, dan pandangan dunianya.

Sayangnya, kebanggaan ini rentan dieksploitasi secara politis. Emosi atas kebanggaan ini pun bisa berdampak buruk apabila digunakan untuk kepentingan yang semata-mata politis. Tontonan perusakan alam Bali dibungkus dengan ucapan manis “kesejahteraan Bali” sering kita saksikan. Toh nyatanya kantong-kantong kemiskinan masih nyata di Bali.

Bali pun menjadi obyek yang selalu dikagumi: sayangnya orang asing menjadi subyek yang menikmati alam dan kebudayaan Bali tersebut. Para bos kantong tebal yang merasakan nikmatnya menghimpun pundi rupiah di Bali.

Bisnis spiritual subur di Bali karena alam Bali sangat mendukung (celaka jika ada kelompok spiritual yang mendiskreditkan ritual orang Bali, namun mereka menggunakan alam Bali dalam mendukung bisnis spiritualnya). Sekali lagi, kita tetap “bangga” dengan Bali—meskipun penilaian itu sering datang dari luar.

Ibarat gula, Bali pun diserbu pendatang. Hal ini menyebabkan ledakan penduduk yang besar. Tentu ini persoalan lain. Jika kita masih setia pada tesis bahwa kebudayaan Bali tetap ada selama pendukungnya ada, maka apabila jumlah penduduk Bali kian menipis akan berdampak pada eksistensi pendukung kebudayaan Bali. Bukankah mempertahankan budaya juga berarti menjaga jumlah pendukung budaya?

Kecemasan jumlah pendukung budaya ini selalu menjadi persoalan, bahkan sempat muncul gerakan KB Bali. Meski demikian, saya masih yakin orang Bali punya kekuatan, sistem nilai, taksu yang “time tested” teruji oleh waktu dan universal.

Mereka punya daya adaptasi tinggi melalui berbagai macam perubahan. Orang Bali sudah fasih dengan dalil evolusi: survival of the fittest.

Bagi orang Bali: kebudayaan adalah keseharian mereka—bukan semata aksi di atas panggung. Orang Bali masih punya dimensi subyektif yang menentukan kemana arah kebudayaannya. Mereka bukan ‘kerbau yang ditusuk hidungnya”. Pertanyaannya masihkah orang Bali sadar memiliki sistem nilai yang “time tested” itu?

Bisa iya, bisa juga tidak. Mereka yang cemas melihat Bali, lalu menyediakan “kerangkeng-kerangkeng baru berbasis adat dan tradisi” bisa dikatakan sedang terasing dengan sistem nilainya yang unggul dan “time tested” itu, begitu sebaliknya: jika orang Bali masih optimis melihat Bali artinya masih menjadi pewaris sah kebudayaan Bali yang unggul tersebut.

Cita surga terakhir ciptaan orientalis sudah lenyap, saatnya kita membangun citra surga baru Bali dengan kekuatan dan kehandalannya berhadapan dengan berbagai situasi dan kondisi zaman. Surga Bali bukan hanya “suguhan” untuk wisatawan dan orang berduit, namun tempat orang Bali lahir, hidup, dan mati. Tempat mereka menjadi “homo creator”, membudayakan diri, sekaligus meneruskan sistem nilai dan kebudayaan unggul mereka.

Jika demikian, kebalian milik siapa? Tentunya milik pendukung budaya Bali yang kuat, handal, dan memahami sistem nilainya.[T]

Senin 26/4/2021

Tags: adatbalidesa adat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sandal Jepit Pak Bupati | Catatan Jah Magesah Vol. 06

Next Post

Kresna Tewas

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kresna Tewas

Kresna Tewas

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co