13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebalian Orang Bali Perlu Dijaga?

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
April 26, 2021
in Esai
Kebalian Orang Bali Perlu Dijaga?

Foto ilustrasi: Jayen Photography

PADA bulan April tahun 1989, Bali Post pernah mengadakan diskusi dengan tema “Kebalian masyarakat Bali”. Diskusi ini sangat menarik, melahirkan dialog-dialog yang bermutu tentang Bali.

Saya sangat menikmati pertarungan argumentasi intelektual Bali saat itu, meski hanya bisa saya ikuti melalui kliping Koran. Diskusinya benar-benar hidup, dinamis, cair, dan reflektif. Ada yang berupaya mengafirmasi, ada pula menggugat. Melahirkan tesa, antitesa, dan sintesa.

Beragam pertanyaan mencoba diurai tentang apa itu “kebalian orang Bali”. Darimana dan dengan apa identitas ini dibangun? Bagaimana proses historis pembentukan identitas ini? Jika memang orang Bali sudah kehilangan kebaliannya, lalu pertanyaannya sejak kapan orang Bali jadi pemilik kebalian itu? Apakah kebalian itu sudah jadi, atau masih dalam proses menjadi?

Pada saat itu, mereka sepakat—meski ada yang menolak—bahwa sebutan orang Bali ditempelkan pada mereka yang telah menjadi pendukung budaya Bali. Mereka yang masih aktif terlibat dalam tradisi budaya Bali yang dijiwai oleh agama Hindu.

Lebih menukik lagi: mereka yang beragama Hindu! Jika ada framing demikian, berarti pihak-pihak di luar framing itu berarti orang yang tidak menjadi pendukung budaya Bali. Atau sedang berada “di luar kebathinan Bali”.

Dalam konteks itu, kecemasan orang Bali akan kehilangan kebaliannya juga berarti bahwa semakin menipisnya stok para pendukung budaya Bali. Saya sering berpikir, darimana datangnya kecemasan ini? Tentu dari berbagai macam perubahan obyektif dan subyektif yang terjadi.

Masyarakat Bali mulai beranjak dari masyarakat agraris menuju masyarakat yang modern industrial. Secara subyektif, terjadi pengalihan kebatiniahan orang Bali (konversi). Konversi akibat masuknya ruang bathin modern dan konversi secara spiritualistik. Ini dilakukan oleh pihak-pihak yang masih menganggap orang Bali primitif, klenik, amoral, dan terbelakang sehingga keyakinannya mesti diubah.

Perubahan secara obyektif dan subyektif ini dialami dengan semangat intersubyektif: dialog aktif secara terus-menerus dengan perubahan. Artinya, kebertahanan kebudayaan Bali teruji melalui proses intersubyektif tersebut.

Kata senior saya, Arya Suharja: orang Bali menghayati kebudayaan sebagai kata kerja, bukan kata benda. Mereka bukan hanya pewaris sah kebudayaan yang unggul, tapi juga penerus kebudayaan baru yang mereka wujudkan sebagai pertanggungjawaban sejarah.

Artinya, penerus Bali bukan saja mesti berbudaya dalam konteks melestarikan tradisi budaya Bali, melainkan membudaya—melihat kebudayaan sebagai proses yang terus bergerak dan “menjadi”.

Benar saja, orang Bali mewarisi kebudayaan unggul secara historis. Temuan artefak periode prasejarah di Gilimanuk menunjukkan keunggulan sistem nilai. Saat itu leluhur orang Bali sudah mampu membuat gerabah dengan teknik pembakaran sederhana.

Pada zaman batu muda orang Bali telah mencapai kemampuan pengolahan logam yang tinggi. Nekara yang disimpan di Pura Penataran Sasih Pejeng merupakan nekara terbesar. Orang Bali juga mewarisi tradisi aksara dan literasi yang kuat warisan kebudayaan Hindu-Budha.

Sampai saat ini, tradisi aksara itu masih dilestarikan dan bermanfaat dalam mengokohkan sistem nilai unggul yang selama ini dimiliki. Di Bali juga ditemukan sebuah republik kecil, sebuah bentuk asli pola organisasi komunal dan kekuatan masyarakat sipil. Di desa Bali pegunungan dikenal istilah: kesamen—sebuah konsep kesetaraan ala Bali yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Sistem nilai ini sudah ada jauh sebelum Negara-negara barat bicara tentang kesetaraan.

Kebudayaan Bali tidak berdiri sendirian, tentu. Ia turut dibangun oleh fitur-fitur tradisi pendukungnya seperti misalnya tradisi neolitikum, tradisi Cina dan India. Ini bisa kita lihat secara obyektif dan ekspresif. Sekali lagi, tiga tradisi itu hanyalah sebagai fitur pendukung dalam pembentukan kebudayaan Bali.

Berbagai keunggulan ini memang menghasilkan “pride” bagi orang Bali. Kebanggaan ini memang penting secara kultural. Orang yang tidak memiliki kebanggaan dalam hidupnya, akan berupaya mengakhiri hidupnya. Orang Bali punya kebanggaan akan tradisinya, ritualnya, kosmosnya, dan pandangan dunianya.

Sayangnya, kebanggaan ini rentan dieksploitasi secara politis. Emosi atas kebanggaan ini pun bisa berdampak buruk apabila digunakan untuk kepentingan yang semata-mata politis. Tontonan perusakan alam Bali dibungkus dengan ucapan manis “kesejahteraan Bali” sering kita saksikan. Toh nyatanya kantong-kantong kemiskinan masih nyata di Bali.

Bali pun menjadi obyek yang selalu dikagumi: sayangnya orang asing menjadi subyek yang menikmati alam dan kebudayaan Bali tersebut. Para bos kantong tebal yang merasakan nikmatnya menghimpun pundi rupiah di Bali.

Bisnis spiritual subur di Bali karena alam Bali sangat mendukung (celaka jika ada kelompok spiritual yang mendiskreditkan ritual orang Bali, namun mereka menggunakan alam Bali dalam mendukung bisnis spiritualnya). Sekali lagi, kita tetap “bangga” dengan Bali—meskipun penilaian itu sering datang dari luar.

Ibarat gula, Bali pun diserbu pendatang. Hal ini menyebabkan ledakan penduduk yang besar. Tentu ini persoalan lain. Jika kita masih setia pada tesis bahwa kebudayaan Bali tetap ada selama pendukungnya ada, maka apabila jumlah penduduk Bali kian menipis akan berdampak pada eksistensi pendukung kebudayaan Bali. Bukankah mempertahankan budaya juga berarti menjaga jumlah pendukung budaya?

Kecemasan jumlah pendukung budaya ini selalu menjadi persoalan, bahkan sempat muncul gerakan KB Bali. Meski demikian, saya masih yakin orang Bali punya kekuatan, sistem nilai, taksu yang “time tested” teruji oleh waktu dan universal.

Mereka punya daya adaptasi tinggi melalui berbagai macam perubahan. Orang Bali sudah fasih dengan dalil evolusi: survival of the fittest.

Bagi orang Bali: kebudayaan adalah keseharian mereka—bukan semata aksi di atas panggung. Orang Bali masih punya dimensi subyektif yang menentukan kemana arah kebudayaannya. Mereka bukan ‘kerbau yang ditusuk hidungnya”. Pertanyaannya masihkah orang Bali sadar memiliki sistem nilai yang “time tested” itu?

Bisa iya, bisa juga tidak. Mereka yang cemas melihat Bali, lalu menyediakan “kerangkeng-kerangkeng baru berbasis adat dan tradisi” bisa dikatakan sedang terasing dengan sistem nilainya yang unggul dan “time tested” itu, begitu sebaliknya: jika orang Bali masih optimis melihat Bali artinya masih menjadi pewaris sah kebudayaan Bali yang unggul tersebut.

Cita surga terakhir ciptaan orientalis sudah lenyap, saatnya kita membangun citra surga baru Bali dengan kekuatan dan kehandalannya berhadapan dengan berbagai situasi dan kondisi zaman. Surga Bali bukan hanya “suguhan” untuk wisatawan dan orang berduit, namun tempat orang Bali lahir, hidup, dan mati. Tempat mereka menjadi “homo creator”, membudayakan diri, sekaligus meneruskan sistem nilai dan kebudayaan unggul mereka.

Jika demikian, kebalian milik siapa? Tentunya milik pendukung budaya Bali yang kuat, handal, dan memahami sistem nilainya.[T]

Senin 26/4/2021

Tags: adatbalidesa adat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sandal Jepit Pak Bupati | Catatan Jah Magesah Vol. 06

Next Post

Kresna Tewas

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Kresna Tewas

Kresna Tewas

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co