2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebalian Orang Bali Perlu Dijaga?

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
April 26, 2021
in Esai
Kebalian Orang Bali Perlu Dijaga?

Foto ilustrasi: Jayen Photography

PADA bulan April tahun 1989, Bali Post pernah mengadakan diskusi dengan tema “Kebalian masyarakat Bali”. Diskusi ini sangat menarik, melahirkan dialog-dialog yang bermutu tentang Bali.

Saya sangat menikmati pertarungan argumentasi intelektual Bali saat itu, meski hanya bisa saya ikuti melalui kliping Koran. Diskusinya benar-benar hidup, dinamis, cair, dan reflektif. Ada yang berupaya mengafirmasi, ada pula menggugat. Melahirkan tesa, antitesa, dan sintesa.

Beragam pertanyaan mencoba diurai tentang apa itu “kebalian orang Bali”. Darimana dan dengan apa identitas ini dibangun? Bagaimana proses historis pembentukan identitas ini? Jika memang orang Bali sudah kehilangan kebaliannya, lalu pertanyaannya sejak kapan orang Bali jadi pemilik kebalian itu? Apakah kebalian itu sudah jadi, atau masih dalam proses menjadi?

Pada saat itu, mereka sepakat—meski ada yang menolak—bahwa sebutan orang Bali ditempelkan pada mereka yang telah menjadi pendukung budaya Bali. Mereka yang masih aktif terlibat dalam tradisi budaya Bali yang dijiwai oleh agama Hindu.

Lebih menukik lagi: mereka yang beragama Hindu! Jika ada framing demikian, berarti pihak-pihak di luar framing itu berarti orang yang tidak menjadi pendukung budaya Bali. Atau sedang berada “di luar kebathinan Bali”.

Dalam konteks itu, kecemasan orang Bali akan kehilangan kebaliannya juga berarti bahwa semakin menipisnya stok para pendukung budaya Bali. Saya sering berpikir, darimana datangnya kecemasan ini? Tentu dari berbagai macam perubahan obyektif dan subyektif yang terjadi.

Masyarakat Bali mulai beranjak dari masyarakat agraris menuju masyarakat yang modern industrial. Secara subyektif, terjadi pengalihan kebatiniahan orang Bali (konversi). Konversi akibat masuknya ruang bathin modern dan konversi secara spiritualistik. Ini dilakukan oleh pihak-pihak yang masih menganggap orang Bali primitif, klenik, amoral, dan terbelakang sehingga keyakinannya mesti diubah.

Perubahan secara obyektif dan subyektif ini dialami dengan semangat intersubyektif: dialog aktif secara terus-menerus dengan perubahan. Artinya, kebertahanan kebudayaan Bali teruji melalui proses intersubyektif tersebut.

Kata senior saya, Arya Suharja: orang Bali menghayati kebudayaan sebagai kata kerja, bukan kata benda. Mereka bukan hanya pewaris sah kebudayaan yang unggul, tapi juga penerus kebudayaan baru yang mereka wujudkan sebagai pertanggungjawaban sejarah.

Artinya, penerus Bali bukan saja mesti berbudaya dalam konteks melestarikan tradisi budaya Bali, melainkan membudaya—melihat kebudayaan sebagai proses yang terus bergerak dan “menjadi”.

Benar saja, orang Bali mewarisi kebudayaan unggul secara historis. Temuan artefak periode prasejarah di Gilimanuk menunjukkan keunggulan sistem nilai. Saat itu leluhur orang Bali sudah mampu membuat gerabah dengan teknik pembakaran sederhana.

Pada zaman batu muda orang Bali telah mencapai kemampuan pengolahan logam yang tinggi. Nekara yang disimpan di Pura Penataran Sasih Pejeng merupakan nekara terbesar. Orang Bali juga mewarisi tradisi aksara dan literasi yang kuat warisan kebudayaan Hindu-Budha.

Sampai saat ini, tradisi aksara itu masih dilestarikan dan bermanfaat dalam mengokohkan sistem nilai unggul yang selama ini dimiliki. Di Bali juga ditemukan sebuah republik kecil, sebuah bentuk asli pola organisasi komunal dan kekuatan masyarakat sipil. Di desa Bali pegunungan dikenal istilah: kesamen—sebuah konsep kesetaraan ala Bali yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Sistem nilai ini sudah ada jauh sebelum Negara-negara barat bicara tentang kesetaraan.

Kebudayaan Bali tidak berdiri sendirian, tentu. Ia turut dibangun oleh fitur-fitur tradisi pendukungnya seperti misalnya tradisi neolitikum, tradisi Cina dan India. Ini bisa kita lihat secara obyektif dan ekspresif. Sekali lagi, tiga tradisi itu hanyalah sebagai fitur pendukung dalam pembentukan kebudayaan Bali.

Berbagai keunggulan ini memang menghasilkan “pride” bagi orang Bali. Kebanggaan ini memang penting secara kultural. Orang yang tidak memiliki kebanggaan dalam hidupnya, akan berupaya mengakhiri hidupnya. Orang Bali punya kebanggaan akan tradisinya, ritualnya, kosmosnya, dan pandangan dunianya.

Sayangnya, kebanggaan ini rentan dieksploitasi secara politis. Emosi atas kebanggaan ini pun bisa berdampak buruk apabila digunakan untuk kepentingan yang semata-mata politis. Tontonan perusakan alam Bali dibungkus dengan ucapan manis “kesejahteraan Bali” sering kita saksikan. Toh nyatanya kantong-kantong kemiskinan masih nyata di Bali.

Bali pun menjadi obyek yang selalu dikagumi: sayangnya orang asing menjadi subyek yang menikmati alam dan kebudayaan Bali tersebut. Para bos kantong tebal yang merasakan nikmatnya menghimpun pundi rupiah di Bali.

Bisnis spiritual subur di Bali karena alam Bali sangat mendukung (celaka jika ada kelompok spiritual yang mendiskreditkan ritual orang Bali, namun mereka menggunakan alam Bali dalam mendukung bisnis spiritualnya). Sekali lagi, kita tetap “bangga” dengan Bali—meskipun penilaian itu sering datang dari luar.

Ibarat gula, Bali pun diserbu pendatang. Hal ini menyebabkan ledakan penduduk yang besar. Tentu ini persoalan lain. Jika kita masih setia pada tesis bahwa kebudayaan Bali tetap ada selama pendukungnya ada, maka apabila jumlah penduduk Bali kian menipis akan berdampak pada eksistensi pendukung kebudayaan Bali. Bukankah mempertahankan budaya juga berarti menjaga jumlah pendukung budaya?

Kecemasan jumlah pendukung budaya ini selalu menjadi persoalan, bahkan sempat muncul gerakan KB Bali. Meski demikian, saya masih yakin orang Bali punya kekuatan, sistem nilai, taksu yang “time tested” teruji oleh waktu dan universal.

Mereka punya daya adaptasi tinggi melalui berbagai macam perubahan. Orang Bali sudah fasih dengan dalil evolusi: survival of the fittest.

Bagi orang Bali: kebudayaan adalah keseharian mereka—bukan semata aksi di atas panggung. Orang Bali masih punya dimensi subyektif yang menentukan kemana arah kebudayaannya. Mereka bukan ‘kerbau yang ditusuk hidungnya”. Pertanyaannya masihkah orang Bali sadar memiliki sistem nilai yang “time tested” itu?

Bisa iya, bisa juga tidak. Mereka yang cemas melihat Bali, lalu menyediakan “kerangkeng-kerangkeng baru berbasis adat dan tradisi” bisa dikatakan sedang terasing dengan sistem nilainya yang unggul dan “time tested” itu, begitu sebaliknya: jika orang Bali masih optimis melihat Bali artinya masih menjadi pewaris sah kebudayaan Bali yang unggul tersebut.

Cita surga terakhir ciptaan orientalis sudah lenyap, saatnya kita membangun citra surga baru Bali dengan kekuatan dan kehandalannya berhadapan dengan berbagai situasi dan kondisi zaman. Surga Bali bukan hanya “suguhan” untuk wisatawan dan orang berduit, namun tempat orang Bali lahir, hidup, dan mati. Tempat mereka menjadi “homo creator”, membudayakan diri, sekaligus meneruskan sistem nilai dan kebudayaan unggul mereka.

Jika demikian, kebalian milik siapa? Tentunya milik pendukung budaya Bali yang kuat, handal, dan memahami sistem nilainya.[T]

Senin 26/4/2021

Tags: adatbalidesa adat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sandal Jepit Pak Bupati | Catatan Jah Magesah Vol. 06

Next Post

Kresna Tewas

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kresna Tewas

Kresna Tewas

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co