6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memasuki Medan Sosial Seni Rupa Melalui Panggilan Terbuka “Bali Emerging Artist” 2021

Kadek Wiradinata by Kadek Wiradinata
April 13, 2021
in Ulasan
Memasuki Medan Sosial Seni Rupa Melalui Panggilan Terbuka “Bali Emerging Artist” 2021

Sejumlah karya dalam “Bali Emerging Artist” 2021

Dewasa ini para perupa khususnya kaum muda sedang bergejolak dalam mengeksplorasi teknik, media, hingga narasi dan wacana untuk menemukan jati dirinya. Menariknya berbagai lintas bidang keahlian juga tampak bermunculan dan turut serta meramaikan khasanah seni rupa kontemporer saat ini.

Munculnya media sosial dan ruang belajar terbuka berbentuk komunitas, studio dan lain-lain, dengan ragam kecenderungan menjadi gerbang yang terbuka lebar untuk semua orang yang ingin memasuki medan sosial seni rupa. Ini membuktikan tidak ada sekat ketat yang membatasi aktivitas pameran seni agar hanya boleh dilakukan oleh orang yang mengenyam pendidikan seni secara formal saja. Melainkan tergantung bagaimana kemampuan dan pencapaian seorang perupa atas wacana dan visual yang menjadikannya siap dalam laga perhelatan seni rupa khususnya kontemporer.

Sebuah ruang bersejarah yang aktif berkontribusi terhadap perkembangan seni rupa di Bali, yaitu Sika Gallery—yang bertempat di jalan raya Sanggingan, kecamatan Ubud, kabupaten Gianyar—telah menggelar 2 program pameran pasca kondisi pandemi covid-19 yang hampir 1 tahun membekukan segala aktivitas luring (luar jaringan) di seluruh dunia dan Bali khususnya.

Salah satunya yang masih berjalan hingga 25 April 2021 mendatang yaitu program pameran bertajuk “Bali Emerging Artist 2021” yang dikurasi oleh Dwi Setyo Wibowo dan meloloskan 17 perupa lintas disiplin dari 100 lebih peserta Open Call. Peserta pameran ini diantaranya yaitu Anis Kurniasih, Andre Yoga, Deny Kurniawan, Dewa Made Johana, I Gusti Dalem Diatmika, I Gede Sukarya, I Kadek Djunaidi, I Made Surya Subratha, I Putu Sastra Wibawa, I Putu Yoga Sathyadi Mahardika, I Wayan Aris Sarmanta, I Wayan Piki Suyersa, I Wayan Sudarsana, Kuncir Sathya Viku, Lilu Herlambang, Rama Indirawan, Vincent Chandra. Beberapa dari mereka ada yang berlatarbelakang seni rupa murni, pendidikan seni rupa, DKV, bahkan sastra.

Salah satu yang menarik perhatian penulis dalam pameran ini yaitu salah 4 dari peserta pameran yang 2 diantaranya, Dewa Made Johana dan Vincent Chandra merupakan alumni dan 2 lainnya, Deny Kurniawan dan Putu Yoga Satyadhi merupakan mahasiswa aktif dari prodi pendidikan seni rupa Undiksha. Mereka ikut serta dalam pameran ini dengan keahlian yang beragam seperti, Dewa Made Johana misalnya yang memiliki keterampilan dalam seni grafis yang tergabung dalam Studio Grafis Undiksha yang kini juga menjadi salah satu staf di Black Hand Gang, salah satu studio grafis yang berada di desa Mas, Ubud.

Dalam pameran ini ia menghadirkan karya grafis berjudul “The War” dengan tehnik intaglio relif print menggunakan plat kuningan yang menghasilkan efek menarik. Karya ini merupakan edisi pertama dari total 2 cetakannya, di dalamnya dapat kita temui gambar berupa 3 pesawat terbang, prajurit membawa senjata, dan ujung atas candi kurung (gerbang tradisional masyarakat Bali).

Johana seperti tengah berusaha mengenang peristiwa peperangan pada masa penjajahan di Bali atau boleh jadi ia sedang ingin meminjam konteks ‘perang’ yang lalu untuk menggambarkan kondisi dunia saat ini. Terlepas dari itu, teknik yang ia terapkan ternyata sangat asing dilakukan dibandingkan teknik grafis pada umumnya seperti cetak cukil dan cetak sablon yang cukup digemari dalam praktik kesenian grafis di Bali. Dalam pameran ini Johana seolah tengah melanjutkan misi dari komunitas dan studio tempat ia bekerja untuk memperkenalkan perkembangan grafis yang sangat menarik untuk dinikmati dan dipelajari kepada publik.

Karya Dewa Made Johana, “The War”, [gambar dari dokumentasi pribadi]

Mengaitkan penggalan cerita mitologi Hindu dengan pengalaman pribadinya, Vincent Chandra yang kini juga mulai melejit sebagai penulis muda seni rupa, tampil dalam pameran ini dengan menghadirkan instalasi sekaligus karya interaktif yang berjudul “I Found Myself in Gunatama”. Karya ini terdiri dari 1 lukisan bermedium kertas padi yang digantung di dinding ditemani oleh beberapa buah objek seperti lukisan potrait orangtuanya, koper, kuas-kuas, kertas padi kosong, dan arak beras.

Dalam karyanya ia berusaha melakukan apropriasi atas karya I Gusti Made Deblog berjudul “Lahirnya Gunatama” yang berkisah tentang kehidupan seorang Gunatama yang semenjak kecil hanya diasuh oleh seorang ibu saja. Disisi ini Vincent melihat ada kemiripan antara dirinya dengan kisah Gunatama tersebut, mereka berdua sama-sama tengah merindukan sosok seorang ayah.

Sementara objek-objek yang ia bawa, semisal koper, salah satu benda yang ia bawa dari rumahnya di Medan ke Bali untuk memulai studi seni rupa nya di Undiksha. Salah satu yang ia bawa untuk mencari jati dirinya di rantauan dari satu tempat ke tempat yang lain dan selalu mengingatkan dirinya pada keluarga, objek ini baginya merekam seluruh perjalanan tersebut.

Kuas dan kertas padi pun menjadi salah satu media interaksi yang ia sediakan kepada pengunjung untuk turut menginterpretasi ulang karyanya. Minuman beralkohol/ arak beras lalu mewakili memorinya tentang Singaraja, tempat awal ia belajar dan menemukan potongan identitasnya di Bali. Lalu pada lukisan potrait orang tuanya, ia memilih menggambarkan sosok ayahnya dengan tanpa wajah untuk menjelaskan dirinya yang tidak memiliki memori secara langsung tentang ayahnya, baik bagaimana karakter dan sifatnya.

Karya Vincent Chandra, “I Found Myself in Gunatama”,

Mengangkat pengalaman pribadi sebagai latar belakang karya tidak hanya dilakukan oleh Vincent. Dalam karya Deny Kurniawan—yang kini masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir di Undiksha—berjudul “After Production” juga menampakkan narasi tentang identitas. Dengan media cat minyak diatas kanvas, karya dengan pendekatan realistiknya menghadirkan sebuah objek pria yang sedang memakan tahu, bagian atas objek ini terpotong secara tegas melalui insert objek serupa mesin jenset.

Deny menjelaskan bahwa tahu telah lekat dengan kesehariannya sedari dulu karena keluarganya merupakan salah satu produsen tahu terbesar yang berada di daerah Banyuwangi. Dari berbagai persoalan yang ia temui dalam usaha keluarga ini ia lalu tertarik untuk mengangkatnya menjadi sebuah objek lukisan, dengan teknik dan kemampuan mumpuninya yang telah ia latih sejak lama. Namun inovasi dalam mengolah bentuk kanvas atau cara penyajian karyanya rasanya dapat untuk dieksplorasi lagi, agar menjadi pembeda antara karya Deny dengan karya realis lainnya, karyanya mesti lebih ‘gila’ lagi.

Karya Deny Kurniawan, “After Production” [Gambar dari dokumentasi pribadi]

Sementara I Putu Yoga Sathayadi, yang tergabung dalam kelompok O-prasi mencoba mengenalkan kembali karya prasi  yang dulu umumnya di sajikan dalam model perlembar menjadi gambar utuh dalam rangkaian lontar. Prasi adalah salah satu seni gambar yang dulu kerap digunakan layaknya ilustrasi, melengkapi karya sastra ataupun kitab dan pengobatan tradisional, dengan media daun rontal yang telah melalui proses pengolahan kemudian ditoreh dengan pisau pengerupak (mirib pisau untuk pembuatan prasi). Yang menarik Yoga dapat menghadirkan torehan yang kecil dan sangat mendetail di karya-karyanya, kombinasi torehan dan kerokan yang menimbulkan dimensi akibat gradasi hitam dan gubahan bidang segitiga, segi enam yang menarik.

Lihat misalnya karyanya yang berjudul “Soma Anggara Kuningan” dan “Redita Pon Gumbreg”. Dengan objek pawukon Bali yang telah Yoga reinterpretasi ulang ke bentuk stilir tumbuhan dan wayang di lengkapi dengan teks aksara bali berisikan wuku sesuai yang digambarkan Yoga. Atas usaha-usaha yang dilakukan oleh kaum perupa muda serupa Yoga ini, terbukti dalam beberapa waktu belakangan ini prasi sedang hangat diperbincangkan kembali oleh instansi-instansi dan komunitas yang tertarik dengan keunikan seni prasi.

Karya I Putu Yoga Sathyadi Mahardika gambar dari dokumentasi pribadi

Keempat perupa yang terdiri dari mahasiswa dan alumni pendidikan seni rupa Undiksha, pun ingin ikut membuktikan eksistensi mereka. Sambil tetap mengemban spirit pendidik mereka pun ingin memperdalam teknik dan kemungkinan yang ada dalam medan seni rupa. Semangat ini patut kita apresiasi karena kita ketahui Undiksha dengan latar pendidikan dengan iklim keseniannya yang berbeda, hampir jarang bertemu dan bergesekan dengan wacana hingga persoalan seni rupa terkini, sehingga Bali Emerging Artis 2021 ini dapat menjadi pemantik yang positif untuk seluruh perupa muda Bali agar berkesempatan untuk memperkenalkan diri terutama hasil eksplorasi teknik dan gagasannya kepada publik. Dalam pameran ini pun banyak nilai yang dapat kita petik dari karya-karya tiap peserta, masing-masing mereka tengah membangun wacana dan narasi yang beragam yang tentu amat menarik untuk diulas.[T]

Tags: Pameran Seni RupaSeni RupaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gejala Bisa Sama, Nasib Bisa Beda

Next Post

Burung Menabrak Pesawat, Lele Dipatuk Ayam | Charcoal For Children 2021: Tell Me Tales

Kadek Wiradinata

Kadek Wiradinata

Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Undiksha, senang mengulik segala hal yang berkaitan dengan kebudayaan khususnya di Bali

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Burung Menabrak Pesawat, Lele Dipatuk Ayam | Charcoal For Children 2021: Tell Me Tales

Burung Menabrak Pesawat, Lele Dipatuk Ayam | Charcoal For Children 2021: Tell Me Tales

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co