24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mari Menyambut Nyepi dengan Obor di Hati

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
March 1, 2021
in Esai
Mari Menyambut Nyepi dengan Obor di Hati

Tak terasa beberapa hari lagi Hari Raya Nyepi tiba. Rangkaian Hari Raya Nyepi dimulai dari Upacara Melasti yang dilaksanakan 2 – 3 hari sebelum  Nyepi, yang bertujuan menyucikan diri melebur segala macam kotoran pikiran, perkataan dan perbuatan. Selain untuk membersihkan diri juga menyucikan benda sakral yaitu pratima yang diarak ke laut sebagai sumber air kehidupan.

Biasanya di daerah kami, waktu mamargi ke segara diatur sedemikian rupa agar lalu lintas tak terlalu padat. Setiap sekaa dari masing-mamsing Pura sudah menyiapkan pratima dan benda sakral lainnya di pinggir jalan untuk diarak menuju segara.

Setelah melasti, pratima, tombak dan benda suci lainnya distanakan di Pura Desa. Dulu pratima-pratima ini diusung menuju segara atau sungai. Namun seiring perkembangan jaman, sekarang pratima-pratima diletakkan di sebuah tempat yang diberi roda di bawahnya untuk memudahkan membawa menuju segara. Tempat yang diberi roda ini dinamakan jempana. Pratima, tombak dan benda sakral lainnya kemudian di-pendak/dijemput dari Pura Desa pada sore hari sebelum pengrupukan dimulai. Namun setiap daerah memiliki kebijakan lokal berbeda-beda.

Rangkaian Nyepi selanjutnya adalah Upacara Tawur Kesanga  yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Upacara ini memiliki makna membersihkan jagad Bhuana Alit dan Bhuana Agung agar hubungan tiga elemen (manusia, Tuhan dan alam) menjadi selaras dan seimbang. Upacara Tawur Agung Kesanga ini biasanya dilaksanakan pada pagi hari, lalu sore harinya masyarakat bersiap-siap untuk melaksanakan pengrupukan.

Di daerah kami, Kerobokan Badung, sebelum melakukan upacara pengrupukan, petang harinya ada tradisi megobog. Tradisi megobog merupakan pembersihan pekarangan rumah dari Buthakala atau hal-hal yang bersifat negatif.

Biasanya setiap keluarga, di rumah masing-masing melaksanakan tradisi megobog dahulu pada petang hari sebelum pengrupukan. Saya masih ingat betul. Waktu kecil, inilah saat yang kami tunggu-tunggu. Saya membawa danyuh (daun kelapa kering), yang disulut api, kakak membawa sapu lidi, bapak membawa obor dan ibu membawa tirta. Kedua adik membawa kentungan. Kami berkeliling rumah dengan semangat dan gembira. Saat kulkul atau kentungan dibunyikan, danyuh yang dihentak-hentakkan ke tanah, tirta dipercikkan dan sapu lidi digerak-gerakkan (seperti gerakan menyapu) di tanah. Demikianlah kami berkeliling pekarangan rumah mengusir bhuta kala.

Selanjutnya barulah kami bersiap-siap melaksanakan upacara pengrupukan, turut membawa obor, mengarak ogoh-ogoh banjar kami ke rute yang telah ditentukan.  Biasanya  setelah berkeliling, ogoh-ogoh diarak menuju catus pata desa. Di catus pata penonton sudah berkumpul dengan antusias menonton ogoh-ogoh, Suasana semakin semarak saat lagu ogoh-ogohnya Yan Bero mengalun. Semakin malam semakin semarak dan menyenangkan.

Pengenter acara, memandu ogoh-ogoh berputar mengelilingi catus pata sebanyak tiga kali. Baru bisa kembali ke banjar masing-masing. Ogoh-ogoh yang lain menunggu giliran dengan sabar dan tertib untuk berputar di catus pata desa. Biasanya setelah ogoh-ogoh diarak, ogoh-ogoh dibakar.  

Pembuatan ogoh-ogoh menghabiskan waktu kurang lebih sebulan. Anak-anak pun tak mau kalah. Mereka juga ikut membuat ogoh-ogoh.  Mereka sangat antusias turut serta meramaikan upacara pengrupukan.

Dulu kebanyakan ogoh- ogoh mengambil rupa raksasa. Namun sekarang lebih variatif. Bahkan pernah ada yang membuat ogoh-ogoh Spongebob Squarepants, Upin Ipin, dan lain-lain. Tokoh-tokoh kartun dan anime yang turut memeriahkan suasana pengrupukan ini membuat euforia dari kalangan anak-anak sangat besar.  Mereka turut berkreasi, merancang, membuat ogoh-ogoh dan mengarak ogoh -ogohnya.

Di beberapa sekolah, menjelang pengrupukan tiba, anak-anak TK merayakannya di sekolah dengan mengusung ogoh-ogoh mini yang disediakan sekolah dengan diiringi baleganjur yang juga dimainkan anak-anak. Mereka mengaraknya ke jalan di sekitar sekolah, lalu kembali ke sekolah. Meskipun sederhana, ini memberikan pengalaman yang amat mengesankan di hati anak-anak. 

Hingar bingar pangerupukan berlalu, tibalah Hari Raya Nyepi yang merupakan perayaan Tahun Baru Hindhu berdasarkan penanggalan/ kalender caka. Pada hari ini Umat Hindhu menyepi melaksanakan catur brata penyepian. Yang terdiri dari amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak berkarya/ bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati lelanguan (tidak menikmati hiburan). Perayaan Tahun Baru Caka ini dilaksanakan dengan menyepi, berpuasa, mulat sarira, bukan dengan kembang api namun dengan perjalanan sunyi ke dalam diri. Untuk menjadi diri yang baru, yang lebih baik lagi.

Namun terhitung  sudah dua kali sejak tahun 2020, kita merayakan rangkaian Hari Raya Nyepi seperti melasti dan  pengrupukan dalam kesunyian. Merayakan rangkaian nyepi yang dibalut pandemi.  Yang paling terasa adalah saat melasti, tawur kesanga dan pangrupukan. Mau tak mau kita mesti beradaptasi dengan situasi kondisi, menghindari kerumunan dan menjalankan protokol kesehatan agar situasi tak memburuk.

Hari raya di masa pandemi memang membuat ada yang hilang di dalam hati. Namun selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Hari-hari dengan membatasi sosialisasi dalam masyarakat, memungkinkan kita untuk  melakukan hal lain, perjalanan ke dalam diri yang tak pernah selesai dan tetap menumbuhkan rasa syukur, tetap berjuang dan bertahan dalam situasi seperti ini.

Harapan kita semoga situasi segera membaik, agar bisa melasti dan mengarak ogoh-ogoh kembali seperti dulu. Akhir kata Selamat Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1943. Mari  menyalakan obor dalam diri kita. Agar kita senantiasa eling,  memperbarui diri menjadi lebih baik lagi. [T]

Tags: baliHari Raya Nyepiogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nostalgia | Jalan-jalan Bawa Gelatik Pernah Ngetrend di Singaraja Tahun 1950-an

Next Post

Literasi Kritis | Kisah dari Sokola Institute

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Literasi Kritis | Kisah dari Sokola Institute

Literasi Kritis | Kisah dari Sokola Institute

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co