19 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
January 6, 2021
in Esai
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Wittgenstein [Foto Google]

Jika anda adalah pelaku filsafat dan penggemar teori filsafat maka tentu anda tak akan asing dengan nama Wittgenstein. Tokoh filsafat asal Austria ini sangat termashyur dengan teorinya yang dituangkan dalam buku Tractatus Logico Philosophicus. Buku ini adalah salah satu buku filsafat yang sangat penting di dalam perjalanan filsafat terutama soal teori makna di abad 20.

Tractatus Logico Philosophicus adalah versi terjemahan Bahasa Inggris dari naskah aslinya yang berbahasa Jerman berjudul  Logisch-Philosophische Abhandlung, terbit di tahun 1921.

Tebal buku ini ‘hanya’ 75 halaman saja, namun isinya benar-benar membuat kita (penggemar filsafat) jatuh cinta. Pengantar dalam buku ini ditulis oleh Bertrand Russel, sang guru filsafat Wittgenstein yang jatuh cinta pada pemikiran muridnya sendiri. Begini kebanggaan Russel ia tulis dalam pengantar buku ini, pada kalimat pembuka pengantarnya,

“Mr Wittgenstein’s Tractatus Logico-Philosophicus, whether or not it prove to give the ultimate truth on the matters with which it deals, certainly deserves, by its breadth and scope and profundity, to be considered an important event in the philosophical world.”

Bagaimana seorang guru dapat memuji seorang murid sedemikian rupa padahal sang guru juga adalah mahaguru yang sangat terpuji? Sungguh sebuah ketulusan intelektual dan spiritual yang bisa ditunjukkan oleh seorang Bertrand Russel.

Dalam pengantarnya yang sangat gemilang dan terang benderang, Russel mengatakan bahwa sebelum kita dapat memahami buku Wittgenstein maka kita harus memahami persoalan yang dibahas oleh Wittgenstein. Dalam teori Wittgenstein yang berhubungan dengan Symbolism, ia membahas beberapa kondisi yang harus dipenuhi oleh sebuah bahasa yang logis sempurna. Padahal, apakah logis sempurna itu ada?

Russel menyebutkan beberapa persoalan bahasa. Pertama, ada persoalan antara apa yang terjadi pada pikiran kita dengan bahasa yang kita gunakan untuk mencapai makna tertentu. Kedua, ada persoalan hubungan antara pikiran, kata-kata, kalimat, dengan apa yang kita acu atau maksud. Ketiga adalah persoalan menggunakan kalimat untuk menggambarkan kebenaran daripada ketidakbenaran. Keempat, bagaimana sebuah kalimat mampu menjadi simbol bagi sebuah fakta?

Yang keempat inilah yang dimaksud sebagai logika bahasa yang dibahas oleh Wittgenstein. Sebab dalam praktiknya, bahasa sangat abu-abu, sangat ragu, dan sangat tidak bisa dibuat akurat, dan inilah yang menyebabkan bahasa tidak pernah benar-benar dapat menjelaskan dengan presisi sebuah fakta.

Jadi, Wittgenstein ingin menemukan Symbolism yang akurat, meskipun secara logika ia ditantang dua masalah dalam logika, pertama; masalah sense kombinasi simbol, kedua; masalah makna atau referensi dalam simbol dan kombinasi simbol. Rumitnya persoalan ini ingin dipecahkan oleh Wittgenstein dengan sebuah pendekatan yang ideal yang paling mendekati logis sempurna.

Bagaimana hal ini mungkin terjadi?

Menurut Russel tesis fundamental yang diajukan oleh Wittgenstein adalah bahwa untuk menuju logis sempurna – harus ada kesamaan antara struktur bahasa dengan struktur fakta. Secara “sederhana” menurut Wittgenstein, tidak ada sesuatu yang sederhana dapat diwakili oleh sesuatu yang tidak sederhana, sebaliknya tidak ada yang tidak sederhana dapat diwakili oleh yang sederhana. Sangat “sederhana” bukan?

Ternyata memang, se”sederhana” itu. Menurut Wittgenstein, yang kompleks adalah fakta. Sebuah fakta dapat berdiri sendiri atau tunggal dan sebuah fakta dapat terdiri dari beberapa fakta. Fakta tunggal disebut sebagai Sachverhalte, sementara fakta yang terdiri dari beberapa fakta disebut Tatsache. Contohnya sebuah kalimat “Socrates adalah seorang yang bijak”. Kalimat ini adalah sebuah Sachverhalte sekaligus Tatsache namun kalimat “Socrates adalah seorang yang bijak dan Plato adalah muridnya” tergolong Tatsache namun bukan Sachverhalte.

Dalam teorinya yang terkait dengan Symbolism, Wittgenstein menulis

(2.1): ‘We make to ourselves pictures of facts.’

Kita membuat gambar fakta kepada diri kita sendiri. Gambar menurut Wittgenstein adalah sebuah model realitas. Ada kesamaan antara elemen gambar dan realitas yang diwakilinya. Menurut Wittgenstein filosofi hanya dapat membahas apa yang dapat ditunjukkan di dalam realita. Seperti fakta dan gambar yang mewakilinya secara logis.

Wittgenstein meyakini bahwa objek filosofi adalah klarifikasi logis pikiran. Jadi pemikiran yang buram atau tidak jelas harus disingkirkan.

Dalam pengantar bukunya Wittgenstein membuka dengan kalimat seperti ini,

“Perhaps this book will be understood only by someone who has himself already had the thoughts that are expressed in it—or at least similar thoughts.—So it is not a textbook.—Its purpose would be achieved if it gave pleasure to one person who read and understood it.”

Dia meyakini bahwa tujuan bukunya hanya akan tercapai jika pembacanya terhibur dan memahami pemikirannya. Jadi tidak muluk-muluk dia mengatakan bahwa idenya ini hanya dapat diterima oleh yang satu ide dengannya.

Dia juga menyebut dua inspirasi dalam pengantarnya yaitu Frege dan Russel yang membantu menstimulasi pikiran-pikirannya.

Dalam penutup pengantarnya ia menyebutkan, “I therefore believe myself to have found, on all essential points, the final solution of the problems. And if I am not mistaken in this belief, then the second thing in which the value of this work consists is that it shows how little is achieved when these problems are solved. L. W”

Betapa percaya dirinya ia ketika mengatakan ia telah menemukan esensi solusi persoalan sekaligus betapa rendah hatinya ia mengatakan bahwa ketika semua persoalan selesai, ternyata sangat sedikit yang ia capai.

Berikut adalah beberapa pemikiran Wittgenstein di dalam Tractatus Logico Philosophicus yang layak kita renungi. Di dalam traktat ini Wittgenstein menyusun pemikirannya seperti line atau baris puisi yang bernomor. Tidak ada penjelasan, hanya pemikiran.


1* The world is all that is the case.

  1. The world is the totality of facts, not of things.

1.11 The world is determined by the facts, and by their being all the facts.


Di bagian pertama ini ia menyatakan dan meyakinkan dengan dalilnya bahwa dunia adalah totalitas fakta bukan benda. Dan bahwa dunia ditentukan oleh fakta-fakta.

Lalu berikutnya dalil kedua-hingga ketujuh adalah sebagai berikut.

2. What is the case—a fact—is the existence of states of affairs.

3. A logical picture of fact is the thought.

4. A thought is a proposition with a sense.

5. A proposition is a truth-function of elementary propositions.

6. The general form of a truth-function is [p¯, ξ – , N(ξ – )].

7. What we cannot speak about we must pass over in silence.


Namun yang paling menghentak tentu dalil ketujuh, yang tidak seperti dalil 1-6 diikuti butir-butir dalil yang detail dan rigid dalam urutan angka desimal, dalil ketujuh hadir sendiri, percaya diri. Wittgenstein seolah mengejek dunia dengan dalilnya yang ketujuh, bahwa apa yang tak dapat kita katakan, kita harus lempar ke dalam sunyi.

Tak ada kalimat penutup sekuat itu, bahkan dalam puisi. Wittgenstein adalah seorang filsuf yang keras kepala, yang kemudian ditentang banyak filsuf lainnya. Karena ia berbeda, dan tentu saja, ia pun juga kelak menentang dirinya sendiri. Namun apapun itu, seperti kata penutupnya, diamlah dalam sunyi jika tak paham, saya pun akan menutup ini dalam sunyi. Sesunyi malam yang tak berlogika ini. [T]

Singaraja, 6 Januari 2021

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Monolog dan Kekasih Satu Tahun Lalu || Mencincang Pesan

Next Post

Pengendara di Persimpangan Sikap

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails

Bung Karno di Rumah Petani   

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
0
Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

Read moreDetails

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
0
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

Read moreDetails

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
0
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

Read moreDetails

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
0
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

Read moreDetails

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

by Chusmeru
June 15, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

Read moreDetails

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
0
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

Read moreDetails

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails
Next Post
Pengendara di Persimpangan Sikap

Pengendara di Persimpangan Sikap

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali
Bahasa

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

by I Made Sudiana
June 18, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang
Ulas Rupa

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

by Mahesa Putra
June 18, 2026
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda
Panggung

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang...

by Nyoman Budarsana
June 18, 2026
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas
Esai

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

by Pande Susan
June 18, 2026
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain
Esai

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

by Angga Wijaya
June 18, 2026
Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’
Pop

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang...

by Dede Putra Wiguna
June 18, 2026
Bung Karno di Rumah Petani   
Esai

Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar
Kuliner

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

by Jaswanto
June 17, 2026
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali
Esai

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik
Panggung

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co