25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Literasi Hadap Masalah

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
January 4, 2021
in Esai
Saat Teknologi Tak Lagi Netral

Doni Wijaya [Ilustrasi oleh Nana Partha]

Pada tanggal 12 Februari 2020, di Desa Guwang  Sukawati, Gianyar,,tepatnya di Kulidan Kitchen, suatu tempat yang berada di tengah sawah dengan air selokan di sebelah baratnya yang mengalir cukup jernih, diadakan suatu acara yang belum pernah saya hadiri sama sekali.

Saya secara pribadi menganggap diskusi buku yang diiringi oleh pameran seni bertema  ini paling bermakna di tahun 2020 karena menyajikan gagasan penting mengenai esensi pendidikan yang ada di masyarakat. Penyajian tersebut membahas mengenai pentingnya mata pelajaran sekolah dan pendidikan untuk orang dewasa  menyentuh permasalahan yang ada di tempat mereka tinggal.

Selama ini anak anak di bangku sekolah hingga kuliah kebanyakan   belajar dari buku dan video bukan permasalahan yang ada di lingkungan sekitar sekolah itu berdiri sehingga menjadi menara gading. Di dalam acara yang dipandu oleh I Komang Adiartha selaku pemilik   Kulidan Kitchen dan dibawakan oleh Oceu Apristawijaya serta Butet Manurung.

Karya seni di bawah ini dapat memberikan gambaran bagaimana literasi hadap masalah dijalankan oleh komunitas yang bekerja sama dengan Sokola Insitute dengan pengabdian penuh kasih untuk memberdayakan masyarakat di daerah jauh dari perkotaan.

Ilustrasi Berjudul Literasi Dasar oleh Oceu Apristawijaya

Deskripsi ilustrasi dua pemuda suku Rimba sedang  mendiskusikan materi pelajaran yang didapat dari lembaga Sokola. Pemuda di depannya sedang buat kerajinan . Pemuda yang jauh dari tiga orang itu sedang memanjat pohon memetik buah buahan. Semua orang rimba ini memanfaatkan hasil alam untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Pemuda rimba menghubungkan materi ajar dengan kehidupan sehari hari dan lingkungan tempat mereka tinggal.

Pendidikan yang Berkaitan dengan Masalah Pokok

Persoalan mendasar yang dihadapi orang Rimba adalah rasa rendah diri berinteraksi dengan orang luar dan memperoleh informasi dari orang luar. Banyak generasi muda orang Rimba ingin jadi orang kota. Bahkan anak rimba saat belajar bersama pengajar dari sekolah mengaku merasa buruk dianggap orang Rimba , lebih suka disebut orang Jawa.

Padahal tujuan memperoleh pendidikan Sokola agar mereka tetap mempertahankan identitasnya sebagai orang Rimba , menjalani budayanya dengan tetap mempunyai akses terhadap berbagai pengetahuan dari luar dan berjaga jaga kalau mereka tertarik mengembangkan diri pada hal hal baru.

Bahkan seorang murid Sokola sampai bertanya mengapa saya terlahir sebagai orang Rimba yang jadi sasaran hinaan? Literasi dasar ini harus mampu mengurai persoalan mendasar yaitu rasa malu akan identitas diri dan budaya sebagai orang Rimba. Pengajar mencari cara menggali banyak sumber dan cerita yang bisa memperkuat identitas mereka. Jika pendidikan tiddak menjunjung tinggi identitas, setelah bersekolah akan meninggalkan kebudayaan.

Kosa kata dalam pelajaran bahasa tingkat dasar harus sesuai dengan kehidupan sehari hari mereka. Masalah yang  dihadapi orang Riimba sehingga harus mampu baca tulis dikarenakan sering salah paham dengan orang luar seperti berbelanja ke pasar. Orang Rimba yang buta huruf berbelanja sering buat pedagang kesal. Sebagai contoh saat bawa uang 50.000 rupiah untuk beli 1 kg gula seharga 20.000 rupiah mereka dapat kembalian 30.000 rupiah . Kemudian orang Rimba itu ingin beli kopi seharga 15.000 rupiah lalu uang mereka sisa setengahnya. Ini yang buat pedagang merasa waktunya terkuras. Ini disebabkan ketakutan orang rimba ditipu.

Ada kasus dimana orang Rimba kehilangan hutannya setelah memberi cap jempol pada surat dokumen . Pegawai perusahaan bilang surat itu tanda penghargaan . Kemudian mereka terkejut karena cap itu adalah tanda persetujuan bahwa lahannya diambil oleh korporasi untuk dijadikan perkebunan. Buldozer datang menebang hutan. Ini akibat terburuk karena buta huruf. Konsekuensi buta huruf dapat berdampak pada masalah kesehatan seperti seorang yang minum obat kerabatnya. Obat itu menyembuhkan si kerabat sedangkan dia  menderita sakit karena penyakitnya berbeda sehingga obatnya tidak cocok.

Literasi dasar harus ubah pola pikir. Sebelum melek huruf orang Rimba berpandangan hutannya luas tidak akan habis. Kemudian ada angapan bahwa kalau ada yang menipu orang rimba biarlah tuhan yang menghukum mereka. Setelah beberapa hari memperoleh pendidikan baca tulis dan mendemonstrasikan manfaaat sambil menghibur seperti menuliskan lagu tradisional orang Rimba, murid-murid sadar bahwa untuk melawan orang luar harus menguasai ilmu luar. Mereka berubah pandangan bahwa dengan baca tulis hutan tetap terjaga.

Pendidikan literasi dasar dimulai dari alfabet. Mengenalkan alphabet harus dengan kata yang dikenal sehari hari misalnya huruf A menggunakan kata atap. Huruf s menggunakan kata sungai. Untuk mengingat bentuk huruf dihubungkan dengan benda sekitar yang berhubungan dalam kehidupan sehari hari seperti huruf H menyerupai jemuran pakaian. Dengan ini pelajaran alphabet terhubung dengan kehidupan mereka secara langsung.

Melek huruf sejati melahirkan proses perubahan dari tidak tahu masalah menjadi sadar akan resiko dan ketidakberdayaan mengatasi masalah. Orang Rimba akhirnya sadar bahwa mereka selama ini jadi pihak yang tertindas. Dengan baca tulis mereka mengakses beragam informasi dan menjadi sadar untuk memiliki ide melawan bukan menyerah pada keadaan.

Tujuan literasi adalah bukan untuk memodernkan tapi membantu komunitas Rimba menghadapi tantangan dari luar. Literasi hadap masalah tidak memisahkan kehidupan sehari hari seperti menggembala, melaut, menjaga anak, bertani, atau buat kerajinan. Kalau orang Rimba belajar kalkulus dan geometri jelas tidak terhubung dengan kehidupan mereka. Pertanyaan penting muncul apakah ilmu yang mereka pelajari mengatasi penebangan hutan atau buat hidup mereka layak? Jika kita tidak kritis, kita tidak bisa sepenuhnya berpikir terbuka.

Esensi pendidikan adalah bekal hidup saat dewasa nanti. Saat anak anak Rimba dibawa ke kota,mereka bertanya:

“Bu, bukankah hampir semua orang di kota bersekolah, kenapa sungainya kotor?  Kenapa di kota banyak mobil padahal banyak orang di luar sana yang tidak punya rumah dan tingal di tumpukan sampah dan di bawah jembatan? Kenapa orang orang mau terjebak di kemacetan? Kenapa anak anak kalau menyeberang jalan harus diseberangkan polisi? Apa di kelas tidak pernah belajar menyeberang jalan? “

Pertanyaan dari seorang anak Rimba membuat seseorang berpikir tentang kekeliuran sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah formal. Sekolah formal tidak menerangkan masalah yang terjadi di tempat mereka berada. Selama siswa bersekolah tidak pernah diterangkan penyebab air sungai dan selokan selalu kotor supaya dicari akar masalah dan diselesaikan agar jernih tapi diajarkan tentang hal hal yang jauh dari gejala masalah wilayah dimana sekolah itu berada.

Sekolah formal menghilangkan bahasa daerah, tarian, makanan , rumah adat dan kesenian karena standarisasi kurikulum. Ini merenggut demokrasi pendidikan. Pembelajaran lokal mencakup tiga hal yaitu : hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan sesama manusia. Sebelum mengajar harus belajar dulu. Mengajar harus dengan pendekatan budaya. Banyak masalah yang dihasilkan dari niat baik. Bantuan dari pemerintah dalam perumahan, standarisasi kurikulum nasional dan menggantikan cara hidup nomaden. Gunakan dialek lokal sambil sebanyak mungkin menyelipkan kosa kata lokal sehari hari yang penting bagi kehidupan komunitas.

Jika Persoalan Baru datang, kurikulum pun dinamis mengikuti perkembangan persoalan tersebut. Bagi orang rimba apa yang dipelajari adalah apa yang ada di kehidupan sehari hari, Target utama literasi hadap masalah adalah bagaimana kemampuan literasi yang dimiliki bisa digunakan dalam kehidupan sehari hari, membantu menghadapi persoalan yang dihadapi komunitas dan dapat digunakan sebagai alat bantu memecahkan permasalahan yang menyerang peserta literasi dan komunitasnya. Manfaat literasi harus bisa dirasakan langsung oleh peserta didik dan komunitas tempat perserta berasal.

Literasi kontekstual disesuaikan dengan kehidupan sehari hari dan kondisi lingkungan sekitar tempat program pendidikan diselenggarakan . Siswa dalam literasi hadap masalah akan memahami lewat hubungannya dengan realitas bahwa realitas itu sebuah proses mengalami perubahan terus menerus(1).

Pendidikan Literasi menurut Paulo Freire

Dalam literasi hadap masalah guru tidak lagi jadi orang yang mengajar tapi orang yang mengajarkan dirinya melalui dialog dengan para murid yang pada gilirannya disamping diajar mereka juga mengajar. Manusia saling mengajar satu sama lain ditengahi oleh objek objek yang dapat diamati. Pada metode pendidikan hadap masalah ,guru selalu menyerap ketika dia mempersiapkan bahan pelajaran maupun ketika berdialog dengan para murid. Dia tidak akan menganggap objek objek yang dapat dipahami sebagai milik pribadi tetapi sebagai objek refleksi para murid serta dirinya sendiri.

Murid jadi rekan pengkaji yang kritis melalui dialog degan guru. Pendidikan hadap masalah adalah mengenai suatu proses penyingkapan realitas secara terus menerus berjuang demi kebangkitan kesadaran dan keterlibatan kritis realitas. Refleksi yang sejati menganggap tidak ada manusia yang abstrak dan tidak ada dunia tanpa manusia tapi manusia dalam kaitannya dengan dunia.

Pendidikan hadap masalah mendorong refleksi dan tindakan yang benar atas realitas dan dengan cara itu menyambut fitrah manusia yang akan menjadi manusia sejati hanya jika terlibat dalam pencarian dan perubahan kreatif. Pendidikan hadap masalah menegaskan manusa sebagai mahluk yang berada di dalam proses menjadi- sebagai sesuatu yang tak pernah selesai, mahluk yang tidak pernah sempurna dalam dan dengan realitas yang juga tidak pernah selesai. Pendidikan hadap masalah mengubah kesadaran peserta didik menjadi kesadaran kritis(2).

Sumber :

1.            Manurung, Butet, dkk. 2019. Melawan Setan Bermata Runcing. Jakarta. Sokola Institute

2.            Freire, Paulo.2008. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta. Pustaka      LP3ES

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indah Pertiwi dan Thaly Titi Kasih, Juara Baca Puisi Bali di Gianyar

Next Post

Menghitung Penghasilan Bondres Rarekual | Pra Pandemi & Pas Pandemi

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Menghitung Penghasilan Bondres Rarekual | Pra Pandemi & Pas Pandemi

Menghitung Penghasilan Bondres Rarekual | Pra Pandemi & Pas Pandemi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co