2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Literasi Hadap Masalah

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
January 4, 2021
in Esai
Saat Teknologi Tak Lagi Netral

Doni Wijaya [Ilustrasi oleh Nana Partha]

Pada tanggal 12 Februari 2020, di Desa Guwang  Sukawati, Gianyar,,tepatnya di Kulidan Kitchen, suatu tempat yang berada di tengah sawah dengan air selokan di sebelah baratnya yang mengalir cukup jernih, diadakan suatu acara yang belum pernah saya hadiri sama sekali.

Saya secara pribadi menganggap diskusi buku yang diiringi oleh pameran seni bertema  ini paling bermakna di tahun 2020 karena menyajikan gagasan penting mengenai esensi pendidikan yang ada di masyarakat. Penyajian tersebut membahas mengenai pentingnya mata pelajaran sekolah dan pendidikan untuk orang dewasa  menyentuh permasalahan yang ada di tempat mereka tinggal.

Selama ini anak anak di bangku sekolah hingga kuliah kebanyakan   belajar dari buku dan video bukan permasalahan yang ada di lingkungan sekitar sekolah itu berdiri sehingga menjadi menara gading. Di dalam acara yang dipandu oleh I Komang Adiartha selaku pemilik   Kulidan Kitchen dan dibawakan oleh Oceu Apristawijaya serta Butet Manurung.

Karya seni di bawah ini dapat memberikan gambaran bagaimana literasi hadap masalah dijalankan oleh komunitas yang bekerja sama dengan Sokola Insitute dengan pengabdian penuh kasih untuk memberdayakan masyarakat di daerah jauh dari perkotaan.

Ilustrasi Berjudul Literasi Dasar oleh Oceu Apristawijaya

Deskripsi ilustrasi dua pemuda suku Rimba sedang  mendiskusikan materi pelajaran yang didapat dari lembaga Sokola. Pemuda di depannya sedang buat kerajinan . Pemuda yang jauh dari tiga orang itu sedang memanjat pohon memetik buah buahan. Semua orang rimba ini memanfaatkan hasil alam untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Pemuda rimba menghubungkan materi ajar dengan kehidupan sehari hari dan lingkungan tempat mereka tinggal.

Pendidikan yang Berkaitan dengan Masalah Pokok

Persoalan mendasar yang dihadapi orang Rimba adalah rasa rendah diri berinteraksi dengan orang luar dan memperoleh informasi dari orang luar. Banyak generasi muda orang Rimba ingin jadi orang kota. Bahkan anak rimba saat belajar bersama pengajar dari sekolah mengaku merasa buruk dianggap orang Rimba , lebih suka disebut orang Jawa.

Padahal tujuan memperoleh pendidikan Sokola agar mereka tetap mempertahankan identitasnya sebagai orang Rimba , menjalani budayanya dengan tetap mempunyai akses terhadap berbagai pengetahuan dari luar dan berjaga jaga kalau mereka tertarik mengembangkan diri pada hal hal baru.

Bahkan seorang murid Sokola sampai bertanya mengapa saya terlahir sebagai orang Rimba yang jadi sasaran hinaan? Literasi dasar ini harus mampu mengurai persoalan mendasar yaitu rasa malu akan identitas diri dan budaya sebagai orang Rimba. Pengajar mencari cara menggali banyak sumber dan cerita yang bisa memperkuat identitas mereka. Jika pendidikan tiddak menjunjung tinggi identitas, setelah bersekolah akan meninggalkan kebudayaan.

Kosa kata dalam pelajaran bahasa tingkat dasar harus sesuai dengan kehidupan sehari hari mereka. Masalah yang  dihadapi orang Riimba sehingga harus mampu baca tulis dikarenakan sering salah paham dengan orang luar seperti berbelanja ke pasar. Orang Rimba yang buta huruf berbelanja sering buat pedagang kesal. Sebagai contoh saat bawa uang 50.000 rupiah untuk beli 1 kg gula seharga 20.000 rupiah mereka dapat kembalian 30.000 rupiah . Kemudian orang Rimba itu ingin beli kopi seharga 15.000 rupiah lalu uang mereka sisa setengahnya. Ini yang buat pedagang merasa waktunya terkuras. Ini disebabkan ketakutan orang rimba ditipu.

Ada kasus dimana orang Rimba kehilangan hutannya setelah memberi cap jempol pada surat dokumen . Pegawai perusahaan bilang surat itu tanda penghargaan . Kemudian mereka terkejut karena cap itu adalah tanda persetujuan bahwa lahannya diambil oleh korporasi untuk dijadikan perkebunan. Buldozer datang menebang hutan. Ini akibat terburuk karena buta huruf. Konsekuensi buta huruf dapat berdampak pada masalah kesehatan seperti seorang yang minum obat kerabatnya. Obat itu menyembuhkan si kerabat sedangkan dia  menderita sakit karena penyakitnya berbeda sehingga obatnya tidak cocok.

Literasi dasar harus ubah pola pikir. Sebelum melek huruf orang Rimba berpandangan hutannya luas tidak akan habis. Kemudian ada angapan bahwa kalau ada yang menipu orang rimba biarlah tuhan yang menghukum mereka. Setelah beberapa hari memperoleh pendidikan baca tulis dan mendemonstrasikan manfaaat sambil menghibur seperti menuliskan lagu tradisional orang Rimba, murid-murid sadar bahwa untuk melawan orang luar harus menguasai ilmu luar. Mereka berubah pandangan bahwa dengan baca tulis hutan tetap terjaga.

Pendidikan literasi dasar dimulai dari alfabet. Mengenalkan alphabet harus dengan kata yang dikenal sehari hari misalnya huruf A menggunakan kata atap. Huruf s menggunakan kata sungai. Untuk mengingat bentuk huruf dihubungkan dengan benda sekitar yang berhubungan dalam kehidupan sehari hari seperti huruf H menyerupai jemuran pakaian. Dengan ini pelajaran alphabet terhubung dengan kehidupan mereka secara langsung.

Melek huruf sejati melahirkan proses perubahan dari tidak tahu masalah menjadi sadar akan resiko dan ketidakberdayaan mengatasi masalah. Orang Rimba akhirnya sadar bahwa mereka selama ini jadi pihak yang tertindas. Dengan baca tulis mereka mengakses beragam informasi dan menjadi sadar untuk memiliki ide melawan bukan menyerah pada keadaan.

Tujuan literasi adalah bukan untuk memodernkan tapi membantu komunitas Rimba menghadapi tantangan dari luar. Literasi hadap masalah tidak memisahkan kehidupan sehari hari seperti menggembala, melaut, menjaga anak, bertani, atau buat kerajinan. Kalau orang Rimba belajar kalkulus dan geometri jelas tidak terhubung dengan kehidupan mereka. Pertanyaan penting muncul apakah ilmu yang mereka pelajari mengatasi penebangan hutan atau buat hidup mereka layak? Jika kita tidak kritis, kita tidak bisa sepenuhnya berpikir terbuka.

Esensi pendidikan adalah bekal hidup saat dewasa nanti. Saat anak anak Rimba dibawa ke kota,mereka bertanya:

“Bu, bukankah hampir semua orang di kota bersekolah, kenapa sungainya kotor?  Kenapa di kota banyak mobil padahal banyak orang di luar sana yang tidak punya rumah dan tingal di tumpukan sampah dan di bawah jembatan? Kenapa orang orang mau terjebak di kemacetan? Kenapa anak anak kalau menyeberang jalan harus diseberangkan polisi? Apa di kelas tidak pernah belajar menyeberang jalan? “

Pertanyaan dari seorang anak Rimba membuat seseorang berpikir tentang kekeliuran sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah formal. Sekolah formal tidak menerangkan masalah yang terjadi di tempat mereka berada. Selama siswa bersekolah tidak pernah diterangkan penyebab air sungai dan selokan selalu kotor supaya dicari akar masalah dan diselesaikan agar jernih tapi diajarkan tentang hal hal yang jauh dari gejala masalah wilayah dimana sekolah itu berada.

Sekolah formal menghilangkan bahasa daerah, tarian, makanan , rumah adat dan kesenian karena standarisasi kurikulum. Ini merenggut demokrasi pendidikan. Pembelajaran lokal mencakup tiga hal yaitu : hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan sesama manusia. Sebelum mengajar harus belajar dulu. Mengajar harus dengan pendekatan budaya. Banyak masalah yang dihasilkan dari niat baik. Bantuan dari pemerintah dalam perumahan, standarisasi kurikulum nasional dan menggantikan cara hidup nomaden. Gunakan dialek lokal sambil sebanyak mungkin menyelipkan kosa kata lokal sehari hari yang penting bagi kehidupan komunitas.

Jika Persoalan Baru datang, kurikulum pun dinamis mengikuti perkembangan persoalan tersebut. Bagi orang rimba apa yang dipelajari adalah apa yang ada di kehidupan sehari hari, Target utama literasi hadap masalah adalah bagaimana kemampuan literasi yang dimiliki bisa digunakan dalam kehidupan sehari hari, membantu menghadapi persoalan yang dihadapi komunitas dan dapat digunakan sebagai alat bantu memecahkan permasalahan yang menyerang peserta literasi dan komunitasnya. Manfaat literasi harus bisa dirasakan langsung oleh peserta didik dan komunitas tempat perserta berasal.

Literasi kontekstual disesuaikan dengan kehidupan sehari hari dan kondisi lingkungan sekitar tempat program pendidikan diselenggarakan . Siswa dalam literasi hadap masalah akan memahami lewat hubungannya dengan realitas bahwa realitas itu sebuah proses mengalami perubahan terus menerus(1).

Pendidikan Literasi menurut Paulo Freire

Dalam literasi hadap masalah guru tidak lagi jadi orang yang mengajar tapi orang yang mengajarkan dirinya melalui dialog dengan para murid yang pada gilirannya disamping diajar mereka juga mengajar. Manusia saling mengajar satu sama lain ditengahi oleh objek objek yang dapat diamati. Pada metode pendidikan hadap masalah ,guru selalu menyerap ketika dia mempersiapkan bahan pelajaran maupun ketika berdialog dengan para murid. Dia tidak akan menganggap objek objek yang dapat dipahami sebagai milik pribadi tetapi sebagai objek refleksi para murid serta dirinya sendiri.

Murid jadi rekan pengkaji yang kritis melalui dialog degan guru. Pendidikan hadap masalah adalah mengenai suatu proses penyingkapan realitas secara terus menerus berjuang demi kebangkitan kesadaran dan keterlibatan kritis realitas. Refleksi yang sejati menganggap tidak ada manusia yang abstrak dan tidak ada dunia tanpa manusia tapi manusia dalam kaitannya dengan dunia.

Pendidikan hadap masalah mendorong refleksi dan tindakan yang benar atas realitas dan dengan cara itu menyambut fitrah manusia yang akan menjadi manusia sejati hanya jika terlibat dalam pencarian dan perubahan kreatif. Pendidikan hadap masalah menegaskan manusa sebagai mahluk yang berada di dalam proses menjadi- sebagai sesuatu yang tak pernah selesai, mahluk yang tidak pernah sempurna dalam dan dengan realitas yang juga tidak pernah selesai. Pendidikan hadap masalah mengubah kesadaran peserta didik menjadi kesadaran kritis(2).

Sumber :

1.            Manurung, Butet, dkk. 2019. Melawan Setan Bermata Runcing. Jakarta. Sokola Institute

2.            Freire, Paulo.2008. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta. Pustaka      LP3ES

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indah Pertiwi dan Thaly Titi Kasih, Juara Baca Puisi Bali di Gianyar

Next Post

Menghitung Penghasilan Bondres Rarekual | Pra Pandemi & Pas Pandemi

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Menghitung Penghasilan Bondres Rarekual | Pra Pandemi & Pas Pandemi

Menghitung Penghasilan Bondres Rarekual | Pra Pandemi & Pas Pandemi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co