23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialog Bisu di Meja Makan || Cerpen Satia Guna

Satia Guna by Satia Guna
January 2, 2021
in Cerpen
Dialog Bisu di Meja Makan || Cerpen Satia Guna

Ilustrasi oleh Satia Guna

Aku menikmati kesendirian ini, aku berhalusinasi tentang berbagai alasan kesendirianku. Tubuh ini terasa dingin sekali, padahal masih berada di dekatmu, sayang, ruangan ini terasa gelap, padahal masih ada engkau yang menerangi kegelisahanku, bibir ini terasa hambar, padahal setiap saat kau cumbu selalu, dan hati ini masih sunyi padahal sudah kau buka teralinya sejak mata kita bertemu...

Pagi ini aku menikmati segelas kopi gelap dan sepiring pisang goreng serta sebungkus kesendirian, kesendirian ini benar-benar yang paling nikmat. Padahal umur perkawinan kami sudah  menginjak 25 tahun, seharusnya rumah tangga kami semakin harmonis. Entah mengapa kekacauan pikiran untuk selalu merasa sendiri ini menggerogoti seluruh hati. Entah Ia juga merasakannya tapi sama sekali tak terlihat kalau ia merasakan bahwa ia pun mengalami pesakitan ini. Pagi ini ia minta izin padaku untuk pergi ke pasar membeli keperluan dapur.

Mengapa laki-laki itu seperti termangu pagi ini. Padahal hari ini hari yang sangat cerah, harusnya ia bersemangat dan pergi berolahraga bersama teman-temannya. Laki-laki itu nampak aneh belakangan ini. Ia selalu menghabiskan waktunya bersemedi dengan lukisannya. Tak pernah ia sempat untuk mencumbuku lagi. Dasar lelaki, di saat ada suatu pekerjaan yang sulit selalu egoismenya muncul. Aku kepasar pun ia hanya menatapku dan tak berkata sepatah katapun.

Aku lelah sekali pagi ini memikirkannya dan memikirkan rasa kesendirian ini. Masih adakah cinta yang kumiliki untuknya? Atau masih adakah cinta yang ia miliki padaku? Harusnya tak ada istilah cinta lagi dalam hubungan suami istri, yang ada harusnya rasa mengerti antara satu sama lain. Hari-hariku akhir-akhir ini terasa hambar dan pernah sekali kukatakan itu pada istriku tapi ia hanya menjawab biasa saja. Apakah itu menandakan ia sudah bosan padaku atau bagaimana, aku masih mencari tahu.

Apa sulit untuk membagi senyuman bagi istrinya yang tercinta ini. Aku sungguh-sungguh sudah merasa kebingungan dengan sifatnya yang aneh itu. Sifat yang selalu tak menganggapku ada dan sifat dimana aku hanya sebuah boneka yang setiap saat bisa ia mainkan jika dibutuhkan. Apa yang sedang ia pikirkan. Hanya dapur yang bisa mengerti seorang istri, tempat di mana ia bisa menumpahkan amarahnya pada sebuah wajan dan bawang.

Ia masih saja duduk di teras dan menatapku dengan tatapan yang begitu misterius, apakah ia ingin membunuhku, aku tertawa dalam hati sembari mengaduk telur dan beberapa sayuran yang tadi sudah kubeli. Aku bagai telur dalam baskom ini dan ia adalah sayurnya. Aku yang berusaha mengandaikan Sesutu hal dengan sangat luas dan ia hanya memikirkan sesuatu secara sempit. Masihkah ia mencintaiku atau cintanya mungkin sudah pudar dimakan usia.

Aku meragu pada istriku, raguku membuatku semakin senang, apa yang terjadi. Apa yang merasuki pikiranku. Aku terbawa suasana hati, aku terlampau jauh, terlampau jauh berharap.

Aku heran dengan semua perlakuannya padaku, hatiku terbakar, hangus tak tersisa. Ia terus memperhatikan gerak-gerikku, aku merasa risih, sungguh risih.

Biar kuceritakan sedikit pertemuan kami, ini adalah pertemuan yang begitu mengesankan hatiku. Aku adalah wanita dengan rambut bergelombang, kulitku sawo matang, wajahku bulat dengan mata berbingkai, dan senyum yang dihiasi lesung pipi. Kata-kata tentang diriku tadi, bukan aku yang menerka-nerka, ia yang mengatakannya, ia mengatakannya saat pertama kami bertemu dibawah pohon berdaun bintang, berdaun harapan. Ia memegang tanganku, sangat mesra, dengan kelingkingnya yang menggapai kelingkingku, ini sebuah perjanjian, iya ini sebuah perjanjian, sebuah perjanjian yang ia sematkan dalam doanya.

Kami masih duduk-duduk di bawah pohon berdaun bintang, berdaun harapan. Ditengah ramainya orang berlalu lalang menjumpai kami dengan bisikan diiringi tawa. Apa yang mereka tertawakan? Tempat kencan kami benar bukan, di bawah lindungan, dibawah pohon berdaun bintang, berdaun harapan.

Kami adalah pasangan yang sangat romantik dalam kesederhanaan, dalam kepekatan nasib, dan kegelisahan orang-orang.

Biarkan juga aku bercerita tentang masa-masa saat kita bertemu. Aku adalah, ah sudahlah. Bentuk tubuh seorang laki-laki tak harus kusampaikan. Laki-laki tak menarik untuk diceritakan. Bentuk tubuh lelaki tak menarik untuk diceritakan, yang lebih menarik diceritakan adalah kehebatan laki-laki. Baik, aku akan menceritakan tentang kehebatanku. Aku adalah seorang seniman propaganda yang sangat apik mengatur sandiwara. Aku orang hebat. Semua orang mengaggumi seniku, aku seorang laki-laki multitalenta, aku bisa menari, aku bisa melukis, aku berteater, menulis, ah semua aku bisa, tapi hanya satu yang tak aku bisa, yaitu membahagiakan hati perempuan. Beralih dari cerita kehidupanku. Wanita merupakan mahluk yang pelik, penuh dengan liku, penuh ranjau yang harus dilalui oleh seorang laki-laki. Wanita selalu menikmati hal-hal yang berbau romantik, semiotik, artistik, apalah yang tik..tik..tik, seperti rintik hujan di pagi hari, begitulah perempuan, seperti rintik hujan di pagi hari, hanya rintik tapi membasahi. Hei, aku menceritakanmu lebih baik dari pada dirimu, KAU TAHU!

Aku tahu ia sangat pandai mengatur sandiwara di rumah, ia seorang aktor teater wajarlah rumah dijadikan sebagai panggungnya. Ia mengatur tatanan lampu di rumah, mengatur dekorasinya agar terlihat lebih artistik, jujur ini membuatku muak. Wanita ia bilang menyukai hal-hal yang berbau artistik, cuiihhh, kami lebih suka hal-hal yang berbau romantik_SAMA SAJA.

Ia kenapa lagi minggu ini, selalu bermuram durja. Masakannya tak seenak seminggu yang lalu, empat hari yang lalu, dan dua hari yang lalu. Nasinya hambar, memang nasi itu hambar tapi tak seperti biasanya, sangat hambar bahkan dingin sedingin tangannya menuangi air ke gelasku, apakah ia berselingkuh, apa benar? Apa iya? Aku penasaran.

Hari ini aku memasakan nasi sisa kemarin padanya, semoga ia menikmati kehambaran hati ini. Menikmati piluku. Menuanginya air dingin membeku agar merogoh isi kepalanya yang selalu penuh api cemburu. Kau tahu sayang rambutmu yang gondrong itu perlu dicukur rapi, saat bercinta rambutmu itu membuat tubuhku geli.

Setiap hari aku selalu disuruh untuk mencukur rambutku, hei apa dia buta, rambut gondrongku ini memiliki kharisma tersendiri, kharisma yang membuat orang menjadi tahu aku seniman, bukan hanya rambut gondrongku, tapi wajahku yang berkarakter juga menambah aura senimanku keluar. Kau tak tahu apa-apa, ini bukan fhasion, ini jati diri.

Pagi yang cerah hari ini mereka berdua duduk berhadapan di meja makan, memandang satu sama lain, memandang mata, tangan bahu, hingga hati masing-masing. Suara tak terdengar di meja makan, suara tak terdengar di antara mereka. Yang terdengar hanyalah isi hati mereka yang tengah beradu.

Aku masih bertanya dalam hati, apakah istriku berselingkuh, apakah benar ia sudah mencintai pria lain, pria yang lebih gagah dariku, pria yang mengutamakan istrinya daripada lukisan istrinya. Memandangi manis istrinya bukan menambahkan rasa manis itu pada lukisan.

Ia berfikir aku selingkuh, ia pikir aku menghianatinya. Menghianati cinta yang sudah kubangun bertahun-tahun. Jawabanya tentu saja IYA. Iya aku berselingkuh, berselingkuh untuk kepentingannya. Untuk cerita-cerita yang akan ia tulis pada catatan hariannya yang ia kunci rapat-rapat dan takada satupun orang yang boleh melihatnya termasuk aku. ISTRINYA.

Jadi benar ia berselingkuh, jadi selama ini ia menghianati cintaku, menghianati janji yang kita buat di bawah pohon berdaun bintang, berdaun ah.. harapan katanya. Harapan yang seolah-olah pupus hanya karena disapu rasa curiga dan pengkhianatan, tapi, tapi aku menikmati ini, inilah puncak konflik yang aku tunggu-tunggu, di mana aku yang menderita, penderitaan ini sangat nikmat. Nikmat sekali, aku tersenyum sendiri seperti orang gila tapi sedikit waras. Ia berselingkuh. Aku penasaran dengan siapa ia berselingkuh, mungkinkah dengan sahabatku sendiri, atau dengan adikku, kakakku, ayolah kumohon orang terdekat, agar konfliknya semakin menarik, aku mencintai saat-saat seperti ini. Aku menikmatinya.

Iya, aku memang berselingkuh, berselingkuh dengan sahabatnya, yang lebih mapan, yang lebih mencintai wanita daripada lukisan wanita yang dicintainya. Tatanan rambut lebih rapi. Memakai jas, celana casual, dengan kemeja lengan panjang yang menawan, bagaimana? Bagus kan kalau seorang wanita yang menceritakan keindahan laki-laki, tak sepertimu yang hanya diam memandangi lekuk indah tubuhku pada lukisanmu itu. Aku muak suamiku yang tercinta, suamiku yang penuh dengan hal-hal romantik yang hanya kau nikmati sendiri tanpa kau bagi denganku. Kita sudahi saja untuk hari ini suamiku.

Mereka saling menatap satu sama lain, di tengah meja bundar itu, ditengah riuh suara sendok dan piring, dengan pemanis gemericik air kran, tetes demi tetes, yang mengiri mereka dalam dialog bisu yang setiap hari terjadi, mereka diam, hanya memandang, tertawa, tersenyum, menangis, namun tak berkata, hanya hati mereka berdialog di atas meja makan, di bawah alam sadar. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Kiki Sulistyo || Hantu Rima, Pigmen Bunyi, Martiria

Next Post

Dewa Komang Yudi || Mengubah Lilin Menjadi Obor

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Dewa Komang Yudi || Mengubah Lilin Menjadi Obor

Dewa Komang Yudi || Mengubah Lilin Menjadi Obor

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co