24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepalamu Di Mana?

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
September 1, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Pemimpin dan kepala itu sama. Keduanya sama-sama ada di atas, kecuali terbalik atau nyungkling. Keduanya sama-sama punya otak di dalamnya. Karena punya otak, keduanya sama-sama bisa berpikir. Otak adalah anugerah bagi kepala dan pemimpin. Meski begitu, tidak semua kepala dan pemimpin menggunakan anugerah terindahnya untuk berpikir.

Manakala tubuh diibaratkan seperti gunung, kepala adalah puncaknya. Dari puncak gunung, keluar lahar panas saat gunung meletus. Lahar yang keluar sanggup membakar apa saja yang dilewatinya. Setelah ia lewat, banyak orang yang bisa hidup karenanya. Hasil berpikir pun, meski tidak persis sama, bisa diibaratkan seperti lahar. Saat ide-ide digelontorkan, ada saja orang yang merasa diuntungkan atau dirugikan. Setelah segala konflik yang dilahirkan dari gelontoran ide itu lewat, barulah orang-orang bisa mengambil hikmahnya.

Itulah guna belajar seumur hidup. Jika ada orang yang ingin belajar, syarat pertama adalah mau dan mampu mendengar. Kalau mendengar saja sudah tidak mau, buat apa punya keinginan belajar? Tidak ada gunanya belajar tanpa mendengar. Kemauan mendengar dilengkapi dengan kemahiran membaca. Membaca selain ada tekhniknya, juga harus ada objek yang dibaca. Tidak mungkin membaca tulisan-tulisan pada media yang sudah lapuk dimakan ngengat. Mustahil pula membaca buku-buku yang sudah dibakar. Pembakaran buku sudah biasa di negeri antah berantah, meskipun kita tidak benar-benar tahu, yang membakar sudah baca atau belum.

Syarat ketiga adalah kemampuan berbicara. Retorika mesti selalu diasah, agar tidak salah ucap. Kumbakarna adalah contoh orang pintar yang salah ucap, sehingga anugerah yang didapatnya berupa tidur yang lelap. Untuk bicara, mestilah memiliki keberanian. Keberanian diimbangi dengan kecerdasan yang didapat dari mendengar dan membaca. Hati-hati bicara, bisa dipenjara.

Di tingkat lanjut adalah menguasai tekhnik menulis. Menulis perlu kemahiran dan keterampilan. Ide-ide yang abstrak di kepala, bisa diwujudnyatakan dalam bentuk tulisan yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Sayangnya, kita juga memiliki sejarah buruk dalam dunia kepenulisan. Sebab beberapa orang yang gemar menulis, dan mengabdikan dirinya dalam dunia tulis menulis, justru disingkirkan, dibuang.

Apa istilah yang lebih tepat dari pembodohan? Saya pikir tidak ada. Penghilangan data-data sejarah melalui pembakaran buku jelas kejahatan intelektual. Ada solusi yang tidak sebarbar itu. Pengawasan salah satunya.

Kepekaan intelektual dalam menjaga asupan gizi kecerdasan masyarakat adalah tanggungjawab bersama. Ada tiga sumber kekuatan yang bisa dimanfaatkan yakni kekuasaan, kekayaan, dan kecerdasan. Dengan kekuasaan, segala keputusan serta aturan dapat tercipta. Dengan kekayaan, pelaksanaan segala keputusan dapat lebih lancar. Dengan kecerdasan, segala ide tentang penciptaan, perawatan, dan evaluasi bisa diadakan. Semua itu mesti didasari dengan pengabdian. Pengabdian hanya mungkin disadari jika bijaksana. Maksudnya, inti dari segala kekuatan itu adalah kebijaksanaan.

Sayangnya, tidak ada lagi sosok-sosok pemimpin yang sekaligus pemikir. Idealisme hanya kulit. Mereka disibukkan dengan urusan birokrasi, malas, dan bebal. Mereka mendekat kalau ada maunya. Memasuki musim pemilihan, semua calon mencoba menunjukkan kepeduliannya pada berbagai bidang kehidupan masyarakat yang selama ini dipunggunginya. Jalanan dipenuhi slogan-slogan pemenangan dan beraneka warna. Mereka semua ingin jadi raja.

Dahulu, kalau kepingin jadi raja, orang harus bertaruh nyawa. Mereka musti berperang melawan musuh dan juga sodaranya sendiri. Tidak ada pemimpin yang cengeng. Karena keberaniannyalah, raja-raja itu disebut-sebut penjelmaan Dewa. Beberapa reinkarnasi dewa bisa kita daftar dalam teks Adi Parwa. Penyebutan reinkarnasi Dewa, bukan oleh dirinya sendiri, tapi oleh para kawi wiku. Seorang kawi wiku, idealnya adalah manusia merdeka yang membebaskan diri dengan menulis karya sastra. Tentu bukan kawi-kawian penjilat debu kaki, apalagi debu kaki raja yang hanya ngaku-ngaku. Pujian-pujian sekaliber itu, disampaikan lewat tradisi penulisan kakawin yang indah bukan kepalang. Jadi kualitas kesastraannya tidak diragukan lagi. Istilahnya, ucapan yang tepat oleh orang yang tepat. Kakawin diikat oleh aturan-aturan persajakan, serupa meski tidak sama seperti pantun. Aturan persajakan dibuat, agar kakawin dan pantun tidak ngawur.

Otak yang kita punya memang untuk berpikir. Di dalamnya amerta sebagai vitalitas hidup berada. Vitalitas hidup itu, sekarang kita gunakan untuk apa? Dalam cerita Adi Parwa, amerta didapat dari pemutaran Gunung Mandara oleh koalisi para Dewa dan Raksasa. Koalisi tangguh ini berhasil mengeluarkan amerta dari dalam lautan susu. Setelah amerta keluar, koalisi tadi hancur karena ketamakan. Saya hampir yakin kalau koalisi yang dibangun pejuang-pejuang kemerdekaan akan hancur hanya karena musuh mereka bersama sudah lenyap. Kasus sejenis ini bisa kita temui dengan sangat mudah. Yang membuat sebuah koalisi hancur adalah hal-hal yang dahulunya sama-sama mereka perjuangkan. Jika sebuah koalisi dibangun untuk memperebutkan kedudukan, maka kedudukan itu pula yang akan membuat koalisi cilaka. Sudah seperti hukum alam.

Oleh karena itu, membangun koalisi memang tidak mudah, lebih susah lagi menjaga koalisi agar tidak hancur berkeping-keping. Meski kehancuran sekaligus kematian selalu menghantui kehidupan, manusia yang punya visi tidak akan terombang-ambing. Seperti gunung di tengah lautan. Seberapa kuat pun ombak menggoyang kaki gunung, ia tidak goyah karena akarnya jauh lebih kuat dari pada goyangan ombak. Justru gunung yang kokoh itu, lebih sering dihancurkan oleh api yang berasal dari dalam dirinya. Jadi memperkuat akar adalah jalan memperkokoh koalisi. Kita pasti sudah sama-sama tahu, apa akar koalisi yang dibangun oleh kita punya moyang.

Selain akar, kita juga harus punya kepala. Tidak ada tubuh yang bisa bertahan tanpa kepala, begitu juga sebaliknya. Kecuali dalam cerita Kala Rahu yang kepalanya abadi karena sudah menelan amerta sebatas leher meski sudah terlepas dari badan. Kepala abadi Rahu itu mengejar-ngejar Dewi Bulan dan ingin mencaploknya. Tetapi Dewi Bulan selalu berhasil lolos karena setelah melewati leher, tidak ada badan yang akan mengolah Dewi Bulan menjadi kotoran kala Rahu. Cerita ini melegitimasi gerhana bulan.

Bulan dalam teks-teks yang agak beraroma mistik, selalu disandingkan maknanya dengan Bindu sebagai tempat amerta. Bindu itulah yang dalam beberapa ajaran konon ditusuk dengan lembut tapi bertenaga. Penusukan Bindu ini disebut pasuduk swari. Pengejaran Dewi Bulan oleh Kala, bisa kita tafsir sebagai pencarian amerta oleh waktu. Segala yang hidup pastilah terkena hukum waktu. Manusia salah satunya. Artinya, kitalah yang mengejar amerta kemana-mana, sayangnya setelah amerta didapat, ia lepas lagi begitu saja karena kita tidak paham cara yang benar. Salah satu syaratnya menurut cerita Kala tadi adalah memelihara dan punya tubuh. Tubuh dipelihara agar amerta tidak sekadar melewati leher lalu lenyap.

Kepala adalah pemimpin pengejaran amerta. Begitu amerta didapat, yang menikmati tidak hanya kepala tapi juga seluruh tubuh. Pemimpin adalah kepala, rakyat adalah tubuh. Tubuh dan kepala harus saling menjaga. Jika kepala tidak hirau pada tubuh, siap-siap kena banyak penyakit dan mati. Jika tubuh tak peduli pada kepala, siap-siap jadi setan. Kepala memang tempat otak untuk berpikir. So, kepalamu mana dan untuk apa? [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Penggerak: Guru Bergerak, Guru Menggerakkan

Next Post

Berpedoman Lontar Jawa Kuno Memperjuangkan Hindu Secara Nasional

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Berpedoman Lontar Jawa Kuno Memperjuangkan Hindu Secara Nasional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co