24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berpedoman Lontar Jawa Kuno Memperjuangkan Hindu Secara Nasional

Sugi Lanus by Sugi Lanus
September 1, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

— Catatan Harian Sugi Lanus, Anggar Kasih Julungwangi, 1 September 2020

Saya menulis ini untuk sekedar pembuka ingatan kembali, bahwa generasi kakek atau buyut sebelum kemerdekaan menjadi Hindu di Jawa, Lombok, dan Bali, mereka berkitab apa? Masyarakat Majapahit, Kediri, Medang Kemulan memeluk Hindu berpedoman kitab apa?

Tulisan singkat ini saya tulis untuk adik-adik saya yang sedang belajar lontar dan juga gandrung menekuni buku-buku terjemahan dari India.

Saya urut dengan nomor agar mudah dibaca dan dibagi WA.

Saya tidak sajikan pokok-pokok di bawah dengan pola penulisan ilmiah, sekalipun sebagian dari isi pokok-pokok ini pernah saya publikasi dan telah diterbitan Oxford University Press.

1. Ketika Indonesia merdeka agama Hindu tidak langsung mendapat pengesahan sebagai agama yang diakui oleh negara. Islam, Protestan dan Katolik, langsung diakui. Hindu dan Buddha harus menempuh jalan berliku untuk mendapat pengakuan negara.

2. Masyarakat Hindu Bali memperjuangkan pengakuan agama Hindu di awal kemerdekaan RI, para tetua Bali harus menjelaskan dan memberikan gambaran pada pemerintah pusat bahwa keagamaan Hindu di Bali didasari oleh berbagai tradisi kuno yang pedomannya tersurat dalam berbagai lontar yang diwarisi di Bali dari jaman kerajaan Gelgel, Majapahit, Singosari, Kediri dan sebagian kecil disebutkan dari periode Medang Kemulan.

3. Salah satu tokoh besar Hindu Bali ketika itu adalah IGB Sugriwa, pakar lontar, yang menjadi duta dan wakil umat Hindu Bali menjelaskan keagamaan Hindu di Bali ke Presiden Soekarno dkk. Sebagai pakar lontar, kutipan dan penjelasan buku-buku yang disusunnya, baik untuk kepentingan pengakuan Hindu di pemerintahan pusat, atau dalam menyusun pedoman pengajaran di Sekolah Guru Agama Hindu, kutipan yang diambilnya adalah sepenuhnya dari lontar-lontar yang dijadikan rujukan dalam kehidupan beragama di Bali. Lontar-lontar tersebut berbahasa Jawa Kuno dan Sansekerta. IGB Sugriwa sekarang namanya diabadikan menjadi Universitas Hindu Negeri IGB Sugriwa Denpasar, sebelumnya IHDN Negeri Denpasar.

4. Selain IGB Sugriwa ada banyak pakar lontar atau para pendeta murni berkitab lontar-lontar dalam menjalankan agama di Bali dan Lombok. Saya sebutkan para tokoh Hindu sebelum kemerderkaan dan awal kemerdekaan yang sangat berpengaruh terhadap perumusan Hindu setelah memasuki kemerdekaan: 1. Ida Padanda Made Aseman, Sanur. 2. Ida Putu Maron, Denpasar. 3. Ida Padanda Made Kamenuh, Ketua Pusat Paruman Para Pandita Singaradja. 4. Ida Padanda Gede Ngenjung Singaradja. 5. Tuan Wajan Bhadra, Ketua Gedong Kirtya Singaradja. 6. Ida Bagus Ktut Djelantik Banjar. 7. Ida Anak Agung Anglurah Ktut Karangasem. 8. Ida Padanda Made Badjra Tabanan. 9. Ida Padanda Gde Manuabe Djambarana. 10. Ida Padanda Gde Made Sewali Wesnawa Mataram Lombok. 11. Ida Padanda Ktut Buruan, Pagesangan Lombok. 12. I Gusti Agung Djalantik Blambangan Cakranagara Lombok. Masih banyak lagi para tetua Hindu di Bali dan Lombok yang memakai lontar-lontar sebagai sesuluh beragama.

5. Dalam proses penyusunan buku ajar sekolah dan pedoman pembinaan umat, sebelum kemerdekaan dan pada awal kemerdekaan lontar-lontar sepenuhnya menjadi rujukan para pendeta dan pemuka agama. Ketika itu belum ada satupun kitab Weda terjemahan beredar. Belum ada Bhagawad Gita terjemahan dipublikasi. Terjemahan Weda versi India baru beredar di Indonesia setelah ada dibentuk Bimas Hindu Buddha baru dianggarkan dana penerjemahan kitab-kitab Weda. Saya membaca arsip proyek terjemah tersebut pada periode awal terbentuknya Bimas Hindu Buddha dengan anggaran Rp 600.000,- dari pemerintahan pusat untuk pengerjaan terjemahan tersebut. Arsip ini ada dulu ada IHD (sekarang perpustakaan Universitas Hindu Indonesia), Denpasar. Dikerjakanlah proyek terjemahan Catur Weda dan Manawa Dharma Sastra oleh team penerjemah, yang dikerjakan oleh tokoh umat yaitu oleh Gde Pudja, Tjokorda Rai Sudharta, IB Puniatmadja, dkk. Saya bersyukur bernasib baik berkesempatan dibimbing skripsi oleh Tjokorda Rai Sudharta sebelum beliau pensiun, sehingga bisa belajar banyak bagaimana kemuliaan hati dan pemikiran beliau. Belajar Sansekerta dengan buku panduan beliau. Juga membaca hampir semua tulisan dan terjemahan lontar Sanskerta yang beliau jadikan disertasi dan berbagai lontar-lontar Jawa Kuno dan Sanskerta yang diterselamatkan di Bali. Prof. Tjokorda Rai Sudharta adalah pakar Sanskerta yang dikenal di India di antara para pakar di jamannya, beliau menyelesaikan S1 dan S2 di India jurusan Sanskrit di Banares Hindu University, kampus kelas wahid untuk belajar Sansekerta di India, dan beliau harus kembali ke Indonesia menjadi dosen dan menulis disertasi di UI kajian lontar-lontar Jawa Kuno yang menjadi pedoman belajar Sansekerta.

6. Sebelum terbit terjemahan kitab-kitab yang terjemahannya dikerjakan oleh team bentukan Parisada, lontar-lontar mendominasi pengajaran dan pedoman pembinaan umat yang dilaksanakan oleh Parisada Hindu generasi awal. Saya memiliki berbagai arsip yang menjadi bukti. Ini menjadi bukti bahwa awal kemerdekaan rumusan Hindu Indonesia kental berwarna Nusantara, bersumber dari kitab lontar Kawi (atau Jawa Kuno) yang di jamannya bahasa Kawi tidak hanya dipakai di Jawa, tapi di Nusantara, seperti Bali, Sunda, beberapa bagian wilayah Sumantera, Sumbawa, dan Lombok, dll mendapat pengaruh “bahasa Kawi sebagai bahasa pemersatu dalam bahasa filsafat dan sastra di Nusantara” di masa itu.

7. Mereka yang duduk di jajaran pengurus Parisada ketika itu, di awal pembentukan Parisada, adalah para pakar lontar-lontar atau pakar ahli Jawa Kuno dan Sansekerta, ditambah para sarjana terbaik yang baru tamat dari India seperti Ida Bagus Mantra, Gde Pudja, Tjokorda Rai Sudharta, IB Puniatmadja. Sekalipun mereka tamatan sekolah Sanskerta di India, mereka adalah pakar Jawa Kuno dan lontar-lontar yang isinya mantra dan pengajaran Sansekerta berdasarkan pedoman Jawa Kuno. Jadi bisa dibayangkan suasana organisasi Parisada di masa itu yang hampir semuanya pakar lontar dan memang pakar Jawa Kuno serta Sansekerta. Rujukan mereka langsung baca lontar dan dalam berbagai rapat mereka membawa lontar-lontar, terutama ketika menyusun buku atau pedoman penyuluhan, salah satunya adalah UPADEŚA, satu buku terbitan Parisada yang paling berpengaruh dalam sejarah Hindu di Indonesia, yang disusun atas prakarsa para sulinggih dan yang rapat dan menginap beberapa malam di rumah Prof Mantra dkk, hasil rembug itu ditulis oleh Tjokorda Rai Sudharta.

8. Pedoman puja dan stawa para pendeta di Bali sampai kini semuanya berdasarkan mantra-mantra yang tersurat dalam lontar-lontar jenis Puja dan Stawa. Lontar-lontar ini warisan dari Jawa Kuno, jadi ini warisan kejayaan Hindu Nusantara di masa Medang Kemulan, Kediri, Majapahit dan Gelgel. Dari pendeta pura (Pemangku Pura) sampai Mpu, Rsi, Dukuh, dan Pedanda, pedomannya adalah mantra-mantra dari berbagai lontar-lontar puja-stawa yang diwarisi di Bali dari berabad-abad. Dengan pedoman lontar-lontar warisan tersebutlah berlangsung pewarisan ajaran dan juga tradisi ritual Hindu di Bali, yang tidak terputus dari sejarah pewarisan Hindu dari periode Medang Kemulan yang terkait dengan keberadaan masyarakat Bali Kuno, Kediri yang sangat berkaitan dengan dinasti Udayana dstnya, Singosari yang berkaitan dengan Dinasti Jaya di Bali, dan Gelgel yang mewarisi berbagai pustaka lontar suci dari keruntuhan Majapahit. Kelanjutan tradisi tersebut yang lontar-lontarnya tersimpan dan dijadikan pedoman para pendeta dan masyarakat Bali selama berabad-abad dan sampai kemerdekaan. Baru setelah terbentuknya Bimas Hindu-Buddha dan Parisada dilaksanakan penerjemahan kitab-kitab Weda dan Purana yang beredar di kalangan pendeta Hindu dan para sarjana di India.

9. Dengan lontar-lontar yang berisi berbagai mantra, kitab agama lainnya, dan berbagai aturan kalender ritual tersebut Hindu Bali berjalan berabad-abad. Dengan pedoman itu pula menyusun argumentasi dan lembar-lembar pembelaan ke Jakarta untuk diakui sebagai agama resmi. Perlu digarisbawahi di sini, ketika ingin membicarakan lontar-lontar Hindu yang terselamatkan di Bali ini, alangkah baiknya terlebih dahulu membaca setidaknya risalah semua khazanah naskah di Lombok, Bali dan Jawa, serta Sunda, yang masih selamat. Jangan salah tidak semua lontar berisi ajaran Agama atau puja. Ada juga berbagai hal. Lontar-lontar yang saya maksud sebagai lontar Hindu dan Buddha adalah yang berisi ajaran etika, fisafat Hindu-Buddha, kependetaan Hindu-Buddha, pedoman puja, diksa, banten, wariga, dstnya.

10. Di mana bisa dipelajari tidak kurang dari 3000 judul lontar yang terkait dengan Hindu-Buddha dari periode kejayaan Hindu Nusantara? Lontar-lontar warisan dari kejayaan Hindu Buddha yang berpusat di Jawa dari periode 750 tahun sebelum Majapahit berdiri, sampai runtuhnya Gelgel, atau kurang lebih setelah 500 tahun Majapahit runtuh dapat dan masih bisa diakses di perpustakaan lontar Gedong Kirtya.  Gedong Kirtya bisa menjadi titik belajar bagaimana dan apa alasannya bisa dikatakan bawah lontar-lontar adalah pedoman Hindu di Nusantara yang berpusatnya tersebar di Sunda-Jawa-Bali-Lombok-Sumbawa. Isinya lontar-lontar yang koleksi oleh Kirtya sebagai berikut:

            ▪           (I) WEDA (a). Weda -Weda yang  ada  di  Bali  memakai  bahasa Sansekerta, Jawa Kuno dan Bali;    (b) Mantra, menurut perkembangannya berasal dari Jawa dan Bali; (c) Kalpasastra (Ritnalia)   berisi   tentang   manfaat  tentang upacara-upacara keagamaan. 

            ▪           (II) AGAMA (a) Palakerta, berisikan tentang peraturan seperti: Dharmasastra, Kertasima dan Awig-awig; (b) Sesana, buku petunjuk tentang kesecian Moral; (c) Niti, berisikan tentang Hukum maupun perundang-undangan yang dipergunakan pada jaman Kerajaan).

            ▪           (III) WARIGA (a) Wariga, (Astrologiesche Warken), pengetahuan tentang Astronomi dan Astrologi, Tutur, (Onderricht) berasal dari Upadesa pengetahuan tentang Kosmos erat hubungannya dengan keagamaan; (b) Kanda, (Handboeken) tentang ilmu bahasa, bangunan, Mitologi, dan ilmu pengetahuan khusus; (c) Usada, Rontal pengobatan tradisional).

            ▪           (IV) ITIHASA (a) Parwa, disusun dalam bentuk Prosa; (b) Kekawin; (c) Kidung, kesusastraan yang disusun dengan Tembang Tengahan (Sekar Madya) dengan bahasa Jawa Kuno Tengahan; (d) Geguritan, kesusastraan yang disusun dengan Tembang Macapat seperti Sinom, Pangkur, dan sebagainya, mempergunakan bahasa Bali). 

            ▪           (V) BABAD (a) Pamancangah, menceritakan asal-usul kekeluargaan dan silsilah (Geslachtslijsten); (b) Riwayat yang mengandung unsur sejarah seperti: Panji Wijaya-krama, Rangga-Lawe (mula berdirinya kerajaan Majapahit). Riwayat runtuhnya kerajaan-kerajaan yang diubah dalam bentuk tembang seperti: Rusak Buleleng, Rereg Gianyar, Uwug Badung).

            ▪           (VI) TANTRI (a) Ceritra-ceritra dengan induknya berasal dari Kesusastraan Indian Kuno (berbahasa Sansekerta); (b) tantri Kamandaka; (c) Ceritra-ceritra/ Satwa Pagantihan Bali (Folklore) dengan pengaruh Kesusastraan Tantri ataupun asli Bali (Indonesia, Surat pengeling-eling, catatan-catatan perseorangan maupun raja-raja.

            ▪           (VII) LELAMPAHAN adalah  lakon-lakon yang dipergunakan dalam pertunjukan Gambuh, Wayang, Arja dan lain sebagainya.

Kelompok I sampai IV yang berisi dan menjadi pedoman masyarakat Bali dalam menganut Hindu. Sumbernya dari masa silam relasi Bali dan Jawa, juga perjalanan dan ajaran para Rsi atau tokoh suci dari India Kuno yang mengajar atau membabarkan ajaran Siwa dan Sogata (Buddha Mahayana-Mantrayana-Mantranaya-Vajrayana) yang sampai di Nusantara.

11. Hindu Bali berkitab lontar-lontar bukan berarti tidak mencerminkan universalitas Hindu yang berkembang di Bali. Hindu di Bali berkembang dari berabad-abad silam dengan relasi dengan Bharatawarsa (kini disebut India) dan awal masehi. Relasi itu terbukti dengan berbagai temuan tembikar dan aksara kuno Kharosthi di Julah-Sembiran di pesisir Buleleng. Demikian juga prasasti Bali Kuno menyebutkan bahwa ada pendeta Juru Keling yang disebutkan sebagai keluarga pendeta Bali kuno yang telah bermukim di Bali tercatat dalam prasasti abad 8—12 jelas menunjukkan interaksinya dengan masyarakat Bali Kuno. Masyarakat Bali kuno dipimpin oleh raja yang berpedoman pada Dharmasastra dalam menyelenggarakan pemerintahan. Demikian juga didampingi oleh pendeta kerajaan Siwa dan Buddha, juga Rsi Mahabrahmana. Untuk hal ini bisa dipelajari ratusan lembar prasasti raja-raja Bali Kuno yang regulasi dan tatanan pemerintahannya tersurat di atas tembaga, sampai kini masih selamat.

12. Ribuan mantra-mantra kependetaan Hindu yang berbahasa Sanskerta bercampur Jawa Kuno, ratusan murni dengan bahasa Sanskerta, yang dipakai dan diwarsikan dalam kependetaan Rsi, Sogata dan Siwa, menjadi bukti tak terbantah bahwa relasi kuno Bali-Jawa-Bharatawarsa (India) sangat penuh talitemali relasi suci kepanditaan yang mendalam.

13. Berbagai tatwa dan berbagai pedoman meditasi menunjukkan mendalamnya isi lontar-lontar di Bali bermuatan ajaran universal Hindu. Penegakan dharma dan yadnya sebagai puncak kunci dari pedoman dan pelaksanaan ajaran suci Hindu. Lontar-lontar tatwa di Bali telah dikaji oleh pakar-pakar Hindu India menjadi kajian dalam disertasi doktoral mereka, seperti Raghu Vira, Sudharsana Devi, Lokesh Chandra, Sharada Rani, dll.

14. Kitab-kitab Parwa dan Kanda, seperti Bharatayuddha atau Mahabharata, Ramayana dan berbagai Purana, murni peninggalan sastra Hindu Kuno yang tertinggal terwariskan dalam lontar-lontar di Bali  — Profesor Mantra, dimasa kuliah S3 di Santiniketan menulis disertasi tentang relasi sastra Hindu di Indonesia dengan India. Ini perlu diterjemahkan agar masyarakat lebih paham relasi atau hubungan masa lalu Nusantara Kuno dengan India Kuno. Saya mendapat berbagai sumber lain yang memberi titik terang bahwa di masa lalu bukan hanya orang India datang ke Nusantara dan diajari Dharma, tapi orang Nusantara sudah ke Bharata Warsa untuk belajar Sansekerta dll. Ini bisa ditelusuri dengan membaca prasasti Samara Vira yang diperkirakan sama dengan Samara Tungga yang memerintah di Jawa, yang disebutkan ikut berkontribusi dalam membangun bangunan untuk pasraman di Bhatara Warsa (sekarang disebut India) diperkirakan ada pemondokan orang Nusantara yang belajar di Nalanda dan pusat pendidikan di sana. Pelajarnya juga dari China dll.

15. Bali selama berabad-abad terbukti seperti terisolasi di pulau yang tidak lagi terkait dengan India sampai akhirnya terkait lagi dengan India akibat relasinya tersambung lewat Pemerintah Kolonial yang mendatangkan atau mengundang para ahli India, seperti rombongan Rabindranath Tagore dkk yang mengajak ahli Sanskerta. Sebelum tersambung kembali dengan India di masa modern, Bali secara independen mengelola dan menjalani kehidupan kehinduannya dengan berdasar kitab lontar-lontar suci yang diwarisi dari para leluhur Bali.

16. Penelitian ahli Weda dan pakar Sansekerta dunia terbaik di zamannya bernama Sylvain Levi datang ke Bali atas dorongan Rabindranath Tagore, risetnya berupa buku kajian mantra-mantra Sansekerta di Bali terbit tahun 1933 dan mengundang minat besar para pakar India untuk memperlajari kitab-kitab lontar di Bali. Lalu datang Pandit Shastri, disusul gurunya Prof Raghu Vira — yang bersahabat baik Soekarno — ke Bali mengumpulkan lontar-lontar Bali berbahasa Sanskerta dan dijadikan kajian oleh Prof Lokesh Chandra, Sudarshana Devi, Sharada Rani, dan mahaguru sekaligus orang tua mereka Prof Raghu Vira, dkk. Lontar-lontar penting berbahasa Sansekerta itu antara lain: Ślokāntara, Sāra-samuccaya, Saṅ Hyaṅ Mahājñāna, Saṅ Hyaṅ Tattvajñāna, Gaṇapatitattva dll. Lontar ini telah diterjemahkan dengan sangat detail dalam disertasi dan buku, dalam bahasa Inggeris oleh para pemikir India.

17. Apa yang didapatkan oleh para pakar India ketika melakukan kajian terhadap lontar-lontar Sansekerta yang selamat dan terwariskan dalam tradisi sastra para cendikia di Bali dari periode Jawa Kuno? Mereka melihat vitalitas Sanata Dharma dan universalitas isi-isi lontar yang berisi ajaran dharma yang sangat utuh dan bernilai tinggi sebagai khazanah sastra Hindu yang terselamatkan dan dijadikan pedoman beragama Hindu di luar India.

18. Kelompok pandit (pandita) Hindu India telah mengkaji hasil survey Sylvain Levi dan menemukan berbagai persamaan mantra dalam lontar-lontar di Bali dengan lontar kependetaan Hindu India yang bersumber dari Weda. Hal itu dilakukan di tahun 1930-1933. Sampai kini kajian ini menjadi catatan penting bagi peneliti Weda di India bagaimana persebaran mantra sampai ke Nusantara.

19. Setelah tahun 1933 terbit kajian Sylvain Levi tentang temuan kitab Sansekerta di Bali, kembali kelompok pandit di India ikut terlibat secara tidak langsung menjadi tempat bertanya ketika Teun Goudriaan dikirimi ratusan mantra-mantra stuti-stawa Sansekerta dari Bali yang dikumpulkan oleh C. Hooykaas yang dibantu oleh I Gusti Ktut Sangka dari ratusan lontar pendeta di Bali. Terjemahan mantra-mantra Hindu Bali oleh Teun Goudriaan yang juga berkonsultasi dengan para pendeta India diterbitkan tahun 1971. Berjudul: Stuti and Stava (Bauddha, Śaiva and Vaiśnava) of Balinese Brahman priests. Karya terjemahan ratusan mantra-mantra dari ratusan lontar Bali berbahasa Sansekerta ini sekali lagi menunjukkan bagaimana Weda terwariskan dalam tradisi puja dan kependetaan di Bali dari periode sangat kuno. Bahkan ada mantra Tumburu yang langka itu ditemukan di Bali, menjadi catatan tersendiri bagi Goudriaan bagaimana kekunoan dari Hindu di Nusantara.

20. Kajian bandingan mantra-mantra di Bali yang dikerjakan oleh Sylvain Levi dan Teun Goudriaan dan C. Hooykaas, bersama para pendeta di India, yang juga alihaksara di Bali melibatkan banyak pedanda yang menjadi sumber I Gusti Ktut Sangka, sangat mencengangkan bagi para cendikiawan India dan pakar Sansekerta dunia. Studi ini, terjemahan dan perbandingan stuti dan stawa tersebut, membuka tabir bagaimana masa lalu persebaran Weda dan pewarisannya sampai ke Bali. Para pandit dan pakar Sansekerta di dunia sampai saat ini menjadikan karya kesarjanaan Sylvain Levi, Teun Goudriaan dan C. Hooykaas ini sebagai “buku wajib” dalam membahas Hindu di Indonesia dari masa kuno ke masa modern. Sayangnya, berbagai obrolan-seminar-diskusi-paruman-kongres dll di Bali atau di kelompok Hindu di Indonesia, abai pada mahakarya perbandingan stuti dan stawa yang menjadi puncak-puncak ajaran Hindu di Indonesia.

21. Catatan kecil ini tidak diingin dibuat panjang atau diperpanjang: Untuk melihat “formula atau format Hindu” di masa sebelum dan ketika Parisada Hindu Dharma di Indonesia dibentuk, bagaimana lontar-lontar menjadi pedoman terdepat dalam mempengakuan dan pengesahan Hindu di Indonesia sebagai agam resmi, sebagai penutup, saya merekomendasi adik-adik membaca buku-buku jejak sejarah Hindu di Bali dan Indonesia, menjadi renungan mendalam dalam beragama dan berdiskusi tentang Hindu di Bali dan Indonesia, buku-buku yang saya maksud diantaranya:

            ▪           Parisada Dharma Hindu Bali (PDHB). 1960. Dharma Prawrtti Sastra. Denpasar: Parisada Dharma Hindu Bali.

            ▪           Dharma Hindu Bali. Parisada Dharma Hindu Bali (PDHB). 1963. Weda Sanggraha. Denpasar: Parisada Dharma

            ▪           Hindu Bali. Parisada Dharma Hindu Bali (PDHB). 1967. Upadeśa: Pewesik Rsi Dharmakerti Kepada Sisya Suyasa Tentang Agama Hindu. Denpasar: Parisada Dharma Hindu Bali. Parisada Hindu Dharma (PHD). 1970a.

            ▪           Piodalan Ekadasa Warsa Parisada Hindu Dharma, 1959- 1970: om dirghayur astu H. U. T. ke-XI, Denpasar. Denpasar: Parisada Hindu Dharma Pusat. Parisada Hindu Dharma (PHD). 1970b.

            ▪           Pokok2 Sedjarah Parisada Hindu Dharma. Denpasar:  Bag. Penjalur-Penerbitan P.H.D. Pusat. Parisada Hindu Dharma (PHD). 1970c.

            ▪           Saraswati, Batjaan Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Dasar Klas IV. Denpasar: Parisada Hindu Dharma Pusat.

            ▪           Pudja, G., 1991. Wedaparikrama. Jakarta: Lembaga Penyelenggara Penterjemah Penterjemah Kitab Sudi Weda.

            ▪           Rawi, I. K. B. G., 1958. Pustaka Agama Hindu Bali. Denpasar: Pustaka Balimas.

            ▪           Sudharta, T. R., Oka Punia Atmaja, I. B., 2001. Upadeśa, Tentang Ajaran-ajaran Agama Hindu. Denpasar: Departemen Hindu dan Budha Departemen Agama RI.

            ▪           Sudharta, T. R. et al. 2003. Pedoman Sembahyang. Denpasar: Pemerintah Daerah Tk I Bali.

            ▪           Sugriwa, I. G. B., 1953. ‘Hari Raya Nyepi.’ Majalah Indonesia 4. April 1953.

            ▪           Sugriwa, I. G. B., 1954. ‘Tjeramah Agama Terhadap Rombongan Mahasiswa Pada Tanggal  19 Oktober 1953 Di Balai Masjarakat Denpasar.’ Bahasa dan Budaja 6. Agustus 1954.

            ▪           Sugriwa, I. G. B., 195?. Tri Sandhya, Tjara melakukan persembahyangan tiga kali sehari, jaitu:  Pagi sore dan malam. Denpasar: Toko Buku Balimas.

            ▪           Sugriwa, I. G. B., 1956. Tri Sandhya, Tjara melakukan persembahyangan tiga kali sehari, jaitu: Pagi sore dan malam. Denpasar: Toko Buku Balimas.

            ▪           Sugriwa, I. G. B., 1960a. Buku Peladjaran Agama Hindu Bali I. Denpasar: Pustaka Bali Mas.

            ▪           Sugriwa, I. G. B., 1960b. Buku Peladjaran Agama Hindu Bali II. Denpasar: Pustaka Bali Mas.

            ▪           Sugriwa, I. G. B., 1960c. Buku Peladjaran Agama Hindu Bali III. Denpasar: Pustaka Bali Mas.

            ▪           Sugriwa, I. G. B., 2008. Hari raya Nyepi, Çiwa-Buddha Bhinneka Tunggal Ika: karya tercecer.

            ▪           Pandit Shastri, N. D., 1951. Dasa Sila Agama Bali. Denpasar: Bhuvana Saraswati Publications.

            ▪           Pandit Shastri, N. D., 1953. Weda Parikrama. (With the collaboration of I. G. M. Tamba). Denpasar: Bhuvana Saraswati Publications.

            ▪           Pandit Shastri, N. D., 1955a. Inti Sari Agama Hindu. (With the collaboration of I. G. M. Tamba). Denpasar: Balimas.

            ▪           Pandit Shastri, N. D., 1955b. Sedjarah Agama Hindu. (With the collaboration of I. G. M. Tamba). Denpasar: Balimas.

            ▪           Pandit Shastri, N. D., 1955c. Dharmopadeça (Pengadjaran Çiwa-Buddha): djilid ke-1. Denpasar:  Bhuvana Saraswati Publications.

            ▪           Pandit Shastri, N. D., 195?. Tri Sandhya. Denpasar: Bhuvana Saraswati Publications.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kepalamu Di Mana?

Next Post

[Kabar Minikino]: MFW 6, Tetap Berkarya dengan Inovasi di Tengah Pandemi

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails
Next Post
[Kabar Minikino]: MFW 6, Tetap Berkarya dengan Inovasi di Tengah Pandemi

[Kabar Minikino]: MFW 6, Tetap Berkarya dengan Inovasi di Tengah Pandemi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co