3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepalamu Di Mana?

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
September 1, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Pemimpin dan kepala itu sama. Keduanya sama-sama ada di atas, kecuali terbalik atau nyungkling. Keduanya sama-sama punya otak di dalamnya. Karena punya otak, keduanya sama-sama bisa berpikir. Otak adalah anugerah bagi kepala dan pemimpin. Meski begitu, tidak semua kepala dan pemimpin menggunakan anugerah terindahnya untuk berpikir.

Manakala tubuh diibaratkan seperti gunung, kepala adalah puncaknya. Dari puncak gunung, keluar lahar panas saat gunung meletus. Lahar yang keluar sanggup membakar apa saja yang dilewatinya. Setelah ia lewat, banyak orang yang bisa hidup karenanya. Hasil berpikir pun, meski tidak persis sama, bisa diibaratkan seperti lahar. Saat ide-ide digelontorkan, ada saja orang yang merasa diuntungkan atau dirugikan. Setelah segala konflik yang dilahirkan dari gelontoran ide itu lewat, barulah orang-orang bisa mengambil hikmahnya.

Itulah guna belajar seumur hidup. Jika ada orang yang ingin belajar, syarat pertama adalah mau dan mampu mendengar. Kalau mendengar saja sudah tidak mau, buat apa punya keinginan belajar? Tidak ada gunanya belajar tanpa mendengar. Kemauan mendengar dilengkapi dengan kemahiran membaca. Membaca selain ada tekhniknya, juga harus ada objek yang dibaca. Tidak mungkin membaca tulisan-tulisan pada media yang sudah lapuk dimakan ngengat. Mustahil pula membaca buku-buku yang sudah dibakar. Pembakaran buku sudah biasa di negeri antah berantah, meskipun kita tidak benar-benar tahu, yang membakar sudah baca atau belum.

Syarat ketiga adalah kemampuan berbicara. Retorika mesti selalu diasah, agar tidak salah ucap. Kumbakarna adalah contoh orang pintar yang salah ucap, sehingga anugerah yang didapatnya berupa tidur yang lelap. Untuk bicara, mestilah memiliki keberanian. Keberanian diimbangi dengan kecerdasan yang didapat dari mendengar dan membaca. Hati-hati bicara, bisa dipenjara.

Di tingkat lanjut adalah menguasai tekhnik menulis. Menulis perlu kemahiran dan keterampilan. Ide-ide yang abstrak di kepala, bisa diwujudnyatakan dalam bentuk tulisan yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Sayangnya, kita juga memiliki sejarah buruk dalam dunia kepenulisan. Sebab beberapa orang yang gemar menulis, dan mengabdikan dirinya dalam dunia tulis menulis, justru disingkirkan, dibuang.

Apa istilah yang lebih tepat dari pembodohan? Saya pikir tidak ada. Penghilangan data-data sejarah melalui pembakaran buku jelas kejahatan intelektual. Ada solusi yang tidak sebarbar itu. Pengawasan salah satunya.

Kepekaan intelektual dalam menjaga asupan gizi kecerdasan masyarakat adalah tanggungjawab bersama. Ada tiga sumber kekuatan yang bisa dimanfaatkan yakni kekuasaan, kekayaan, dan kecerdasan. Dengan kekuasaan, segala keputusan serta aturan dapat tercipta. Dengan kekayaan, pelaksanaan segala keputusan dapat lebih lancar. Dengan kecerdasan, segala ide tentang penciptaan, perawatan, dan evaluasi bisa diadakan. Semua itu mesti didasari dengan pengabdian. Pengabdian hanya mungkin disadari jika bijaksana. Maksudnya, inti dari segala kekuatan itu adalah kebijaksanaan.

Sayangnya, tidak ada lagi sosok-sosok pemimpin yang sekaligus pemikir. Idealisme hanya kulit. Mereka disibukkan dengan urusan birokrasi, malas, dan bebal. Mereka mendekat kalau ada maunya. Memasuki musim pemilihan, semua calon mencoba menunjukkan kepeduliannya pada berbagai bidang kehidupan masyarakat yang selama ini dipunggunginya. Jalanan dipenuhi slogan-slogan pemenangan dan beraneka warna. Mereka semua ingin jadi raja.

Dahulu, kalau kepingin jadi raja, orang harus bertaruh nyawa. Mereka musti berperang melawan musuh dan juga sodaranya sendiri. Tidak ada pemimpin yang cengeng. Karena keberaniannyalah, raja-raja itu disebut-sebut penjelmaan Dewa. Beberapa reinkarnasi dewa bisa kita daftar dalam teks Adi Parwa. Penyebutan reinkarnasi Dewa, bukan oleh dirinya sendiri, tapi oleh para kawi wiku. Seorang kawi wiku, idealnya adalah manusia merdeka yang membebaskan diri dengan menulis karya sastra. Tentu bukan kawi-kawian penjilat debu kaki, apalagi debu kaki raja yang hanya ngaku-ngaku. Pujian-pujian sekaliber itu, disampaikan lewat tradisi penulisan kakawin yang indah bukan kepalang. Jadi kualitas kesastraannya tidak diragukan lagi. Istilahnya, ucapan yang tepat oleh orang yang tepat. Kakawin diikat oleh aturan-aturan persajakan, serupa meski tidak sama seperti pantun. Aturan persajakan dibuat, agar kakawin dan pantun tidak ngawur.

Otak yang kita punya memang untuk berpikir. Di dalamnya amerta sebagai vitalitas hidup berada. Vitalitas hidup itu, sekarang kita gunakan untuk apa? Dalam cerita Adi Parwa, amerta didapat dari pemutaran Gunung Mandara oleh koalisi para Dewa dan Raksasa. Koalisi tangguh ini berhasil mengeluarkan amerta dari dalam lautan susu. Setelah amerta keluar, koalisi tadi hancur karena ketamakan. Saya hampir yakin kalau koalisi yang dibangun pejuang-pejuang kemerdekaan akan hancur hanya karena musuh mereka bersama sudah lenyap. Kasus sejenis ini bisa kita temui dengan sangat mudah. Yang membuat sebuah koalisi hancur adalah hal-hal yang dahulunya sama-sama mereka perjuangkan. Jika sebuah koalisi dibangun untuk memperebutkan kedudukan, maka kedudukan itu pula yang akan membuat koalisi cilaka. Sudah seperti hukum alam.

Oleh karena itu, membangun koalisi memang tidak mudah, lebih susah lagi menjaga koalisi agar tidak hancur berkeping-keping. Meski kehancuran sekaligus kematian selalu menghantui kehidupan, manusia yang punya visi tidak akan terombang-ambing. Seperti gunung di tengah lautan. Seberapa kuat pun ombak menggoyang kaki gunung, ia tidak goyah karena akarnya jauh lebih kuat dari pada goyangan ombak. Justru gunung yang kokoh itu, lebih sering dihancurkan oleh api yang berasal dari dalam dirinya. Jadi memperkuat akar adalah jalan memperkokoh koalisi. Kita pasti sudah sama-sama tahu, apa akar koalisi yang dibangun oleh kita punya moyang.

Selain akar, kita juga harus punya kepala. Tidak ada tubuh yang bisa bertahan tanpa kepala, begitu juga sebaliknya. Kecuali dalam cerita Kala Rahu yang kepalanya abadi karena sudah menelan amerta sebatas leher meski sudah terlepas dari badan. Kepala abadi Rahu itu mengejar-ngejar Dewi Bulan dan ingin mencaploknya. Tetapi Dewi Bulan selalu berhasil lolos karena setelah melewati leher, tidak ada badan yang akan mengolah Dewi Bulan menjadi kotoran kala Rahu. Cerita ini melegitimasi gerhana bulan.

Bulan dalam teks-teks yang agak beraroma mistik, selalu disandingkan maknanya dengan Bindu sebagai tempat amerta. Bindu itulah yang dalam beberapa ajaran konon ditusuk dengan lembut tapi bertenaga. Penusukan Bindu ini disebut pasuduk swari. Pengejaran Dewi Bulan oleh Kala, bisa kita tafsir sebagai pencarian amerta oleh waktu. Segala yang hidup pastilah terkena hukum waktu. Manusia salah satunya. Artinya, kitalah yang mengejar amerta kemana-mana, sayangnya setelah amerta didapat, ia lepas lagi begitu saja karena kita tidak paham cara yang benar. Salah satu syaratnya menurut cerita Kala tadi adalah memelihara dan punya tubuh. Tubuh dipelihara agar amerta tidak sekadar melewati leher lalu lenyap.

Kepala adalah pemimpin pengejaran amerta. Begitu amerta didapat, yang menikmati tidak hanya kepala tapi juga seluruh tubuh. Pemimpin adalah kepala, rakyat adalah tubuh. Tubuh dan kepala harus saling menjaga. Jika kepala tidak hirau pada tubuh, siap-siap kena banyak penyakit dan mati. Jika tubuh tak peduli pada kepala, siap-siap jadi setan. Kepala memang tempat otak untuk berpikir. So, kepalamu mana dan untuk apa? [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Penggerak: Guru Bergerak, Guru Menggerakkan

Next Post

Berpedoman Lontar Jawa Kuno Memperjuangkan Hindu Secara Nasional

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Berpedoman Lontar Jawa Kuno Memperjuangkan Hindu Secara Nasional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co