25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepalamu Di Mana?

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
September 1, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Pemimpin dan kepala itu sama. Keduanya sama-sama ada di atas, kecuali terbalik atau nyungkling. Keduanya sama-sama punya otak di dalamnya. Karena punya otak, keduanya sama-sama bisa berpikir. Otak adalah anugerah bagi kepala dan pemimpin. Meski begitu, tidak semua kepala dan pemimpin menggunakan anugerah terindahnya untuk berpikir.

Manakala tubuh diibaratkan seperti gunung, kepala adalah puncaknya. Dari puncak gunung, keluar lahar panas saat gunung meletus. Lahar yang keluar sanggup membakar apa saja yang dilewatinya. Setelah ia lewat, banyak orang yang bisa hidup karenanya. Hasil berpikir pun, meski tidak persis sama, bisa diibaratkan seperti lahar. Saat ide-ide digelontorkan, ada saja orang yang merasa diuntungkan atau dirugikan. Setelah segala konflik yang dilahirkan dari gelontoran ide itu lewat, barulah orang-orang bisa mengambil hikmahnya.

Itulah guna belajar seumur hidup. Jika ada orang yang ingin belajar, syarat pertama adalah mau dan mampu mendengar. Kalau mendengar saja sudah tidak mau, buat apa punya keinginan belajar? Tidak ada gunanya belajar tanpa mendengar. Kemauan mendengar dilengkapi dengan kemahiran membaca. Membaca selain ada tekhniknya, juga harus ada objek yang dibaca. Tidak mungkin membaca tulisan-tulisan pada media yang sudah lapuk dimakan ngengat. Mustahil pula membaca buku-buku yang sudah dibakar. Pembakaran buku sudah biasa di negeri antah berantah, meskipun kita tidak benar-benar tahu, yang membakar sudah baca atau belum.

Syarat ketiga adalah kemampuan berbicara. Retorika mesti selalu diasah, agar tidak salah ucap. Kumbakarna adalah contoh orang pintar yang salah ucap, sehingga anugerah yang didapatnya berupa tidur yang lelap. Untuk bicara, mestilah memiliki keberanian. Keberanian diimbangi dengan kecerdasan yang didapat dari mendengar dan membaca. Hati-hati bicara, bisa dipenjara.

Di tingkat lanjut adalah menguasai tekhnik menulis. Menulis perlu kemahiran dan keterampilan. Ide-ide yang abstrak di kepala, bisa diwujudnyatakan dalam bentuk tulisan yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Sayangnya, kita juga memiliki sejarah buruk dalam dunia kepenulisan. Sebab beberapa orang yang gemar menulis, dan mengabdikan dirinya dalam dunia tulis menulis, justru disingkirkan, dibuang.

Apa istilah yang lebih tepat dari pembodohan? Saya pikir tidak ada. Penghilangan data-data sejarah melalui pembakaran buku jelas kejahatan intelektual. Ada solusi yang tidak sebarbar itu. Pengawasan salah satunya.

Kepekaan intelektual dalam menjaga asupan gizi kecerdasan masyarakat adalah tanggungjawab bersama. Ada tiga sumber kekuatan yang bisa dimanfaatkan yakni kekuasaan, kekayaan, dan kecerdasan. Dengan kekuasaan, segala keputusan serta aturan dapat tercipta. Dengan kekayaan, pelaksanaan segala keputusan dapat lebih lancar. Dengan kecerdasan, segala ide tentang penciptaan, perawatan, dan evaluasi bisa diadakan. Semua itu mesti didasari dengan pengabdian. Pengabdian hanya mungkin disadari jika bijaksana. Maksudnya, inti dari segala kekuatan itu adalah kebijaksanaan.

Sayangnya, tidak ada lagi sosok-sosok pemimpin yang sekaligus pemikir. Idealisme hanya kulit. Mereka disibukkan dengan urusan birokrasi, malas, dan bebal. Mereka mendekat kalau ada maunya. Memasuki musim pemilihan, semua calon mencoba menunjukkan kepeduliannya pada berbagai bidang kehidupan masyarakat yang selama ini dipunggunginya. Jalanan dipenuhi slogan-slogan pemenangan dan beraneka warna. Mereka semua ingin jadi raja.

Dahulu, kalau kepingin jadi raja, orang harus bertaruh nyawa. Mereka musti berperang melawan musuh dan juga sodaranya sendiri. Tidak ada pemimpin yang cengeng. Karena keberaniannyalah, raja-raja itu disebut-sebut penjelmaan Dewa. Beberapa reinkarnasi dewa bisa kita daftar dalam teks Adi Parwa. Penyebutan reinkarnasi Dewa, bukan oleh dirinya sendiri, tapi oleh para kawi wiku. Seorang kawi wiku, idealnya adalah manusia merdeka yang membebaskan diri dengan menulis karya sastra. Tentu bukan kawi-kawian penjilat debu kaki, apalagi debu kaki raja yang hanya ngaku-ngaku. Pujian-pujian sekaliber itu, disampaikan lewat tradisi penulisan kakawin yang indah bukan kepalang. Jadi kualitas kesastraannya tidak diragukan lagi. Istilahnya, ucapan yang tepat oleh orang yang tepat. Kakawin diikat oleh aturan-aturan persajakan, serupa meski tidak sama seperti pantun. Aturan persajakan dibuat, agar kakawin dan pantun tidak ngawur.

Otak yang kita punya memang untuk berpikir. Di dalamnya amerta sebagai vitalitas hidup berada. Vitalitas hidup itu, sekarang kita gunakan untuk apa? Dalam cerita Adi Parwa, amerta didapat dari pemutaran Gunung Mandara oleh koalisi para Dewa dan Raksasa. Koalisi tangguh ini berhasil mengeluarkan amerta dari dalam lautan susu. Setelah amerta keluar, koalisi tadi hancur karena ketamakan. Saya hampir yakin kalau koalisi yang dibangun pejuang-pejuang kemerdekaan akan hancur hanya karena musuh mereka bersama sudah lenyap. Kasus sejenis ini bisa kita temui dengan sangat mudah. Yang membuat sebuah koalisi hancur adalah hal-hal yang dahulunya sama-sama mereka perjuangkan. Jika sebuah koalisi dibangun untuk memperebutkan kedudukan, maka kedudukan itu pula yang akan membuat koalisi cilaka. Sudah seperti hukum alam.

Oleh karena itu, membangun koalisi memang tidak mudah, lebih susah lagi menjaga koalisi agar tidak hancur berkeping-keping. Meski kehancuran sekaligus kematian selalu menghantui kehidupan, manusia yang punya visi tidak akan terombang-ambing. Seperti gunung di tengah lautan. Seberapa kuat pun ombak menggoyang kaki gunung, ia tidak goyah karena akarnya jauh lebih kuat dari pada goyangan ombak. Justru gunung yang kokoh itu, lebih sering dihancurkan oleh api yang berasal dari dalam dirinya. Jadi memperkuat akar adalah jalan memperkokoh koalisi. Kita pasti sudah sama-sama tahu, apa akar koalisi yang dibangun oleh kita punya moyang.

Selain akar, kita juga harus punya kepala. Tidak ada tubuh yang bisa bertahan tanpa kepala, begitu juga sebaliknya. Kecuali dalam cerita Kala Rahu yang kepalanya abadi karena sudah menelan amerta sebatas leher meski sudah terlepas dari badan. Kepala abadi Rahu itu mengejar-ngejar Dewi Bulan dan ingin mencaploknya. Tetapi Dewi Bulan selalu berhasil lolos karena setelah melewati leher, tidak ada badan yang akan mengolah Dewi Bulan menjadi kotoran kala Rahu. Cerita ini melegitimasi gerhana bulan.

Bulan dalam teks-teks yang agak beraroma mistik, selalu disandingkan maknanya dengan Bindu sebagai tempat amerta. Bindu itulah yang dalam beberapa ajaran konon ditusuk dengan lembut tapi bertenaga. Penusukan Bindu ini disebut pasuduk swari. Pengejaran Dewi Bulan oleh Kala, bisa kita tafsir sebagai pencarian amerta oleh waktu. Segala yang hidup pastilah terkena hukum waktu. Manusia salah satunya. Artinya, kitalah yang mengejar amerta kemana-mana, sayangnya setelah amerta didapat, ia lepas lagi begitu saja karena kita tidak paham cara yang benar. Salah satu syaratnya menurut cerita Kala tadi adalah memelihara dan punya tubuh. Tubuh dipelihara agar amerta tidak sekadar melewati leher lalu lenyap.

Kepala adalah pemimpin pengejaran amerta. Begitu amerta didapat, yang menikmati tidak hanya kepala tapi juga seluruh tubuh. Pemimpin adalah kepala, rakyat adalah tubuh. Tubuh dan kepala harus saling menjaga. Jika kepala tidak hirau pada tubuh, siap-siap kena banyak penyakit dan mati. Jika tubuh tak peduli pada kepala, siap-siap jadi setan. Kepala memang tempat otak untuk berpikir. So, kepalamu mana dan untuk apa? [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Penggerak: Guru Bergerak, Guru Menggerakkan

Next Post

Berpedoman Lontar Jawa Kuno Memperjuangkan Hindu Secara Nasional

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Berpedoman Lontar Jawa Kuno Memperjuangkan Hindu Secara Nasional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co