6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Tresna Tuara Teked, Bercermin ke Masa Lalu dan Masa Kini

Putri Handayani by Putri Handayani
August 17, 2020
in Ulasan
Membaca Tresna Tuara Teked, Bercermin ke Masa Lalu dan Masa Kini

Jujur, ini pertama kalinya saya membaca secara penuh dan sadar sebuah karya sastra berbahasa Bali berbentuk novelet. Kesan pertama ini didasari oleh rasa penasaran saya terhadap karya terbaru mantan guru saya sewaktu SMA di Klungkung.

Beliau, Ida Bagus Pawanasuta, menerbitkan novelet yang berjudul “Tresna Tuara Teked” pada Oktober 2019 untuk mengawali cetakan pertamanya. Novelet ini tidak tebal, hanya berjumlah 79 halaman sudah termasuk profil penulis di bagian akhir halaman. Sampulnya dominan berwarna perpaduan jingga dan kuning, serta sedikit bubuhan warna ungu di bagian tengah atas. Terdapat pula sketsa beberapa tokoh yang berpengaruh menghiasi sampul novelet Tresna Tuara Teked ini.

Bagi saya ada tiga tokoh utama dalam novelet ini, yaitu I Duduk, Luh Kinanti, dan Luh Cempaka, karena ketiga orang ini hadir di hampir seluruh bab cerita dan memainkan konflik di dalamnya, sedangkan Made Bungarta muncul di tiga bab terakhir, namun perannya tidak begitu hidup. Bisa dibilang, hanya pemanis alur cerita. Adapun tokoh-tokoh pendukung lainnya, antara lain: Pan Bekung (Putu Jaya), Men Bekung (Luh Pudak), Luh Sekarini, Made Arsa, Pan Ugal, Pan Ugil, Pan Togog, Pekak Krepyak, Pan Abra, dan tokoh-tokoh pendukung lainnya.

Novelet Tresna Tuara Teked menceritakan tentang kisah cinta empat anak muda yang masing-masing cintanya tidak terbalas satu sama lain. Cerita ini berawal dari Pan Bekung yang tidak sengaja mendapati seorang pemuda tengah tertidur di sebuah bale banjar. Pemuda tersebut tidak ingat dengan identitasnya sehingga Pan Bekung mengangkatnya sebagai putra. Pemuda itu dinamai I Duduk. Ketampanan I Duduk memukau Luh Cempaka dan Luh Kinanti, namun I Duduk justru jatuh cinta pada Luh Kinanti. Luh Kinanti juga menyukai I Duduk namun terhalang oleh persahabatannya dengan Luh Cempaka. Pada saat bersamaan, Made Bungarta juga menyukai Luh Cempaka, namun cintanya tidak terbalas. Setelah mengalami berbagai konflik batin hingga berbagai hal mistis, akhirnya keempat pemuda tersebut memilih jalannya sendiri-sendiri, berbalik arah saling mengubur hasrat masing-masing.

Ditilik dari judulnya, “Tresna Tuara Teked” atau dalam bahasa Indonesia “Kasih Tak Sampai” menurut saya sangat menyuratkan konflik utama dari cerita ini, yaitu tentang cinta yang tidak dipertemukan atau tidak berjodoh. Setelah saya membaca sampai habis, dugaan saya pun terjawab. Lalu apa yang membuat novelet ini harus dibaca meski akhirnya sudah tertebak? Saya pribadi justru merasa penasaran perihal alur ceritanya serta bagaimana konflik-konflik dibangun sepanjang cerita. Hal ini pun sempat dikonfirmasi oleh sang penulis ketika menggelar diskusi virtual membahas novelet ini.

Membaca Tresna Tuara Teked, kita akan diajak memutar mundur waktu kembali ke Bali tahun 70 hingga 90-an. Kebetulan saya lahir di tahun 90-an akhir, jadi masih relevan dengan kenangan-kenangan masa kecil saya yang dihiasi dengan menonton drama arja dan wayang. Berbagai diksi yang berhubungan dengan dunia arja dan pewayangan kian menambah pengetahuan saya meski sebagian besar tidak saya pahami artinya, mengingat novelet ini menggunakan bahasa Bali yang kental, tidak hanya bahasa sor, melainkan juga bahasa Bali mider dan singgih. Sedangkan saya, selama ini hanya khatam dengan bahasa Bali sor alias tingkatan terendah. Namun meski demikian, saya masih bisa memahami isi cerita.

Saya pikir, penulis memang melakukan riset yang ketat sehingga mampu menyuguhkan informasi yang detail dan pengetahuan baru bagi para pembacanya yang awam. Sebut saja, saat mementaskan arja. Penulis mengikutsertakan nama-nama tokoh arja, urutan keluarnya, hingga jenis tetabuhan sebagai penanda dimulai atau ditutupnya pertunjukan arja. Tidak hanya itu, saya juga terkesima saat membaca bagian I Duduk yang belajar menarikan wayang di rumah Pekak Krepyak, tepatnya saat Pekak Krepyak mengoreksi olah vokal I Duduk dalam memerankan Tualen yang mestinya menggunakan suara yang berat, seperti kutipan percakapan di halaman 36.

“Nah, Ning. Yen ngigelang tualene nak suba bakatang cening, kewale munyin tualene ane konden bakatang cening, kuangan baat buin bedik. Bantang munyin tualene ento di bungkahing jihwa, kolongane apang kembang. Ento dogen ane kuangan buin bedik.” Pekak Krepyak buin ngewewehin.

Hal yang mungkin dianggap sepele, tapi membekas bagi sebagian orang yang jeli. Selain bagian ini, masih banyak juga bagian-bagian yang menyiratkan bahwa penulis sungguh-sungguh melakukan riset. Contoh lainnya yaitu saat I Duduk diupah mementaskan wayang di Desa Gobar Sala dan saat itu sangat detail dijelaskan mengenai unsur-unsur dalam pementasan wayang.

Berbicara latar waktu dan tempat, pembaca diajak bertamasya ke tahun-tahun lawas, saat masyarakat Bali masih sarat akan tradisionalisme, solidaritas, adab, serta hal-hal berbau klenik. Banyak sekali saya temukan pelabelan stereotip yang kini syukurnya sudah mulai memudar. Seperti contoh, Putu Jaya dan Luh Pudak yang tidak memiliki anak lalu dipanggil Pan Bekung dan Men Bekung, padahal mereka memiliki nama yang lebih pantas. Lalu, pelabelan berdasarkan peran dan profesi, seperti Luh Cempaka yang dipanggil Ni Galuh, penjual togog yang dipanggil Pan Togog, dan masih banyak lagi. Kemudian, kebiasaan-kebiasaan bergosip menggunjingkan tetangga atau orang satu desa yang memiliki paras rupawan, kepiawaian, dan profesi tertentu yang sangat cepat menyebar seantero desa. Hingga kini pun gosip masih menjadi kebiasaan hangat bagi warga desa maupun kota. Di bagian ini, saya seperti membaca kritik sosial yang diselipkan penulis.

Solidaritas dan budaya terlihat saat para muda-mudi latihan arja di bale banjar. Saya kagum karena pada saat itu ada yang dengan tulus serta bangga dengan kesenian serta budayanya sehingga tanpa paksaan untuk nimbrung latihan bersama teman. Sangat berbeda dari kehidupan modern seperti sekarang, anak muda kian sibuk dengan gawainya dan mendekati anti dengan kesenian tradisional yang dianggap kuno. Selain itu, solidaritas juga terlihat ketika Luh Kinanti, Luh Cempaka, dan dua orang keponakan I Duduk membantu jalannya pementasan wayang I Duduk secara profesional, meski ada sedikit konflik batin yang terjadi namun tidak terlalu diperlihatkan oleh para tokoh.

Adab masih sangat terjaga dalam bentuk sopan santun dari para tokohnya saat berkomunikasi dengan orang yang belum dikenal, orang yang lebih tua, serta orang yang memiliki jabatan yang lebih tinggi. Contoh saja, percakapan antara Putu Jaya dengan Jero Bendesa pada halaman empat dan lima.

“Da ja sanget pesan matata, iraga kaden mayaban!”

“Sampunang asapunika Jero Bendesa. Yen ten titian sane ngamiikang prajuru tiange, sira malih? Sios ring punika, genahe manut linggih taler. Ampura titian Jero Bendesa.”

Syukurnya, di era Bali modern, masih ada tersisa adab itu meski hanya terlihat pada saat matur pada sulinggih dan jero mangku atau saat orang desa berbicara dengan orang-orang keturunan brahmana dan ksatria. Selebihnya, percakapan sudah digeneralisasi dengan bahasa Indonesia. Meski demikian, kaum-kaum praktisi ilmu kiwa dan tengen masih bisa dijumpai dalam kehidupan Bali modern. Sebenarnya, bagian saat Luh Cempaka diserang oleh Pan Abra dengan ilmu hitam dan proses Luh Cempaka menjadi jero dasaran membuat saya tertarik, namun sayang hanya dibahas sekilas dan menurut saya alurnya tergesa-gesa. Perihal bagaimana hubungannya ia dengan togog galuh itu juga membuat saya penasaran Bagaimana bisa? Siapa yang menurunkan bakat itu pada Luh Cempaka?

Sebetulnya, saya belum pernah membaca cerpen berbahasa Indonesia dari Aji Pawana – nama sapaan saya pada penulis. Jadi, saya tidak tahu apakah penulis juga mampu selihai dan sealami ini membangun dialog-dialog dalam karya berbahasa Indonesia seperti yang ia lakukan pada novelet Tresna Tuara Teked ini? Karena jujur, saya sangat menikmati membaca karya ini. Dialog-dialog yang dibangun begitu hidup sekaligus detail-detail gerak-gerik yang disisipkan juga kian menambah keotentikan dan kekayaan dari karya ini. Dialog-dialognya juga sangat jujur dan lugas. Contohnya, saat Luh Cempaka mendapat surat dari Luh Kinanti. Demi kebahagiaannya, ia bahkan tega meremas surat itu dan membuangnya sambil tersenyum. Tega sekali bukan? Padahal sahabatnya rela pergi jauh agar ia bisa dekat dengan I Duduk. Namun, sayangnya karakter menjengkelkan tidak dibangun secara matang dalam diri Luh Cempaka. Padahal saya sempat jengkel sekidit saat membaca itu dan sekaligus kagum pada gaya penulisan sang penulis.

Ya, jika boleh saya kritik, penulisan novelet ini cukup tergesa-gesa. Padahal, tiap-tiap karakter masih bisa dihidupkan, bahkan bisa dibuatkan karakter yang sangat menjengkelkan hingga para pembaca mampu melontarkan sumpah serapah pada karakter itu, layaknya pemeran antagonis pada sinetron di televisi. Justru di sini saya tidak bisa melihat garis yang jelas antara peran antagonis dan protagonist karena semuanya sopan dan main aman. Pan Abra dan Made Bungarta memang jahat karena tega mengirim ilmu hitam pada Luh Cempaka, namun kejahatannya hanya sebatas itu dan ujung-ujungnya Luh Cempaka pula yang menyembuhkan Pan Abra. Saya jadi teringat dengan sinetron azab di Indosiar. Selain itu, tiga pemeran utama (I Duduk, Luh Kinanti, dan Luh Cempaka) juga kurang berambisi satu sama lain dalam memperjuangkan cinta, seolah perasaan mereka tidak berhak diperjuangkan dan memilih menyerah dengan keadaan.

Demikian ulasan jujur saya tentang novelet Tresna Tuara Teked karya Ida Bagus Pawanasuta. Maaf jika jemari saya agak jahat saat mengomentari karena saya memang sedang belajar menjadi ‘jahat’ dalam konteks mengulas karena saat seseorang sudah bisa jahat, berarti ia telah melewati proses belajar untuk lebih jeli dan tidak sertamerta terlena dengan keindahan. Namun di atas itu, saya sangat mengapresiasi karya teranyar guru saya ini. Bagaimana pun beliau berani mendobrak batas usia untuk terus berkarya, beda dengan saya yang hanya berdaya namun belum maksimal berupaya.

Saya mendengar kisi-kisi bahwa novelet ini akan bersekuel menjadi trilogi. Alasan itu pula yang mendasari penulis menyimpan hasratnya untuk membuat sebuah novel utuh. Rupanya sang penulis suka membuat teka-teki dan menyulut rasa penasaran, padahal saya paling tidak suka dibuat penasaran. Tapi mau tidak mau, kita dipaksa untuk menunggu. Jika demikian, mari saling berpegangan dan menguatkan diri. [T]

Tags: Bukucintaresensi bukusastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wabah Telah Menciptakan Jutaan Cinta Insani

Next Post

Kehidupan dan Konflik yang Tak Melulu Buruk

Putri Handayani

Putri Handayani

Bernama lengkap Desak Ketut Putri Handayani. Lahir di Klungkung. Adalah penulis pemula yang punya niat besar untuk terus berkembang

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kehidupan dan Konflik yang Tak Melulu Buruk

Kehidupan dan Konflik yang Tak Melulu Buruk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co