23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kehidupan dan Konflik yang Tak Melulu Buruk

Santi Dewi by Santi Dewi
August 17, 2020
in Esai
Kehidupan dan Konflik yang Tak Melulu Buruk

Ilustrasi diolah dari sumber Google

Malam itu dengan berbekal laptop, seperti malam-malam biasanya ketika saya sedang berada di Negara, saya datang ke Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya yang kebetulan jaraknya hanya lima langkah dari rumah saya. Rompyok Kopi, kantinnya Komunitas Kertas Budaya.

Ketika itu saya sedang duduk santai bersama Nanoq Da Kansas yang tidak lain dan tidak bukan adalah pendiri/pemilik Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya yang akrab saya panggil Om Nanoq. Di hadapan saya ada segelas jeruk hangat dan laptop terbuka yang sudah memanggil saya sejak tadi, namun pikiran saya masih mengawang memikirkan banyak hal. Kemudian perhatian saya ditarik oleh Om Nanoq yang tiba-tiba bercerita, bahwa ia baru saja melatih dua tentara yang          minta dibimbing untuk mengikuti lomba Stand Up Comedy di provinsi.

Katanya, hanya dua hari latihan, kedua tentara itu ternyata berhasil menyambat juara 1 dan 3. Seketika saya tercengang, sontak saya bertanya “Lalu Om melatih bagian mananya saja, Om? Materinya Om yang berikan atau mereka cari sendiri?”. Kemudian Om Nanoq menjawab, bahwa mereka mencari materinya sendiri dan ia hanya memberitau apa-apa saja yang harus ditambah dan dikurang. Singkatnya, ia yang mengamplas.

Usai mengobrol soal Stand Up Comedy, obrolan kami lalu merembet ke A, B, C, dan tiba-tiba hening. Di tengah keheningan itu, saya teringat bahwa saya harus mencari sebuah artikel teater sebagai bahan diskusi bersama kawan-kawan Teater Kampus Seribu Jendela. Kebetulan saya dan kawan-kawan di TKSJ sedang mengadakan diskusi kecil-kecilan dalam kelompok yang diadakan setiap hari Minggu di whatsapp grup. Kami memberi nama kegiatan yang diadakan secara rutin tersebut dengan MIRING, alias MInggu shaRING. Diskusi dalam kelompok tersebut adalah usaha yang kami lakukan untuk tetap belajar dan berpikir. Terutama di masa-masa berdiam di rumah seperti saat ini, akan bahaya kalau terlalu terlena.

Lalu saya menemukan sebuah artikel teater dari web Portal Teater yang ditulis oleh Rudolf  Puspa berjudul Teater dan Konflik Kemanusiaan. Artikel tersebut membahas tentang konflik kehidupan yang dapat menjadi sebuah garapan teater maupun konflik yang terjadi di dalam diri aktor. Bagai sayur tanpa garam, bagai aku tanpa kamu, begitu pula kehidupan tanpa konflik. Ya, kehidupan dan konflik adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Kemudian dari pemikiran dan tangan-tangan kreatiflah, konflik dapat diubahnya menjadi sesuatu yang indah, menegangkan, menyeramkan, tragis, lucu, dan bentuk-bentuk yang lainnya.

Tiba-tiba saya teringat dengan obrolan saya dan Om Nanoq sebelumnya. Antara Stand Up Comedy dan Teater misalnya. Dalam giat pemanggungan, jika dipikir-pikir, antara Stand Up Comedy dan Teater memiliki kesamaan yang kuat. Sama-sama bermaterikan konflik, berdasar dari konflik. Menyambung dari apa yang ditulis oleh Rudolf Puspa dalam artikelnya, keduanya berasal dari suatu konflik/peristiwa yang kemudian dipanggungkan. Namun perbedaannya, jika dalam Stand Up Comedy materi yang berasal dari konflik menjadi kunci utama, teater justru memiliki aspek yang lebih kompleks.

Jika seorang Stand Up Comedian harus bermodalkan materi yang kuat tanpa perlu banyak gesture tubuh bahkan tak perlu membuat wajah lucu untuk melucu, bedanya dengan teater, teater justru tak cukup pada kuatnya cerita yang dibawakan saja. Teater memiliki banyak hal yang perlu diperhatikan seperti artistik, panggung, ekspresi, penghayatan, gesture, dan tetek-bengek lainnya. Belum lagi konflik yang terjadi dalam diri aktor. Jika konflik dalam cerita harus ditonjolkan dan dikemas dengan sebaik mungkin, konflik dalam diri aktor justru menjadi hal yang harus disembunyikan. Karena sesedih apapun, sesakit apapun, pentas harus tetap berlangsung dan penonton tidak akan mau tau.

Lalu apakah hal tersebut tak terjadi juga dalam diri Stand Up Comedian? Mungkin saja terjadi. Rasanya apapun bentuk pengekspresian sesuatu yang dibawakan ke atas panggung pastilah memiliki ketegangan-ketegangannya tersendiri. Entah kepada diri sendiri, atau kepada penonton. Terlebih dalam teater, ketegangan dalam diri aktor bisa berkali-kali lipat. Selain tegang dalam diri karena merasa nervous atau mengalami perasaan yang bertolak-belakang dengan karakter yang diperankan, ketegangan juga terjadi ketika aktor harus membagi lagi konsentrasi dan perasaannya antara harus merespon properti, panggung, dan interaksi dengan pemain lainnya. Ah pokoknya, banyak deh yang harus dihitungin.

Lah, kok jadi konflik dalam konflik ya? Haha. Sudah membawakan suatu konflik, eh konflik tersebut menimbulkan konflik lagi. Benar kan, hidup tak terlepas dari konflik. Semasih ada manusia, konflik akan terus eksis. Bahkan kita telah mengetahui bersama, ada begitu banyak karya-karya yang lahir dari sebuah konflik. Ya entah karya sastra, lukisan dan yang paling marak adalah film. Ada begitu banyak film perang yang diambil dari kisah nyata atau konflik yang nyata, seperti misalnya film Dunkirk, Black Hawk Down, Pearl Harbour dan begitu banyak film-film yang lainnya.

Nah, konflik yang terjadi di kehidupan dan kemudian difilmkan ternyata konfliknya tidak berhenti sampai di film saja. Sering saya melihat, orang yang habis menonton sebuah film kemudian berdebat soal film yang ditonton. Mereka bahkan bisa memperdebatkannya berhari-hari dan sampai bawa perasaan. Atau jangan jauh-jauh deh, orang yang suka menonton drama korea saja contohnya, orang yang selesai menonton drakor soal konflik percintaan, bahkan bisa berteriak-teriak, menangis, marah, merasa tak terima, dan yang paling ekstrem bahkan bisa mengajak debat atau menjadi curhat dengan orang sekitarnya tentang film tersebut karena saking terbawa perasaannya. Konfliknya jadi konflik perasaan deh.

Wah, ini sih konflik dari konflik untuk konflik namanya. Dunia bekerja seperti lagu Dari Sabang Sampai Merauke ya “sambung menyambung menjadi satu… itulah kehidupan” eh maaf, Indonesia maksudnya. Namun, apapun bentuk konfliknya, semua bergantung kepada kemana kita membawa konflik tersebut. Seperti penulis yang membawa konflik ke dalam cerpen atau puisinya, pemusik yang membawa konflik ke dalam lagunya, wartawan yang membawa konflik dalam beritanya, anak-anak yang membawa konflik dalam buku diarynya, sutradara yang membawa konflik dalam filmnya, netizen yang membawa konflik ke dalam nyinyirannya, dan saya, yang membawa konflik dalam pikiran saya ke dalam tulisan yang ngalor-ngidul ini.

Nah, bagaimana jika ada seseorang yang mengalami patah hati karena ditinggal nikah & menggantungkan dirinya di pohon toge misalnya? Selain ditertawakan mantannya, ya gak menutup kemungkinan konflik tersebut bisa menjadi bahan berita wartawan, berkembang-biak menjadi Stand Up Comedy, kemudian menjadi naskah, bisa menjadi teater, dan begitu seterusnya dan seterusnya. Ada sangat banyak pilihan. Tak ada habisnya. Nah, sekarang kamu pilih yang mana?

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Tresna Tuara Teked, Bercermin ke Masa Lalu dan Masa Kini

Next Post

Jejak Persahabatan Purba – [Tentang Pura Puseh Panjingan di Les-Penuktukan]

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Jejak Persahabatan Purba – [Tentang Pura Puseh Panjingan di Les-Penuktukan]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co