2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kehidupan dan Konflik yang Tak Melulu Buruk

Santi Dewi by Santi Dewi
August 17, 2020
in Esai
Kehidupan dan Konflik yang Tak Melulu Buruk

Ilustrasi diolah dari sumber Google

Malam itu dengan berbekal laptop, seperti malam-malam biasanya ketika saya sedang berada di Negara, saya datang ke Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya yang kebetulan jaraknya hanya lima langkah dari rumah saya. Rompyok Kopi, kantinnya Komunitas Kertas Budaya.

Ketika itu saya sedang duduk santai bersama Nanoq Da Kansas yang tidak lain dan tidak bukan adalah pendiri/pemilik Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya yang akrab saya panggil Om Nanoq. Di hadapan saya ada segelas jeruk hangat dan laptop terbuka yang sudah memanggil saya sejak tadi, namun pikiran saya masih mengawang memikirkan banyak hal. Kemudian perhatian saya ditarik oleh Om Nanoq yang tiba-tiba bercerita, bahwa ia baru saja melatih dua tentara yang          minta dibimbing untuk mengikuti lomba Stand Up Comedy di provinsi.

Katanya, hanya dua hari latihan, kedua tentara itu ternyata berhasil menyambat juara 1 dan 3. Seketika saya tercengang, sontak saya bertanya “Lalu Om melatih bagian mananya saja, Om? Materinya Om yang berikan atau mereka cari sendiri?”. Kemudian Om Nanoq menjawab, bahwa mereka mencari materinya sendiri dan ia hanya memberitau apa-apa saja yang harus ditambah dan dikurang. Singkatnya, ia yang mengamplas.

Usai mengobrol soal Stand Up Comedy, obrolan kami lalu merembet ke A, B, C, dan tiba-tiba hening. Di tengah keheningan itu, saya teringat bahwa saya harus mencari sebuah artikel teater sebagai bahan diskusi bersama kawan-kawan Teater Kampus Seribu Jendela. Kebetulan saya dan kawan-kawan di TKSJ sedang mengadakan diskusi kecil-kecilan dalam kelompok yang diadakan setiap hari Minggu di whatsapp grup. Kami memberi nama kegiatan yang diadakan secara rutin tersebut dengan MIRING, alias MInggu shaRING. Diskusi dalam kelompok tersebut adalah usaha yang kami lakukan untuk tetap belajar dan berpikir. Terutama di masa-masa berdiam di rumah seperti saat ini, akan bahaya kalau terlalu terlena.

Lalu saya menemukan sebuah artikel teater dari web Portal Teater yang ditulis oleh Rudolf  Puspa berjudul Teater dan Konflik Kemanusiaan. Artikel tersebut membahas tentang konflik kehidupan yang dapat menjadi sebuah garapan teater maupun konflik yang terjadi di dalam diri aktor. Bagai sayur tanpa garam, bagai aku tanpa kamu, begitu pula kehidupan tanpa konflik. Ya, kehidupan dan konflik adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Kemudian dari pemikiran dan tangan-tangan kreatiflah, konflik dapat diubahnya menjadi sesuatu yang indah, menegangkan, menyeramkan, tragis, lucu, dan bentuk-bentuk yang lainnya.

Tiba-tiba saya teringat dengan obrolan saya dan Om Nanoq sebelumnya. Antara Stand Up Comedy dan Teater misalnya. Dalam giat pemanggungan, jika dipikir-pikir, antara Stand Up Comedy dan Teater memiliki kesamaan yang kuat. Sama-sama bermaterikan konflik, berdasar dari konflik. Menyambung dari apa yang ditulis oleh Rudolf Puspa dalam artikelnya, keduanya berasal dari suatu konflik/peristiwa yang kemudian dipanggungkan. Namun perbedaannya, jika dalam Stand Up Comedy materi yang berasal dari konflik menjadi kunci utama, teater justru memiliki aspek yang lebih kompleks.

Jika seorang Stand Up Comedian harus bermodalkan materi yang kuat tanpa perlu banyak gesture tubuh bahkan tak perlu membuat wajah lucu untuk melucu, bedanya dengan teater, teater justru tak cukup pada kuatnya cerita yang dibawakan saja. Teater memiliki banyak hal yang perlu diperhatikan seperti artistik, panggung, ekspresi, penghayatan, gesture, dan tetek-bengek lainnya. Belum lagi konflik yang terjadi dalam diri aktor. Jika konflik dalam cerita harus ditonjolkan dan dikemas dengan sebaik mungkin, konflik dalam diri aktor justru menjadi hal yang harus disembunyikan. Karena sesedih apapun, sesakit apapun, pentas harus tetap berlangsung dan penonton tidak akan mau tau.

Lalu apakah hal tersebut tak terjadi juga dalam diri Stand Up Comedian? Mungkin saja terjadi. Rasanya apapun bentuk pengekspresian sesuatu yang dibawakan ke atas panggung pastilah memiliki ketegangan-ketegangannya tersendiri. Entah kepada diri sendiri, atau kepada penonton. Terlebih dalam teater, ketegangan dalam diri aktor bisa berkali-kali lipat. Selain tegang dalam diri karena merasa nervous atau mengalami perasaan yang bertolak-belakang dengan karakter yang diperankan, ketegangan juga terjadi ketika aktor harus membagi lagi konsentrasi dan perasaannya antara harus merespon properti, panggung, dan interaksi dengan pemain lainnya. Ah pokoknya, banyak deh yang harus dihitungin.

Lah, kok jadi konflik dalam konflik ya? Haha. Sudah membawakan suatu konflik, eh konflik tersebut menimbulkan konflik lagi. Benar kan, hidup tak terlepas dari konflik. Semasih ada manusia, konflik akan terus eksis. Bahkan kita telah mengetahui bersama, ada begitu banyak karya-karya yang lahir dari sebuah konflik. Ya entah karya sastra, lukisan dan yang paling marak adalah film. Ada begitu banyak film perang yang diambil dari kisah nyata atau konflik yang nyata, seperti misalnya film Dunkirk, Black Hawk Down, Pearl Harbour dan begitu banyak film-film yang lainnya.

Nah, konflik yang terjadi di kehidupan dan kemudian difilmkan ternyata konfliknya tidak berhenti sampai di film saja. Sering saya melihat, orang yang habis menonton sebuah film kemudian berdebat soal film yang ditonton. Mereka bahkan bisa memperdebatkannya berhari-hari dan sampai bawa perasaan. Atau jangan jauh-jauh deh, orang yang suka menonton drama korea saja contohnya, orang yang selesai menonton drakor soal konflik percintaan, bahkan bisa berteriak-teriak, menangis, marah, merasa tak terima, dan yang paling ekstrem bahkan bisa mengajak debat atau menjadi curhat dengan orang sekitarnya tentang film tersebut karena saking terbawa perasaannya. Konfliknya jadi konflik perasaan deh.

Wah, ini sih konflik dari konflik untuk konflik namanya. Dunia bekerja seperti lagu Dari Sabang Sampai Merauke ya “sambung menyambung menjadi satu… itulah kehidupan” eh maaf, Indonesia maksudnya. Namun, apapun bentuk konfliknya, semua bergantung kepada kemana kita membawa konflik tersebut. Seperti penulis yang membawa konflik ke dalam cerpen atau puisinya, pemusik yang membawa konflik ke dalam lagunya, wartawan yang membawa konflik dalam beritanya, anak-anak yang membawa konflik dalam buku diarynya, sutradara yang membawa konflik dalam filmnya, netizen yang membawa konflik ke dalam nyinyirannya, dan saya, yang membawa konflik dalam pikiran saya ke dalam tulisan yang ngalor-ngidul ini.

Nah, bagaimana jika ada seseorang yang mengalami patah hati karena ditinggal nikah & menggantungkan dirinya di pohon toge misalnya? Selain ditertawakan mantannya, ya gak menutup kemungkinan konflik tersebut bisa menjadi bahan berita wartawan, berkembang-biak menjadi Stand Up Comedy, kemudian menjadi naskah, bisa menjadi teater, dan begitu seterusnya dan seterusnya. Ada sangat banyak pilihan. Tak ada habisnya. Nah, sekarang kamu pilih yang mana?

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Tresna Tuara Teked, Bercermin ke Masa Lalu dan Masa Kini

Next Post

Jejak Persahabatan Purba – [Tentang Pura Puseh Panjingan di Les-Penuktukan]

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Jejak Persahabatan Purba – [Tentang Pura Puseh Panjingan di Les-Penuktukan]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co