23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kehidupan dan Konflik yang Tak Melulu Buruk

Santi Dewi by Santi Dewi
August 17, 2020
in Esai
Kehidupan dan Konflik yang Tak Melulu Buruk

Ilustrasi diolah dari sumber Google

Malam itu dengan berbekal laptop, seperti malam-malam biasanya ketika saya sedang berada di Negara, saya datang ke Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya yang kebetulan jaraknya hanya lima langkah dari rumah saya. Rompyok Kopi, kantinnya Komunitas Kertas Budaya.

Ketika itu saya sedang duduk santai bersama Nanoq Da Kansas yang tidak lain dan tidak bukan adalah pendiri/pemilik Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya yang akrab saya panggil Om Nanoq. Di hadapan saya ada segelas jeruk hangat dan laptop terbuka yang sudah memanggil saya sejak tadi, namun pikiran saya masih mengawang memikirkan banyak hal. Kemudian perhatian saya ditarik oleh Om Nanoq yang tiba-tiba bercerita, bahwa ia baru saja melatih dua tentara yang          minta dibimbing untuk mengikuti lomba Stand Up Comedy di provinsi.

Katanya, hanya dua hari latihan, kedua tentara itu ternyata berhasil menyambat juara 1 dan 3. Seketika saya tercengang, sontak saya bertanya “Lalu Om melatih bagian mananya saja, Om? Materinya Om yang berikan atau mereka cari sendiri?”. Kemudian Om Nanoq menjawab, bahwa mereka mencari materinya sendiri dan ia hanya memberitau apa-apa saja yang harus ditambah dan dikurang. Singkatnya, ia yang mengamplas.

Usai mengobrol soal Stand Up Comedy, obrolan kami lalu merembet ke A, B, C, dan tiba-tiba hening. Di tengah keheningan itu, saya teringat bahwa saya harus mencari sebuah artikel teater sebagai bahan diskusi bersama kawan-kawan Teater Kampus Seribu Jendela. Kebetulan saya dan kawan-kawan di TKSJ sedang mengadakan diskusi kecil-kecilan dalam kelompok yang diadakan setiap hari Minggu di whatsapp grup. Kami memberi nama kegiatan yang diadakan secara rutin tersebut dengan MIRING, alias MInggu shaRING. Diskusi dalam kelompok tersebut adalah usaha yang kami lakukan untuk tetap belajar dan berpikir. Terutama di masa-masa berdiam di rumah seperti saat ini, akan bahaya kalau terlalu terlena.

Lalu saya menemukan sebuah artikel teater dari web Portal Teater yang ditulis oleh Rudolf  Puspa berjudul Teater dan Konflik Kemanusiaan. Artikel tersebut membahas tentang konflik kehidupan yang dapat menjadi sebuah garapan teater maupun konflik yang terjadi di dalam diri aktor. Bagai sayur tanpa garam, bagai aku tanpa kamu, begitu pula kehidupan tanpa konflik. Ya, kehidupan dan konflik adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Kemudian dari pemikiran dan tangan-tangan kreatiflah, konflik dapat diubahnya menjadi sesuatu yang indah, menegangkan, menyeramkan, tragis, lucu, dan bentuk-bentuk yang lainnya.

Tiba-tiba saya teringat dengan obrolan saya dan Om Nanoq sebelumnya. Antara Stand Up Comedy dan Teater misalnya. Dalam giat pemanggungan, jika dipikir-pikir, antara Stand Up Comedy dan Teater memiliki kesamaan yang kuat. Sama-sama bermaterikan konflik, berdasar dari konflik. Menyambung dari apa yang ditulis oleh Rudolf Puspa dalam artikelnya, keduanya berasal dari suatu konflik/peristiwa yang kemudian dipanggungkan. Namun perbedaannya, jika dalam Stand Up Comedy materi yang berasal dari konflik menjadi kunci utama, teater justru memiliki aspek yang lebih kompleks.

Jika seorang Stand Up Comedian harus bermodalkan materi yang kuat tanpa perlu banyak gesture tubuh bahkan tak perlu membuat wajah lucu untuk melucu, bedanya dengan teater, teater justru tak cukup pada kuatnya cerita yang dibawakan saja. Teater memiliki banyak hal yang perlu diperhatikan seperti artistik, panggung, ekspresi, penghayatan, gesture, dan tetek-bengek lainnya. Belum lagi konflik yang terjadi dalam diri aktor. Jika konflik dalam cerita harus ditonjolkan dan dikemas dengan sebaik mungkin, konflik dalam diri aktor justru menjadi hal yang harus disembunyikan. Karena sesedih apapun, sesakit apapun, pentas harus tetap berlangsung dan penonton tidak akan mau tau.

Lalu apakah hal tersebut tak terjadi juga dalam diri Stand Up Comedian? Mungkin saja terjadi. Rasanya apapun bentuk pengekspresian sesuatu yang dibawakan ke atas panggung pastilah memiliki ketegangan-ketegangannya tersendiri. Entah kepada diri sendiri, atau kepada penonton. Terlebih dalam teater, ketegangan dalam diri aktor bisa berkali-kali lipat. Selain tegang dalam diri karena merasa nervous atau mengalami perasaan yang bertolak-belakang dengan karakter yang diperankan, ketegangan juga terjadi ketika aktor harus membagi lagi konsentrasi dan perasaannya antara harus merespon properti, panggung, dan interaksi dengan pemain lainnya. Ah pokoknya, banyak deh yang harus dihitungin.

Lah, kok jadi konflik dalam konflik ya? Haha. Sudah membawakan suatu konflik, eh konflik tersebut menimbulkan konflik lagi. Benar kan, hidup tak terlepas dari konflik. Semasih ada manusia, konflik akan terus eksis. Bahkan kita telah mengetahui bersama, ada begitu banyak karya-karya yang lahir dari sebuah konflik. Ya entah karya sastra, lukisan dan yang paling marak adalah film. Ada begitu banyak film perang yang diambil dari kisah nyata atau konflik yang nyata, seperti misalnya film Dunkirk, Black Hawk Down, Pearl Harbour dan begitu banyak film-film yang lainnya.

Nah, konflik yang terjadi di kehidupan dan kemudian difilmkan ternyata konfliknya tidak berhenti sampai di film saja. Sering saya melihat, orang yang habis menonton sebuah film kemudian berdebat soal film yang ditonton. Mereka bahkan bisa memperdebatkannya berhari-hari dan sampai bawa perasaan. Atau jangan jauh-jauh deh, orang yang suka menonton drama korea saja contohnya, orang yang selesai menonton drakor soal konflik percintaan, bahkan bisa berteriak-teriak, menangis, marah, merasa tak terima, dan yang paling ekstrem bahkan bisa mengajak debat atau menjadi curhat dengan orang sekitarnya tentang film tersebut karena saking terbawa perasaannya. Konfliknya jadi konflik perasaan deh.

Wah, ini sih konflik dari konflik untuk konflik namanya. Dunia bekerja seperti lagu Dari Sabang Sampai Merauke ya “sambung menyambung menjadi satu… itulah kehidupan” eh maaf, Indonesia maksudnya. Namun, apapun bentuk konfliknya, semua bergantung kepada kemana kita membawa konflik tersebut. Seperti penulis yang membawa konflik ke dalam cerpen atau puisinya, pemusik yang membawa konflik ke dalam lagunya, wartawan yang membawa konflik dalam beritanya, anak-anak yang membawa konflik dalam buku diarynya, sutradara yang membawa konflik dalam filmnya, netizen yang membawa konflik ke dalam nyinyirannya, dan saya, yang membawa konflik dalam pikiran saya ke dalam tulisan yang ngalor-ngidul ini.

Nah, bagaimana jika ada seseorang yang mengalami patah hati karena ditinggal nikah & menggantungkan dirinya di pohon toge misalnya? Selain ditertawakan mantannya, ya gak menutup kemungkinan konflik tersebut bisa menjadi bahan berita wartawan, berkembang-biak menjadi Stand Up Comedy, kemudian menjadi naskah, bisa menjadi teater, dan begitu seterusnya dan seterusnya. Ada sangat banyak pilihan. Tak ada habisnya. Nah, sekarang kamu pilih yang mana?

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Tresna Tuara Teked, Bercermin ke Masa Lalu dan Masa Kini

Next Post

Jejak Persahabatan Purba – [Tentang Pura Puseh Panjingan di Les-Penuktukan]

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Jejak Persahabatan Purba – [Tentang Pura Puseh Panjingan di Les-Penuktukan]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co