24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampung dan Kota, Siapa Cemburu Pada Siapa?

PanchoNgaco by PanchoNgaco
August 11, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

Ketika tidak begitu punya kesempatan untuk bepergian, tentu kita harus menemukan berbagai cara demi bisa tetap nyaman berada di rumah. Untungnya, sebagai insan yang kreatif, manusia bisa menemukan beragam cara. Misalnya saja menulis, membaca, bermain dengan hewan peliharaan, bercocok tanam, memasak, membuat kerajinan tangan, berdagang online, dan masih banyak lagi.

Bagi aku yang tinggal di kota besar dengan kondisi rumah seadanya (bukan rumah real estate layaknya anak gedongan), tentu menjadi tantangan tersendiri untuk bisa kerasan di rumah. Aku tidak punya dapur yang memadai untuk bisa mengeksplorasi kemampuan tata boga. Lahan hijau untuk bercocok tanam juga hanya beberapa depa. Di rumah pun tidak ada kolam renang atau lapangan sebagai tempat mengolah raga. Mimpi memiliki perpustakaan pribadi saja terbentur dengan minimnya jumlah kamar.

Jika sudah begitu, salah satu pelampiasanku adalah menonton. Acara yang kutonton bukan acara jalan-jalan, melainkan acara kehidupan di perkampungan. Salah satu yang menjadi langganan tontonanku adalah acara tentang bocah yang bertualang di kampungnya dan petualangan mas gundul di kampung-kampung orang di Tanah Air. Acara itu tayang setiap hari di salah satu stasiun TV swasta nasional.

Kedua acara itu mengekspos kehidupan di kampung. Acara bocah bertualang menggambarkan kehidupan bocah-bocah di perkampungan yang ada di Tanah Air. Acara tersebut menceritakan serunya bocah-bocah kampung bermain, bertualang mencari bahan makanan dan memasak bersama orang tua. Sementara itu, acara petualangan mas gundul menampilkan petualangan mas-mas tak berambut di kampung orang. Di sana beliau belajar hidup sebagaimana orang kampung setempat. Mulai dari mengumpulkan bahan makanan, membantu warga mengurus hewan ternak, mengolah bahkan menjadi makanan tradisional yang sedap, hingga ikut menikmati aktivitas budaya lokal.

Bagian yang paling kusenangi dari acara-acara tersebut adalah melihat orang-orang (terutama anak-anak) bisa menikmati hidup dengan leluasa di kampung yang masih dikelilingi alam terbuka. Mereka dekat dengan hutan, pantai, sungai, bukit, gunung, hingga tanah lapang. Mau piknik tinggal mampir ke bukit terdekat dan menggelar tikar. Mau ke kebun binatang tinggal masuk hutan yang bisa dijangkau dengan jalan kaki. Mau berenang pun, tak usah bayar karcis. Tinggal nyemplung saja ke sungai atau laut di depan rumah yang begitu bening dan menyegarkan.

Tanpa perlu keluar uang, mereka juga bisa mendapatkan makanan. Bahkan untuk kampung yang dekat dengan laut, boga laut yang biasanya mahal di perkotaan pun bisa menjadi makanan gratis yang dapat mereka santap setiap saat. Betapa sempurnanya kehidupan demikian di mataku.

***

Tontonan harianku tadi seringnya membuat aku merasa cemburu. Aku merasa hidup di ibu kota yang katanya menjanjikan segalanya, ternyata toh tidak juga. Di kota besar ini aku tidak bisa dengan mudah mendapatkan kesejukan alam seperti bocah-bocah petualang di televisi. Aku bahkan tidak bisa menikmati asyiknya membuat makanan dengan bahan-bahan tradisional dan perabotan sederhana di balai-balai di tengah bukit.

Kota besar ini malah membuatku berjumpa dengan pohon-pohon beton. Tujuan hiburanku pun lautan buatan di dalam pusat perbelanjaan. Mau bermain di tengah hutan, malah harus bayar mahal masuk hutan yang tanamannya terbuat dari plastik. Mau berenang atau main seluncuran, lagi-lagi harus ke pusat hiburan keluarga dan membayar mahal. Itu pun hanya dapat hutan tropis dan ombak rekayasa mesin-mesin industri.

Aku rasa, aku tidak sendiri. Mereka yang merindukan kehidupan sederhana di tengah alam terbuka, hari ini jumlahnya semakin banyak. Terlebih lagi, kehidupan di kota besar yang semakin modern malah terasa semakin mencekik leher. Setiap waktu kita harus bergerak cepat, terburu-buru agar tidak ada orang lain yang menyikat. Setiap harinya, kita pun terkepung polusi, mulai dari polusi pemandangan, polusi udara, polusi suara, polusi pikiran, hingga polusi moral. Identitas budaya manusianya juga luruh menjadi seragam, sama, dan tidak ada ciri khasnya.

***

Menuju paradigma yang berbeda. Suatu ketika aku pernah berjumpa dengan dua orang mahasiswa yang konon sedang melakukan penelitian soal pendidikan. Mereka menanyakan pendapatku soal anak-anak di pedalaman. Aku bilang pada mereka bahwa anak-anak tersebut mungkin sebenarnya bahagia karena dekat dengan alamnya dan sumber daya semua tersedia tanpa biaya. Mungkin media massa saja yang selama ini sok mengekspos kehidupan mereka seolah sedih dan serba kurang.

Jawabanku itu rasanya membuat kedua mahasiswa itu salah tingkah. Mereka kemudian mencoba menjelaskan kondisi anak-anak di pedalaman yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan dan kehidupan yang layak. Ketika itu, aku masih tetap bersikukuh pada paradigmaku tadi. Akhirnya mereka menyerah meyakinkan aku dan pergi begitu saja.

Sampai pada akhirnya, aku berkesempatan menjumpai seorang yang tinggal di perkampungan. Aku menjumpai anak muda ini secara tidak sengaja di sebuah warung kecil di dekat kampungnya. Aku kala itu sedang berwisata sejenak untuk melepas penat setelah berbulan-bulan kerja di kota tanpa cuti.

Selama di ibu kota, aku jarang sekali memulai percakapan dengan orang asing. Sebab, rasa curiga tentu selalu mengikuti. Ketika berada di luar ibu kota, aku lebih bisa tertarik untuk mengobrol dengan orang lokal karena ingin tahu lebih banyak soal daerah yang kudatangi. Dalam percakapanku dengannya, jejaka ini mengemukakan mimpinya untuk merantau ke ibu kota. Aku pun terdorong untuk bertanya kenapa dia malah ingin hijrah ke kota padahal aku saja ingin tinggal di kampungnya.

Kawan baruku itu menuturkan jawaban cukup panjang. Baginya, ibu kota adalah tujuan hidup yang lebih baik. Di ibu kota, dia bisa leluasa menemukan dunia baru karena akses informasi dari jaringan internet cepat sudah tersedia. Sumber pengetahuan juga jauh lebih lengkap dengan tersedianya lembaga pendidikan yang seolah tak terbatas. Dia juga bisa bertemu banyak orang baru dengan pikiran maju yang bisa membantunya berkembang.

Membandingkan dengan kampungnya, kawanku ini mengeluhkan betapa sulitnya mengakses informasi dari kampung. Pasokan listrik yang tidak stabil (beberapa kampung bahkan masih ada yang belum dapat aliran listrik) menjadi salah satu penyebab mereka tidak bisa leluasa mengakses sumber informasi seperti TV, radio, media cetak, dan internet. Orang kampungnya bahkan ada yang harus menempuh jarak hingga sekian kilometer untuk sekadar bisa mendapatkan sinyal ponsel.

Selain kemajuan keterampilan dan kecerdasan, ibu kota juga menjadi primadona warga kampung karena di sana mereka bisa menikmati kesejukan ruangan ber-AC setiap waktu. Hal yang juga sangat diidam-idamkan dari kota besar adalah bisa sering-sering ke mal untuk belanja banyak hal yang tak tersedia di kampungnya. Wahana permainan modern pun bisa dengan mudah ditemukan di dalam pusat hiburan keluarga yang tersedia di mana-mana.

Berbicara soal makanan, kota besar juga menjadi surga bagi kawanku tadi. Dia bilang, ibu kota akan membuatnya bisa menjumpai beragam makanan dari berbagai daerah, bahkan belahan dunia. Dia tentu tak lagi akan bosan dengan makanan tradisional di kampung yang menurutnya itu-itu saja. Ibu kota nantinya bisa membawanya menyantap beraneka makanan yang sebelumnya belum pernah dia cicipi. Setiap hari bisa berganti-ganti dengan mudahnya. Asal punya dana.

***

Orang kota sepertiku ingin merasakan tenang dan damainya hidup di kampung. Sementara orang kampung mendambakan kehidupan serba ada di ibu kota. Percakapan satu malamku dengan kawan baru membuat kami paham bahwa kami saling cemburu. Lantas, apakah dengan bertukar tempat kami akan menemukan dambaan kami? Bukankah manusia selalu saja kurang bersyukur?

Tags: Jakartakampungkampung halamanKota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi

Next Post

Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co