23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Kopi [1] – Menjadi Bule di Buleleng

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
June 24, 2020
in Esai
Pangan, Hidup Mati Bangsa

Tobing Crysnanjaya || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Bak “Buta tumben kedat” (orang buta tumben melihat), peribahasa Bali ini bisa menjadi pembuka dari cerita singkat saya berkenalan dengan dunia perkopian.

Kopi memang menjadi hal yang biasa bagi saya selama ini, terang sahaja karena saya menganggap bahwa kopi itu minuman yang menjadi bagian dari ritual sebangun tidur, warnanya hitam pekat dan rasanya pahit, pengetahuan yang dangkal sekali, suka tidak suka harus saya akui.

Tuang dan terus tuang, kedangkalan itu perlahan mulai terisi manakala saya berkesempatan untuk berkunjung ke kawasan Desa Tigawasa, saya melihat hamparan perkebunan kopi disertai laku kehidupan masyarakat pedesaan Bali yang terkenal dengan keramahannya, senyum sumringah terpancar ketika kami berpapasan dengan masyarakat lainnya, ini kenapa saya teringat kepada sahabat saya dari “Dura Negara”, bahwa senyum keramahan masyarakat pedesaan di Bali adalah daya tarik kenapa dia selalu berkunjung ke Bali.

Komang Wirawan, beliaulah pemandu saya saat itu, beliau sebenarnya tidak suka publikasi, tapi sejarah perlulah ditulis dengan sebenarnya, bukan untuk siapa-siapa, tapi kali sahaja suatu saat nanti anak saya besar dan membaca tulisan ini, maka mereka akan paham bahwa saya memiliki sahabat yang selalu rela membagi waktu kepada ayahnya, ikhlas dalam memberikan pengetahuan kepada saya yang bukan siapa-siapa. “Jani ke ajak melali ke umah timpal Pak Wan, mudah-mudahan ade ye”, kira-kira itu kalimat singkat yang beliau ucapkan, ketika beliau meminta saya meminggirkan kendaraan ke sebelah kanan jalan raya.

Saya yang saat itu ditemani oleh dua orang sahabat, Gede Ganesha (Founder Bank Sampah Galang Panji) dan Gede Praja (Inisiator Sahabat Bumi) berkesempatan berkunjung ke Kejapa Kopi dan Bambu di kawasan Desa Tigawasa, begitu kami memasuki rumah tersebut, sudah tercium aroma pembakaran biji kopi, nikmat sekali.

Kami disapa oleh istri dari Gede Widarma, pemilik destinasi wisata Kejapa Kopi dan Bambu, kami tidak berkesempatan bertemu Pak Gede, karena beliau sedang dalam kondisi tidak enak badan. Pembicaraan singkat, lantas langkah saya seolah-olah terdorong oleh aroma pembakaran kopi yang tercium kuat dan semakin kuat, saya meminta ijin kepada yang empunya untuk bisa melihat proses pembakaran tersebut, kedua teman saya Ganesha dan Praja mengikuti saya, dan kami akhirnya sampai pada sebuah gubuk, tempat dimana Ketut Suardika mengolah biji kopi sampai kopi itu menjadi butiran halus yang kelak akan tersaji di meja para penikmatnya.

Pak Tut sangat gigih, kepulan asap kayu kopi sisa pembakaran mengepul di ruangan kecil itu lantas membumbung tinggi ke udara, tersapu oleh desiran angin yang menerbangkan aroma itu untuk masuk ke ruang-ruang indera penciuman bagi mereka yang melintasi di jalanan pedesaan kala itu.

Saya menghampiri beliau dengan pertanyaan yang tersimpan di kepala, bak pemburu berita yang sedang berusaha mengabadikan peristiwa penting dan bersejarah, saya mangajukan pertanyaan singkat kepada Pak Ketut “Kopi jenis apa ne Pak?”

“Kopi Bali Pak, robusta kone anake nyambatang!” beliau menjawab.

Lantas saya bertanya lagi “ane awai kuda maan ngenyanyah kopi, Pak? (Sehari seberapa bisa sangria)”

 “Awai pang lima, Pak, baatne delapan belas kilo ane agilingan (Sehari lima kali, berat delapan belas kilo satu kali giling).”

Itulah petikan percakapan singkat kami, jika dialih bahasakan ke Bahasa Indonesia dapat diartikan, bahwa jenis kopi yang dibakar itu adalah robusta dan beliau mengerjakan setiap hari sekitar sembilan puluh kilogram biji kopi setiap hari. Proses kopi ini semi tradisional, itu karena sudah ada sentuhan teknologi dalam prosesnya, misalkan alat pemutar sangrai yang sudah menggunakan dinamo dan proses penghalusan yang sudah menggunakan tenaga mesin, hanya sahaja pembakarannya masih menggunakan kayu bakar dan proses lainnya yang tetap menggunakan tenaga masyarakat sekitar.

Diperlukan waktu sekitar satu jam dua puluh menit untuk bisa menghasilkan kualitas kopi yang bagus dengan kategori “dark” itu istilah yang saya dapatkan dari Pak Putu Ardana, nanti saya ceritakan lebih spesifik lagi tentang beliau dan sensasi menikmati “Blue Tamblingan Cofee” yang pernah terjual dengan harga fantastis sekitar sebelas juta perkilo.

Sehabis itu Pak Ketut mempersilahkan saya untuk melihat-lihat areal di sekitarnya, disana ada kebun cengkeh yang ditanami vanili dibagian bawahnya, berbagai macam jenis tanaman pangan lainnya, mirip sekali dengan Lumbung Pangan Keluarga yang saya miliki di Rumah. Memang tempat ini ditata dengan sangat baik, menurut bocoran dari Pak Wan panggilan akrab Komang Wirawan bahwa tempat ini rutin dikunjungi puluhan wisatawan dari berbagai penjuru dunia, mereka konon katanya sangat senang berada di kawasan pedesaan yang masih sangat asri dan asli, kehidupan masyarakat Bali yang begitu alami dengan laku kesehariannya. Jika ditelisik lebih dalam lagi, memang beralasan, parwisata itu adalah bonus dari laku keseharian masyarakat, itu sebabnya Bali berbeda dari daerah lainnya.

Waktu berlalu begitu cepat, lantas kami memutuskan untuk undur diri untuk melanjutkan perjalanan menuju Wanagiri, disana kami akan melihat lebih dekat lagi aktifitas masyarakat dalam berkebun kopi. Tidak lupa, sebelum pergi saya memesan kopi beberapa bungkus sebagai bentuk dukungan kami kepada geliat ekonomi kerakyatan yang menjadi kebiasaan kami di Koperasi Pangan Bali Utara. [T]

Tags: bulelengKoperasi Pangan Bali Utarakopipangan
Share66TweetSendShareSend
Previous Post

Sasmitha Ayu

Next Post

Ingin Hilang Ingatan

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ingin Hilang Ingatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co