3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Kopi [1] – Menjadi Bule di Buleleng

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
June 24, 2020
in Esai
Pangan, Hidup Mati Bangsa

Tobing Crysnanjaya || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Bak “Buta tumben kedat” (orang buta tumben melihat), peribahasa Bali ini bisa menjadi pembuka dari cerita singkat saya berkenalan dengan dunia perkopian.

Kopi memang menjadi hal yang biasa bagi saya selama ini, terang sahaja karena saya menganggap bahwa kopi itu minuman yang menjadi bagian dari ritual sebangun tidur, warnanya hitam pekat dan rasanya pahit, pengetahuan yang dangkal sekali, suka tidak suka harus saya akui.

Tuang dan terus tuang, kedangkalan itu perlahan mulai terisi manakala saya berkesempatan untuk berkunjung ke kawasan Desa Tigawasa, saya melihat hamparan perkebunan kopi disertai laku kehidupan masyarakat pedesaan Bali yang terkenal dengan keramahannya, senyum sumringah terpancar ketika kami berpapasan dengan masyarakat lainnya, ini kenapa saya teringat kepada sahabat saya dari “Dura Negara”, bahwa senyum keramahan masyarakat pedesaan di Bali adalah daya tarik kenapa dia selalu berkunjung ke Bali.

Komang Wirawan, beliaulah pemandu saya saat itu, beliau sebenarnya tidak suka publikasi, tapi sejarah perlulah ditulis dengan sebenarnya, bukan untuk siapa-siapa, tapi kali sahaja suatu saat nanti anak saya besar dan membaca tulisan ini, maka mereka akan paham bahwa saya memiliki sahabat yang selalu rela membagi waktu kepada ayahnya, ikhlas dalam memberikan pengetahuan kepada saya yang bukan siapa-siapa. “Jani ke ajak melali ke umah timpal Pak Wan, mudah-mudahan ade ye”, kira-kira itu kalimat singkat yang beliau ucapkan, ketika beliau meminta saya meminggirkan kendaraan ke sebelah kanan jalan raya.

Saya yang saat itu ditemani oleh dua orang sahabat, Gede Ganesha (Founder Bank Sampah Galang Panji) dan Gede Praja (Inisiator Sahabat Bumi) berkesempatan berkunjung ke Kejapa Kopi dan Bambu di kawasan Desa Tigawasa, begitu kami memasuki rumah tersebut, sudah tercium aroma pembakaran biji kopi, nikmat sekali.

Kami disapa oleh istri dari Gede Widarma, pemilik destinasi wisata Kejapa Kopi dan Bambu, kami tidak berkesempatan bertemu Pak Gede, karena beliau sedang dalam kondisi tidak enak badan. Pembicaraan singkat, lantas langkah saya seolah-olah terdorong oleh aroma pembakaran kopi yang tercium kuat dan semakin kuat, saya meminta ijin kepada yang empunya untuk bisa melihat proses pembakaran tersebut, kedua teman saya Ganesha dan Praja mengikuti saya, dan kami akhirnya sampai pada sebuah gubuk, tempat dimana Ketut Suardika mengolah biji kopi sampai kopi itu menjadi butiran halus yang kelak akan tersaji di meja para penikmatnya.

Pak Tut sangat gigih, kepulan asap kayu kopi sisa pembakaran mengepul di ruangan kecil itu lantas membumbung tinggi ke udara, tersapu oleh desiran angin yang menerbangkan aroma itu untuk masuk ke ruang-ruang indera penciuman bagi mereka yang melintasi di jalanan pedesaan kala itu.

Saya menghampiri beliau dengan pertanyaan yang tersimpan di kepala, bak pemburu berita yang sedang berusaha mengabadikan peristiwa penting dan bersejarah, saya mangajukan pertanyaan singkat kepada Pak Ketut “Kopi jenis apa ne Pak?”

“Kopi Bali Pak, robusta kone anake nyambatang!” beliau menjawab.

Lantas saya bertanya lagi “ane awai kuda maan ngenyanyah kopi, Pak? (Sehari seberapa bisa sangria)”

 “Awai pang lima, Pak, baatne delapan belas kilo ane agilingan (Sehari lima kali, berat delapan belas kilo satu kali giling).”

Itulah petikan percakapan singkat kami, jika dialih bahasakan ke Bahasa Indonesia dapat diartikan, bahwa jenis kopi yang dibakar itu adalah robusta dan beliau mengerjakan setiap hari sekitar sembilan puluh kilogram biji kopi setiap hari. Proses kopi ini semi tradisional, itu karena sudah ada sentuhan teknologi dalam prosesnya, misalkan alat pemutar sangrai yang sudah menggunakan dinamo dan proses penghalusan yang sudah menggunakan tenaga mesin, hanya sahaja pembakarannya masih menggunakan kayu bakar dan proses lainnya yang tetap menggunakan tenaga masyarakat sekitar.

Diperlukan waktu sekitar satu jam dua puluh menit untuk bisa menghasilkan kualitas kopi yang bagus dengan kategori “dark” itu istilah yang saya dapatkan dari Pak Putu Ardana, nanti saya ceritakan lebih spesifik lagi tentang beliau dan sensasi menikmati “Blue Tamblingan Cofee” yang pernah terjual dengan harga fantastis sekitar sebelas juta perkilo.

Sehabis itu Pak Ketut mempersilahkan saya untuk melihat-lihat areal di sekitarnya, disana ada kebun cengkeh yang ditanami vanili dibagian bawahnya, berbagai macam jenis tanaman pangan lainnya, mirip sekali dengan Lumbung Pangan Keluarga yang saya miliki di Rumah. Memang tempat ini ditata dengan sangat baik, menurut bocoran dari Pak Wan panggilan akrab Komang Wirawan bahwa tempat ini rutin dikunjungi puluhan wisatawan dari berbagai penjuru dunia, mereka konon katanya sangat senang berada di kawasan pedesaan yang masih sangat asri dan asli, kehidupan masyarakat Bali yang begitu alami dengan laku kesehariannya. Jika ditelisik lebih dalam lagi, memang beralasan, parwisata itu adalah bonus dari laku keseharian masyarakat, itu sebabnya Bali berbeda dari daerah lainnya.

Waktu berlalu begitu cepat, lantas kami memutuskan untuk undur diri untuk melanjutkan perjalanan menuju Wanagiri, disana kami akan melihat lebih dekat lagi aktifitas masyarakat dalam berkebun kopi. Tidak lupa, sebelum pergi saya memesan kopi beberapa bungkus sebagai bentuk dukungan kami kepada geliat ekonomi kerakyatan yang menjadi kebiasaan kami di Koperasi Pangan Bali Utara. [T]

Tags: bulelengKoperasi Pangan Bali Utarakopipangan
Share66TweetSendShareSend
Previous Post

Sasmitha Ayu

Next Post

Ingin Hilang Ingatan

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ingin Hilang Ingatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co