23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

I Wayan Artika by I Wayan Artika
May 30, 2020
in Esai
Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Yeh memesu (mata air) di antero barat kaki Gunung Batukaru, Tabanan, Bali, yang mencapai ratusan, besar kecil, bersumber dari danau kembar (Buyan dan Tamblingan), tepatnya di timur laut desa. Alas tutupan (hutan lindung) dan kawasan hutan lainnya memberi kontribusi besar pada pasokan air sepanjang tahun. Sungai dan pangkung berhulu di perkebunan kopi atau perbatasan hutan, dijadikan sumber air sejumlah subak.

Esai pendek ini bercerita tentang berakhirnya sejarah ekonomi padi hanya dalam 250 tahun saja.

Catatan yang saya buat menunjukkan bahwa usia subak di kaki Batukaru adalah 250 tahun (2020, anak saya generasi VI). Ayah kompyang saya adalah generasi pertama, memulai ngebet alas (membuka hutan untuk sawah), menemukan mata air, membangun empelan, telabah, aungan serta mendirikan Bedugul  (pura subak) atau Pura Jero Sedahan.

Ngebet atau mencetak sawah tidak butuh waktu lama. Namun menjadikan sawah siap berproduksi yang didukung oleh terbangunnya habitat sawah, terbentuknya lumpur, tumbuhnya rumput dan gulma yang khas, berkembangbiaknya  aneka siput (pici pici, binga binga, buit buit, kakul), lintah, ikan (nyalian bengkeng, gajor), dan yang paling khas adalah lindung; dibutuhkan waktu yang sangat lama.

Sejak waktu mulai ngebet (generasi I) dan masih dikembangkan lagi oleh generasi II) membutuhkan waktu 100 tahun. Pada masa ini subak belum siap atau sudah mendekati siap berproduksi yang merupakan masa perintis. Namun demikian pada masa ini subak sudah bisa memberi kehidupan walaupun tetap ada ancaman sayah atau paceklik. Pada masa ini pula generasi II telah mengenbangkan berbagai teknologi  kerta masa (sistem atau pola tanam), pengolahan lahan, tata ekonomi (sistem upah kerja yang dibayar dengan padi atau beras), numerasi (seping, tanggapan, sibak, cekel, tegen, tenah, ceeng, bokoran), aturan subak, teknologi pascapanen (penyimpanan, gelebeg), berbagai upacara (membenih, menanam, persiapan panen, panen, dan pascapanen).

Maka kejayaan atau masa emas subak atau ekonomi padi dicapai oleh generasi III dan IV (kakek dan bapak saya). Pada masa ini ekonomi padi benar-benar satu-satunya dan segala. Desa tanpa uang, tanpa urbanisasi, tanpa pendatang, padi/beras menjadi komoditas dan alat tukar, aturan subak terjaga, pasokan air aman, mandiri tanpa campur tangan pemerintah, berbagai varietas padi terpelihara dengan baik, hama terkendali, biaya tenaga kerja masih rasional, subak menjadi sentra kehidupan sosial, tanpa pupuk kimia dan pestisida, sapi menjadi tenaga utama, seluruh kerja subak dilakukan oleh tangan manusia (membenih, mengolah lahan, panen, pengolahan hasil panen, pengangkutan).

Generasi saya (V) bertepatan dengan Revolusi Hijau Orde Baru dan Pembangunan Nasional. Di depan mata direntang janji dan harapan sehingga saya hanya tinggal di desa sampai setamat SD dan ikut kerja di sawah ketika libur sekolah, yang nyatanya setelah tamat sarjana tidak pernah lagi karena kerja di Singaraja sebagai dosen. Di bagian lain, Bali menyediakan kerja baru: pariwisata. Urbanisasi melanda kaki Batukaru. Tenaga muda yang kuat untuk kerja di sawah tidak ada lagi, menjadi awal krisis tenaga kerja tani. Pembangunan Nasional dalam bidang hidup sehat mengambil jatah air subak untuk proyek air bersih. Yang mana nyatanya air jauh lebih penting ketimbang semenisasi empelan, jangkaan, dan telabah dalam sistem instalasi air. Semua ini memang menjadi perhatian Bapak Soeharto namun apa gunanya saluran irigasi yang bagus anti bocor jika tiada air?

Generas V menghadapi sejumlah persoalan pelik yang pada akhirnya tidak terpecahkan: krisis tenaga kerja karena urbanisasi, tawaran berbagai kerja baru dan penggunaan uang sebagai alat pembayaran atau upah, serta krisis air. Selain itu, Revolusi Hijau sendiri menimbulkan persoalan baru: kimianisasi, masuknya aneka varietas baru, punahnya  varietas padi lokal. Ego sektoral juga menimbulkan persoalan pelik di kaki Batukaru, antara sektor pertanian atau perkebunan dan sawah. Ketika harga komoditas panili, cengkeh, atau kopi meroket, para petani mengubah sawah jadi kebun.

Salah satu ciri kejayaan ekonomi padi yang dikembangkan di atas sistem subak, adalah bangunan gelebeg yang menjadi simbol kekayaan atau status sosial. Gelebeg telah melampaui status sekadar menjaga ketahanan pangan keluarga atau desa. Maka berlomba-lomba membangun gelebeg  saka  (bertiang) empat atau enam dari kayu kelas tinggi, yang mungkin bisa didapat dari dalam alas tutupan Batukaru.

Gelebeg juga menjadi pertanda kehancuran ekonomi padi-subak. Memasuki generasi VI, satu per satu gelebeg  dibeli oleh kolektor barang antik. Alasan utama menjual karena tidak cukup lagi padi disimpan akibat produksi merosot. Dalam kondisi ini, muncul asumsi baru: kebutuhan lahan pemukiman bagi keluarga urban yang sukses di kota dan ingin menunjukkannya di desa dengan membangun rumah baru (walaupun kecil, berhimpit).

Generasi VI, anak saya, mungkin akan menghadapi persimpangan jalan. Kemanakah Revolusi Industri 4.0 akan membawanya? Apakah di tangannya kejayaan subak generasi III (kompyangnya) akan kembali, tentu dengan memanfaatkan teknologi revolisi 4.0.

Menyimak video dokumenter Ekspedisi Indonesia Biru tentang Kasepuhan Cipta Gelar di kaki Gunung Halimun, di mana ekonomi padi tetap menjadi basis, wajar jua saya bertanya, “Mengapa usia ekonomi padi kaki Batukaru sedemikian pendek?” [T]

Tags: Gunung Batukarupadipertaniantabanan
Share33TweetSendShareSend
Previous Post

Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Next Post

Kakek-Nenek Sayang Cucu Boleh Saja, Tapi… Yuk Belajar Parenting, Biar Tak Sesat Pikir

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kakek-Nenek Sayang Cucu Boleh Saja, Tapi… Yuk Belajar Parenting, Biar Tak Sesat Pikir

Kakek-Nenek Sayang Cucu Boleh Saja, Tapi… Yuk Belajar Parenting, Biar Tak Sesat Pikir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co