3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama by Agus Wiratama
May 30, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Semasa dirumahkan, Grudug sering kali terkejut. Ia yang kuliah di kota seolah baru melihat apa-apa yang dilakukan oleh orang di kampungnya. Kala itu, ia melihat banyak sesajen di atas tembok sanggah.

Ia bertanya pada ibunya yang kala itu menghaturkan sesajen. “Untuk apa beberapa sesajen itu?”

Ibunya kaget, sebab tumben Grudug memperhatikan hal-hal seperti itu, tetapi perasaan itu dibiarkan saja lewat. Kata ibunya, “Ini untuk di Pura ini, ini di Pura itu, ini di Sanggah ini, ini di Sanggah itu,” sambil menunjuk sesajen satu per satu.

Tak habis pikir, rupanya, di tengah-tengah semua orang urung keluar rumah, hubungan dengan Tuhan bisa diselesaikan dengan begitu sederhana. Grudug yang mencoba kritis kemudian bertanya dalam hatinya, “Kalau semua bisa dibuat mudah seperti ini, kenapa tidak dilakukan pada hari-hari biasa?” Tetapi Grudug mengurungkan pertanyaan itu.

Ia segera berjalan melihat-lihat Sanggahnya seperti seorang turis. Ibunya melihat ia dengan nyinyir, berpikir, “Kesambet apa anakku” sambil membawa sesaji itu keliling. Grudug sedari kecil hobinya hanya di kamar, kali ini ia benar-benar bosan di kamar, sehingga meluangkan waktu untuk memperhatikan sekeliling Sanggah.

“Ada yang aneh,” pikir Grudug. Bagian belakang sanggah rupanya tak diukir. Hanya paras yang berbentuk wajah setengah jadi. Sanggah itu dibangun ketika ayahnya masih kecil, sekitar tahun 40-an. Hingga kini sanggah itu enggan dibongkar. Selain karena biaya, kata ayahnya, sayang membongkar peninggalan orang tua. Grudug tersenyum, tiba-tiba ia merasa memiliki ayah yang ramah sejarah.

Malam-malam ia gelisah mengingat kedua amatannya. Di satu sisi, ritual bisa dijalankan dengan praktis, tetapi di sisi lain, “Ukiran sanggah itu sangat pragmatis,” pikir Grudug. Malam itu, ia membiarkan lamunannya lepas.

Mungkinkah orang Bali sesungguhnya bisa sederhana tetapi selalu ingin menunjuk-nunjukkan kelebihannya seperti ukiran di sanggah itu? Sesungguhnya ukiran setengah jadi pun sudah bisa dikatakan jadi, tapi kenapa harus menjadikan sebagian, sementara yang di belakang tidak?

Pada beberapa sanggah, perihal ukiran memiliki kasus yang sama. Pada bagian depan bagus, sementara belakang seperti belum jadi. Tidak cuma sanggah, penataan pekarangan rumah Bali pun demikian. Dapur, kandang babi, kandang ayam, kandang bebek, bahkan tempat mengumpulkan sampah rumah tangga di bagian belakang atau teba. Kadang begitu kumuh, berantakan.

Bebek dibiarkan berkubang dan buang kotoran sesukanya. Ayam membuat sampah berserakan. Genangan air bekas cucian piring dan lainnya dibuang begitu saja. Sementara di halaman depan? dinding bale daja diukir dengan biaya mahal sehingga terlihat berkelas. Bale dauh dicat emas dengan biaya menggelegar. Sanggah diukir lebih bagus dari bagian rumah yang lain, lengkap dengan cat emas. Semua itu tentu untuk ditunjukkan, sementara yang di belakang? untuk empunya rumah saja.

Jauh sebelum Grudug tinggal di rumah karena pandemi, ia pernah mengajak temannya singgah ke rumah. Ibunya segera membelikan capcay, lalapan, fuyunghai untuk makan bersama. Padahal mereka sudah bosan dengan makanan itu dan kangen sekali dengan sambal goreng, pindang, bahkan uyah lengis ala kampung. Tetapi, sambal goreng dan kawanannya itu disembunyikan. Bukan karena pelit, justru sambal dan kawanannya disembunyikan karena dianggap tidak elit. Yang elit adalah untuk tamu, yang tidak elit biarkan tuan rumah saja yang makan.

“Mungkin orang Bali memang suka pamer,” Lanjut Grudug dalam hati. Bila odalan, ibunya akan membuat banten yang mewah. Sekali membuat banten tegeh bisa menghabiskan Rp. 300.000. itu cuma sehari, seandainya odalan berlangsung tiga hari? Padahal bisa saja buah-buahan itu tersimpan hingga membusuk karena banyaknya persediaan “Mungkin ibu berniat memperlihatkan penghasilannya yang besar sebagai pedagang,” Pikir Grudug.

Ketika odalan di Pura-Pura besar, orang-orang rela berdesakkan, ngantre untuk sembahyang. Parfum yang biasa disimpan dalam lemari karena mahal pun digunakan meski akan luntur aromanya oleh keringat orang lain karena berdesakan. Kebaya paling mahal tiba-tiba digunakan, begitu pula bedak yang sedari pagi ditata rapi pada wajah. Padahal, Setelah berdesakan seperti itu, bagaimana caranya sembahyang dengan hening?

Sembahyang dari rumah dengan maksud menghaturkannya pada Dewa yang melinggih di sebuah Pura melalui tembok Sanggah bukanlah hal baru. Istri sahabat Grudug, misalnya. Karena takut berkendara jauh menuju kampung halaman waktu hamil, lama ia tidak pulang kampung, bahkan ketika Galungan ia hanya ngayat melalui tembok sebelah timur laut Sanggah. Alhasil katanya dia merasa pulang kampung. Barangkali ini alternatif yang sangat efektif. Tapi karena dianggap alternatif, cara ini hanya digunakan pada saat-saat tertentu.

Beberapa waktu lalu, setelah wabah terjadi, Grudug dibuat terkejut oleh ibunya. Ceritanya begini, Ibunya sore itu menggunakan kamen dan selendang. Grudug pikir ibunya punya acara dengan tetangga, tapi ketika ditanya, Ibunya bilang, “Mau ke pura A”

Grudug kesal, “Musim korona seperti ini mau bepergian jauh! Gak usah!” ibunya pun berpura-pura harus ke sana. Setelah itu, ibunya ke sanggah, datang dari Sanggah ibunya bilang, “Ibu sudah ke Pura A” sambil tertawa cekikikan, “Lewat Short cut,” lanjutnya.

Kita hidup lebih sederhana kala masa seperti ini. Banyak hal yang sesungguhnya memang sederhana lalu dibuat ribet, kembali lagi ke jalan sederhana. Meskipun begitu karakter Sanggah setengah jadi itu sepertinya memang tidak bisa hilang dari orang Bali. Suatu kali Grudug bosan benar di kamar, juga di rumah.

Ia berkeinginan keluar sekadar melihat situasi jalanan di desa. Ia tergesa-gesa sebab lama ia memendam keinginan itu, tetapi segera dicegat oleh ibunya, “Pakai maskermu dulu! Gak enak dilihat sama tetangga!” [T]

Tags: balicovid 19renunganSeni Ukir
Share75TweetSendShareSend
Previous Post

PMI : Mulih Nandur Bulih

Next Post

Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co