23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama by Agus Wiratama
May 30, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Semasa dirumahkan, Grudug sering kali terkejut. Ia yang kuliah di kota seolah baru melihat apa-apa yang dilakukan oleh orang di kampungnya. Kala itu, ia melihat banyak sesajen di atas tembok sanggah.

Ia bertanya pada ibunya yang kala itu menghaturkan sesajen. “Untuk apa beberapa sesajen itu?”

Ibunya kaget, sebab tumben Grudug memperhatikan hal-hal seperti itu, tetapi perasaan itu dibiarkan saja lewat. Kata ibunya, “Ini untuk di Pura ini, ini di Pura itu, ini di Sanggah ini, ini di Sanggah itu,” sambil menunjuk sesajen satu per satu.

Tak habis pikir, rupanya, di tengah-tengah semua orang urung keluar rumah, hubungan dengan Tuhan bisa diselesaikan dengan begitu sederhana. Grudug yang mencoba kritis kemudian bertanya dalam hatinya, “Kalau semua bisa dibuat mudah seperti ini, kenapa tidak dilakukan pada hari-hari biasa?” Tetapi Grudug mengurungkan pertanyaan itu.

Ia segera berjalan melihat-lihat Sanggahnya seperti seorang turis. Ibunya melihat ia dengan nyinyir, berpikir, “Kesambet apa anakku” sambil membawa sesaji itu keliling. Grudug sedari kecil hobinya hanya di kamar, kali ini ia benar-benar bosan di kamar, sehingga meluangkan waktu untuk memperhatikan sekeliling Sanggah.

“Ada yang aneh,” pikir Grudug. Bagian belakang sanggah rupanya tak diukir. Hanya paras yang berbentuk wajah setengah jadi. Sanggah itu dibangun ketika ayahnya masih kecil, sekitar tahun 40-an. Hingga kini sanggah itu enggan dibongkar. Selain karena biaya, kata ayahnya, sayang membongkar peninggalan orang tua. Grudug tersenyum, tiba-tiba ia merasa memiliki ayah yang ramah sejarah.

Malam-malam ia gelisah mengingat kedua amatannya. Di satu sisi, ritual bisa dijalankan dengan praktis, tetapi di sisi lain, “Ukiran sanggah itu sangat pragmatis,” pikir Grudug. Malam itu, ia membiarkan lamunannya lepas.

Mungkinkah orang Bali sesungguhnya bisa sederhana tetapi selalu ingin menunjuk-nunjukkan kelebihannya seperti ukiran di sanggah itu? Sesungguhnya ukiran setengah jadi pun sudah bisa dikatakan jadi, tapi kenapa harus menjadikan sebagian, sementara yang di belakang tidak?

Pada beberapa sanggah, perihal ukiran memiliki kasus yang sama. Pada bagian depan bagus, sementara belakang seperti belum jadi. Tidak cuma sanggah, penataan pekarangan rumah Bali pun demikian. Dapur, kandang babi, kandang ayam, kandang bebek, bahkan tempat mengumpulkan sampah rumah tangga di bagian belakang atau teba. Kadang begitu kumuh, berantakan.

Bebek dibiarkan berkubang dan buang kotoran sesukanya. Ayam membuat sampah berserakan. Genangan air bekas cucian piring dan lainnya dibuang begitu saja. Sementara di halaman depan? dinding bale daja diukir dengan biaya mahal sehingga terlihat berkelas. Bale dauh dicat emas dengan biaya menggelegar. Sanggah diukir lebih bagus dari bagian rumah yang lain, lengkap dengan cat emas. Semua itu tentu untuk ditunjukkan, sementara yang di belakang? untuk empunya rumah saja.

Jauh sebelum Grudug tinggal di rumah karena pandemi, ia pernah mengajak temannya singgah ke rumah. Ibunya segera membelikan capcay, lalapan, fuyunghai untuk makan bersama. Padahal mereka sudah bosan dengan makanan itu dan kangen sekali dengan sambal goreng, pindang, bahkan uyah lengis ala kampung. Tetapi, sambal goreng dan kawanannya itu disembunyikan. Bukan karena pelit, justru sambal dan kawanannya disembunyikan karena dianggap tidak elit. Yang elit adalah untuk tamu, yang tidak elit biarkan tuan rumah saja yang makan.

“Mungkin orang Bali memang suka pamer,” Lanjut Grudug dalam hati. Bila odalan, ibunya akan membuat banten yang mewah. Sekali membuat banten tegeh bisa menghabiskan Rp. 300.000. itu cuma sehari, seandainya odalan berlangsung tiga hari? Padahal bisa saja buah-buahan itu tersimpan hingga membusuk karena banyaknya persediaan “Mungkin ibu berniat memperlihatkan penghasilannya yang besar sebagai pedagang,” Pikir Grudug.

Ketika odalan di Pura-Pura besar, orang-orang rela berdesakkan, ngantre untuk sembahyang. Parfum yang biasa disimpan dalam lemari karena mahal pun digunakan meski akan luntur aromanya oleh keringat orang lain karena berdesakan. Kebaya paling mahal tiba-tiba digunakan, begitu pula bedak yang sedari pagi ditata rapi pada wajah. Padahal, Setelah berdesakan seperti itu, bagaimana caranya sembahyang dengan hening?

Sembahyang dari rumah dengan maksud menghaturkannya pada Dewa yang melinggih di sebuah Pura melalui tembok Sanggah bukanlah hal baru. Istri sahabat Grudug, misalnya. Karena takut berkendara jauh menuju kampung halaman waktu hamil, lama ia tidak pulang kampung, bahkan ketika Galungan ia hanya ngayat melalui tembok sebelah timur laut Sanggah. Alhasil katanya dia merasa pulang kampung. Barangkali ini alternatif yang sangat efektif. Tapi karena dianggap alternatif, cara ini hanya digunakan pada saat-saat tertentu.

Beberapa waktu lalu, setelah wabah terjadi, Grudug dibuat terkejut oleh ibunya. Ceritanya begini, Ibunya sore itu menggunakan kamen dan selendang. Grudug pikir ibunya punya acara dengan tetangga, tapi ketika ditanya, Ibunya bilang, “Mau ke pura A”

Grudug kesal, “Musim korona seperti ini mau bepergian jauh! Gak usah!” ibunya pun berpura-pura harus ke sana. Setelah itu, ibunya ke sanggah, datang dari Sanggah ibunya bilang, “Ibu sudah ke Pura A” sambil tertawa cekikikan, “Lewat Short cut,” lanjutnya.

Kita hidup lebih sederhana kala masa seperti ini. Banyak hal yang sesungguhnya memang sederhana lalu dibuat ribet, kembali lagi ke jalan sederhana. Meskipun begitu karakter Sanggah setengah jadi itu sepertinya memang tidak bisa hilang dari orang Bali. Suatu kali Grudug bosan benar di kamar, juga di rumah.

Ia berkeinginan keluar sekadar melihat situasi jalanan di desa. Ia tergesa-gesa sebab lama ia memendam keinginan itu, tetapi segera dicegat oleh ibunya, “Pakai maskermu dulu! Gak enak dilihat sama tetangga!” [T]

Tags: balicovid 19renunganSeni Ukir
Share75TweetSendShareSend
Previous Post

PMI : Mulih Nandur Bulih

Next Post

Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co