2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama by Agus Wiratama
May 30, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Semasa dirumahkan, Grudug sering kali terkejut. Ia yang kuliah di kota seolah baru melihat apa-apa yang dilakukan oleh orang di kampungnya. Kala itu, ia melihat banyak sesajen di atas tembok sanggah.

Ia bertanya pada ibunya yang kala itu menghaturkan sesajen. “Untuk apa beberapa sesajen itu?”

Ibunya kaget, sebab tumben Grudug memperhatikan hal-hal seperti itu, tetapi perasaan itu dibiarkan saja lewat. Kata ibunya, “Ini untuk di Pura ini, ini di Pura itu, ini di Sanggah ini, ini di Sanggah itu,” sambil menunjuk sesajen satu per satu.

Tak habis pikir, rupanya, di tengah-tengah semua orang urung keluar rumah, hubungan dengan Tuhan bisa diselesaikan dengan begitu sederhana. Grudug yang mencoba kritis kemudian bertanya dalam hatinya, “Kalau semua bisa dibuat mudah seperti ini, kenapa tidak dilakukan pada hari-hari biasa?” Tetapi Grudug mengurungkan pertanyaan itu.

Ia segera berjalan melihat-lihat Sanggahnya seperti seorang turis. Ibunya melihat ia dengan nyinyir, berpikir, “Kesambet apa anakku” sambil membawa sesaji itu keliling. Grudug sedari kecil hobinya hanya di kamar, kali ini ia benar-benar bosan di kamar, sehingga meluangkan waktu untuk memperhatikan sekeliling Sanggah.

“Ada yang aneh,” pikir Grudug. Bagian belakang sanggah rupanya tak diukir. Hanya paras yang berbentuk wajah setengah jadi. Sanggah itu dibangun ketika ayahnya masih kecil, sekitar tahun 40-an. Hingga kini sanggah itu enggan dibongkar. Selain karena biaya, kata ayahnya, sayang membongkar peninggalan orang tua. Grudug tersenyum, tiba-tiba ia merasa memiliki ayah yang ramah sejarah.

Malam-malam ia gelisah mengingat kedua amatannya. Di satu sisi, ritual bisa dijalankan dengan praktis, tetapi di sisi lain, “Ukiran sanggah itu sangat pragmatis,” pikir Grudug. Malam itu, ia membiarkan lamunannya lepas.

Mungkinkah orang Bali sesungguhnya bisa sederhana tetapi selalu ingin menunjuk-nunjukkan kelebihannya seperti ukiran di sanggah itu? Sesungguhnya ukiran setengah jadi pun sudah bisa dikatakan jadi, tapi kenapa harus menjadikan sebagian, sementara yang di belakang tidak?

Pada beberapa sanggah, perihal ukiran memiliki kasus yang sama. Pada bagian depan bagus, sementara belakang seperti belum jadi. Tidak cuma sanggah, penataan pekarangan rumah Bali pun demikian. Dapur, kandang babi, kandang ayam, kandang bebek, bahkan tempat mengumpulkan sampah rumah tangga di bagian belakang atau teba. Kadang begitu kumuh, berantakan.

Bebek dibiarkan berkubang dan buang kotoran sesukanya. Ayam membuat sampah berserakan. Genangan air bekas cucian piring dan lainnya dibuang begitu saja. Sementara di halaman depan? dinding bale daja diukir dengan biaya mahal sehingga terlihat berkelas. Bale dauh dicat emas dengan biaya menggelegar. Sanggah diukir lebih bagus dari bagian rumah yang lain, lengkap dengan cat emas. Semua itu tentu untuk ditunjukkan, sementara yang di belakang? untuk empunya rumah saja.

Jauh sebelum Grudug tinggal di rumah karena pandemi, ia pernah mengajak temannya singgah ke rumah. Ibunya segera membelikan capcay, lalapan, fuyunghai untuk makan bersama. Padahal mereka sudah bosan dengan makanan itu dan kangen sekali dengan sambal goreng, pindang, bahkan uyah lengis ala kampung. Tetapi, sambal goreng dan kawanannya itu disembunyikan. Bukan karena pelit, justru sambal dan kawanannya disembunyikan karena dianggap tidak elit. Yang elit adalah untuk tamu, yang tidak elit biarkan tuan rumah saja yang makan.

“Mungkin orang Bali memang suka pamer,” Lanjut Grudug dalam hati. Bila odalan, ibunya akan membuat banten yang mewah. Sekali membuat banten tegeh bisa menghabiskan Rp. 300.000. itu cuma sehari, seandainya odalan berlangsung tiga hari? Padahal bisa saja buah-buahan itu tersimpan hingga membusuk karena banyaknya persediaan “Mungkin ibu berniat memperlihatkan penghasilannya yang besar sebagai pedagang,” Pikir Grudug.

Ketika odalan di Pura-Pura besar, orang-orang rela berdesakkan, ngantre untuk sembahyang. Parfum yang biasa disimpan dalam lemari karena mahal pun digunakan meski akan luntur aromanya oleh keringat orang lain karena berdesakan. Kebaya paling mahal tiba-tiba digunakan, begitu pula bedak yang sedari pagi ditata rapi pada wajah. Padahal, Setelah berdesakan seperti itu, bagaimana caranya sembahyang dengan hening?

Sembahyang dari rumah dengan maksud menghaturkannya pada Dewa yang melinggih di sebuah Pura melalui tembok Sanggah bukanlah hal baru. Istri sahabat Grudug, misalnya. Karena takut berkendara jauh menuju kampung halaman waktu hamil, lama ia tidak pulang kampung, bahkan ketika Galungan ia hanya ngayat melalui tembok sebelah timur laut Sanggah. Alhasil katanya dia merasa pulang kampung. Barangkali ini alternatif yang sangat efektif. Tapi karena dianggap alternatif, cara ini hanya digunakan pada saat-saat tertentu.

Beberapa waktu lalu, setelah wabah terjadi, Grudug dibuat terkejut oleh ibunya. Ceritanya begini, Ibunya sore itu menggunakan kamen dan selendang. Grudug pikir ibunya punya acara dengan tetangga, tapi ketika ditanya, Ibunya bilang, “Mau ke pura A”

Grudug kesal, “Musim korona seperti ini mau bepergian jauh! Gak usah!” ibunya pun berpura-pura harus ke sana. Setelah itu, ibunya ke sanggah, datang dari Sanggah ibunya bilang, “Ibu sudah ke Pura A” sambil tertawa cekikikan, “Lewat Short cut,” lanjutnya.

Kita hidup lebih sederhana kala masa seperti ini. Banyak hal yang sesungguhnya memang sederhana lalu dibuat ribet, kembali lagi ke jalan sederhana. Meskipun begitu karakter Sanggah setengah jadi itu sepertinya memang tidak bisa hilang dari orang Bali. Suatu kali Grudug bosan benar di kamar, juga di rumah.

Ia berkeinginan keluar sekadar melihat situasi jalanan di desa. Ia tergesa-gesa sebab lama ia memendam keinginan itu, tetapi segera dicegat oleh ibunya, “Pakai maskermu dulu! Gak enak dilihat sama tetangga!” [T]

Tags: balicovid 19renunganSeni Ukir
Share75TweetSendShareSend
Previous Post

PMI : Mulih Nandur Bulih

Next Post

Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co