2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PMI : Mulih Nandur Bulih

Gus Surya Bharata by Gus Surya Bharata
May 30, 2020
in Esai
PMI : Mulih Nandur Bulih

Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Mulih nandur bulih, sebuah ungkapan yang klise, artinya pulang menanam benih/bibit, biasanya benih padi. Tapi dalam konteks tulisan ini saya membacanya bibit lebih sebagai bibit tanaman dalam makna lebih luas.

Melihat fenomena pandemi global Covid19 di Indonesia yang dinyatakan pemerintah sebagai bencana nasional non alam membuat saya mulai belajar memperhatikan. Ya, memperhatikan berbagai informasi dampak dari pandemi yang diawali dari Kota Wuhan, China akhir Desember 2019.

Awalnya saya menganggap ini hal biasa saja, karena pasti akan berakhir atau berlalu dengan berbagai cerita seru bahkan sampai ke anak cucu nantinya. Karena covid19 mampu membuat dunia hampir “off” di segala bidang kehidupan tidak terkecuali ekonomi dan keuangan.

Akibat penyebarannya yang begitu masif lebih di 200 negara, wabah ini mengharuskan Pemerintah Indonesia memulangkan seluruh Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk kembali ke tanah air selama masa pandemi ini berlangsung. Mereka yang mengadu keberuntungan hidup di negeri seberang harus rela dirumahkan bahkan pulang kampung ke negara asal agar dapat memutus rantai penyebaran Covid19.

Praktis, ratusan ribu PMI yang dikenal pahlawan devisa ini harus angkat koper dari tempatnya bekerja di luar negeri menuju kampung halaman tercinta. Mereka pulang ke kampung, berkloter-kloter dengan fasilitasi pemerintah. Namun perjalanan pulang balik mereka di tanah air kali ini tidak seperti perjalanan saat mereka akan menikmati masa liburan lepas kontrak.

Ada beberapa protokol kesehatan yang harus mereka ikuti, mulai dari tes kesehatan cepat, Rapid Test, Swab dan karantina minimal selama 14 hari di tempat yang telah ditentukan pemerintah. Ini dilakukan, karena potensi PMI yang rentan akan membawa virus dari negara terdampak covid19. Akhirnya kebiajakan ini dilaksanakan mulai dari pusat hingga ke daerah.

Bali merupakan salah satu daerah yang ternyata mencatat 20 ribuan warganya menjadi PMI. Mereka sebagian besar bekerja di sektor wisata seperti kapal pesiar, hotel dan restoran. Ada juga viral di medsos yang bekerja di ladang, perkebunan dan peternakan. Mereka pulang harus turut aturan pemerintah.

Ada yang sementara dirumahkan, ada pula yang harus rela mencari pekerjaan baru di kampung halaman tercinta, dengan kata lain rela kehilangan pekerjaan.

Hal serupa juga dialami rekan-rekan, Saudara kita yang perusahaannya tutup akibat wabah yang belum diketemukan vaksinnya ini. Nyaris, angka pengangguran di Bali sudah di ujung tangga dasar menuju tangga atas. Kekuatan pemerintah dari pusat sampai daerah dalam menyediakan ketahanan pangan pun mulai memainkan kalkulator ketahanan pangannya.

Keberadaan masyarakat yang bertambah kuantitas berbanding lurus dengn kebutuhan konsumsi masyarakat akibat pandemi. Pertanyaanya apakah pemerintah  akan mampu menanggung selamanya?

Jawabannya sudah pasti tidak. Pemerintah kemungkinan hanya mampu membiayai selama 3 bulan saja, itupun bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan seperti dalam bentuk  bantuan langsung tunai, sembako, alat-alat kebersihan dan lain-lain.

Guna mengatasi pengangguran pasca daruat covid19 ini pemerintah mulai menerbitkan program pra kerja dan pelatihan yang dilaksanakan secara online bagi masyarakat angkatan kerja. Efektifkah?? Kita lihat saja nanti. Karena itu semua tergantung pada si pembuat program dan kesadaran si pelaksana program.

Akan menjadi lebih penting penanganan ketika kita dihadapkan pada para PMI yang sebagian besar usia produktif belum memiliki pekerjaan pasti di tanah kelahirannya nantinya. Mereka adalah masyarakat produktif yang dapat berproduktivitas tinggi manakala ada yang memfasilitasi prosesnya.

Ambilah contoh Bali. PMI asal Bali yang saat ini dirumahkan, kemungkinan sebagian akan tetap tinggal di Bali. Dalam artian mereka tidak berangkat lagi, dan akan cari kerja di Bali. Untuk itu pemerintah provinsi Bali mau tidak mau akan menyiapkan lapangan kerja baru bagi mereka. Pemerintah dalam hal ini tentunya tidak bisa sendiri. Peran masyarakat di sektor swasta pastinya dibangkitkan dan ambil bagian. Namun, apa yang mesti dikembangkan untuk digarap?

Di tengah upaya pemulihan sektor pariwisata yang menjadi andalan Bali hingga awal tahun 2020, nampak akan mengalami normal baru sebagai dampak pandemi ini. Normal baru sektor pariwisata memerlukan waktu pemulihan yang cukup panjang, mengingat kasus penyebaran covid19 melalui transmisi cukup tinggi baik di internal negara maupun di mancanegara.

Sementara peran sektor swasta pendukung pariwisata secara masif akan beralih haluan melakukan penyesuaian melalui normal baru juga. Penyesuaian yang sangat memungkinkan dikembangkan di Bali adalah sektor hulu yaitu pertanian. Sektor ini sebenarnya masih sangat potensial dikelola sebagai basis ketahanan pangan Bali di masa yang akan datang.

Kebijakan pemerintah provinsi Bali melalui Nangun Sat Kertih Loka Bali mengamanatkan terpenuhinya keutuhan pangan, sandang dan papan dalam jumlah dan kualitas yang memadai bagi krama Bali, tentunya saat inilah mulai menatanya. Bagaimana Bali menjadi daerah swasembada pangan, sehingga krama Bali tidak sulit mencari kebutuhan pokok.

Selain upaya pengembangan pertanian organik dan pertanian hydrophonic, pertanian perkotaan (urban farming) sudah bisa mulai digencarkan saat kondisi normal baru ini. 

Ini merupakan salah satu upaya membukakan lapangan kerja bagi Saudara PMI yang berkeiningan bekerja di rumah (Bali). Mereka dari sebelumnya Pekerja Migran Indonesia menjadi Petani Muda Inovaif, ya sama-sama PMI juga, tapi ini adalah PMI New Normal.

Maka dari itu, diperlukan regulator yang menjembatani antara supply and demand mengatasi lonjakan pegangguran pasca pandemi. Jika dalam hal pertanian pendukung ketahanan pangan, maka diperlukan lahan untuk bertani, tenaga kerja sebagai penggarap dan sarana kerja untuk bekerja, termasuk bibit, pupuk, irigasi, edukasi bahkan insentif. Hal ini bisa disediakan oleh pemerintah melalui kerjasama dengan masyarakat pemilik lahan dengan sistem bagi hasil.

Penyediaan bibit, pupuk, edukasi dan insentif sampai kurun waktu tertentu dapat disiapkan pemerintah melalui anggaran kegiatan padat karya, yang tidak hanya berupa pelatihan, akan tetapi sudah merupakan aksi.

Petani Muda Inovatif yang ingin mengabdikan diri membangun daerahnya akan bekerja keras, ikut membangun ketahanan pangan daerah. Mereka dalam satu kelompok dapat memilih sebagai petani yang akan mengerjakan lahan pertanian secara khusus,  atau sebagai petani yang akan mengerjakan lahan-lahan di perkotaan, seperti layanan pegembangan pertanian hidrophonic maupun urban farming.

Khusus yang urban farming sangat menarik sekali dikembangkan saat ini. Dimana masyarakat yang memiliki sedikit halaman rumah dapat produktif menghasilkan kebutuhan pangan keluarga seperti, tanaman buah dalam pot (tabulampot) dengan bantuan fasilitasi PMI New Normal.

Si pemilik rumah hanya menyediakan lahan dan media tanam. Sementara bibit dan pemeliharaan berkala akan dilakukan oleh kelompok Petani New Normal ini. Mereka diberi edukasi dan insentif oleh pemerintah untuk berproduksi melalui kerja bareng pemilik lahan/halaman. Hasilnya dapat dibagi dua atau dengan sistem bagi hasil. Tentunya sesuai  “SKB” alias syarat ketentuan berlaku.

Dengan demikian, edukasi, program padat karya ataupun sejenisnya yang saat ini digagas pemerintah dalam solusi mengatasi lonjakan angka penagangguran dapat diefektifkan dengan pola ini. Para PMI bekerja di kampung halamannya, kembali sebagai warga desa, krama desa pekraman, kembali dekat dengan keluarga membangun desa. Pasca pandemi ini  PMI bukanlah pengangguran, tetapi mereka adalah Petani Muda Inovatif alias PMI New Normal yang dititah alam untuk Mulih Nandur Bulih. [T]

Tags: Kreativitaspekerja migranpertanian
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

Selain Ksatria (Dewa/Ngakan), Nusa Penida Tak Mengenal Triwangsa Lain?

Next Post

Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Gus Surya Bharata

Gus Surya Bharata

Bertugas di Dinas Pendidikan Buleleng

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co