23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh Tanpa Makan

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
May 26, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Bukan tanpa alasan jika Bhagawan Wararuci menyebut ucapan Bhagawan Byasa ada pada setiap ajaran. Baginya, ajaran Bhagawan Byasa seperti cahaya yang melenyapkan gelap. Terutama kegelapan pikiran. Konon Bhagawan Byasa tidak ada yang tidak diketahuinya, karena itu ia disebut mengetahui segalanya dan tanpa kebodohan [tan hana kapinggingnira]. Karena dari seorang Bhagawan yang demikianlah lahir ajaran, wajarlah jika orang yang demikian dihormati sebagai orang yang terpelajar. Yang dihormati, tidak hanya ajarannya tapi juga yang mengajarkan.

Bhagawan Byasa adalah satu dari sekian banyak nama-nama yang disebut-sebut dalam teks kuna. Konon, Bhagawan ini dilahirkan oleh seorang perempuan bernama Satyawati, sedangkan ayahnya bernama Bhagawan Parasara. Nama Parasara selain menjadi nama Bhagawan, juga nama salah satu Dharma Sastra. Apakah ada hubungan antara Bhagawan Parasara dan Parasara Dharma Sastra? Saya belum tahu soal ini, karena belum menemukan sumber-sumber yang bisa menjadi landasan pemikiran.

Satu hal yang penting bagi saya, adalah keterangan dari Bhagawan Wararuci bahwa Bhagawan Byasa dilahirkan di sebuah tempat bernama pulau hitam [Kresna Dwipa]. Sedangkan menurut banyak sumber, nama tempat seringkali juga menjadi nama orang atau sebaliknya. Dalam kasus ini, Bhagawan Byasa juga dikenal dengan sebutan Kresna Dwaipayana Wyasa. Itulah keterangan yang bisa kita dapat tentang Bhagawan Byasa yang dideskripsikan oleh Bhagawan Wararuci.

Byasa Wacana atau ajaran Bhagawan Byasa dipuji kemuliaannya bagai emas permata yang memenuhi daratan dan lautan. Hanya mereka yang berani menggali dan menyelam yang akan mendapatkan permata-permata mulia itu. Menurut Bhagawan Wararuci, isi Bharatakatha yang dikerjakan oleh Bhagawan Byasa adalah kematangan tentang rasa yang utama. Yang dimaksudkan sebagai rasa utama yang matang itu adalah pengetahuan yang super halus [rahasyajnana].

Rahasyajnana itulah yang menjadi sumber mata pencaharian bagi seorang Kawiwara [pinakopajiwana sang kawiwara]. Kawiwara berarti seorang penyair yang terkemuka. Dengan demikian, kita sampai pada pemahaman bahwa penyair adalah mereka yang menikmati rahasyajnana. Apakah yang dimaksud dengan rahasyajnana? Sampai pada pertanyaan itu, kita hentikan dulu sejenak. Saya ingin mengatakan, bahwa konsep kepenyairan yang demikianlah yang berlaku pada masa pustaka Sarasamuccaya tercipta. Konsep ini bisa saja telah berganti sesuai peralihan jaman. Tidak ada yang aneh dalam perubahan itu, karena segala yang ada di dunia ini, bergerak maupun tidak bergerak akan berubah.

Rahasyajnana sangatlah sulit untuk dijelaskan karena kerahasiaannya. Rahasia dalam hal ini berarti sangat halus, saking halusnya dia tidak bisa dipikirkan. Karena tidak terpikirkan, dengan singkat orang-orang lebih memilih untuk menyebutnya ‘memang demikian’ lalu selesai.

Mari kita tengok pustaka berjudul Sang Hyang Bedajnana untuk memetakan, apakah yang dimaksud dengan rahasyajnana ini. Bahkan menurut pustaka ini, jnana tidak hanya rahasia tapi sangat rahasia atau sangat halus [paramarahasya]. Kerahasiaannya dibagi menjadi dua, yakni rahasia dari jagat raya dan rahasia dari jagat kecil atau tubuh. Artinya, jnana merahasia di dua jagat itu. Oleh sebab itu, pustaka Sang Hyang Bedajnana menjanjikan bahwa orang-orang yang berhasil mengetahui rahasia di kedua jagat itulah yang akan mencapai alam Shiwa.

Untuk mengetahui rahasia dua jagat itu tadi, ada syarat yang harus dipenuhi. Syaratnya adalah menjadi Pandita. Syarat ini ditentukan dengan sangat jelas dalam pustaka Sang Hyang Bedajnana. Karena menurut pustaka tersebut, tubuh cahaya [dewa sharira] dan kelepasan [kamoktan] ditemukan [pinangguh] oleh sang Pandita. Mengenai hal ini, kita sudah bicarakan pada pembicaraan terdahulu tentang Diksa Widhi Widhana. Kalau tidak ingat, saya akan mengingatkan bahwa seseorang bisa disebut Pandita jika melakukan Lokika Karya yakni Diksa Widhi Widhana dan Parama Kaiwalya Jnana.

Sampai pada titik itu, syaratnya belumlah selesai. Selain menjadi Pandita, seseorang diwajibkan mengikuti syarat lainnya yakni menjadi murid. Saat menjadi murid pun, ada beberapa lagi syarat lainnya. Syarat-syarat itu ada beberapa, yakni setia [shrad-dadhano], menguasai indriya [jitendriya], menjalankan dharma [dharmatmo], menepati janji diri [wrata sampanno], dan berbakti pada guru [guru bhakti]. Setelah syarat-syarat itu terpenuhi, barulah seorang murid pantas diberikan pengetahuan berupa Sang Hyang Bedajnana.

Itulah sedikit penjelasan yang sangat tidak menjelaskan tentang rahasyajnana. Oleh sebab itu, berdasarkan pada penjelasan tadi, kita bisa mengetahui bahwa seorang kawiwara juga adalah seorang Pandita. Sekali lagi, itulah konsep ideal kepenyairan yang berlaku pada masanya.

Baiklah, sekarang kita kembali pada ucapan Bhagawan Wararuci yang sangat menghormati karya dan Bhagawan Byasa. Saking hormat dan kagumnya, Bhagawan Wararuci sampai-sampai mengatakan bahwa tidak ada pengetahuan yang tidak dilandasi oleh ucapan Bhagawan Byasa. Tentu saja ucapan itu tidak sepenuhnya benar, karena menurut nyatanya ada beberapa pengetahuan yang tidak bersumber dari Bharatakatha semisal Ramayana. Entah itu Ramayana karya Walmiki, atau Ramayana karya pujangga Bhati. Tetapi ungkapan ini jelaslah digunakan sebagai metafora untuk meninggikan kedudukan Bharatakatha.

Satu lagi metafora peninggian itu adalah seperti tubuh yang tidak akan pernah ada tanpa makanan dan minuman. Makanan dan minuman dalam metafora itu adalah Bharatakatha, sedangkan tubuh adalah ilmu-ilmu turunan yang lainnya. Perumpamaan itu digunakan dengan sangat tepat, sebab memang tubuh ini tidak akan dapat bertahan tanpa adanya makanan dan minuman. Meskipun, pada beberapa khasus ada yang mengatakan bahwa tubuh bisa bertahan dengan mengolah nafas.

Pernyataan itu jelaslah beralasan. Menurut satu pustaka, setidaknya ada tiga jalur utama dalam tubuh yang fungsinya untuk menyalurkan tiga hal yakni makanan, minuman dan udara. Saluran untuk makanan disebut anawaha. Berasal dari kata ana yang berarti makanan. Saluran untuk minuman bernama toyawaha. Sedangkan saluran untuk udara atau nafas adalah pranawaha. Ketiga saluran inilah yang disebut sebagai Tri Nadi. Di antara ketiganya, hanya saluran udara yang tetap berada di tengah. Sedangkan saluran makanan dan minuman, kadangkala berbeda antara pustaka yang satu dengan pustaka yang lainnya.

Perbedaan itu bisa ditemukan dimana saja, dalam pustaka apa saja jika dibanding-bandingkan. Bagaimana menjelaskan mengapa perbedaan itu ada, adalah sebuah kasus lain lagi yang sangat baik jika dicari penjelasannya secara bersama-sama dan dibagikan pada tiap orang yang benar-benar ingin tahu.

Nah, sampai disini dulu pembicaraan kali ini. Tapi di akhir tulisan ini, saya ingin mengemukakan sesuatu yang penting yang terus saja berkelindan di pikiran saya. Menurut pembicaraan tadi, kita tahu bahwa tiga unsur pokok pembentuk tubuh adalah nafas, makanan dan minuman. Di antara ketiganya, dalam berbagai macam pustaka, ada ajaran untuk meniadakan makanan dan minuman. Upawasa istilahnya dalam teks Siwaratrikalpa. Itu artinya, ada dua saluran yang diistirahatkan dalam tubuh. Sedangkan saluran tengah, yakni nafas tidak ditiadakan sama sekali. Tetapi dikendalikan dengan berbagai macam cara.

Kita mengenal kata Pranayama untuk pengendalian nafas itu. Artinya, nafas menjadi satu bagian yang penting untuk mempertahankan tubuh tanpa makanan dan minuman. Tidak hanya tubuh darah dan daging, tapi juga tubuh halus bernama pikiran.

Dan menurut suatu pustaka yang tidak saya katakan sumbernya, tubuh darah dan daging mirip sebuah kota dengan banyak pintu gerbang. Pintu-pintu itu, konon bisa terbuka dan tertutup asal orang punya kuncinya. Sama seperti Jnana, kunci dari gerbang tubuh itu disebut rahasya. Istilah lengkapnya kunci rahasya. Apa dan dimanakah kunci itu? [T]

Tags: filsafatrenungansastra
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Sejarah Kesehatan dan Kebangkitan Nasional(isme) Indonesia

Next Post

Kisah Kaos Kaki di Kapal Pesiar

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kerja di Kapal Pesiar, “Macolek Pamor” Dianggap Kaya

Kisah Kaos Kaki di Kapal Pesiar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co