6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerakan Lumbung Pangan Keluarga: Bertanam Pangan di Halaman

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
April 11, 2020
in Esai
Gerakan Lumbung Pangan Keluarga: Bertanam Pangan di Halaman

Penulis berpose bersama keluarga di sela tanaman pangan di halaman rumah

Dunia seolah-olah diliputi oleh ketidakpastian akibat dampak dari penyebaran covid-19. Dampak virus ini amat menyusup, menusuk dan mengiris sendi-sendi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat di Bali. Keluhan demi keluhan tersiar di social media, empati kemanusiaan terpantik, beberapa bahkan dengan gamblang menyampaikan bahwa mereka perlu bantuan sumber pangan, perut mereka lapar dan mereka perlu makan bukanlah himbauan.

Pro dan kontra saling bersautan, seolah perdebatan itu akan mampu menyelesaikan masalah utama yang ada, justru tidak sedikit yang memainkan peran cantik dengan narasi-narasi yang menyulut perdebatan makin menghangat dan memanas.

Pariwisata adalah sektor yang amat terpukul telak atas kondisi saat ini, tamu enggan datang karena takut, belum lagi kebijakan negara-negara yang selama ini menjadi sasaran promosi pariwisata seperti Eropa, Australia dan Amerika menghimbau masyarakat mereka untuk tidak berpergian dulu ke luar.

Begitu telaknya hantaman kepada pariwisata, sehingga penutupan tempat usaha menjadi pilihan beberapa pengusaha yang tidak sanggup menanggung kerugian akibat dari terjangan wabah corona, tentu keputusan itu merembet pada keputusan merumahkan para pekerjanya. Para pekerja kembali ke Desa, Desa menjadi tempat berkeluh kesah atas kondisi yang ada, dan sebagai masyarakat Desa saya juga amat resah untuk menuliskan kisah ini.

Desa relatif agak tenang menghadapi situasi ini, terlebih Desa yang masyarakatnya bertumpu pada sektor agraris, tentu karena tidak banyak yang mengikuti seliweran pemberitaan yang ada, lebih-lebih di social media, dalam benak mereka yang ada hanya berangkat ke sawah, kerja dan kerja. Bersyukurlah bagi mereka yang hidup di desa, setidaknya ketenangan itu akan menjauhkan mereka dari stress yang tentu pada akhirnya sangat berdampak pada kualitas imun mereka.

Hidup bergotong royong merupakan ciri khas masyarakat agraris, inilah modal yang amat krusial di tengah mewabahnya virus corona, sekadar untuk memenuhi keperluan dapur tidaklah sulit bagi mereka, sayur-sayuran masih tersedia, sekadar untuk pelengkap kebutuhan pangan, mereka masih bisa mengusahakan dengan mandiri, apakah dengan menanam atau meminta dari kebun dan sawah tetangga, semua masih bisa dimaklumi karena ini adalah kebiasaan yang sudah turun temurun diterima oleh masyarakat Desa.

“Tahun 2020 dipenuhi oleh ketidakpastian, yang pasti hanyalah perut yang terus minta diasupi nutrisi!”

Narasi ini boleh dibilang masuk akal, menurut prediksi vaksin baru akan ditemukan 18 bulan lagi, itu artinya akhir 2021  kondisi ini akan berakhir, namun apakah kita akan menyerah begitu saja? Jawabannya tentu tidak, kita mesti mengusahakan agar kita bisa tetap melanjutkan kehidupan.

Gerakan Lumbung Pangan Keluarga

Lumbung Pangan Keluarga sebagai sebuah gerakan yang diprakarsai oleh beberapa teman-teman yang memiliki kepedulian terhadap sumber pangan lokal, memandang perlu untuk memulai gerakan menanam tanaman pangan yang dimulai dari lingkungan paling dekat, yaitu pekarangan. Hal ini tentu beralasan, alasannya karena kondisi keuangan semakin menipis, sebatas keperluan sayur bisalah diusahakan secara mandiri, karena pada akhirnya kita akan masuk dalam kondisi menerima wabah ini sebagai bagian dari siklus kehidupan.

Sekadar berbagi cerita, saya bersama keluarga sudah memulai usaha pemanfaatan lahan pekarangan untuk berkebun dari tahun 2016, niatan di awal adalah menghijaukan pekarangan saja dengan menanam beberapa tanaman hias di dekat padmasana (tempat suci Hindu) depan rumah, menanam beberapa jenis bunga untuk keperluan sembahyang. Namun semakin hari niatan untuk terus dan terus menanam selalu ada, inspirasi datang darimana-mana, berbagai macam literatur saya beli dan pelajari, hingga pada akhirnya saya berinisatif untuk membagi halaman itu menjadi beberapa areal menanam, sebut saja areal taman bunga, tanaman obat keluarga, tanaman buah dalam pot, kebun buah naga, kebun sereh, dan kebun sayur.

Dari aktivitas menanam tersebut, kami juga menggabungkan dengan pengelolaan sampah organik yang ada di rumah, kami menghasilkan pupuk organik cair, kompos, pestisida ramah lingkungan dan mulsa. Kabar baiknya adalah dalam seminggu kami hanya satu dua kali saja kami membeli sayuran di luar, itupun jenis sayuran yang tidak bisa kami tanam di dataran rendah seperti kentang, sayur kol dan wortel, sisanya kami petik dari petakan kecil di belakang rumah, disamping itu kalau pas musimnya.

Kami bisa memanen berbagai macam jenis buah, dari buah-buahan yang kami tanam di pekarangan langsung seperti mangga, buah naga, papaya serta buah-buahan yang kami tanam di pot, seperti jambu biji, jeruk nipis, jeruk purut, klengkeng dan bidara, tidak jarang ketika surplus, kami juga memberikan ke tetangga, dan tidak sedikit yang langsung datang hanya untuk meminta sereh sebagai bahan bumbu ayam misalnya.

Tentu hal ini amat menyenangan, saya bersama anggota keluarga berbagi peran satu sama lain, semua keluarga terlibat dalam aktvitas ini, tidak ada yang baku dalam pembagian tugas, mencair dan semua harus bisa dan terbiasa mengurus kebun kecil ini, tidak terkecuali anak-anak kami, mereka kadang juga terlibat sesekali seperti menyiram, menggemburkan tanah dan memanen pupuk organik cair. Tentu kegiatan ini amat baik jika diterapkan di keluarga, kegiatan ini merupakan healing bagi kami di tengah aktivitas rutinitas yang mesti harus kami lakukan di luar rumah.

Berkebun di pekarangan bukanlah hal baru, saya hanya ingin membuktikan cerita-cerita inspiratif yang ada, masih ada yang mengganjal, tidak elok rasanya jika cerita ini hanya dinikmati sendiri, sebagai pribadi yang pernah bergelut dalam kegiatan-kegiatan sosial dan lingkungan hidup, saya ingin mengajak teman-teman untuk turut serta melakukan penajaman-penajaman gagasan dari apa yang ada, membangun kegelisahan dan pada akhirnya menggerakan semangat solidaritas bergerak bersama.

Saya bersama beberapa teman-teman terus melakukan kampanye di sosial media dan terus melakukan kegiatan-kegiatan menanam, sesekali saya meminta masukan kepada guru-guru kami seperti Sugi Lanus, Gede Kresna dan Made Adnyana Ole. Dari dorongan merekalah pada akhirnya kami bersepakat untuk membentuk Komunitas Lumbung Pangan Keluarga, sebuah wadah komunitas yang ditujukan untuk merangsang partisipasi masyarakat dalam memenuhi keperluan pangannya, terlebih di dalam kondisi Covid-19 seperti sekarang ini.

Niatan ini perlu terus digaungkan dan digetoktularkan, agar semakin banyak masyarakat terutama anak muda bisa berpikir, bahwa corona bukanlah akhir bagi hidup mereka, mereka bisa memulai memanfaatkan waktu dengan menanam, syukur-syukur dari gerakan sederhana ini akan memberikan mereka inspirasi untuk mengelola sawah yang mereka miliki. Ingat pariwisata adalah bonus dari laku keseharian masyarakat agraris, budaya masyarakat bali tidak jauh dari praktek bercocok tanam, mungkin itu saja. [T]

Tags: desaLumbung Pangan Keluargapangan
Share376TweetSendShareSend
Previous Post

Humor di Balik Covid 19

Next Post

Saat Sang Murid Telah Siap, Sang Guru Akan Tiba – [Kebijaksanaan Zen]

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Saat Sang Murid Telah Siap, Sang Guru Akan Tiba – [Kebijaksanaan Zen]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co