23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerakan Lumbung Pangan Keluarga: Bertanam Pangan di Halaman

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
April 11, 2020
in Esai
Gerakan Lumbung Pangan Keluarga: Bertanam Pangan di Halaman

Penulis berpose bersama keluarga di sela tanaman pangan di halaman rumah

Dunia seolah-olah diliputi oleh ketidakpastian akibat dampak dari penyebaran covid-19. Dampak virus ini amat menyusup, menusuk dan mengiris sendi-sendi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat di Bali. Keluhan demi keluhan tersiar di social media, empati kemanusiaan terpantik, beberapa bahkan dengan gamblang menyampaikan bahwa mereka perlu bantuan sumber pangan, perut mereka lapar dan mereka perlu makan bukanlah himbauan.

Pro dan kontra saling bersautan, seolah perdebatan itu akan mampu menyelesaikan masalah utama yang ada, justru tidak sedikit yang memainkan peran cantik dengan narasi-narasi yang menyulut perdebatan makin menghangat dan memanas.

Pariwisata adalah sektor yang amat terpukul telak atas kondisi saat ini, tamu enggan datang karena takut, belum lagi kebijakan negara-negara yang selama ini menjadi sasaran promosi pariwisata seperti Eropa, Australia dan Amerika menghimbau masyarakat mereka untuk tidak berpergian dulu ke luar.

Begitu telaknya hantaman kepada pariwisata, sehingga penutupan tempat usaha menjadi pilihan beberapa pengusaha yang tidak sanggup menanggung kerugian akibat dari terjangan wabah corona, tentu keputusan itu merembet pada keputusan merumahkan para pekerjanya. Para pekerja kembali ke Desa, Desa menjadi tempat berkeluh kesah atas kondisi yang ada, dan sebagai masyarakat Desa saya juga amat resah untuk menuliskan kisah ini.

Desa relatif agak tenang menghadapi situasi ini, terlebih Desa yang masyarakatnya bertumpu pada sektor agraris, tentu karena tidak banyak yang mengikuti seliweran pemberitaan yang ada, lebih-lebih di social media, dalam benak mereka yang ada hanya berangkat ke sawah, kerja dan kerja. Bersyukurlah bagi mereka yang hidup di desa, setidaknya ketenangan itu akan menjauhkan mereka dari stress yang tentu pada akhirnya sangat berdampak pada kualitas imun mereka.

Hidup bergotong royong merupakan ciri khas masyarakat agraris, inilah modal yang amat krusial di tengah mewabahnya virus corona, sekadar untuk memenuhi keperluan dapur tidaklah sulit bagi mereka, sayur-sayuran masih tersedia, sekadar untuk pelengkap kebutuhan pangan, mereka masih bisa mengusahakan dengan mandiri, apakah dengan menanam atau meminta dari kebun dan sawah tetangga, semua masih bisa dimaklumi karena ini adalah kebiasaan yang sudah turun temurun diterima oleh masyarakat Desa.

“Tahun 2020 dipenuhi oleh ketidakpastian, yang pasti hanyalah perut yang terus minta diasupi nutrisi!”

Narasi ini boleh dibilang masuk akal, menurut prediksi vaksin baru akan ditemukan 18 bulan lagi, itu artinya akhir 2021  kondisi ini akan berakhir, namun apakah kita akan menyerah begitu saja? Jawabannya tentu tidak, kita mesti mengusahakan agar kita bisa tetap melanjutkan kehidupan.

Gerakan Lumbung Pangan Keluarga

Lumbung Pangan Keluarga sebagai sebuah gerakan yang diprakarsai oleh beberapa teman-teman yang memiliki kepedulian terhadap sumber pangan lokal, memandang perlu untuk memulai gerakan menanam tanaman pangan yang dimulai dari lingkungan paling dekat, yaitu pekarangan. Hal ini tentu beralasan, alasannya karena kondisi keuangan semakin menipis, sebatas keperluan sayur bisalah diusahakan secara mandiri, karena pada akhirnya kita akan masuk dalam kondisi menerima wabah ini sebagai bagian dari siklus kehidupan.

Sekadar berbagi cerita, saya bersama keluarga sudah memulai usaha pemanfaatan lahan pekarangan untuk berkebun dari tahun 2016, niatan di awal adalah menghijaukan pekarangan saja dengan menanam beberapa tanaman hias di dekat padmasana (tempat suci Hindu) depan rumah, menanam beberapa jenis bunga untuk keperluan sembahyang. Namun semakin hari niatan untuk terus dan terus menanam selalu ada, inspirasi datang darimana-mana, berbagai macam literatur saya beli dan pelajari, hingga pada akhirnya saya berinisatif untuk membagi halaman itu menjadi beberapa areal menanam, sebut saja areal taman bunga, tanaman obat keluarga, tanaman buah dalam pot, kebun buah naga, kebun sereh, dan kebun sayur.

Dari aktivitas menanam tersebut, kami juga menggabungkan dengan pengelolaan sampah organik yang ada di rumah, kami menghasilkan pupuk organik cair, kompos, pestisida ramah lingkungan dan mulsa. Kabar baiknya adalah dalam seminggu kami hanya satu dua kali saja kami membeli sayuran di luar, itupun jenis sayuran yang tidak bisa kami tanam di dataran rendah seperti kentang, sayur kol dan wortel, sisanya kami petik dari petakan kecil di belakang rumah, disamping itu kalau pas musimnya.

Kami bisa memanen berbagai macam jenis buah, dari buah-buahan yang kami tanam di pekarangan langsung seperti mangga, buah naga, papaya serta buah-buahan yang kami tanam di pot, seperti jambu biji, jeruk nipis, jeruk purut, klengkeng dan bidara, tidak jarang ketika surplus, kami juga memberikan ke tetangga, dan tidak sedikit yang langsung datang hanya untuk meminta sereh sebagai bahan bumbu ayam misalnya.

Tentu hal ini amat menyenangan, saya bersama anggota keluarga berbagi peran satu sama lain, semua keluarga terlibat dalam aktvitas ini, tidak ada yang baku dalam pembagian tugas, mencair dan semua harus bisa dan terbiasa mengurus kebun kecil ini, tidak terkecuali anak-anak kami, mereka kadang juga terlibat sesekali seperti menyiram, menggemburkan tanah dan memanen pupuk organik cair. Tentu kegiatan ini amat baik jika diterapkan di keluarga, kegiatan ini merupakan healing bagi kami di tengah aktivitas rutinitas yang mesti harus kami lakukan di luar rumah.

Berkebun di pekarangan bukanlah hal baru, saya hanya ingin membuktikan cerita-cerita inspiratif yang ada, masih ada yang mengganjal, tidak elok rasanya jika cerita ini hanya dinikmati sendiri, sebagai pribadi yang pernah bergelut dalam kegiatan-kegiatan sosial dan lingkungan hidup, saya ingin mengajak teman-teman untuk turut serta melakukan penajaman-penajaman gagasan dari apa yang ada, membangun kegelisahan dan pada akhirnya menggerakan semangat solidaritas bergerak bersama.

Saya bersama beberapa teman-teman terus melakukan kampanye di sosial media dan terus melakukan kegiatan-kegiatan menanam, sesekali saya meminta masukan kepada guru-guru kami seperti Sugi Lanus, Gede Kresna dan Made Adnyana Ole. Dari dorongan merekalah pada akhirnya kami bersepakat untuk membentuk Komunitas Lumbung Pangan Keluarga, sebuah wadah komunitas yang ditujukan untuk merangsang partisipasi masyarakat dalam memenuhi keperluan pangannya, terlebih di dalam kondisi Covid-19 seperti sekarang ini.

Niatan ini perlu terus digaungkan dan digetoktularkan, agar semakin banyak masyarakat terutama anak muda bisa berpikir, bahwa corona bukanlah akhir bagi hidup mereka, mereka bisa memulai memanfaatkan waktu dengan menanam, syukur-syukur dari gerakan sederhana ini akan memberikan mereka inspirasi untuk mengelola sawah yang mereka miliki. Ingat pariwisata adalah bonus dari laku keseharian masyarakat agraris, budaya masyarakat bali tidak jauh dari praktek bercocok tanam, mungkin itu saja. [T]

Tags: desaLumbung Pangan Keluargapangan
Share376TweetSendShareSend
Previous Post

Humor di Balik Covid 19

Next Post

Saat Sang Murid Telah Siap, Sang Guru Akan Tiba – [Kebijaksanaan Zen]

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Saat Sang Murid Telah Siap, Sang Guru Akan Tiba – [Kebijaksanaan Zen]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co