2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerakan Lumbung Pangan Keluarga: Bertanam Pangan di Halaman

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
April 11, 2020
in Esai
Gerakan Lumbung Pangan Keluarga: Bertanam Pangan di Halaman

Penulis berpose bersama keluarga di sela tanaman pangan di halaman rumah

Dunia seolah-olah diliputi oleh ketidakpastian akibat dampak dari penyebaran covid-19. Dampak virus ini amat menyusup, menusuk dan mengiris sendi-sendi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat di Bali. Keluhan demi keluhan tersiar di social media, empati kemanusiaan terpantik, beberapa bahkan dengan gamblang menyampaikan bahwa mereka perlu bantuan sumber pangan, perut mereka lapar dan mereka perlu makan bukanlah himbauan.

Pro dan kontra saling bersautan, seolah perdebatan itu akan mampu menyelesaikan masalah utama yang ada, justru tidak sedikit yang memainkan peran cantik dengan narasi-narasi yang menyulut perdebatan makin menghangat dan memanas.

Pariwisata adalah sektor yang amat terpukul telak atas kondisi saat ini, tamu enggan datang karena takut, belum lagi kebijakan negara-negara yang selama ini menjadi sasaran promosi pariwisata seperti Eropa, Australia dan Amerika menghimbau masyarakat mereka untuk tidak berpergian dulu ke luar.

Begitu telaknya hantaman kepada pariwisata, sehingga penutupan tempat usaha menjadi pilihan beberapa pengusaha yang tidak sanggup menanggung kerugian akibat dari terjangan wabah corona, tentu keputusan itu merembet pada keputusan merumahkan para pekerjanya. Para pekerja kembali ke Desa, Desa menjadi tempat berkeluh kesah atas kondisi yang ada, dan sebagai masyarakat Desa saya juga amat resah untuk menuliskan kisah ini.

Desa relatif agak tenang menghadapi situasi ini, terlebih Desa yang masyarakatnya bertumpu pada sektor agraris, tentu karena tidak banyak yang mengikuti seliweran pemberitaan yang ada, lebih-lebih di social media, dalam benak mereka yang ada hanya berangkat ke sawah, kerja dan kerja. Bersyukurlah bagi mereka yang hidup di desa, setidaknya ketenangan itu akan menjauhkan mereka dari stress yang tentu pada akhirnya sangat berdampak pada kualitas imun mereka.

Hidup bergotong royong merupakan ciri khas masyarakat agraris, inilah modal yang amat krusial di tengah mewabahnya virus corona, sekadar untuk memenuhi keperluan dapur tidaklah sulit bagi mereka, sayur-sayuran masih tersedia, sekadar untuk pelengkap kebutuhan pangan, mereka masih bisa mengusahakan dengan mandiri, apakah dengan menanam atau meminta dari kebun dan sawah tetangga, semua masih bisa dimaklumi karena ini adalah kebiasaan yang sudah turun temurun diterima oleh masyarakat Desa.

“Tahun 2020 dipenuhi oleh ketidakpastian, yang pasti hanyalah perut yang terus minta diasupi nutrisi!”

Narasi ini boleh dibilang masuk akal, menurut prediksi vaksin baru akan ditemukan 18 bulan lagi, itu artinya akhir 2021  kondisi ini akan berakhir, namun apakah kita akan menyerah begitu saja? Jawabannya tentu tidak, kita mesti mengusahakan agar kita bisa tetap melanjutkan kehidupan.

Gerakan Lumbung Pangan Keluarga

Lumbung Pangan Keluarga sebagai sebuah gerakan yang diprakarsai oleh beberapa teman-teman yang memiliki kepedulian terhadap sumber pangan lokal, memandang perlu untuk memulai gerakan menanam tanaman pangan yang dimulai dari lingkungan paling dekat, yaitu pekarangan. Hal ini tentu beralasan, alasannya karena kondisi keuangan semakin menipis, sebatas keperluan sayur bisalah diusahakan secara mandiri, karena pada akhirnya kita akan masuk dalam kondisi menerima wabah ini sebagai bagian dari siklus kehidupan.

Sekadar berbagi cerita, saya bersama keluarga sudah memulai usaha pemanfaatan lahan pekarangan untuk berkebun dari tahun 2016, niatan di awal adalah menghijaukan pekarangan saja dengan menanam beberapa tanaman hias di dekat padmasana (tempat suci Hindu) depan rumah, menanam beberapa jenis bunga untuk keperluan sembahyang. Namun semakin hari niatan untuk terus dan terus menanam selalu ada, inspirasi datang darimana-mana, berbagai macam literatur saya beli dan pelajari, hingga pada akhirnya saya berinisatif untuk membagi halaman itu menjadi beberapa areal menanam, sebut saja areal taman bunga, tanaman obat keluarga, tanaman buah dalam pot, kebun buah naga, kebun sereh, dan kebun sayur.

Dari aktivitas menanam tersebut, kami juga menggabungkan dengan pengelolaan sampah organik yang ada di rumah, kami menghasilkan pupuk organik cair, kompos, pestisida ramah lingkungan dan mulsa. Kabar baiknya adalah dalam seminggu kami hanya satu dua kali saja kami membeli sayuran di luar, itupun jenis sayuran yang tidak bisa kami tanam di dataran rendah seperti kentang, sayur kol dan wortel, sisanya kami petik dari petakan kecil di belakang rumah, disamping itu kalau pas musimnya.

Kami bisa memanen berbagai macam jenis buah, dari buah-buahan yang kami tanam di pekarangan langsung seperti mangga, buah naga, papaya serta buah-buahan yang kami tanam di pot, seperti jambu biji, jeruk nipis, jeruk purut, klengkeng dan bidara, tidak jarang ketika surplus, kami juga memberikan ke tetangga, dan tidak sedikit yang langsung datang hanya untuk meminta sereh sebagai bahan bumbu ayam misalnya.

Tentu hal ini amat menyenangan, saya bersama anggota keluarga berbagi peran satu sama lain, semua keluarga terlibat dalam aktvitas ini, tidak ada yang baku dalam pembagian tugas, mencair dan semua harus bisa dan terbiasa mengurus kebun kecil ini, tidak terkecuali anak-anak kami, mereka kadang juga terlibat sesekali seperti menyiram, menggemburkan tanah dan memanen pupuk organik cair. Tentu kegiatan ini amat baik jika diterapkan di keluarga, kegiatan ini merupakan healing bagi kami di tengah aktivitas rutinitas yang mesti harus kami lakukan di luar rumah.

Berkebun di pekarangan bukanlah hal baru, saya hanya ingin membuktikan cerita-cerita inspiratif yang ada, masih ada yang mengganjal, tidak elok rasanya jika cerita ini hanya dinikmati sendiri, sebagai pribadi yang pernah bergelut dalam kegiatan-kegiatan sosial dan lingkungan hidup, saya ingin mengajak teman-teman untuk turut serta melakukan penajaman-penajaman gagasan dari apa yang ada, membangun kegelisahan dan pada akhirnya menggerakan semangat solidaritas bergerak bersama.

Saya bersama beberapa teman-teman terus melakukan kampanye di sosial media dan terus melakukan kegiatan-kegiatan menanam, sesekali saya meminta masukan kepada guru-guru kami seperti Sugi Lanus, Gede Kresna dan Made Adnyana Ole. Dari dorongan merekalah pada akhirnya kami bersepakat untuk membentuk Komunitas Lumbung Pangan Keluarga, sebuah wadah komunitas yang ditujukan untuk merangsang partisipasi masyarakat dalam memenuhi keperluan pangannya, terlebih di dalam kondisi Covid-19 seperti sekarang ini.

Niatan ini perlu terus digaungkan dan digetoktularkan, agar semakin banyak masyarakat terutama anak muda bisa berpikir, bahwa corona bukanlah akhir bagi hidup mereka, mereka bisa memulai memanfaatkan waktu dengan menanam, syukur-syukur dari gerakan sederhana ini akan memberikan mereka inspirasi untuk mengelola sawah yang mereka miliki. Ingat pariwisata adalah bonus dari laku keseharian masyarakat agraris, budaya masyarakat bali tidak jauh dari praktek bercocok tanam, mungkin itu saja. [T]

Tags: desaLumbung Pangan Keluargapangan
Share376TweetSendShareSend
Previous Post

Humor di Balik Covid 19

Next Post

Saat Sang Murid Telah Siap, Sang Guru Akan Tiba – [Kebijaksanaan Zen]

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Saat Sang Murid Telah Siap, Sang Guru Akan Tiba – [Kebijaksanaan Zen]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co