2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerakan Lumbung Pangan Keluarga: Bertanam Pangan di Halaman

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
April 11, 2020
in Esai
Gerakan Lumbung Pangan Keluarga: Bertanam Pangan di Halaman

Penulis berpose bersama keluarga di sela tanaman pangan di halaman rumah

Dunia seolah-olah diliputi oleh ketidakpastian akibat dampak dari penyebaran covid-19. Dampak virus ini amat menyusup, menusuk dan mengiris sendi-sendi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat di Bali. Keluhan demi keluhan tersiar di social media, empati kemanusiaan terpantik, beberapa bahkan dengan gamblang menyampaikan bahwa mereka perlu bantuan sumber pangan, perut mereka lapar dan mereka perlu makan bukanlah himbauan.

Pro dan kontra saling bersautan, seolah perdebatan itu akan mampu menyelesaikan masalah utama yang ada, justru tidak sedikit yang memainkan peran cantik dengan narasi-narasi yang menyulut perdebatan makin menghangat dan memanas.

Pariwisata adalah sektor yang amat terpukul telak atas kondisi saat ini, tamu enggan datang karena takut, belum lagi kebijakan negara-negara yang selama ini menjadi sasaran promosi pariwisata seperti Eropa, Australia dan Amerika menghimbau masyarakat mereka untuk tidak berpergian dulu ke luar.

Begitu telaknya hantaman kepada pariwisata, sehingga penutupan tempat usaha menjadi pilihan beberapa pengusaha yang tidak sanggup menanggung kerugian akibat dari terjangan wabah corona, tentu keputusan itu merembet pada keputusan merumahkan para pekerjanya. Para pekerja kembali ke Desa, Desa menjadi tempat berkeluh kesah atas kondisi yang ada, dan sebagai masyarakat Desa saya juga amat resah untuk menuliskan kisah ini.

Desa relatif agak tenang menghadapi situasi ini, terlebih Desa yang masyarakatnya bertumpu pada sektor agraris, tentu karena tidak banyak yang mengikuti seliweran pemberitaan yang ada, lebih-lebih di social media, dalam benak mereka yang ada hanya berangkat ke sawah, kerja dan kerja. Bersyukurlah bagi mereka yang hidup di desa, setidaknya ketenangan itu akan menjauhkan mereka dari stress yang tentu pada akhirnya sangat berdampak pada kualitas imun mereka.

Hidup bergotong royong merupakan ciri khas masyarakat agraris, inilah modal yang amat krusial di tengah mewabahnya virus corona, sekadar untuk memenuhi keperluan dapur tidaklah sulit bagi mereka, sayur-sayuran masih tersedia, sekadar untuk pelengkap kebutuhan pangan, mereka masih bisa mengusahakan dengan mandiri, apakah dengan menanam atau meminta dari kebun dan sawah tetangga, semua masih bisa dimaklumi karena ini adalah kebiasaan yang sudah turun temurun diterima oleh masyarakat Desa.

“Tahun 2020 dipenuhi oleh ketidakpastian, yang pasti hanyalah perut yang terus minta diasupi nutrisi!”

Narasi ini boleh dibilang masuk akal, menurut prediksi vaksin baru akan ditemukan 18 bulan lagi, itu artinya akhir 2021  kondisi ini akan berakhir, namun apakah kita akan menyerah begitu saja? Jawabannya tentu tidak, kita mesti mengusahakan agar kita bisa tetap melanjutkan kehidupan.

Gerakan Lumbung Pangan Keluarga

Lumbung Pangan Keluarga sebagai sebuah gerakan yang diprakarsai oleh beberapa teman-teman yang memiliki kepedulian terhadap sumber pangan lokal, memandang perlu untuk memulai gerakan menanam tanaman pangan yang dimulai dari lingkungan paling dekat, yaitu pekarangan. Hal ini tentu beralasan, alasannya karena kondisi keuangan semakin menipis, sebatas keperluan sayur bisalah diusahakan secara mandiri, karena pada akhirnya kita akan masuk dalam kondisi menerima wabah ini sebagai bagian dari siklus kehidupan.

Sekadar berbagi cerita, saya bersama keluarga sudah memulai usaha pemanfaatan lahan pekarangan untuk berkebun dari tahun 2016, niatan di awal adalah menghijaukan pekarangan saja dengan menanam beberapa tanaman hias di dekat padmasana (tempat suci Hindu) depan rumah, menanam beberapa jenis bunga untuk keperluan sembahyang. Namun semakin hari niatan untuk terus dan terus menanam selalu ada, inspirasi datang darimana-mana, berbagai macam literatur saya beli dan pelajari, hingga pada akhirnya saya berinisatif untuk membagi halaman itu menjadi beberapa areal menanam, sebut saja areal taman bunga, tanaman obat keluarga, tanaman buah dalam pot, kebun buah naga, kebun sereh, dan kebun sayur.

Dari aktivitas menanam tersebut, kami juga menggabungkan dengan pengelolaan sampah organik yang ada di rumah, kami menghasilkan pupuk organik cair, kompos, pestisida ramah lingkungan dan mulsa. Kabar baiknya adalah dalam seminggu kami hanya satu dua kali saja kami membeli sayuran di luar, itupun jenis sayuran yang tidak bisa kami tanam di dataran rendah seperti kentang, sayur kol dan wortel, sisanya kami petik dari petakan kecil di belakang rumah, disamping itu kalau pas musimnya.

Kami bisa memanen berbagai macam jenis buah, dari buah-buahan yang kami tanam di pekarangan langsung seperti mangga, buah naga, papaya serta buah-buahan yang kami tanam di pot, seperti jambu biji, jeruk nipis, jeruk purut, klengkeng dan bidara, tidak jarang ketika surplus, kami juga memberikan ke tetangga, dan tidak sedikit yang langsung datang hanya untuk meminta sereh sebagai bahan bumbu ayam misalnya.

Tentu hal ini amat menyenangan, saya bersama anggota keluarga berbagi peran satu sama lain, semua keluarga terlibat dalam aktvitas ini, tidak ada yang baku dalam pembagian tugas, mencair dan semua harus bisa dan terbiasa mengurus kebun kecil ini, tidak terkecuali anak-anak kami, mereka kadang juga terlibat sesekali seperti menyiram, menggemburkan tanah dan memanen pupuk organik cair. Tentu kegiatan ini amat baik jika diterapkan di keluarga, kegiatan ini merupakan healing bagi kami di tengah aktivitas rutinitas yang mesti harus kami lakukan di luar rumah.

Berkebun di pekarangan bukanlah hal baru, saya hanya ingin membuktikan cerita-cerita inspiratif yang ada, masih ada yang mengganjal, tidak elok rasanya jika cerita ini hanya dinikmati sendiri, sebagai pribadi yang pernah bergelut dalam kegiatan-kegiatan sosial dan lingkungan hidup, saya ingin mengajak teman-teman untuk turut serta melakukan penajaman-penajaman gagasan dari apa yang ada, membangun kegelisahan dan pada akhirnya menggerakan semangat solidaritas bergerak bersama.

Saya bersama beberapa teman-teman terus melakukan kampanye di sosial media dan terus melakukan kegiatan-kegiatan menanam, sesekali saya meminta masukan kepada guru-guru kami seperti Sugi Lanus, Gede Kresna dan Made Adnyana Ole. Dari dorongan merekalah pada akhirnya kami bersepakat untuk membentuk Komunitas Lumbung Pangan Keluarga, sebuah wadah komunitas yang ditujukan untuk merangsang partisipasi masyarakat dalam memenuhi keperluan pangannya, terlebih di dalam kondisi Covid-19 seperti sekarang ini.

Niatan ini perlu terus digaungkan dan digetoktularkan, agar semakin banyak masyarakat terutama anak muda bisa berpikir, bahwa corona bukanlah akhir bagi hidup mereka, mereka bisa memulai memanfaatkan waktu dengan menanam, syukur-syukur dari gerakan sederhana ini akan memberikan mereka inspirasi untuk mengelola sawah yang mereka miliki. Ingat pariwisata adalah bonus dari laku keseharian masyarakat agraris, budaya masyarakat bali tidak jauh dari praktek bercocok tanam, mungkin itu saja. [T]

Tags: desaLumbung Pangan Keluargapangan
Share376TweetSendShareSend
Previous Post

Humor di Balik Covid 19

Next Post

Saat Sang Murid Telah Siap, Sang Guru Akan Tiba – [Kebijaksanaan Zen]

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Saat Sang Murid Telah Siap, Sang Guru Akan Tiba – [Kebijaksanaan Zen]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co