2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Sang Murid Telah Siap, Sang Guru Akan Tiba – [Kebijaksanaan Zen]

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
April 11, 2020
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Sebelum pencerahan

Menimba air, membelah kayu

Setelah pencerahan

Menimba air, membelah kayu

___ (ajaran Zen)


Kalimat ini saya baca beberapa tahun yang lalu, dan tetap tak bisa saya pahami sampai detik ini. Kebijaksanaan Zen telah ada di Asia timur (Jepang, China) sejak ratusan tahun yang lalu. Dan banyak yang percaya bahwa ajaran ini  salah satu yang menjiwai keseharian mereka, seperti yang terlihat oleh kita yang jauh dari sana. Banyak buku ditulis tentang ajaran Zen dalam bahasa Indonesia. Untaian kalimat seperti yang tertulis diatas akan banyak kita temui disana.

Salah satu kalimat lain yang mungkin telah dapat saya rasakan kebenarannya adalah yang tertulis seperti ini : “ Saat seorang murid telah siap, maka sang guru pun akan datang “.

Akal sehat kita pasti akan sulit mengartikan kalimat ini. Apa tandanya seseorang telah siap? Dan apakah guru itu pasti hadir saat seseorang telah merasa siap? Apakah ungkapan ini sejalan dengan sistem pendidikan kita saat ini. Satu yang pasti, ungkapan ini pasti tak cukup layak untuk dijadikan pedoman bagi sang menteri muda untuk merumuskan kebijakan beliau terkait pendidikan kita. Ungkapan ini lebih tepat untuk sebuah pendidikan informal, untuk jiwa jiwa yang tetap dahaga menambah pengetahuan dan ketrampilan baru yang membuat hidup mereka lebih bermakna.

Pandemi Covid 16 memberi sedikit hikmah untuk keseharian kita. Kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga tercinta pasti adalah salah satunya. Bagi saya sendiri waktu luang tersedia untuk mengenang masa masa indah yang telah lewat dan selama ini luput dari pantauan kita. Teman masa kecil saya meninggalkan ibukota karena situasi ini, dan kami berdua bisa melewatkan malam bersama mengenang masa kecil kami di puncak perbukitan yang dingin ini.

Sambil mendengarkan lagu lagu lama kesukaan kami dulu, kami berbincang tentang banyak hal, baik yang ringan ataupun menjurus serius.       

“Tut Nik,“ katanya malam itu. “Tidakkah Ketut merasakan di masa masa sekarang ini kita kehilangan sosok panutan? Sosok guru yang memberikan kita nasehat, petuah dan cerita cerita bijaksana tentang kehidupan?“

Dia lalu menyebut beberapa nama yang kita ingat, seorang guru senior (almarhum ) yang sangat berwibawa, lalu dia menyebut juga nama almarhum bapak saya yang memang dulu sangat gemar mengumpulkan anak anak kompleks kami di malam hari untuk didongengkan cerita-cerita pewayangan.

Berbilang malam kami berkumpul mengelilingi lampu petromaks untuk mendengarkan cerita beliau tentang jalannya perang Barata Yuda, matinya sang Karna dan banyak cerita lain yang tak bisa saya ingat. Jujur saya sangat terharu mendengarnya, ternyata apa yang menurut saya sesuatu yang biasa saja, ternyata dianggap sebuah kenangan indah oleh sahabat saya.

Saat itu saya bersepakat dengan keprihatinannnya tentang kerinduan kita akan sosok teladan, sosok guru, yang bisa kita gugu dan tiru selain guru guru formal kita di sekolah.

Tetapi setelah merenung lama, dan menyimak berbagai tulisan bijak di buku dan jagat maya yang sering juga memberikan pencerahan. Saya merasa teman saya terjebak dalam sebuah romantisme masa lalu yang indah tapi dangkal.

Saya coba membandingkan situasi saya saat ini dengan dua kegemaran  yang menghiasi keseharian saya. Bermain tenis dan menulis. Hari hari ini, ditengah situasi yang  tak bersahabat ini, salah satu kebahagiaan saya adalah saat bisa ke lapangan, dan sempat menulis yang kemudian tulisan itu bisa dibaca oleh khalayak luas. Kebahagiaan ini tak akan bisa saya nikmati tanpa kehadiran seorang guru. Seorang senior tempat saya berkeluh tentang tulisan yang belum dimuat dan tetap memberi dorongan untuk tak patah semaangat.

Senior lainnya tempat mengadu saat saya tak diajak main oleh teman di lapangan tenis karena saya baru belajar, dan selalu punya cara untuk menyemangati saya agar tak putus asa dan tetap terus berlatih. “Makin banyak keringat keluar saat latihan,makin sedikit yang tertumpah saat pertandingan, “ katanya pada suatu waktu.

Mereka berdua barangkali adalah guru guru yang disediakan alam untuk saya dalam meningkatkan ketrampilan, maupun menambah kebijaksanaan kita. Tanpa menafika peran pihak lain, teman di lapangan, rekan sesama penyuka tulisan. Mereka pun adalah guru guru lainnya yang ikut membentuk saya sampai pada kemampuan (bermain dan menulis) seperti sekarang. Mereka pun adalah guru guru untuk kita dalam skala yang lebih kecil.

Tapi saya tak akan mendebat teman saya tentang kerinduannya akan sosok guru ataupun panutan. Saya hanya akan menceritakan kepadanya sebuah fragmen dalam drama Galileo yang dikutip Goenawan Mohamad di salah satu tulisannya. Saat itu Galileo sedang diinterogasi oleh tim inkuisitor gereja terkait pandangan barunya yaitu Helio sentris, yang menyatakan bahwa pusat dari tata surya atau dunia ini adalah matahari. Dimana saat itu gerja masih meyakini bahwa pusat dari alam semesta adalah bumi.

Saat interogasi berlangsung sampai tengah hari, Galileo ditunggui oleh para muridnya yang setia di luar gereja. Tepat saat petang menjelang terdengar lonceng gereja yang menyatakan kemenangan gereja atas Galileo, artinya Galileo menarik pandangan heliosentris tersebut dan bertekuk lutut atas kekuasaan gereja. Begitu pintu dibuka, terdengar kencang sang murid, Andrea Sarti berteriak “ Betapa malang sebuah negeri yang tak mendapatkan pahlawan “

Sambil menoleh, Galileo membalas ringan : “Lebih malang lagi sebuah negeri yang mengharapkan hadirnya seorang pahlawan.“

Tulisan Zen tentang guru tadi yang kita dapat dari Timur, dan ungkapan Galileo yang saya rasa mewakili semangat barat tentang kebebasan berpikir. Menurut saya adalah pilihan jawaban untuk teman saya itu, dan pasti jawaban untuk kita semua yang masih terjebak pada romantisme masa lalu dan selalu ingin adanya kekuatan dari luar untuk sesuatu yang semestinya kita bisa lakukan sendiri.

Jangan terlalu berharap lingkungan akan menyediakan kita apa yang kita perlukan sesuai keinginan kita. Alam pasti punya caranya sendiri untuk melakukannya. Dan seandainya pun tidak, kita masih punya hadiah terindah Tuhan untuk kita yaitu akal budi.

Akhirnya, untuk saat ini saya masih bisa mempercayai ajaran Zen, tanpa menyepelekan kebebasan pikiran ala Galileo, Tabik.

Tags: kehidupanrenunganZen
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

Gerakan Lumbung Pangan Keluarga: Bertanam Pangan di Halaman

Next Post

Upah “Negen Blesengan” Jadi Gamelan Gong Kebyar – [Nostalgia dari Serongga Tengah, Gianyar]

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Upah “Negen Blesengan” Jadi Gamelan Gong Kebyar – [Nostalgia dari Serongga Tengah, Gianyar]

Upah “Negen Blesengan” Jadi Gamelan Gong Kebyar – [Nostalgia dari Serongga Tengah, Gianyar]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co