23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Sang Murid Telah Siap, Sang Guru Akan Tiba – [Kebijaksanaan Zen]

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
April 11, 2020
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Sebelum pencerahan

Menimba air, membelah kayu

Setelah pencerahan

Menimba air, membelah kayu

___ (ajaran Zen)


Kalimat ini saya baca beberapa tahun yang lalu, dan tetap tak bisa saya pahami sampai detik ini. Kebijaksanaan Zen telah ada di Asia timur (Jepang, China) sejak ratusan tahun yang lalu. Dan banyak yang percaya bahwa ajaran ini  salah satu yang menjiwai keseharian mereka, seperti yang terlihat oleh kita yang jauh dari sana. Banyak buku ditulis tentang ajaran Zen dalam bahasa Indonesia. Untaian kalimat seperti yang tertulis diatas akan banyak kita temui disana.

Salah satu kalimat lain yang mungkin telah dapat saya rasakan kebenarannya adalah yang tertulis seperti ini : “ Saat seorang murid telah siap, maka sang guru pun akan datang “.

Akal sehat kita pasti akan sulit mengartikan kalimat ini. Apa tandanya seseorang telah siap? Dan apakah guru itu pasti hadir saat seseorang telah merasa siap? Apakah ungkapan ini sejalan dengan sistem pendidikan kita saat ini. Satu yang pasti, ungkapan ini pasti tak cukup layak untuk dijadikan pedoman bagi sang menteri muda untuk merumuskan kebijakan beliau terkait pendidikan kita. Ungkapan ini lebih tepat untuk sebuah pendidikan informal, untuk jiwa jiwa yang tetap dahaga menambah pengetahuan dan ketrampilan baru yang membuat hidup mereka lebih bermakna.

Pandemi Covid 16 memberi sedikit hikmah untuk keseharian kita. Kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga tercinta pasti adalah salah satunya. Bagi saya sendiri waktu luang tersedia untuk mengenang masa masa indah yang telah lewat dan selama ini luput dari pantauan kita. Teman masa kecil saya meninggalkan ibukota karena situasi ini, dan kami berdua bisa melewatkan malam bersama mengenang masa kecil kami di puncak perbukitan yang dingin ini.

Sambil mendengarkan lagu lagu lama kesukaan kami dulu, kami berbincang tentang banyak hal, baik yang ringan ataupun menjurus serius.       

“Tut Nik,“ katanya malam itu. “Tidakkah Ketut merasakan di masa masa sekarang ini kita kehilangan sosok panutan? Sosok guru yang memberikan kita nasehat, petuah dan cerita cerita bijaksana tentang kehidupan?“

Dia lalu menyebut beberapa nama yang kita ingat, seorang guru senior (almarhum ) yang sangat berwibawa, lalu dia menyebut juga nama almarhum bapak saya yang memang dulu sangat gemar mengumpulkan anak anak kompleks kami di malam hari untuk didongengkan cerita-cerita pewayangan.

Berbilang malam kami berkumpul mengelilingi lampu petromaks untuk mendengarkan cerita beliau tentang jalannya perang Barata Yuda, matinya sang Karna dan banyak cerita lain yang tak bisa saya ingat. Jujur saya sangat terharu mendengarnya, ternyata apa yang menurut saya sesuatu yang biasa saja, ternyata dianggap sebuah kenangan indah oleh sahabat saya.

Saat itu saya bersepakat dengan keprihatinannnya tentang kerinduan kita akan sosok teladan, sosok guru, yang bisa kita gugu dan tiru selain guru guru formal kita di sekolah.

Tetapi setelah merenung lama, dan menyimak berbagai tulisan bijak di buku dan jagat maya yang sering juga memberikan pencerahan. Saya merasa teman saya terjebak dalam sebuah romantisme masa lalu yang indah tapi dangkal.

Saya coba membandingkan situasi saya saat ini dengan dua kegemaran  yang menghiasi keseharian saya. Bermain tenis dan menulis. Hari hari ini, ditengah situasi yang  tak bersahabat ini, salah satu kebahagiaan saya adalah saat bisa ke lapangan, dan sempat menulis yang kemudian tulisan itu bisa dibaca oleh khalayak luas. Kebahagiaan ini tak akan bisa saya nikmati tanpa kehadiran seorang guru. Seorang senior tempat saya berkeluh tentang tulisan yang belum dimuat dan tetap memberi dorongan untuk tak patah semaangat.

Senior lainnya tempat mengadu saat saya tak diajak main oleh teman di lapangan tenis karena saya baru belajar, dan selalu punya cara untuk menyemangati saya agar tak putus asa dan tetap terus berlatih. “Makin banyak keringat keluar saat latihan,makin sedikit yang tertumpah saat pertandingan, “ katanya pada suatu waktu.

Mereka berdua barangkali adalah guru guru yang disediakan alam untuk saya dalam meningkatkan ketrampilan, maupun menambah kebijaksanaan kita. Tanpa menafika peran pihak lain, teman di lapangan, rekan sesama penyuka tulisan. Mereka pun adalah guru guru lainnya yang ikut membentuk saya sampai pada kemampuan (bermain dan menulis) seperti sekarang. Mereka pun adalah guru guru untuk kita dalam skala yang lebih kecil.

Tapi saya tak akan mendebat teman saya tentang kerinduannya akan sosok guru ataupun panutan. Saya hanya akan menceritakan kepadanya sebuah fragmen dalam drama Galileo yang dikutip Goenawan Mohamad di salah satu tulisannya. Saat itu Galileo sedang diinterogasi oleh tim inkuisitor gereja terkait pandangan barunya yaitu Helio sentris, yang menyatakan bahwa pusat dari tata surya atau dunia ini adalah matahari. Dimana saat itu gerja masih meyakini bahwa pusat dari alam semesta adalah bumi.

Saat interogasi berlangsung sampai tengah hari, Galileo ditunggui oleh para muridnya yang setia di luar gereja. Tepat saat petang menjelang terdengar lonceng gereja yang menyatakan kemenangan gereja atas Galileo, artinya Galileo menarik pandangan heliosentris tersebut dan bertekuk lutut atas kekuasaan gereja. Begitu pintu dibuka, terdengar kencang sang murid, Andrea Sarti berteriak “ Betapa malang sebuah negeri yang tak mendapatkan pahlawan “

Sambil menoleh, Galileo membalas ringan : “Lebih malang lagi sebuah negeri yang mengharapkan hadirnya seorang pahlawan.“

Tulisan Zen tentang guru tadi yang kita dapat dari Timur, dan ungkapan Galileo yang saya rasa mewakili semangat barat tentang kebebasan berpikir. Menurut saya adalah pilihan jawaban untuk teman saya itu, dan pasti jawaban untuk kita semua yang masih terjebak pada romantisme masa lalu dan selalu ingin adanya kekuatan dari luar untuk sesuatu yang semestinya kita bisa lakukan sendiri.

Jangan terlalu berharap lingkungan akan menyediakan kita apa yang kita perlukan sesuai keinginan kita. Alam pasti punya caranya sendiri untuk melakukannya. Dan seandainya pun tidak, kita masih punya hadiah terindah Tuhan untuk kita yaitu akal budi.

Akhirnya, untuk saat ini saya masih bisa mempercayai ajaran Zen, tanpa menyepelekan kebebasan pikiran ala Galileo, Tabik.

Tags: kehidupanrenunganZen
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

Gerakan Lumbung Pangan Keluarga: Bertanam Pangan di Halaman

Next Post

Upah “Negen Blesengan” Jadi Gamelan Gong Kebyar – [Nostalgia dari Serongga Tengah, Gianyar]

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Upah “Negen Blesengan” Jadi Gamelan Gong Kebyar – [Nostalgia dari Serongga Tengah, Gianyar]

Upah “Negen Blesengan” Jadi Gamelan Gong Kebyar – [Nostalgia dari Serongga Tengah, Gianyar]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co